
Tepat pukul sepuluh malam. Dika mengantar Dira sampai ke rumah. Gadis itu hanya tersenyum kecil tanpa berbicara, lalu segera masuk ke dalam rumah.
Pak Adrian yang melihat itu dari ambang pintu, segera menghampiri Dika yang hendak pulang.
"Dik," panggil Pak Adrian.
"Iya, Om." Berbalik badan kembali.
"Terimakasih," tutur Pak Adrian.
"Untuk apa, Om?"
"Karena sudah mau menghibur Dira di saat terpuruk,"
Dika tersenyum. Ia hanya melakukan apa yang ia bisa. Dika berkata, " Dika hanya melakukan apa yang dilakukan Rendy dan Rey. Dira sudah mengganggap Dika Kakak, jadi sudah seharusnya seorang Kakak menghibur Adiknya."
Pak Adrian menatap lekat pada laki-laki dihadapannya. Ia tidak tahu perasaan Dika sesungguhnya, akan tetapi ia bisa melihat keseriusan itu membulat di pelupuk mata Dokter ini.
"Kalau begitu Dika pamit dulu, OM! Sudah malam tidak enak dilihat tetangga," pamit Dika.
Dika meraih tangan Pak Adrian, lalu mencium telapak tangannya sambil berkata, "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Pak Adrian.
Dengan tenang Dika melangkah masuk ke dalam mobil. Malam ini ia telah melihat kekuatan cinta Dira pada Farhan. Ia tidak mungkin bisa melawan kekuatan cinta yang amat dahsyat itu.
"Gue harap Luka gadis itu segera sembuh. Biar gue bisa liat senyum di wajah cantiknya lagi," batin Dika.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Pagi hari yang indah. Harum bunga di halaman belakang rumah menyeruak masuk ke dalam hidung. Membuat rileks bagi siapapun yang menciumnya.
Lisa tengah asyik dengan kegiatannya menyiram bunga-bunga yang kini tumbuh mekar. Pagi ini ia bangun dengan hati yang semangat. Jiwanya siap menyambut hari weekend yang dinantikan setiap orang bekerja.
Rendy yang baru selesai olahraga kebingungan, saat tidak menemukan istrinya di dapur. Ia mencari ke setiap sudut rumah. Hingga sebuah tawa seseorang yang ia cari terdengar dari halaman belakang rumah.
"Kalian memang cantik. Aku saja iri pada kalian," ucap Lisa.
Tangannya dengan lihai menyiram satu per satu, lalu membuang daun yang mati di tangkai. Ia sangat telaten, mungkin karena kecintaannya pada bunga yang membuat ia merasa sangat senang.
Rendy memperhatikan istri kecilnya dari pintu. Senyum manis Lisa menjadi mood boster Rendy di pagi hari.
"Kalian tahu tidak. Aku sedang mengandung buah cintaku bersama suamiku saat ini." Wanita itu berbicara dengan bunga, seakan mereka adalah mahluk hidup.
"Aku bahagia sekali. Aku berharap anak ini akan menjadi penguat cinta di antara kami," ucap Lisa.
__ADS_1
Lisa membungkukan setengah badan, kemudian mencium bunga mawar merah. Ia menikmati keharuman yang dipersembahkan bunga yang melambangkan cinta itu.
"Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku bersama keluarga kecilku. Tentu dengan Adik semata wayangku juga. Aku berharap mereka selalu dilimpahkan kebahagian dalam perjalanan hidupnya.
Entah mengapa air matanya tiba-tiba beranak pinak. Cairan bening itu lolos begitu saja dari pelupuk mata.
"Aku berdoa semoga Allah tidak mengambil Suami dan Adikku terlebih dahulu. Aku ingin melihat mereka tersenyum saat bersamaku," lanjut Lisa.
Rendy yang masih setia di tempatnya hanya terdiam mematung. Ia memang tahu, jika istrinya itu begitu tulus menerima kehadirannya.
Rendy segera menghampiri Lisa. Dia memeluk erat wanita itu dari belakang sambil berkata, " Aku mencarimu ke mana-mana. Ternyata kamu ada di sini, Sayang."
Lisa terperanjat, tatkala lengan kekar melingkar sempurna di pinggangnya.
"Mas, bikin kaget saja,"
Dengan satu tangan Lisa mengusap sisa air mata tadi. Ia tidak menyadari jika Rendy bahkan sudah melihat semuanya.
"Kamu menangis?" tanya Rendy.
"Tidak, Mas. Aku hanya kelilipan saja," jawab Lisa berbohong.
Rendy terdiam sejenak. Ia sangat tahu istri kecilnya ini menyembunyikan air mata dari dirinya.
Rendy mencium aroma tubuh Lisayang bercampur dengan harumnya bunga.
"Sudah, Mas," balas Lisa.
"Sayang, besok aku harus keluar kota. Ada yang harus aku kerjakan di sana," tutur Rendy. " tapi aku tidak bisa membawamu. Kamu tahu, kan pesan Dokter waktu itu."
Lisa mengangguk. Ia pun tidak ingin mengambil risiko yang menyakitkan lagi. Bagaimanapun saat ini, di tubuhnya tengah tumbuh seorang janin. Ia harus mampu menjaga titipan yang dikaruniakan padanya.
"Iya, Mas. Aku mengerti," balas Lisa.
"Good girls! Tapi," kata Rendy, " aku pasti merindukanmu di sana."
"Memang berapa hari Mas di luar kota?"
"Kira-kira lima harian, Sayang,"
"Apa ada masalah berat yang mengharuskan Mas ke sana?" tanya Lisa.
"Sejujurnya, iya. Tapi semua pasti baik-baik saja,"
Lisa perlahan membalikkan badan menghadap suaminya. Ditatapnya manik-manik mata Rendy. Mata yang selalu memberikan kenyamanan tersendiri saat Lisa menatapnya.
__ADS_1
"Aku percaya, Mas pasti bisa melewati setiap cobaan yang Allah berikan," tutur Lisa.
Rendy membelai pipi mulus Lisa. Wangi tubuh Lisa membangkitkan gairahnya di pagi hari. Hasrat yang semalam tertunda, bangkit kembali semakin memanas.
"Sayang, kamu masih ingatkan soal menengok Dede bayi?" tanya Rendy mengingatkan kembali istrinya.
Lisa menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah merona.
"Seperti olahraga pagi sangat menyenangkan," bisik Rendy di telinga Lisa.
Dengan satu gerakan, tubuh Lisa Rendy angkat ke atas. Ia menggendong istrinya menuju tempat mereka bermadu kasih.
Dengan pelan Rendy merebahkan badan mungil Lisa di atas ranjang sambil berbisik, " Kamu milikku... aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilmu dari aku."
Pagi itu langit indah dan harumnya bunga menjadi saksi bisu. Dua insan saling melepaskan hasrat dan cintanya. Mencurahkan segala kasih sayang yang menggebu.
Pergulatan panas membuat keduanya terkulai lemas. Meski Rendy melakukannya dengan sangat hati-hati, namun tetap saja Lisa sempat khawatir dengan kandungannya.
Setelah semua ritual pagi yang menguras hampir seluruh tenaga. Lisa segera ke dapur, ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri. Memasak makanan untuk sang suami, menjadi rutinitas menyenangkan untuk Lisa.
Rendy baru saja sampai di dapur. Ia melihat Lisa tengah sibuk memasak. Dengan sangat hati-hati Rendy berjalan, lalu melingkar kembali tangannya di pinggang Lisa seperti di halaman belakang tadi.
"Kamu tidak lelah, Sayang?" tanya Rendy.
"Sebenarnya lelah, tapi aku tetap harus memasak untuk, Mas," jawab Lisa.
"Kamu memang istri idamanku," puji Rendy.
Kedua insan itu tidak menyadari akan hadirnya seseorang yang tengah memperhatikan mereka.
Orang itu duduk di kursi makan sambil berteriak, " Aduh, Gue juga pengen cepet-cepet bisa sarapan panas di pagi hari."
Rendy yang mendengar suara yang tak asing di telinganya, segera melepaskan pelukan pada Lisa.
Rendy bergegas menghampiri orang itu. Rendy ingin sekali memukul kepala sahabatnya yang sudah mengganggu paginya yang indah.
"Datang-datang bukannya ucapin salam, malah teriak-teriak," tegur Rendy.
Rey yang merasa tersindir hanya tersenyum kecil sambil berkata, " Ampun, Bang jago."
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Jangan lupa dukungan untuk Author dengan cara like, coment dan vote sebanyak-banyaknya🤗
__ADS_1