
Apa kabar dunia? akankah hari esok tetap sama? atau cerita baru akan hadir mengejutkan diri. Semua yang terjadi atas izin Allah. Sedangkan, kita cukup menjalani peran masing-masing.
Zahra berlalu meninggalkan Egi dan Adnan. Membawa hatinya yang sedikit robek. Ia berpapasan dengan Rina. Melirik sekilas ke arahnya, lalu pergi tanpa menyapa.
Sementara itu, Adnan masih enggan beranjak dari tempatnya. Pandangannya terus tertuju pada Egi.
"Suatu saat kamu akan mengerti. Paman tahu dia mencintai Paman. Namun, Paman tidak mau menerima dia saat hati Paman masih seperti ini," lanjut Egi lembut.
Egi mungkin dingin. Namun, ia bukan pria kasar yang memakai tangannya untuk berkelahi. Adnan melunak. Ia mengayunkan kaki menyusul Zahra meninggalkan Egi.
Rina masih diam di tempat. Kedua kalinya ia bertemu Adnan. Rina cukup terkejut mengetahui, bahwa Egi dan Adnan memiliki hubungan keluarga.
Adnan sekilas melihat bayangan Rina turun melewati tangga. Keningnya berkerut. Mungkinkah Rina mendengar percakapan mereka?.
💐💐💐💐💐
Malam datang menggantikan siang. Hujan deras mengguyur semesta. Membawa hawa dingin menusuk jiwa.
Zahra terjebak di area kampus. Ia belum bisa pulang, karena supir yang menjemput terjebak macet. Sedangkan si kembar dan Adnan sudah terlebih dahulu pulang.
Sejak kejadian tadi Zahra memilih sendirian. Ia bahkan mematikan ponsel, lalu menghidupkannya tadi saat meminta di jemput pulang.
"Aduh, hujannya 'kok engga reda-reda, ya." Memandangi derasnya air yang turun membasahi bumi. "Mana udah lewat magrib."
Zahra tidak sendiri. Masih banyak penghuni kampus yang masih di sini, termasuk Egi. Dosen dingin itu baru saja mengayunkan kakinya, untuk pulang.
Suara langkah kaki pelan terdengar mendekati Zahra. Ternyata Rina pun sama. Ia baru saja selesai kelas terakhir di hari ini.
Matanya memperhatikan curah hujan yang cukup deras. Namun, menenangkan. Ia sekejap memejamkan mata. Berharap dunia berbaik sedikit padanya.
"Damainya. Andai, kedamaian ini bisa berlangsung lama." Menghirup perlahan bau khas tanah yang terguyur air hujan. "Biarkan aku sekejap terlepas dari penatku."
Zahra melirik sekilas pada Rina. Ia memperhatikan kakak seniornya ini. Zahra merasa ada hal aneh yang Rina sembunyikan di balik senyuman manisnya.
"Kakak masih di sini?" tanya Zahra pelan.
__ADS_1
Sontak Rina membuka mata. Menoleh ke samping menatap Zahra, lalu berkata, "Iya. Apa kamu juga sama terjebak hujan?"
Zahra mengangguk pelan sambil membalas dengan senyuman. Wajah milik Rina sangat manis dan imut. Zahra sering mendengar cerita tentang Rina dari teman wanitanya di kelas.
Rina adalah gadis ramah dan baik. Namun, ia tidak memiliki teman satu pun. Entah apa yang menjadi alasannya. Namun, gosip beredar Rina memang tidak terlalu suka bergaul.
"Apa nunggu jemputan juga?" tanya Zahra.
"Engga, Dek. Aku pulang sendiri. Lagian tempat kostan ku tidak jauh dari kampus."
"Kakak bukan asli sini?".
"Bukan. Aku hanya perantau di sini."
Zahra menganguk pelan. Ia kembali menatap indahnya hujan. Air itu terasa sejuk. Mungkin, jika ia meminumnya sedikit akan menyejukan hatinya.
Dari kejauhan sebuah mobil berwarna merah berhenti tepat di hadapan mereka. Seorang pemuda terlihat membuka sedikit kaca mobil, lalu berteriak, "Woy, Rina cepetan."
Zahra dan Rina kaget. Mereka melihat siapa orang yang berteriak. Mata Rina membulat. Kakinya berat melangkah. Ia sangka tidak akan bertemu Dirga hari ini.
"Ah, iya. Kalau begitu, aku pamit duluan, ya, Dek." Melangkah dua kali. "Dek, saat kamu mencintai seseorang. Pasrahkanlah semuanya pada Sang pemilik alam. Kamu hanya cukup menjalani peranmu. Aku harap, nasibmu jauh lebih beruntung dari pada aku. Jadilah wanita terhormat, agar kelak jodohmu pun lelaki hebat."
Rina berlari menerobos derasnya hujan. Rasa dingin tidak ia hiraukan, karena kejamnya dunia pernah ia rasakan. Ia mungkin tidak pernah memilih, untuk menjadi seperti ini. Namun, semua kembali pada takdir Sang Ilahi Rabbi.
"Jadi cewek lelet amet, Lo. Kalau bukan karena bokap Lo. Gue males nganterin Lo pulang!" Dirga membuang muka.
Rina membuka perlahan pintu mobil. Air matanya bercampur bersama derasnya hujan. Dirga meraih handuk di belakang. Melempar begitu saja ke arah Rina sambil berkata, "Pakai itu. Gue engga mau jok mobil gue basah, karena air di pakaian Lo."
Rina menurut. Ia duduk di samping Dirga. Tepat di atas jok yang sebelumnya sudah di lapisi lap berlapis-lapis oleh Dirga.
Sementara itu, Zahra masih diam mematung tatkala mendengar ucapan Rina. Mungkinkah Rina mendengar percakapannya dengan Egi tadi siang.
Zahra merasa Rina memiliki luka yang ia tutupi rapat-rapat. Entah apa itu? yang jelas sorot mata Rina mengisyaratkan dengan jelas.
Mobil yang membawa Rina telah melaju kencang meninggalkan area kampus. Namun, hujan masih saja belum nampak reda.
__ADS_1
"Ya Allah, kapan redanya. Perut ku lumayan keroncongan," gumam Zahra.
Selang lima menit berlalu. Egi melaju keluar parkiran mengendarai mobilnya. Saat melintas area depan kampus tidak sengaja ia melihat bayangan Zahra yang terduduk sambil menundukkan kepala.
Egi mengira gadis itu sudah pulang. Namun, ternyata ia masih berada di kampus. Egi kembali melajukan mobil. Se-sekali melirik ke belakang lewat kaca spion.
Zahra sudah mulai bosan. Ia bahkan lupa membawa charger hari ini. Tiba-tiba suara petir menggelegar di atas cakrawala. Hujan turun semakin lebat.
Satu per satu temannya berkurang, karena jemputan sudah datang. Hanya tinggal Zahra, dan beberapa mahasiswa lelaki yang masih menunggu.
Mendadak lampu padam. Keadaan dalam kampus gelap gulita. Untung saja Zahra menunggu di area depan. Jadi, tidak terlalu gelap.
Zahra semakin gelisah. Sesekali matanya memandang ke depan. Berharap mobil jemputannya datang. Ia akui, ada rasa takut menghinggapi diri. Pasalnya, tinggal ia mahasiswi yang masih di sini. Ia terjebak bersama beberapa lelaki.
Mungkin tidak baik berburuk sangka pada orang. Namun, saat ini jaman sudah gila. Orang bisa melakukan apa saja demi sebuah kepuasaan jiwa.
Zahra kembali terduduk. Kepalanya menunduk sambil mulut tidak berhenti berdzikir. Semoga Allah melindunginya dari segala marabahaya.
Tiba-tiba suara sepatu mendekat ke arahnya. Seorang lelaki menatap Zahra, lalu berkata, "Berdirilah. Ayo, pulang bersama."
Zahra perlahan mengangkat kepala. Matanya kaget saat melihat Egi berdiri sambil tangan kanan memegangi payung.
"Paman ...." Berdiri mensejajarkan dirinya dengan Egi. "Paman belum pulang?"
Zahra sedikit bernapas lega. Setidaknya rasa takut itu perlahan sirna. Kehadiran Egi bagai pelangi yang di nantikan selepas hujan.
"Ayo, pulang. Ini sudah malam!" ajak Egi.
Gadis itu mengangguk. Mengikuti Egi berjalan dalam derasnya hujan di bawah payung bersama. Hatinya Zahra kembali berdebar. Hampir tidak ada jarak di antara mereka.
"Dasar hati. Kamu berpihak pada siapa. Kenapa baru jalan bersama seperti ini saja. Kamu sudah meminta loncat ke luar," batin Zahra.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
__ADS_1