Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
99


__ADS_3

Tepat pukul tujuh malam, Rendy menjemput istrinya di rumah Pak Adrian. Sedangkan Egi tidak ikut pulang, ia ingin menemani Papa Adrian.


"Mas, aku pengen makan nasi uduk," ucap Lisa begitu mereka sudah di dalam mobil.


"Ayo! Mau makan dimana, Sayang?" balas Rendy.


"Aku mau nya nasi uduk langgananku, Mas!" rengek Lisa.


Rendy melirik istrinya, firasatnya mengatakan ini tidak akan mudah. Setidaknya akan ada rintangan untuk sekadar menyantap menu sederhana itu.


"Baik. Dimana itu, Sayang?"


"Dideket tempat tinggalku dulu. Tapi--," ujar Lisa menghentikan ucapannya.


"Tapi apa, Sayang?" tanya Rendy penasaran.


"Kita harus cepat. Kalau tidak, nasi uduknya cepat habis," lanjut Lisa.


"Seenak apa sih, Sayang sampai bisa cepat habis seperti itu,"


"Soalnya yang punya suka kasih promo,"


"Promo gimana?"


"Ya, promo, Mas! Beli dua bungkus, dapat satu bungkus," lontar Lisa.


"Hah! Aku pikir cuman di supermarket aja yang promo seperti itu, ternyata tukang nasi uduk juga ada,"


"Mas, ketinggalan jaman sih! Sekarang bukan cuman di mall, atau supermarket aja yang bisa promo!"


Rendy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya dia yang kurang mengikuti jaman, atau memang tukang nasi uduknya ini memang modern.


"Ya udah, kita langsung ke tempatnya," ujar Rendy pasrah.


"Ayo, Mas cepetan nyetirnya nanti kita kehabisan diskonnya. Kan, lumayan Mas," ujar Lisa.


Rendy melirik sekilas kembali pada istrinya. Malam ini dipastikan dia akan melewati drama kehamilan kembali, padahal jika harus jujur dia ingin sekali pulang karena badannya sudah sangat lelah.


"Yang sabar, ya, Tong! Kayaknya malam ini kagak bisa ketemu kasur cepet-cepet, mesti berkelana dulu nyari nasi uduk," batin Rendy.


"Ya, Sayang," sahut Rendy.


Mobil Rendy melaju sedikit kencang, Lisa terus saja mengingatkan jika tidak cepat, promonya akan segera habis.


Rendy tidak habis pikir, setelah hamil Lisa lebih perhitungan. Dia selalu senang berburu berbau Diskon, sampai Rendy mengira kata Diskon lebih menggoda di banding dirinya untuk Lisa.


Selang Dua puluh menit berlalu, mobil Rendy berhenti tepat di warung nasi uduk yang terlihat dipenuhi pelanggan.

__ADS_1


Mata Rendy melotot, melihat kenyataan yang ia lihat. Otaknya menolak halus apa yang tertangkap mata. Benarkah ini penjual nasi uduk? kenapa seramai ini, bahkan sama ramainya kala Diskon di mall.


"Sayang, kamu engga salah, kan?" tanya Rendy tidak percaya.


"Salah gimana, Mas?" sahut Lisa menaikkan satu alisnya.


"Itu mereka semua beneran mau beli nasi uduk doang!" seru Rendy.


"Iya, Mas. Memang kenapa?"


"Kok bisa seramai itu?"


"Makanya, ayo turun. Biar Mas lihat sendiri kalau engga percaya," ajak Lisa.


Rendy menuruti istrinya, ia turun bersamaan dengan Lisa. Lisa hendak berjalan mendekati keramaian, akan tetapi dengan cepat Rendy segera mencegahnya.


"Tunggulah di mobil. Biar aku saja yang kesana!" perintah Rendy.


"Tapi, Mas! Apa Mas tidak masalah berkerumun dengan para Ibu-Ibu?" tanya Lisa meyakinkan.


"Engga apa-apa, Sayang. Demi kamu dan anak kita, apa saja akan aku lakukan," balas Rendy.


"Baiklah." Lisa kembali masuk ke dalam mobil.


Rendy ikut ke dalam mobil, hanya sekadar untuk mengambil masker, kacamata hitam dan topi. Ia memakai semua perlengkapan itu, seperti artis yang tengah menghindari para penggemar.


"Oke, Tong. Lo pasti bisa, ini cuman kumpulan para Ibu, bukan Bebek yang perlu Lo takuti. Semangat, demi bisa cepet ketemu kasur!" batin Rendy.


"Permisi, boleh saya duluan," ucap Rendy ramah pada seorang ibu di hadapannya.


Rendy ikut masuk ke dalam kerumunan, mencoba menerobos masuk.


"Eh, ini apa lagi! Mas, jangan dorong-dorong dong, nanti saya bisa jatuh!" hardik seorang ibu berbaju biru, ketika tidak sengaja Rendy menyerempet sedikit badan ibu tersebut.


"Saya--,"


"Aduh, Mas maju dikit napa! Saya engga keliatan nih! Kalau saya engga kebagian, Mas mesti ganti rugi," timpal ibu berbaju kuning yang berada di belakang Rendy, sambil mendorong sedikit badan Rendy ke depan.


"Ih, Mas maunya apa sih! Sabar, dong. Saya juga antri nih dari tadi. Memang, Mas doang yang mau promonya, saya juga mau!" seru Ibu berbaju biru di depan Rendy kembali.


Kini posisi Rendy terjepit di antara kerumunan para Ibu-Ibu yang berburu diskon, dia bingung maju mundur sama-sama kena.


Akhirnya Rendy memilih diam, menunggu gilirannya untuk sampai ke depan. Satu jam berlalu, penantian panjang akhirnya berakhir.


Rendy dengan wajah lesu, berjalan mendekati penjual nasi uduk yang ternyata seorang Ibu paruh baya. Di tangannya berjejer gelang emas kuning menyilaukan mata, tidak hanya ituIbu penjual nasi uduk juga memakai kalung emas berlapis-lapis bak kue lapis legit.


"Astagfirullah, ada toko emas berjalan," batin Rendy.

__ADS_1


Rendy tertawa kecil di balik maskernya lalu berkata, " Bu, nasi uduknya dua, ya!"


Ibu tadi menatap heran Rendy, ia baru melihat ada pelanggan berpakain seperti ini.


"Jangan-jangan, Mas ini buronan polisi lagi yang lagi kelaperan. Aduh, telepon polisi kagak nih? gimana kalau Masnya bawa pistol," gumam Ibu nasi uduk pelan.


Rendy merogoh saku celana belakangnya hendak mengeluarkan dompet, akan tetapi tiba-tiba Ibu itu seketika menutup telinga dengan kedua tangannya lalu berkata, " Ampun, Mas jangan tembak saya, saya belum mau mati! cicilan kredit panci belum lunas, perhiasaan ini juga imitasi, Mas kagak laku kalau dijual."


Rendy menaikan satu alisnya, ia tidak mengerti dengan perkataan penjual nasi uduk ini. Siapa yang akan menembaknya? dia bahkan tidak punya pistol satu pun.


"Bu sa--,"


"Saya bungkusin nasi uduk aja, ya, Mas. Biar Mas kagak kelaparan pas lagi kabur. Tapi, jangan tembak saya," pinta Ibu nasi uduk yang ketakutan karena ulahnya sendiri.


Dengan terburu-buru, penjual itu membuat dua bungkus nasi uduk, tidak lupa dua bungkus krupuk sebagai pelengkap. Ibu itu juga menyelipkan satu lembar uang kertas sepuluh ribu di kantung kresek yang berisi dua bungkus nasi uduk.


Dengan tangan masih gemetaran, Ibu menyodorkan kresek berisi nasi uduk pada Rendy lalu berkata, " Ini, Mas sudah saya bungkusin. Kagak apa, gratis aja buat Mas buronan mah. Itu juga ada uang sepuluh ribu buat beli minum, jaga-jaga takut Mas keselek nasi uduk nanti. Semoga pelariannya berhasil, ya, Mas."


Rendy mengambil alih kresek hitam dari tangan si Ibu, ia hendak mengeluarkan kembali dompet yang belum sempat ia lakukan tadi. Tapi, lagi-lagi Ibu tersebut menundukkan kepala dengan kedua tangan menutup telinganya.


"Ampun, Mas. Saya sudah kasih yang Mas mau, tolong jangan tembak saya! Saya janji, kagak lapor polisi. Suer dah!" ujar Ibu tukang uduk sembari tangannya membentuk hurup V.


Rendy baru menyadari, jika sejak tadi Ibu itu ketakutan karena menyangkanya seorang burunon. Dia tidak habis pikir, setelah lelah berkerumun bersama para geng Ibu-Ibu. Sekarang ia harus menerima kenyataan lebih pahit, di sangka buronan hanya karena berpenampilan seperti ini.


Rendy membuka maskernya lalu berkata, " Saya bukan buronan, Bu. Terimakasih untuk nasi uduknya, istri saya yang sedang hamil ingin makan nasi uduk ibu," ujar Rendy. " Ini uangnya, Bu. Saya permisi."


Rendy meletakkan satu lembar uang lima puluh ribu di meja, lalu bergegas pergi meninggalkan Sang Ibu yang terpana akan ketampanan dirinya.


"Ini mah bukan buronan polisi, tapi buronan mertua namanya! seru Ibu penjual nasi uduk.


Rendy masuk ke dalam mobil, ia mendapati istrinya tengah tidur pulas karena terlalu lama menunggu. Ia tidak tega jika harus membangunkan Lisa yang terlihat menikmati tidurnya.


Rendy menyimpan kresek hitam berisi nasi uduk pesanan Lisa, lalu segera melajukan mobilnya untuk pulang. Badannya sangat lelah saat ini, mungkin saja sudah berada di batasnya. Ia sangat merindukan kasur dan bantal yang empuk miliknya.


"Kagak apa, Tong ambil positifnya, seengganya Lu bisa makan nasi uduk yang bersejarah ini," batin Rendy sembari matanya menatap lesu, pada dua bungkus nasi uduk yang punya cerita sendiri di malam ini.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Hallo, pembaca?


Liburan panjang kalian ngapain aja nih? apa cuman Author aja yang cuman diam di rumah nyambih momong satpam kecil😁


Ah, iya. Author mau promo lagi, ya🙈


__ADS_1


Hayu, di ramein karya Author satu ini. Ada Syasa sama Ferdy alias Kang gendang di sini😁


Jangan lupa dukungannya, ya buat Author😍🙏


__ADS_2