
Menjadi ibu hamil adalah impian setiap wanita. Merasakan setiap tendangan si bayi dalam perut menjadi hal yang menyenangkan.
πππππ
Setelah selesai menghabiskan setengah mangkuk bakso. Egi dan Zahra pulang ke rumah untuk beristirahat. Hari ini menjadi sejarah dalam jalan kehidupan rumah tangga mereka.
Kabar bahagia ini pun menyebar dari mulut ke mulut. Baik keluarga Egi dan Zahra sama-sama menyambut baik. Adnan yang mengetahui dari Bundanya juga terlihat senang. Tak berapa lama lagi sepupu mungilnya akan hadir ke di tengah-tengah mereka.
"Pasti bayinya lucu. Aku jadi ... pengen punya bayi juga," gumam Adnan.
Seperti ibu hamil pada umumnya, Zahra mengalami mual dan muntah di awal-awal kehamilan. Meski begitu, ia tetap menjaga asupan nutrisi demi kelangsungan sang janin.
Selama istrinya mengalami gejala kehamilan yang menyebabkan Zahra harus badrest beberapa minggu. Egi dengan sigap menggantikan posisi Zahra. Setiap pagi ia membersihkan rumah, mencuci pakaian dan memasak sarapan.
Ia mungkin bisa saja menggunakan jasa pembantu. Namun, Egi tak melakukannya. Ia yakin sanggup mengurus rumah sekaligus istri. Profersinya menjadi dosen memang menyita waktu, akan tetapi ia tak pernah mengeluh lelah. Bagaimanapun, saat ini Zahra tengah butuh perhatian lebih.
Zahra bukan manja, kenyataan tubuhnya yang lemah. Namun, ia pun tak ingin terus seperti ini. Adakalanya saat Egi harus bekerja, ia tetap melakukan kegiatan sendiri tanpa bantuan suami. Ia pun tak pernah protes tentang makanan yang Egi sajikan di pagi hari.
"Sayang, aku sudah buatkan bubur." Egi membawa satu mangkuk bubur di nampan, duduk di samping Zahra. "Dimakan, ya, Sayang."
Zahra menarik tubuhnya untuk berdiri, menyenderkan punggung di sandaran ranjang. "Terima kasih, Mas."
Egi menyendok bubur, meniup sebentar, lalu menyodorkannya ke mulut Zahra. "Jangan katakan terima kasih. Kita suami istri, sudah seharusnya saling menjaga."
Egi memasukkan pelan sendok ke mulut Zahra, dengan pelan Zahra mengunyah bubur. Rasanya enak, bumbu yang pas membuat napsu makannya meningkat.
"Tidak terasa kandunganmu sudah 12 minggu sekarang." Mengusap pelan perut Zahra yang terbalut piyama bermotif beruang. "Aku harap, waktu cepat berlalu. Aku tak sabar melihat anak kita."
Egi kembali menyuapi Zahra sampai mangkuk bersih. Rasa mual mulai sirna, perlahan Zahra bisa mencerna makanan dengan baik. Meski sesekali rasa ingin muntah tetap hadir.
"Hari ini aku pergi ke kampus, Mas," ujar Zahra.
"Apa kamu yakin?" Egi menyimpan mangkuk bubur di meja kecil, mengambil air minum di gelas dan memberikannya pada Zahra.
Zahra meraih gelas, meminum pelan dan hampir setengah isinya masuk ke perut. Rasa kenyang mulai terasa, ia pun mengelus pelan perutnya. "Insya Allah, Mas. Aku yakin, Baby kita pasti membantu Bundanya untuk kuat."
"Kalau begitu, kamu harus berangkat dan pulang bersamaku."
__ADS_1
"Iya, Mas."
"Oh, ya, Aku harus ke luar kota selama dua hari. Apa kamu tidak keberatan, jika pulang ke rumah orang tuamu dulu? Aku hanya takut terjadi sesuatu, kalau harus meninggalmu di rumah sendirian."
Zahra terdiam. Entah mengapa ada rasa tak rela saat Egi mengatakan itu. Hatinya bergejolak meminta ikut, akan tetapi pikirannya berkata lain. Saat ini ia tidak sendiri, ada keselamatan nyawa lain di tubuhnya.
"Kenapa tidak menjawab? Apa kamu tidak mengizinkanku ke luar kota?" Egi mencubit pelan hidung Zahra. "Sejujurnya, aku pun tak ingin pergi. Tapi, Kak Rendy membutuhkan bantuanku. Kamu tau kan, Adnan masih butuh belajar. Jadi, untuk sementara aku yang menjadi cadangan saat Kak Rendy tak bisa hadir."
Zahra muram, suasana hatinya berubah kelam. Cairan bening mulai berdesakan keluar, berselancar bebas di pipi Zahra.
"Jangan menangis, Sayang. Aku hanya dua hari di sana. Aku berjanji, akan membawakanmu sesuatu yang istimewa," bujuk Egi.
"Ma-maaf, Mas ... entah kenapa a--," lirih Zahra.
"Percayalah, aku akan pulang begitu urusan selesai. Meski tengah malam sekalipun," potong Egi sambil membelai lembut rambut panjang dan hitam milik Zahra.
"Maaf, Mas. Aku sedikit manja selama hamil."
"Tidak masalah," cakap Egi. "Ayo, aku bantu kamu berdiri. Bukankah sudah waktunya pergi menimba ilmu?"
"Sepertinya kita harus segera membeli pakaian baru untukmu. Aku penasaran, kenapa bentuk perutmu sedikit besar dari usia kandungan. Mungkinkah anak kita kembar?" tebak Egi.
"Hah, kembar! Aku membayangkan bagaimana melahirkannya nanti."
"Ya, tinggal lahirkan saja, Sayang."
Mata Zahra menyorot tajam dan Ia memanyunkan bibir, kesal. "Paman, memangnya segampang itu melahirkan. Aku bahkan ngeri mendengar cerita orang-orang di media sosial. Tapi, mereka tetap menikmatinya."
"Kenapa kamu selalu menyebutku Paman, jika sedang kesal?"
"Ah, iya, aku lupa. Mas kan, tidak suka dipanggil paman." Zahra tertawa pelan. "Tapi, aku suka melihat ekspresi Mas saat kesal."
"Jadi kamu suka? Baiklah, aku akan kesal sepanjang hari." Egi hendak melangkah.
"Kenapa jadi Paman yang marah? Harusnya aku?" Zahra mendengus kesal. "Sebenarnya yang hamil itu aku atau paman sih!"
Egi yang mendengar itu segera berbalik. Egi berkata, "Jelas kamulah, Sayang. Kalau aku hamil, bagaimana cara melahirkannya?"
__ADS_1
Zahra tertawa geli.
"Jangan tertawa. Kamu saja bertanya yang tidak masuk akal," ketus Egi. "Kenapa akhir-akhir ini aku sering kesal?"
"Mungkin bawaan bayi, Paman."
"Lagi-lagi panggil paman! Aku benar-benar kesal"
Zahra menghampiri Egi, mengurai senyuman semanis madu. "Paman, aku menyukaimu sampai mati."
Zahra membuat wajahnya seimut kelinci, membujuk Egi yang tengah bermuram durja.
"Aku tidak mau tertipu," kesal Egi.
"Ayolah, Paman. Eh, salah --maksudnya-- Mas-ku terganteng. Jangan marah, aku janji tidak akan lupa lagi. Kalau bisa, akan aku tulis sebesar mungkin diingatanku," rayu Zahra dengan suara manja.
Egi diam, memperhatikan istrinya yang bergelayut manja di tangan. Ada rasa tak tega, akan tetapi saat ini perasaan kesal tengah mendominasi hatinya.
"Jangan hanya ditulis saja," sahut Egi.
"Lalu, harus seperti apa lagi?"
"Kalau bisa, kamu harus menghilangkan kata Paman dari kamus bahasa indonesia."
"Bagaimana caranya?" Zahra mengerutkan kening.
Egi mengangkat kedua bahunya, kemudian berjalan meninggalkan Zahra sampai ke pintu. "Kalau kamu tidak bisa, aku akan memintamu melahirkan sebelas anak agar aku bisa membuat tim sepak bola."
Egi berjalan cepat keluar kamar sambil tertawa puas mengerjai istrinya. Ia membayangkan wajah imut istrinya saat merasa kesal. Dan sebentar lagi ia yakin, suara omelan Zahra akan menggema di kamar.
"Paman!" teriak Zahra. "Dengan gampangnya menyuruh istrinya melahirkan sebelas anak. Aku bahkan sudah pusing duluan membayangkan hal itu."
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Maaf, karena aku tengah proses menyapih anak yang kecil. Jadi, hampir semua ceritaku slow up. Aku masih punya hutang 4 exrtra part lagi untuk cerita Egi dan Zahra sampai tamat. Insya Allah, akan aku usahakan tetap up dua hari sekaliπ
__ADS_1