Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
116


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. hari ini Rendy dan Rey berangkat ke kota Y. Ada keperluan yang harus mereka selesaikan.


Pagi-pagi sekali Lisa sudah membantu mengemas barang ke koper. tidak nampak raut sedih di wajahnya. Dalam benaknya ia tanamkan jika, ini hanya sementara.


Setelah beres mereka berdua menuju meja makan. Mengisi perut untuk memulai hari yang baru. Dengan cerita yang baru. Tentu dengan sesuatu yang belum pasti.


"Sayang, aku akan mengabarimu sesampainya di sana." ucap Rendy. Tangannya mengelap bibir dengan tisu. " Jaga dirimu baik-baik, ya!"


Ada sedikit rasa khwatir dalam intonasi bicaranya. Pikirannya masih sedikit terusik. Namun ia berusaha sekuat tenaga menepis.


"Iya, Mas. Mas juga jaga diri di sana!" pesan Lisa balik sambil menumpukan piring kotor. Membawanya ke dapur, lalu mencucinya. Selesai.


Lisa kembali menghampiri suaminya yang sudah berpindah ke ruangan tamu. Laki-laki itu nampak tampan hari ini. Lisa memandannya tak jemu-jemu.


Deg...!


Hatinya bergetar. Perasaan macam apa kali ini? mengapa sekarang ia merasa tidak rela berpisah sebentar saja. Mungkin saja karena efek kehamilan yang kini usianya sudah 4 bulan.


"Bantu Ibu, Nak. Papa hanya pergi sebentar saja," gumamnya pelan.


Lisa berjalan pelan. Sayup-sayup terdengar suaminya tengah berbicara dengan seseorang melalui telepon.


"Iya, saya sudah tahu! Hari ini rencananya saya akan berangkat ke sana," ucap Rendy dengan wajah sedikit berbeda. Lisa tidak bisa menebak apa yang terjadi.


"Baiklah. Biar saya sendiri bertemu dengan pemilik perusahannya," lanjut Rendy. Mematikan panggilan, lalu mengantongi benda canggih itu ke saku jas.


"Mas, sudah mau mau berangkat?" tanya Lisa. Berjalan perlahan, kemudian merapihkan kembali dasi yang melingkar manja di kerah kemeja.


"Sebentar lagi," sahut Rendy. Menarik pinggang Lisa hingga mendekat ke tubuhnya. " Aku pasti merindukanmu di sana!"


Lisa tersenyum. kecil. Ia pun akan merindukan suaminya. Mereka tidak pernah terpisah sebelumnya, namun kali ini jarak harus memisahkan cinta mereka untuk sementara saja.


Dari luar terdengar deru mobil berhenti. Rendy segera melepas tangan dari pinggang istrinya sambil berkata, " Rey sudah datang. Aku harus segera berangkat."


Lisa mengangguk pelan. Menggenggam tangan suaminya, lalu berjalan bersama ke luar rumah.


"Lo udah siap, Ren?" tanya Rey yang hanya menurunkan setengah dari kaca mobil.


"Udah." Rendy menyimpan koper ke bagasi.


Dengan hati yang masih sedikit cemas Rendy berjalan kembali pada istrinya.

__ADS_1


Cup..!


Satu kecupan manis mendarat di kening Lisa. Satu kecupan untuk memulai perpisahan sementara.


"Jaga diri baik-baik. Jangan lupa makan, dan selalu kabari aku jika terjadi sesuatu!" pesan Rendy.


"Iya, Mas,"


"Aku berangkat dulu. Assalamualaikum." Membuka pintu mobil, lalu segera masuk. Setengah kaca ia buka untuk sekadar melambaikan tangan pada istri yang akan ia tinggalkan beberapa hari.


Mobil itu bergerak maju. Meninggalkan Lisa yang masih setia berdiam. Perasaannya semakin tidak enak. Alangkah baiknya jika, ia mengambil air wudhu untuk menenangkan pikiran. Membuang jauh perasaan aneh yang ia rasakan.


Sementara itu di dalam mobil Rendy masih sedikit gundah gulana. Ia ingin berlari ke tempat asalnya, lalu memeluk istrinya kembali. Akan tetapi semua tetap harus berjalan semana mestinya.


Rey melirik sekilas lewat kaca. Hatinya bertanya ada apakah yang terjadi pada sahabatnya.


"Ren, Lo lagi ada masalah?" Laki-laki itu selalu tahu apa yang dirasakan sahabatnya.


"Sedikit. Ini mungkin perasaan gue aja. Tapi!" lontar Rendy. " gue ngerasa ada hal yang bakal terjadi sama Lisa."


"Lo tenang aja. Semua pasti baik-baik aja. Lagian siapa yang mau nyelakain Lisa?"


Rey terperanjat. Mengorek kupingnya supaya tidak salah mendengar.


"Dion bekas karyawan di perusahaan Lo!" seru Rey. Ia ingin memastikan benarkah dugaannya.


"Iya. Gue muak liat mukanya, gue tonjok dia. Mungkin kalau Lisa engga ngelarang, hari itu juga dia bisa habis sama gue di toko!" Intonasi bicara Rendy sedikit meninggi. Ada Emosi ikut hadir di ucapannya.


Rey mencoba memahami perasaan dan kondisi Rendy. Ia yang hanya seorang sahabat pun geram dibuatnya. Wajar jika, Rendy ingin menghabisi laki-laki tidak tahu malu itu.


"Tuh orang maunya apa sih? gue heran, cewek banyak masih aja doyan istri orang!" kata Rey.


"Entahlah, gue juga bingung." Menyenderkan punggung ke kursi mobil. Mencoba memejamkan mata, karena perjalanan yang mereka tempuh lumayan jauh.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Setelah kepergian suaminya. Lisa bergegas pergi ke toko. Ia tidak ingin terus terkekang perasaan yang tidak jelas.


Dengan diantar Mang Rudi Lisa berangkat menuju toko. Hari ini ia meminta Dira menemaninya selama di toko.


Ririn memang ada di sana, akan tetapi Lisa sedikit canggung untuk bersunda gurau. Sesampainya di depan toko, Lisa segera keluat mobil sambil berkata, " Mang Rudi nanti jam lima sore jemput saya lagi di sini, ya!"

__ADS_1


"Iya, Neng!" Mang Rudy mengangguk, lalu membawa mobil kembali untuk pulang.


Lisa hendak berjalan, akan tetapi suara seseorang menghentikan langkahnya.


"Kak Lisa," panggil Dira. Penampilannya sedikit membaik, mungkin karena ia tidak ingin terus meratapi kepergian kekasihnya. Meski hati kecilnya tetap menangis.


"Eh, kamu sudah datang, Dir," sambut Lisa. " apa kabar, Dek?"


Dira mengurai senyum kecil. Mungkin senyumnya tidak semanis dulu, akan tetapi sudah cukup untuk membuat lega hati orang sekitarnya.


"Alhamdulilah. Aku baik, kak," jawab Dira. Menatap dalam pada Lisa. Seolah menemukan sesuatu yang berbeda pada diri Kakak iparnya. " Kandungan Kakak sudah sedikit keliatannya. Perutnya mulai sedikit buncit."


"Hehehe. Kamu ini, Kakak pikir kamu liatin Kakak kenapa! Tahunya karena perut Kakak ini!" Mengelus perut yang kini nampak sedikit berisi.


"Ayo, masuk. Ada Ririn di sana!" ajak Lisa.


Keduanya melangkah masuk. Lisa memang selalu percaya pada orang lain. Begitu pun dengan Ririn. Ia memberikan satu kunci cadangan toko, pada gadis itu.


"Assalamualaikum," ucap Lisa begitu masuk ke dalam toko bunga.


"Waalaikumsalam." Ririn yang sedang merapihkan bunga segera menoleh ke arah pintu.


"Mbak Lisa sudah datang," lanjutnya.


"Iya, Maaf. Tadi jalanan macet jadi, Mbak sedikit lama sampai toko," ungkap Lisa, " apa sudah ada pelanggan datang?"


Ririn menunjuk ke arah dua buket bunga yang baru saja ia selesaikan sambil berkata, " Baru ada dua pesanan masuk, Mbak. Itu baru selesai aku rangkai."


"Alhamdulilah!" sahut Lisa, " oh, ya, Rin. Kenalin ini Dira, adiknya Mas Rendy."


Dira tersenyum, menyodorkan tangan ke arah Ririn sambil berkata, " Perkenalkan aku Dira. Senang bertemu denganmu."


Ririn segera menyambut hangat tangan Dira untuk berkenalan. Usianya memang masih muda, akan tetapi ia tahu cara menghormati orang yang lebih tua darinya.


"Aku Ririn, Kak. Senang juga bertemu dengan Kakak," sambut Ririn dengan senyuman manis.


...****************...


BERSAMBUNG~~~~


Yang masih setia membaca Author ucapkan terimakasih. Jangan lupa dukungannya dengan cara like, coment dan vote๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2