Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
122


__ADS_3

Dira mematung, mencerna setiap kata yang terucap dari Dika. Hatinya sedikit luka tatkala mendengar akhir perkataan lelaki itu. Ia ingin berkata jangan, tetapi lidahnya berat untuk berucap.


Dika beranjak pergi, meninggalkan Dira dengan segala kegalauan hatinya. Ia rasa perbincangan ini sudah selesai. Sekarang biarlah takdir yang bermain di antara mereka.


Setelah hampir tiga menit terdiam. Dira baru tersadar kembali ke dunia nyata. Ia mengerjapkan mata, lalu pergi ke lantai bawah, untuk makan malam bersama.


Di dapur, Bi Iyah tengah sibuk menyiapkan menu makan malam. Aroma wangi dari ayam goreng yang sudah diungkep bumbu kuning. Membuat siapa saja yang mencium merasa lapar.


Dika baru saja sampai di dapur. Ia segera mengambil beberapa alat makan, untuk di bawa ke meja makan. Sesekali terdengar suara gelak tawa dari ketiga lelaki beda generasi itu.


"Neng, biar Bibi saja!" pinta Bi Iyah begitu melihat Dira membawa beberapa alat makan.


"Engga usah, Bi. Aku juga harus belajar, suatu saat aku pasti menikah. Engga mungkin, kan, Aku menyuruh pembantu untuk melayani suamiku," jawab Dira sambil melempar senyum manis.


Dira melangkah pergi ke meja makan, sedangkan Bi Iyah hanya tersenyum, lalu melanjutkan kegiatannya.


Selang sepuluh menit berlalu, semua masakan sudah tertata rapih di meja. Bi Iyah pamit ke belakang, untuk beristirahat. Sementara Dira ke ruang tamu, untuk mengajak ketiga lelaki itu makan malam.


Di meja makan, Dira dengan cekatan mengambilkan Papanya makanan. Sedangakan Egi tengah duduk tenang memakan ayam goreng kesukaannya.


Dika memperhatikan mereka semua. Ia merasa memiliki keluarga baru. Keluarga yang hangat, dan penuh kasih sayang.


Dika hendak mengambil ayam goreng, tetapi letak ayam itu sedikit jauh. Ia hendak mengulurkan tangannya namun, seketika Dira mengambilkannya, lalu menaruh di piring Dokter tampan itu.


Dira juga menuangkan air minum di gelas, untuk Dika seperti yang ia lakukan pada Papanya. Setelah itu tanpa berkata apa pun Dira segera menyantap makanannya.


Dika mengulas senyum, perlakuan Dira yang manis barusan cukup membuat hatinya senang. Mereka semua makan dengan tenang. Menikmati menu yang terhidang.


Selesai makan, Dira segera membawa piring kotor ke dapur. Dika yang melihat itu segera membantunya. Sedangkan Egi dan Pak Ardian pergi ke ruangan keluarga, untuk menonton acara televisi.


Dira hendak mencuci piring, namun Dika dengan sigap menggantikan posisinya.


"Biar Gue aja, Dek." Mengambil satu per satu piriing, memberinya sabun, lalu membasuhnya sampai bersih.

__ADS_1


"Engga usah, Kak. Aku juga bisa, kok," jawab Dira.


"Lo liatin aja di samping gue," tutur Dika.


Laki-laki berpostur tegap itu dengan lihai, dan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan Dira hanya diam menemani Dika mencuci piring.


"Oh, ya, Dek. Kata Om Adrian Lo besok mau daftar kuliah di sini?" tanya Dika.


"Rencananya gitu sih, Kak! Kalau kelamaan takutnya Aku keburu malas ngelanjutin kuliah," balas Dira..


"Jangan malas, Dek. Lo masih muda, perjalanan Lo masih panjang. Bukannya impian Lo itu jadi desainer terkenal?" tanya Dika.


"Iya sih, Kak. Aku pengen banget jadi, Desainer terkenal. Bisa ngerancang berbagai model pakaian. Terutama aku pengen ngerancang baju pengantinku sendiri pas menikah nanti," ungkap Dira.


"Lo mau nikah sama siapa, Dek?" pangkas Dika.


Mata mereka bertemu, meski hanya beberapa detik saja. Lagi-lagi Dira tertegun mendengar pertanyaan Dika. Ia juga tidak tahu dengan siapa ia akan menikah nanti. Yang jelas ia tidak mungkin melajang seumur hidup.


Lelaki itu hendak melangkah pergi, meninggalkan Dira sendiri dengan pikirannya untuk kedua kalinya. Namun, kali ini berbeda. Mulut Dira tiba-tiba mencegahnya.


"Tunggu, Kak!" cegah Dira.


Dika memberhentikan langkahnya, lalu membalikkan badan ke arah Dira sambil berkata, "Ada apa, Dek?"


Dira menatap lekat pada lelaki di hadapannya. Mengumpulkan keberanian, untuk mengutarakan ini pada Dika. Ia tidak tahu apa ini yang terbaik. Yang jelas ia harus berani mengambil risiko dari setiap perkataannya.


"Apa Kak Dika mau sedikit bersabar menunggu aku, agar sepenuhnya melupakan Farhan dan perlahan menerima kehadiran Kakak di hatiku?" tanya Dira.


Dika tersentak. Apa ini jawaban dari semua doa-doanya? apa takdir baik tengah berjalan menghampirinya? ia tidak tahu, tetapi ini cukup membuat hatinya tersenyum.


Mungkin ini bukanlah sebuah kepastian. Ia masih harus berjuang untuk sampai di posisi tertinggi di ruang hati Dira. Ia tidak bermimpi menggeser posisi Farhan, cukuplah ia memilliki tempat sendiri di hati gadis ini.


Dengan tersenyum kecil, Dika menyambut baik pertanyaan Dira. Ia akan menyetok jutaan kata sabar dalam kamus hidupnya. Setidaknya perlahan gadis itu sudah mulai memberi sedikit sinyal kemenangan.

__ADS_1


"Kenapa diam, Kak? apa Kak Dika tidak mau!" seru Dira menarik lelaki itu ke dalam dunia nyata kembali.


"Maaf, Dek. Gue saking senengnya denger Lo ngomong kayak gitu jadi, gue bingung mau berekspresi kayak gimana!" bantah Dika.


Dika berjalan mendekat ke arah Dira, lalu berhenti tepat di hadapannya. Untuk kedua kalinya mata mereka terkunci selama lima detik. Jantung Dira mulai bekerja lebih kencang. Ia bahkan merasa gugup dipandang Dika kali ini.


"Terima kasih," cicit Dika.


"Untuk apa, Kak?" tanya Dira.


"Untuk sinyal harapan yang Lo kasih buat gue barusan. Gue seneng sekalipun ini bukanlaj sebuah kepastian. Namun, buat gue ini lebih dari cukup. Gue yakin bisa nyembuhin luka yang ada di hati Lo. Gue kan Dokter jones!" kata Dika dengan sedikit tersenyum.


Dira tertawa pelan mendengar Dika, menyebut julukan yang selalu ia sematkan untuk lelaki ini.


"Nah, gitu ketawa dong. Gue udah lama engga denger Lo ketawa lagi. Dunia serasa sepi tahu, Dek!" rayu Dika.


"Mulai keluar aslinya. Tadi di mushola udah kayak orang bener. Sekarang balik lagi, dasar Dokter jones!" ledek Dira.


Dika mengacak-acak pelan rambut gadis ini. Ia gemas melihat senyuman manis Dira. Penantian panjangnya akhirnya berbuah hasil, meski ia bukanlah akhir dari usahanya. Namun, setidaknya gadis ini sudah mulai sedikit kembali seperti dulu.


Tanpa mereka sadari dua pasang mata tengah melihat interaksi keduanya. Pemilik kedua pasang mata itu saling melempar senyuman.


"Tuan, sepertinya Neng Dira mulai ceria kembali. Bibi senang mendengar Neng Dira tertawa pelan," ungkap Bi Iyah.


Ya, kedua pasang mata itu adalah Pak Adrian, dan Bi Iyah. Mereka ada di sana sejak Dira meminta Dika menunggunya. Mereka sengaja memilih diam, untuk menyaksikan bagaimana tanggapan Dika.


Pak Adrian mengulas senyum, lalu berkata, "saya juga bahagia. Saya harap Dokter itu bisa membahagiakan anak gadi saya selamanya."


...****************...


BERSAMBUNG~~


Jangan lupa dukungannya, Teman😘

__ADS_1


__ADS_2