
πΊ **Aku bahagia, karena setelah apa yang kita lewati. Allah akhirnya menyatukan kita dalam ikatan suci. Berjanjilah padaku, bahwa kita akan selalu berjalan beriringan apa pun yang terjadi. Terima kasih Mahasiswaku, ZahraπΊ
πππ EGI πππ**
Setelah melewati pembicaraan yang panjang. Pada Akhirnya pernikahaan akan tetap berlangsung seperti yang sudah direncanakan. Tentu dengan Egi sebagai calon pengantin lelakinya, karena Zahra tidak pernah berniat menikah dengan siapapun selain Egi, cinta pertamanya.
Egi diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Hari ini tepat enam hari sebelum hari pernikahaan. Egi tidak diperkenankan bertemu dengan Zahra sampai sah menjadi seorang suami.
Meski berat hati, karena harus menanggung beban rindu. Egi berusaha mematuhi perintah keluarganya. Hari-harinya ia isi dengan terus belajar menjadi imam yang baik.
Di sisi lain, hari ini Adnan pergi ke kampus seperti biasanya--bersama dua 'R'. Selama pelajaran, Adnan memikirkan bagaimana nasib Rina ke depannya. Pasalnya, semenjak hari itu. Dia dan Rina tidak pernah bertemu, ataupun berkomunikasi.
Siang ini, Adnan dan si kembar tengah asyik menyantap bakso langganan mereka di kantin. Saat sedang asyik, Amalia datang mengejutkan.
"Aa kaseup, Neng datang!" teriaknya sambil berjalan mendekat.
Sontak Riki dab Riko segera menutup muka, karena merasa malu. Setiap Amalia datang, sudah pasti kehebohan akan terjadi.
"Cie ... cie, si kembar ngerebutin satu cewek," celetuk seseorang di pojok kanan kantin.
"Pepet terus, Lia Aa Kaseup-mu itu," timpal yang lain.
Amelia yang memang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, berjalan santai tanpa memperdulikan ocehan receh yang lainnya.
"Aa, Neng kangen tahu." Amelia menarik kursi tepat di hadapan si kembar. "Aa teh, engga kangen sama Neng?"
Riki menoleh ke arah Amalia. "Lia, Lu kalau datang jangan sambil teriakin kita. Malu tahu diliat orang! Dikiranya kita ada apa-apa sama Lu."
"Ya, kan emang kita ada apa-apa, Aa," kilah Amalia.
__ADS_1
"Ada apa-apa gimana?" tanya Riko.
"Kita ini, kan temenan, Aa!" ungkap Amalia. "Neng tuh seneng bisa temanan sama Aa kaseup, Zahra, Adnan juga. Kalian engga pernah ngebeda-bedain status Lia yang cuman anak panti asuhan. Kalian selalu welcome. Meski, terkadang Aa kaseup risih sama Lia. Jujur, Lia juga cuman bercanda, kok!"
Perkataan Amalia membungkam mulut si kembar yang sering kesal padanya. Mereka tidak tahu, bahwa Amalia menyimpan luka di balik keceriannya.
"Lia, maafin kita, ya. Lu boleh, kok temanan terus sama kita. Gue, Riko, Zahra, sama Adnan juga seneng. Tapi--," ujar Riki mendadak bijak.
"Tapi apa, Aa kaseup?" potong Amalia.
"Lu jangan teriak mulu, kalau datang. Gue bukan malu sebenarnya, cuman kagak mau aja orang lain sampai cap Lu sebagai cewek yang ganjen. Bukannya kalau teman itu harus saling menjaga?" jelas Riki.
Amalia meneteskan air mata, untuk pertama kalinya di hadapan orang lain. Ia merasa dihargai, dianggap, dan dibutuhkan. Entah mengapa rasanya dunia yang dulu gelap. Kini mulai terang, karena cahaya dari sebuah Pertemanan.
"Aa Kaseup peluk!" Amalia membentangkan kedua tangannya.
"Eh, kita bukan muhrim. Engga boleh peluk-peluk!" tegur Riko.
Riki dan Riko menggelengkan kepala. Sedangkan, Adnan hanya diam menyimak obrolan mereka bertiga. Pikirannya sedang tidak singkron, ia memang berhasil membuat Dirga mengakui kesalahannya pada Rina di hadapan Rektor. Namun, ia merasa ada yang janggal dalam dirinya. Entah itu apa, ia pun tidak tahu.
Tiba-tiba handphone milik Adnan berbunyi, menandakan chat masuk. Ia segera merogohnya di saku celana, membuka satu pesan, lalu berlari keluar dari kantin.
Duo 'R' dan Amalia tertegun melihat Adnan yang pergi begitu saja. Mereka saling menebak satu sama lain.
"Mungkin Doi punya masalah yang belum terselesaikan," tebak Riki.
Sementara itu, Adnan terus berlari ke arah parkir, mengemudikan kendaraan menuju tempat yang dimaksud. Ia berharap orang yang akan ia temui masih ada di sana.
Dengan kecepatan sedang, Adnan melesat di jalanan. Pikirannya terus berkecambuk, memohon agar bisa melihat orang itu untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Tibalah Adnan di salah satu terminal bus di kotanya. Ia segera memarkirkan mobil, berlari masuk ke area terminal. Matanya menyapu setiap sudut, berharap ia masih memiliki waktu.
Selang tiga menit, ia mendapati punggung seseorang yang tengah berdiri bersama yang lainnya menunggu keberangkatan. Dengan cepat Adnan berlari sekuat tenaga menghampiri orang tersebut, lalu berkata, "Kak Rina!"
Rina yang dimaksud selanjutnya menoleh ke arah belakang. Matanya membulat melihat Adnan sudah berada di sini.
"Adnan ...," lirihnya.
Sang Ibu yang berada di sampingnya juga ikut menoleh. Beliau pun sama terkejutnya. Namun, berusaha tenang. Ibunya Rina mengucapkan terima kasih, atas pertolongan Adnan saat itu. Ia pun pamit masuk ke bus, dan memberi waktu putrinya untuk berbicara sebelum pergi meninggalkan kota yang kejam ini.
"Kenapa harus pulang kampung? Apa Kakak tidak ingin meneruskan kuliah kembali? Aku sudah membereskan lelaki brengsek itu!" tanya Adnan beruntun.
"Sebelumnya, aku ucapkan terima kasih atas semua pertolonganmu padaku. Jujur, aku juga ingin meneruskan pendidikan di sini. Namun, keadaan bapakku sudah semakin parah. Jadi, dengan berat hati aku memilih pulang kampung, bekerja di sana sambil mengurus bapak," jelas Rina menahan linangan air mata agar tidak jatuh.
"Bukankah masih ada Ibu yang bisa mengurus Bapak, Kak?"
"Aku tahu itu, tetapi saat ini ibu pun sebenarnya tidak sehat. Beliau datang ke sini, karena mengkhawatirkan anaknya. Aku tidak mungkin tega meninggalkan mereka. Di sana pun aku bisa menimba ilmu, jika keuangan kami sudah membaik."
Adnan terdiam memandangi wajah Rina, untuk terakhir kalinya. Tanpa ia sadari, kehadiran Rina sudah terbiasa di kehidupannya. Meski begitu, ia tetap tidak boleh egois. Rina berhak menentukan arah jalan kehidupannya.
Suara klakson bus membuyarkan lamunan mereka. Rina pamit dan berjanji sewaktu-waktu akan datang mengunjungi kota ini.
"Baiklah! Hati-hati di jalan, Kak. Sehat selalu, dan teruslah menjadi wanita kuat selamanya," pesan Adnan.
Rina mengangguk, lalu mengurai senyuman manis. Ia menarik koper, selanjutnya masuk ke bus seperti penumpang yang lain. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia sudah nyaman di sini, tetapi keadaanlah yang memaksanya.
"Jangan menangis, Nduk! Ikhlaskan semuanya, percayalah kebahagiaan pasti menantimu!" ujar Ibunya yang sejak tadi mengamati keduanya.
Bus mulai berjalan. Adnan melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Rina membalasnya dengan senyuman getir. Ia berharap suatu saat bisa memiliki anak sebaik Adnan, yang membantu tanpa memandang keadaan orang.
__ADS_1
"Maafkan aku, Adnan. Aku pulang bukan karena Bapak sakit, melainkan Bapak sudah menyiapkan calon suami untukku di kampung. Biarlah rasa ini aku pendam, aku berdoa semoga kelak kamu mendapatkan wanita yang terbaik," batin Rina.