
~Mengapa rasa ini hadir saat kamu telah dimiliki orang lain. Mungkinkah aku tengah merasakan sebuah karma, karena mengabaikan perasaanmu.~
🌹🌹🌹🌹 EGI🌹🌹🌹🌹
Kabar bahagia tentang Zahra dan Adri mulai terkuak ke luar. Lisa, Rendy, Dira, dan Dika turut senang mendengarnya. Namun, tidak dengan Adnan.
Adnan mulai kesal terhadap sikap lambat Pamannya. Andai dia tahu akan seperti ini jadinya. Tentu, ia akan meminta orang tuanya meminangkan Zahra untuknya.
“Paman, aku kecewa padamu,” gumam Adnan.
Sementara itu di kota ‘Y’ Egi dan Rey baru saja chek out dari hotel. Rey menepati janjinya pada Egi. Satu hari setelah ia pamit pulang ke rumah, Rey kembali menemani Egi dinas keluar kota.
Hari ini tibalah saatnya mereka pulang bersama. Sejak Rey mengatakan tentang berita Zahra. Egi sama sekali tidak bisa pokus.
Selama di perjalanan Egi mengunci mulut. Sedangkan, Rey pokus menyetir di sampingnya. Sesekali Rey melirik pada Egi. Menerka-nerka apa yang membuat yang membuat pemuda ini tidak bersemangat.
Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan. Egi pulang disambut Rendy dan Lisa dengan senyuman. Ia mengucapkan salam saat menginjakkan kaki di rumah. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” sambut Lisa dan Rendy berbarengan.
Egi menyeret langkah menghampiri keduanya, mencium telapak tangan Rendy dan Lisa, lalu berkata, “Maaf, aku sedikit terlambat. Tadi jalanan ramai sekali.”
“Engga apa-apa, Dek. Sebaiknya kamu istirahat dulu. Setelah sholat Isya, kita makan malam bersama,” cakap Lisa.
Egi mengukir senyum, kemudian membawa kakinya menuju kamar yang sangat ia rindukan. Saat ini yang ia perlukan hanyalah istirahat. Menenangkan hati dan pikiran yang tak singkron.
Dari depan kamar, Adnan memperhatikan Egi yang baru saja tiba. Ia ingin sekali langsung mencerca berbagai pertanyaan pada pamannya. Namun, raut wajah Egi yang lelah mengurungkan niat Adnan.
“Paman sepertinya kelelahan,” pikir Adnan kembali masuk ke dalam kamar.
Waktu sholat Isya pun tiba. Seperti biasa, semua orang berkumpul di mushola rumah. Egi yang baru saja tiba setengah jam lalu pun terlihat bergabung.
Bagi Egi, sholat bukan hanya soal kewajiban. Melainkan, sudah seperti kebutuhan yang mana wajib harus dipenuhi.
Sholat selesai. Semua bubar, kecuali Adnan dan Egi. Adnan menepuk pelan bahu pamannya sambil berkata, “Paman, ada yang ingin aku katakan. Habis makan malam, Paman ada waktu?”
“Baiklah.”
__ADS_1
Adnan beranjak dari tempat duduk, lalu bergegas ke lantai bawah untuk makan malam. Sedangkan, Egi masih enggan meninggalkan tempat suci tersebut.
Dirasa sudah cukup, Egi menyusul semuanya ke lantai bawah. Cacing di perut terus berdemo membuat Egi hampir gila, karena ulah mereka.
Seperti malam biasanya, semua makan dengan tenang. Mereka diam sambil mengucap syukur atas rezeki yang barokah hari ini.
Rendy terlihat selesai terlebih dahulu. Ia meletakkan sendok, dan garpu di atas piring kosong yang kotor. Tak lupa ia ucapkan terima kasih kepada Lisa, istri yang selalu membuatkan makanan lezat setiap harinya.
“Aku ke kamar duluan, ya, Sayang.” Rendy mengecup singkat kening Lisa, membuat sang empunya tersipu malu.
Adnan dan Egi yang sudah mengetahui watak Rendy hanya tersenyum bahagia. Mereka pun ingin seperti itu, jika suatu saat menikah.
Selesai makan, seperti yang sudah dijanjikan Egi. Kini, Adnan dan Egi tengah bersantai di teras rumah. Duduk memandangi langit malam penuh bintang, dengan ditemani cahaya sang rembulan yang menyejukan sanubari.
Dinginnya angin malam menusuk tulang. Namun, tidak membuat keduanya gentar. Mereka masih terdiam. Memendam asa yang sulit diungkapkan.
Adnan menghirup sejuknya udara malam, lalu menghembuskannya perlahan melewati hidung. Adnan berkata, “Paman sudah tahu ‘kan, kalau Zahra menerima lamaran lelaki itu?”
“Apa Paman tidak menyesal melepas Zahra begitu saja?”
“Beri satu alasan, kenapa Paman harus menyesal?”
“Dia wanita baik, ceria, dan yang terpenting hatinya tulus pada Paman, tetapi Paman seperti bongkahan es yang sulit mencair.”
Egi menoleh ke arah Adnan, menatapnya dalam. “Apa kamu masih mencintainya?”
Adnan tertegun. Kenapa malah dia yang dicerca pertanyaan. Lelaki ini memang tahu caranya mengalihkan topik.
“Aku memang mencintai, bahkan sangat mencintainya. Namun, aku tidak bisa memaksa ia mencintaiku juga, Paman.”
“Begitu pun dengan Paman,” sela Egi.
__ADS_1
“Maksud?”
Egi berdiri, meregangkan otot-ototnya yang kaku setelah perjalanan cukup panjang. “Paman lelah ingin istirahat. Kamu juga sebaiknya tidur.”
Egi melangkah masuk, tetapi Adnan mencegahnya sambil berkata, “Aku tahu hati Paman sedang bimbang saat ini. Mungkin saja cinta itu sudah ada, tetapi tertutupi sesuatu yang entah aku pun tidak tahu itu apa. Ikutilah kata hatimu, Paman. Semua manusia hidup membutuhkan pasangan, untuk saling melengkapi dan berbagi perasaan.”
Egi sejenak berdiam diri. Mendengarkan apa yang keponakannya sampaikan.
“Semua kembali pada takdir Ilahi. Jika Paman dan Zahra berjodoh, sekalipun ia kini jauh. Tidak menutup kemungkinan, kami akan bersatu dalam mahligai cinta yang suci dan sah.”
Tanpa mereka sadari, di balik tirai jendela Rendy dan Lisa tengah menguping. Mereka memang sedikit curiga saat keduanya berjalan bersama ke arah teras.
Terlebih wajah Adnan seperti sebuah singa yang tengah lapar ingin menerkam. Lisa khawatir, jika antara Adnan dan Egi akan terjadi pertikaian..
“Sayang, apa menurutmu semua akan baik-baik saja?” tanya Rendy.
"Insya Allah, Mas. Aku yakin kita pasti bisa," jawab Lisa.
Tidak ingin ketahuan. Rendy dan Lisa bergegas pergi ke kamar. Mereka memang tidak berniat mencampuri urusan keduanya. Namun, andai ini yang terbaik. Maka, Lisa dan Rendy terpaksa menempuh jalan ini.
Di luar rumah Egi dan Adnan masih terdiam. Setelah beberapa menit, Egi benar-benar meninggalkan keponakannya sendirian.
Egi melangkah masuk dengan hati yang berkecambuk. Merajut sebuah cinta dengan seseorang memang tidak mudah. Semua butuh proses dan keyakinan.
Sesampainya di kamar. Egi segera merebahkan badannya di kasur. Memejamkan mata sejenak, menikmati nada indah angin malam memanjakan telinga.
"Aku lelah ...," lirih Egi.
Perlahan matanya mulai tertutup. Hawa dingin malam ini mengantarkan Egi ke dalam ruang mimpi. Berharap Allah memberikannya petunjuk untuk kebimbangan hatinya saat ini.
Sementara itu di kamar sebelah, Adnan masih asyik bermain game. Hatinya tengah dirundung kesal. Jadi, ia mencari pelampisan emosi jiwanya.
Tiba-tiba satu pesan masuk mengagetkan Adnan. Satu nomer yang memang baru ia dapatkan dari seseorang. Lewat pesan tersebut, si pengirim meminta pertolongan.
Seketika Adnan menyambar kunci mobil. Ia tidak ingin sesuatu terjadi. Mungkin si pengirim dalam keadaan ketakutan sekarang. Terbukti dari pesan yang sengaja ia kirimkan pada Adnan. Apa pun yang terjadi, Adnan harus menghampirinya terlebih dahulu.
...****************...
BERSAMBUNG~~~~
__ADS_1