Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
97


__ADS_3

Atmosfer diruangan itu terasa panas, dinginnya AC tidak sanggup menghalau rasa panas dari tubuh Rendy dan Dion.


Ucapan mereka jauh berbeda dengan aura tubuh, tatapan Dion tajam bak pisau yang baru diasah.Sedangkan Rendy, tetap duduk diam dengan pikiran menerka-nerka.


"Tidak!" bantah Dion tegas. "saya keluar atas dasar keinginan saya sendiri. Akan tetapi, bukan berarti saya diam."


Tangan Rendy mengepal, emosi mulai naik mengusai tubuh, tatapan membunuh keluar tanpa diminta.


"Anda boleh melakukan apa saja untuk memisahkan kami, akan tetapi anda belum mengenal betul bagaimana saya sebenarnya," jawab Rendy.


Dion menyeringai, tak peduli siapa yang tengah duduk berbicara dengannya. Dia bahkan telah bersumpah pada dirinya, jika bukan dia, maka tidak ada seorangpun yang boleh memiliki Lisa.


"Harusnya dia memilih saya? saya yang setia menemaninya, bukan anda yang hanya datang sekilas lalu membawanya jauh dari kehidupan saya," kata Dion.


Rendy tersenyum licik, ia ingin tertawa. Perkataan Dion mencerminkan apa yang ada dalam otak laki-laki ini, sesempit inikah pikiran laki-laki yang sedang berbicara dengannya.


"Anda tidak tahu tentang takdir! Banyak sudah yang menjadi contoh. Orang yang sudah lama bersama dengan seorang wanita tanpa mau bertindak, adalah orang yang paling pengecut dimuka bumi ini. Sedangkan dia yang hanya datang sekali dengan berlari, sudah pasti akan menjadi pemenangnya!" tegas Rendy.


Suasana semakin tegang, mereka beradu tatapan tanpa ada kekerasan, akan tetapi ini lebih mengerikan dari sebuah perkelahian fisik. Masing-masing dari mereka, memancarkan aura negatif.


"Baiklah. Saya terima pengunduran diri Anda. Segera kemasi barang-barang anda, lalu keluar dari kantor saya!" seru Rendy.


"Baik. Senang bisa mengenal dan bekerja dengan anda selama ini." Dion mundur lalu membalikkan badannya hendak pergi, namun tiba-tiba langkahnya terhenti.


"Ada satu hal yang patut anda ingat. Saya diam bukan berarti kalah, tapi saya sedang menunggu anda lengah." ujar Dion lalu melanjutkan langkahnya menuju pintu dan berlalu bak ditelan bumi.


Rahang Rendy mengeras, emosi yang sudah naik ke kepala tak bisa dibendung, ia segera berjalan cepat menyusul Dion. Beruntung Rey datang di waktu yang tepat, ia tidak paham apa yang terjadi dengan mereka. Namun, Rey bisa merasakan ada kemarahan di sudut mata sahabatnya, Rey menahan tubuh Rendy di ambang pintu lalu berkata, " Inget ini kantor. Kalau Lo mukul dia di sini, Lo sama sekali engga profesional dalam bekerja. Mencampur adukkan antara pekerjaan dan kehidupan asmara."


Tangan Rendy yang semula mengepal, kini sedikit terbuka kembali. Nafasnya yang memburu, ia atur agar normal kembali. Dia tidak boleh terpancing emosi, mungkin saja Dion hanya menggeretak saja.


"Sebaiknya Lo duduk, biar emosi Lo cepet reda." Rey menepuk bahu Rendy lalu mengajak sahabatnya duduk di sofa.


Rey menatap dalam pada Rendy, mendengar setiap hembusan nafas bercampur amarah dari sahabatnya.


"Dia ada perlu apa sama Lo?" tanya Rey setelah agak lama membiarkan Rendy mengatur amarahnya.

__ADS_1


"Dia ngundurin diri dari kantor!" jawab Rendy singkat.


"Alasannya?"


"Dia engga mau ngomong. Tapi, ucapannya yang terakhir bikin Gue naik darah!" adu Rendy.


"Dia ngomong apa?" tanya Rey.


Rendy menghela nafas kasar, membanting punggungnya untuk bersandar di sofa lalu berkata, "Dia nunggu Gue lengah."


"Lengah," ujar Rey kebingungan. "apa dia masih belum menyerah soal Lisa?"


"Sepertinya," sahut Rendy.


Rey berdiam, berpikir sejenak. Pantas saja sahabatnya ini murka, jika ia di posisi Rendy pun sudah di pastikan Dion akan menjadi rempeyek kacang.


"Lo tenangin diri dulu. Gue tahu Lo marah, tapi sebaiknya orang kaya gitu engga usah di lawan dengan kekerasan. Orang kaya gitu otaknya udah kurang seperempat dijual di tukang loa," ujar Rey mencoba menenangkan Rendy.


Rendy memejamkan mata, meredam emosi yang menguasai diri. Pikirannya berlari tanpa tujuan, jiwanya terbang menembus cakrawala.


Dia hanya mampu berdoa yang terbaik, dan berusaha semampunya. Menjaga apa yang sudah Allah titipkan untuknya. Namun, bolehkah kali ini ia sedikit egois. Memaksa Sang Kuasa untuk tetap membuat Lisa berada di sisinya, sekalipun ia paham tidak ada yang tahu jalan masa depan seseorang.


Bisa saja Allah mengambil Lisa dari kehidupannya, itu semua mungkin saja terjadi. Ketakutannya bukan perihal Allah menarik kembali Lisa, akan tetapi ia tidak mungkin sanggup melihat Lisa bersanding dengan pria lain.


🌷🌷🌷🌷🌷


Sementara itu, di rumah Pak Adrian. Egi, Lisa, Pak Adrian dan Mang Asep tengah asyik berkebun. Lisa yang hanya di perbolehkan duduk memperhatikan mereka, tetap ikut merasakan kebahagian adik yang tersenyum bahagia.


"Nak, Papa istirahat dulu. Kamu lanjutin sama Mang Asep aja, ya," ujar Pak Adrian pada Egi.


"Iya, Pa," sahut Egi.


"Ayo, Den," ajak Mang Asep pada Egi.


Pak Adrian membersihkan serpihan tanah yang sedikit menempel di pakaiannya. Pak Adrian berjalan menghampiri menantu wanitanya, lalu ikut duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Lisa, apa kandunganmu baik-baik saja?" tanya Pak Adrian.


Lisa menoleh ke samping memasang senyum manis lalu berkata, " Alhamdulilah, Pa semua baik. Dia mulai menerima sedikit makanan yang masuk."


"Syukurlah. Papa takut kamu seperti Mama Ratna saat mengandung Rendy dulu," lontar Pak Adrian ada sedikit kecemasan dalam ucapannya.


"Memang Mama Ratna seperti apa saat mengandung Mas Rendy, pa?"


Kepala Pak Adrian menengadah ke atas, memandang langit yang nampak cerah hari ini. Pikirannya memutar kembali kenangan indah saat almarhum sang istri pertama merasakan kehamilannya.


"Dulu, Mama Ratna sangat lemah saat mengandung Rendy. Hampir tiap waktu muntah-muntah, bahkan sebulan di awal-awal kehamilan bisa masuk rumah sakit dua kali. Namun, Mama tidak pernah mengeluh sedikitpun. Ia selalu tersenyum sehabis memuntahkan makanannya, setiap Papa tanya alasannya selalu sama," beber Pak Adrian.


Lisa menatap wajah Mertuanya, laki-laki hebat yang sudah mendidik dan membesarkan suaminya. Kerutan di wajah Pak Adrian, menandakan usianya tidak lagi muda. Namun, sisa-sisa ketampanan masih terlihat di wajahnya.


"Sama gimana, pa?" tanya Lisa penasaran.


Pak Adrian terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Lisa. Setiap mengingat kenangan bersama wanita yang kini sudah pergi duluan menghadap Sang Ilahi, matanya selalu berkaca-kaca. Hati memang tidak bisa di bohongi. Meski kepergian istrinya sudah lama , akan tetapi hati kecilnya belum begitu ikhlas melepas wanita yang selalu tersenyum menyambutnya setiap pulang kerja di rumah.


"Mama Ratna selalu bilang, semua kesakitan yang ia rasakan saat mengandung, tidak akan sebanding dengan kebahagian saat mendengar suara tangis bayi lahir ke dunia ini," jawab Pak Adrian.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Mohon dukungannya dengan cara:


Like.


Coment.


Vote.


Rate 5.


Selamat membaca😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2