Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
107


__ADS_3

Andai cinta itu berbentuk layaknya bunga. Saat ini juga Farhan ingin menumpahkan seluruh bunga itu dari hatinya.


Dira, gadis manis nan cantik menjadi sosok satu-satunya wanita yang sanggup meruntuhkan segala egonya. Dira bahkan membuat Farhan menjadi tidak waras, saat ia bersama gadis itu.


Satu dorongan dari Dira nyatanya sanggup menjauhkan tubuh Farhan dari dirinya. Ia tidak ingin terlalu lama hanyut dalam buai manis cinta laki-laki ini.


"Aduh, Lo kalau dorong pake hati napa, Dir!" ucap Farhan yang tubuhnya sedikit mundur dari Dira.


"Hei, Kakak tua. Di mana-mana dorong itu pake tangan, mana ada dorong pake hati!" protes Dira.


"Ya, gue tahu pake tangan. Maksud gue tuh, jangan kenceng-keceng banget,"


"Suruh siapa bisik-bisik tetangga di telingaku. Malu tahu di liat orang," ucap Dira. " nanti di kiranya kita pasangan."


"Lah, kita memang pasangan, kan!" seru Farhan.


"Ini masih pagi, Kakak tua! Jangan mimpi dulu,"


"Sudahlah! Mana buruan jawaban buat gue. Lo bikin gue mati berdiri, terlalu lama nunggu jawaban!"


"Tapi, keliatannya Kakak tua masih sehat-sehat aja tuh,"


"Itu ungkapan, Bocah ingusan! Kalau istri, udah gue sumpel tuh mulut pake bibir gue!" kesal Farhan.


"Ih, ogah,"


"Sekarang ogah, nanti malah minta nambah," ledek Farhan.


Dira memukul badan Farhan dengan tas gendongnya. Seketika Farhan yang kaget langsung menjerit kesakitan.


"Aww... ni Bocah udah mulai berani!" seru Farhan.


"Siapa suruh ngomong jorok,"


"Perasaan gue tadi pagi udah gosok gigi, 4 kali malahan biar kinclong. Mana mungkin keluar yang jorok-jorok dari mulut gue," bantah Farhan.


Dira memonyongkan bibirnya. Ia segera melangkahkan kaki meninggalkan Farhan sendirian.


Farhan yang menyadari akan hal itu. Segera menarik tangan Dira, lalu menyeretnya keluar menuju mobil.


"Kakak tua, lepasin engga? aku mau pulang!" teriak Dira.


Farhan sama sekali tidak menggubris ucapan Dira. Ia terus sama membawa gadis itu keluar dari bandara.


Tanpa di duga, seseorang melepaskan dengan kasar tangan Farhan dari Dira. Orang itu berkata, " Lo engga boleh seenaknya memperlakukan cewek kaya gini! Dia udah bilang lepasin, itu artinya dia engga mau sama Lo."

__ADS_1


Farhan berhenti seketika, begitu pun dengan Dira. Mereka menoleh ke arah orang itu yang ternyata Dika. Untuk kedua kalinya Dika melihat Farhan berbisik di telinga Dira.


Tanpa mereka sadari, Dika sudah ada di bandara tepat ketika insiden Farhan salah memeluk orang.


"Kak Dika!" seru Dira.


Dira tersentak tatkala melihat Dika ada di antara mereka. Dua minggu lalu saat mereka tiba di salah satu bandara terbesar di Belanda. Dika sempat memberinya sebuah kotak berisi cincin.


Dia dengan halus menolaknya. Dia merasa tidak berhak menerima barang dari orang yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Ketika itu wajah Dika tidak terlihat kecewa. Ia malah tersenyum sambil berkata, " Jika nanti Lo lebih memilih Farhan dari pada gue. Setidaknya izin gue tetap ada di dekat Lo, Dek."


Perkataan itu selalu terngiang di telinga Dira. Dia semakin bingung menentukan pilihan untuk dirinya sendiri.


"Hei, Dokter gila. Lo ngapain pake ikut campur segala," ucap Farhan.


"Gue ke sini atas perintah Rendy buat ngejemput Dira. Jadi, gue lebih berhak bawa pulang Dira!" tegas Dika.


"Gue yang duluan ke sini, jadi Dira pulang bareng gue!" seru Farhan.


Dira yang tersadar dari lamunannya, mulai risih dengan kedua laki-laki di hadapannya ini.


"Stop!" teriak Dira. "bisa engga sih kalian itu akur kalau ketemu. Aku tuh cape baru aja pulang. Ok! Gini aja, biar adil aku pulang sendiri!"


"Tapi__," ujar mereka bersamaan.


"Engga ada tapi-tapian!" seru Dira. " malam ini aku tunggu Kak Dika dan Kakak tua di cafe X. Aku pengen segera mengakhiri semua ini."


Malam ini akan menjadi penentuan keputusan Dira. Ia berharap tidak ada kesalahan apapun dalam menentukan pilihan.


Dira ingin segera sampai rumah. Bertemu Papa dan Egi, anak laki-laki yang sering meneleponnya selama di negri kincir angin sana.


Sesampainya di rumah, Dira di sambut hangat oleh Pak Adrian dan Egi. Dira yang beralasan sangat lelah, segera pamit untuk menemui kasur empuknya yang sangat ia rindukan.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Hari telah berganti malam. Tepat pukul delapan malam. Dira keluar dengan memakai baju panjang dan celana jeans panjang. Tidak lupa tas kecil membuat semakin manis penampilannya.


Dira sudah pamit sebelumnya pada Pak Adrian. Dengan catatan ia tidak boleh pulang lebih dari jam sepuluh malam. Tentu Dira menyetujuinya, ia juga tidak suka berlama-lama keluar rumah jika bukan karena terpaksa.


Dengan diantar Mang Asep, Dira sampai di cafe tempat ia menjanjikan pada kedua laki-laki itu.


"Mang, lebih baik Mang Asep pulang dulu. Nanti Dira akan telepon, kalau sudah selesai," ucap Dira setelah keluar dari mobil.


"Baik, Neng. Amang pamit dulu," pamit Mang Asep.


Setelah memastikan mobil Mang Asep menjauh. Dira segera melangkahkan kaki masuk ke dalam cafe. Dari kejauhan sudah terlihat Dika tengah duduk diam sambil melihat ke arah luar melalui kaca jendela.

__ADS_1


Dira bergegas menghampiri Dika sambil berkata, " Sudah lama menunggu, Kak?"


Dika yang sedikit kaget mendengar suara Dira, seketika langsung menggerakkan kepalanya ke arah Dira.


"Baru aja lima menit," sahut Dika. "Ayo, duduk! Gue udah pesenin es jeruk kesukaan Lo, Dek."


Deg...!


Hati Dira bergetar, laki-laki ini tahu betul apa yang menjadi kesukaannya. Dia tidak tahu, jika Dika begitu memperhatikan dirinya.


Dira mengulas senyum. Ada rasa canggung sedikit, jika sedang berduaan dengan Dokter tampan ini. Berbalik sekali, jika ia sedang bersama Farhan. Hati Dira selalu terbawa suasana hangat dan romantis yang diciptakan oleh lelaki menyebalkan itu.


Dari luar jendela, Dira melihat Farhan keluar dari mobilnya. Terlihat jelas Farhan ingin memutar balik, akan tetapi mobil itu berhenti seketika karena mogok.


Farhan yang tidak sabar, membiarkan mobilnya begitu saja di sisi jalan. Sebelumnya ia sudah menelpon orang kepercayaannya untuk membawa montir ke tempat mobilnya berdiam.


Farhan segera menyebrang jalan ketika memastikan jalanan kosong. Namun, tanpa ia sadari sebuah mobil yang hilang kendali tengah melaju ke arahnya. Seketika tanpa ada halangan, mobil itu menabrak tepat pada tubuh Farhan.


Duar...!


Dira yang tengah duduk menoleh ke arah jendela. Matanya menyaksikan langsung, bagaimana tubuh laki-laki itu terpental jauh, kemudian jatuh tepat di hamparan aspal.


"KAKAK TUA!" teriak Dira.


Dengan sekuat tenaganya, Dira segera berhamburan lari keluar cafe. Dika yang menyadari itu segera menyusul gadis manisnya.


Dira terus memanggil nama Farhan. Dia tidak peduli tanggapan orang tentangnya saat ini. Farhan yang sudah tergeletak berlumuran darah, membuat Dira semakin shock.


Dengan kedua tangannya, Dira mengangkat tangan Farhan lalu berkata, " Kakak tua, bertahanlah! Aku mohon, bertahanlah."


Semua orang mulai berkerumun melihat kejadian itu. Dika yang baru sampai segera menelpon ambulans, untuk membawa Farhan ke rumah sakit.


Tangis Dira pecah di saksikan puluhan mata memandang. Ia sama sekali tidak menyangka akan menyaksikan langsung kejadian seperti ini.


Air matanya bercucuran membanjiri seluruh pipinya. Ia tak kuasa menahan rasa sakit, pedih melihat Kakak tuanya tergeletak tak berdaya.


"Kakak tua, bangunlah! Buka matamu, aku ingin mengatakan sesuatu," pinta Dira.


Dira mengehala napas kasar. Tubuhnya bergetar ketika darah segar terus mengalir dari kepala Farhan. Dira menggenggam tangan Farhan sambil berkata, " Aku mencintaimu! Aku mencintaimu, Kakak tua!"


...****************...


BERSAMBUNG~~~~


Bagaimana kira-kira nasib Farhan? akankah dia selamat, atau pergi untuk selamanya?

__ADS_1


Nantikan jawabannya di Bab selanjutnya🙈🤗


Jangan lupa dukungannya, Say😉


__ADS_2