Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
27


__ADS_3

Rendy yang masih tersulut amarah tak bisa konsentrasi pada pekerjaannya. Dia terus teringat ucapan Farhan.


Rey masuk ke ruangan Rendy, dia melihat Rendy seakan sedang menahan amarah.


"Kenapa Lo, engga dapat jatah semalem?." Tanya Rey.


Rendy kaget mendengar ucapan Rey mendadak.


"Lo udah kaya jelangkung tau engga, datang engga di undang pulang engga di antar." Ucap Rendy kesal.


"Kalau gue jelangkung, berarti lo bos jelangkungnya dong hahahaha." Jawab Rey tertawa puas.


"Berisik lo, keluar sana."


"Wis santai bro, kenapa sih lo?. Muka lecek gitu, udah kaya baju yang engga disetrika seminggu aja."


"Gue lagi kesel sama si Farhan, datang kesini cuman bikin mood gue ancur doang." Ucap Rendy.


"Emang tadi dia jadi kesini. Kok gue engga liat."


Rendy tidak menjawab pertanyaan sahabatnya ini. Rendy mencoba menenangkan amarahnya, dia tidak boleh terkecoh dengan semua ini.


"Farhan ngomong apa sama lo, sampai lo semarah ini?." Tanya Rey.


"Lo tau engga, dia tadi ketemu Lisa dan parahnya lagi dia bilang sempet mau minta nomer hp nya Lisa, tapi keburu ada yang nyamperin mereka. Gue pikir yang nyamperin itu lo atau engga si Dion." jelas Rendy.


"Terus, masalahnya?"


"Masalahnya, dia berani minta biodata Lisa ke gue karena pengen tau alamatnya Lisa. Dia ngomong dengan entengnya, kali aja Lisa jodoh dia." Ucap Rendy.


Rendy menghela nafas kasar sebelum melanjutkan lagi ucapannya.


"Gue bener-bener pengen nonjok dia tadi, tapi gue tahan. karena posisinya dia engga tau kalau Lisa itu istri gue. Gue coba peringatin dia buat engga deketin Lisa, tapi jawabannya bikin gue naik pitam." Lanjut Rendy.


"Emang dia jawab apa?." Tanya Rey.


"Dia bilang kalau dia malah ngerasa ke tantang, gue yakin dia udah mulai curiga soal hubungan gue sama Lisa. gue nebak dari cara dia natap gue tadi, makanya gue mesti waspada." ucap Rendy.


"Wah gila, kebangetan emang tuh anak. Kalau ada gue, udah gue hajar tuh." ujar Rey sambil memperagakan gerakan sedang menonjok.


"Udahlah, yang penting mulai sekarang gue mesti waspada sama dia."


"Ya udah, lo tenangin diri dulu. gue cuman mau ngasih laporan keuangan bulan ini." ucap Rey yang meletakan dokumen di atas meja.


Rey berlalu meninggalkan ruangan Rendy, sedangkan Rendy masih terdiam mencoba mengatur emosinya.


Setelah sedikit reda, Rendy mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan pada istrinya.


~Rendy~


Assalamualaikum, sayang nanti pulang tunggu aku di tempat biasa. Aku mau ajak kamu makan di luar.


Tak perlu menunggu Lama, sebuah pesan balasa dari Lisa pun Rendy terima.


~My wife~

__ADS_1


Waalaikumsalam, baik mas.


~Rendy~


Jangan lupa ya. Peluk cium dari suamimu.


Tak ada balasan apapun dari Lisa, Rendy bisa menebak jika istrinya sekarang sedang tersipu malu mendapat pesan darinya.


Suasana hati Rendy kembali membaik, hanya dengan mengingat Lisa saja membuat mood Rendy bagus.


Dia emang multivitamin gue. Batin Rendy.


🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Rey yang baru saja akan keluar kantor melihat mona sedang mengelap kaca. Terlihat handset menggantung manja di telinganya, Rey langsung menghampiri Mona.


Rey menepuk pundak Mona tanpa bersuara.


"Apa sih Lis, aku lagi kerja nih." Ucap Mona melepas handsetnya tanpa melihat siapa yang ada di belakangnya.


Rey kembali menepuk pundak Mona, tapi kali ini sedikit kencang.


"Haduh kamu ini, aku tuh lagi engga mood bercanda tau. hatiku lagi sakit, sungguh sakit. Kamu tau engga kemarin aku liat ferdy, lagi kencan sama pacar barunya. ih kesel banget aku." Ujar Mona yang masih saja tak mau membalikkan badan.


Rey tersenyum kecil mendengar curhatan wanita di hadapannya ini. Rey penasaran, wanita seperti apa mona ini. Dia terlihat sering tersenyum dan bahagia.


"Kalau kesel kamu tinggal bales aja." Ucap Rey yang mampu membuat mona tercengang, ternyata dari tadi dia curhat bukan dengan Lisa melainkan pak Rey.


Mona membalikkan badan menghadap Rey, kepalanya menunduk karena malu. Untuk kedua kalinya, Mona merasa malu pada Rey.


"Emang hantu suka nepuk pundak orang." Tanya Rey.


"Iya pak, itu kalau hantunya kesasar lupa jalan pulang hehehe." ujar Mona sambil cengengesan.


"Kamu ini ada-ada aja. Dimana teman kamu, kok sendirian."


"Ada pak, lagi di pantry. Kenapa emang?. Jangan-jangan pak Rey suka ya sama Lisa?. Haduh, saran aku engga boleh deh pak. Entar pak Rey di hajar babang ganteng di jadiin peyek." Ucap Mona panjang.


"Babang ganteng, siapa?." Tanya Rey yang tak mengerti.


"Eh, maksud aku pak Rendy hehehe." ucap Mona sambil nyengir


"Oh. Emang saya engga ganteng apa?."


"Pak Rey juga ganteng, tapi lebih gantengan pak Rendy atuh."


Rey menoyor kepala Mona dengan telunjuk tangan kanannya.


"Kamu ini, coba sini nomer ponselmu." ucap Rey.


"Haduh pak, kali-kali yang di tanyain nomer rekening gitu, tanggal tua nih hehehe."


Mona mengangkat tangannya ke atas membentuk hurup V, pertanda kalau dia bercanda.


"Nanti kalau kamu jadi istri saya, baru saya tanyakan nomer rekening." ujar Rey.

__ADS_1


"Hah!!" Mona kaget dengan ucapan Rey barusan.


"Sudah, ketik nomer ponselmu di sini. Saya buru-buru mau keluar." ucap Rey yang menyodorkan ponselnya, agar Mona bisa mencatat nomernya.


"Ya,ya sabar. Udah minta maksa lagi." ujar Mona pelan.


"Nih, udah saya simpan tuh." ucap Mona sambil mengembalikan ponsel Rey.


"Oke." sahut Rey yang langsung berlalu meninggalkan Mona yang masih mendumel.


Untung ganteng, kalau engga udah aku hajar tuh muka. Astagfirulloh. Batin Mona.


Sedangkan di lain tempat, Lisa masih diam mematung setelah mendapatkan pesan dari Rendy.


Lisa menepuk-nepuk pipinya, dia seakan tak percaya kalau yang mengirimkan pesan ini adalah suaminya.


Di tengah keasyikannya, Lisa di kagetkan dengan kedatangan Dion yang hendak mengambil minum.


"Lisa kamu engga apa-apakan?." Tanya Rendy khawatir, karena muka Lisa terlihat kemerahan.


"Eh pak Dion, Lisa engga apa-apa kok pak. Emang ada apa sama Lisa pak?."


"Muka kamu merah banget, kamu lagi demam." ucap Dion.


Lisa malu karena kepergok sedang bersemu-semu, membuat mukanya merah merona.


"Engga kok pak, Lisa baik-baik aja."


"Syukurlah. Oh ya Lis, kamu belum jawab pertanyaanku soal tempat tinggal barumu." Ucap Dion.


Lisa terdiam, dia harus menjawab apa. sepertinya Lisa sudah tidak bisa menghindar lagi, dia tak mau terus berbohong.


Apalagi Dion sudah sangat baik selama ini, mungkin dengan Lisa jujur Dion akan berhenti menanyakannya.


"Sebenernya, Lisa itu..anu..Lisa." ucap Lisa sedikit Ragu.


"Iya, kamu kenapa Lis?." Tanya Dion penasaran.


"Sebenarnya, Lisa sudah menikah." ucap Lisa lancar.


"Apa!!" Dion kaget mendengar pengakuan wanita di hadapannya ini.


"Iya pak, Lisa sudah menikah. Maaf Lisa engga undang pak Dion waktu itu, karena semuanya mendadak. Semenjak menikah, Lisa pindah ke rumaj suami Lisa." Ujar Lisa jelas.


"Siapa suamimu?."


"Maaf pak, Lisa engga bisa kasih tau. Suatu saat pak Dion juga bakal tau sendiri. Kalau gitu Lisa pamit kerja lagi pak." Ucap Lisa melangkahkan kakinya keluar dari pantry.


Dion masih mematung, Dion tak percaya, tidak mungkin ucapan Lisa benar. Dion harus tau siapa suami Lisa, dia penasaran apa yang membuat gadis itu menikah secara diam-diam.


...****************...


BERSAMBUNG~~


Terimakasih atas semua dukungannya untuk author😍😍

__ADS_1


SELAMAT MEMBACA🤗


__ADS_2