Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
S2 BAB 24


__ADS_3

~Cintailah orang lain tanpa melebihi rasa cintamu pada Ilahi Rabbi, karena bila itu terjadi. Hatimu akan mudah sakit, saat dia tidak memiliki cinta yang sama denganmu~


____🌸 CietyAmeyzha 🌸____


Zahra maju sepuluh langkah mendekat pada Lisa tanpa memandang Egi. Zahra tersenyum manis. "Maaf, Tante. Ini ada titipan dari Tante Dira untuk Tante."


Zahra memberikan bingkisan tadi, lalu Lisa meraih dengan tangannya sambil berkata, "Terima kasih, Sayang. Kamu sudah lama menunggu?"


Zahra menggelengkan kepala dengan tetap mempertahankan senyuman indahnya. Tidak ingin berlama-lama, ia pun berpamitan pada Lisa. Sekali lagi Zahra berpura-pura seolah Egi tidak terlihat.


Zahra berlalu meninggalkan Lisa dan Egi. Hanya dia dan Allah yang tahu hatinya saat ini. Bahkan semesta pun tidak mengetahuinya.


Egi terdiam memandangi punggung Zahra dari tempatnya. Ada rasa tidak biasa yang mulai meradang dalam jiwa. Bergejolak, entah apa penyebabnya


"Gadis itu menyukaimu, kan?" tanya Lisa.


"Kakak tahu?"


"Terlihat jelas dari wajahnya yang cantik. Apa kamu juga menyukainya?"


"Tidak! Dia hanya sebatas mahasiswi-ku."


Egi mengayunkan langkah menuju kamar. Mulutnya yang berbicara, tetapi mengapa hatinya yang terluka?.


Lisa tersenyum kecil melihat reaksi keduanya. Ia bukan tidak bisa memaksa Egi mengatakan hatinya. Namun, ia tahu betul bagaimana watak adik lelakinya itu.


"Masa muda memang indah. Beruntungnya mereka. Andai aku bisa mengulang masa mudaku. Ingin sekali aku memulainya dengan hal indah bersama Mas Rendy," gumam Lisa pelan.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Waktu terus berlalu. Seminggu setelah itu Egi dan Zahra berinteraksi hanya sebagai dosen dan mahasiswi.


Seperti janjinya pada Lisa. Egi sudah datang menemui Sofi. Gadis itu tidak terlihat buruk. Ia bahkan lebih cantik aslinya. Namun, Egi tetap menolak.


Hal yang sama pun terjadi dengan Zahra. Ardi datang bersilaturahmi ke rumahnya. Sedikit berbeda dari Egi. Zahra tidak menerima, ataupun menolak lelaki berusia dua puluh lima tahun itu.

__ADS_1


Bagi Zahra, saat ini ia hanya ingin pokus belajar. Tentu, Ardi memahami soal itu. Ia dengan senang hati menunggu kapanpun Zahra siap.


Hari ini suasana kampus sangat ricuh. Pasalnya, ada seseorang yang membagikan video asusila mirip Rina di website kampus.


Karena itu, saat ini Rina berada di ruangan bercat warna putih tulang. Tempat di mana Rektor kampus memanggilnya.


"Apa benar wanita yang di video itu anda sodari Rina?" tanya Rektor.


Rina mengangguk. Tidak ada gunanya ia menutupi kebenaran. Semua sudah terlambat. Nasi telah menjadi bubur. Kaca yang retak tidak mungkin bisa sempurna kembali.


"Anda sudah paham 'kan risiko yang akan Anda terima, atas perbuatan tercela ini?"


"Sa-saya paham, Pak ...."


"Kalau begitu, tanpa harus membuang waktu lama. Anda saya keluarkan dari kampus ini. Anda bukan lagi mahasiswi kami."


Rina menunduk lemas. Mulutny terkunci, hanya cairan bening melintas melewati pipi. Ia bahkan tidak sanggup menjawab. Sebuah anggukan pelan dari Rina, sebagai pertanda ia mengerti.


Berita ini cukup mengejutkan seluruh penghuni kampus. Tidak terkecuali Egi sebagai dosen. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih Rina membenarkan akan hal itu.


"Tumben sepi banget. Orang pada ke mana 'sih!" gerutunya sambil terus melangkah.


Zahra yang baru saja datang ke kampus. Belum mengetahui sama sekali soal berita Rina. Sejak tadi ponselnya memang berbunyi. Tanda banyak chat masuk. Namun, gadis itu memilih mengabaikannya, dan pergi ke perpustakaan.


"Paling juga si Lia yang chat nanyain Aa kasep," pikir Zahra.


Sampailah Zahra di perpustakaan. Suasana di sini lebih ramai dari pada di lorong kampus tadi. Mungkin saja sebagian mahasiswa sedang memburu buku untuk tugasnya.


Zahra masuk ke dalam. Memilah dan memilih buku yang pas dengan tugasnya. Sesekali ia menggaruk kepala saat buku yang ia kehendaki, tidak juga ditemukan.


Mata Zahra melihat jeli. Buku yang ia inginkan tepat di rak paling atas. Tinggi badannya yang sangat imut membuatnya kesulitan. Meski, sudah berjingjrit.


"Ya Allah, ini rak tinggi banget udah kayak tingginya harapanku pada si dia," gerutunya.


Tekadnya kuat. Ia berusaha sekali lagi. Tangannya hampir sampai, tetapi mendadak kakinya oleng dan hampir terjungkir ke belakang.

__ADS_1


Tiba-tiba tubuh seseorang menghalanginya. Tangan orang itu meraih pinggang kecil Zahra.


"Apa Tante Mona sedang mengandung? Kamu sering terjatuh, seperti anak kecil yang akan punya adik kembali," ujar Egi pelan.


Beberapa detik mereka masih terdiam dalam posisi itu. Namun, setelah sadar keduanya segera memberi jarak satu sama lain.


"Terima kasih, Paman," cicit Zahra sambil menunduk.


Egi mendekat. Membuat Zahra semakin salah tingkah. Ia berpikir Egi akan melakukan sesuatu padanya. Namun, ia salah.


Lelaki itu ternyata mengambilkan buku yang hendak Zahra ambil. Egi menatap Zahra lekat. "Ini ambillah! Kamu menginginkannya bukan?"


Zahra memberanikan diri membalas tatapan Egi. Diraihnya buku tebal dari tangan Egi sambil berkata, "Iya, Paman. Sekali lagi terima kasih."


Egi masih memperhatikan gerak gerik Zahra. Pipinya terlihat merah merona. Sungguh gadis itu tidak pandai soal menyimpan perasaan.


"Kalau begitu, aku pamit dulu." Zahra berjalan tiga langkah menjauh dari Egi. Namun, tiba-tiba Egi melontarkan pertanyaan yang membuat Zahra mematung.


"Apa proses perjodohannya berjalan lancar?" tanya Egi. "Saya mengetahuinya dari Bundanya Adnan."


"Ah, iya semuanya lancar. Dia juga lelaki baik."


"Syukurlah. Saya harap kamu tidak salah memilih."


"Tentu, Paman. Di banding lelaki yang saya cintai, dia lebih baik. Setidaknya ia memberikan aku kebahagiaan."


Zahra mengayunkan langkah. Sekuat tenaga menahan mulutnya, untuk tidak berkata jujur. Ia tahu, saat ini pun Egi sudah memiliki wanita terbaik pilihan keluarganya. Jadi, untuk apa ia terus berharap.


"Apa kamu tidak mau mempertimbangkan perasaaan Adnan? Dia mencintaimu dengan tulus," cakap Egi sedikit kencang. Namun, hampir tidak ada orang yang mendengar.


...****************...


BERSAMBUNG~~~~


Bab-bab selanjutnya semakin menguras emosi. Entah, akan seperti apa cerita ini?

__ADS_1


Tetaplah stay sampai akhir bersamakuπŸ€—πŸ€—πŸ˜


__ADS_2