Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
102


__ADS_3

Sementara itu, hari ini Rey berencana mengajak Mona untuk fitting baju pengantin mereka.


Rey yang sebelumnya sudah meminta izin Ibunya Mona, segera memboyong gadis itu ke salah satu butik tempat Rey memesan baju pengantin.


"Sayang, hari ini setelah fitting baju kamu mau kemana lagi?" tanya Rey dengan tangan memegang stir mobil.


"Kemana, ya? aku sih lagi pengen ke tempat yang romantis," sahut Mona.


"Kita ke danau saja kalau begitu," usul Rey.


"Danau! Ngapain kita ke sana, Kak Rey?"


"Lah, kan kata kamu pengen ke tempat romantis. Ya, Danau solusinya," ujar Rey. "kita bisa duduk di tepi danau sambil melihat pemandangan air, kita juga bisa menghabiskan waktu di sana. Selain itu poin pentingnya, aku jamin di sana pasti hemat!"


Mona seketika memukul pundak Rey dengan tangannya. Ia sangat gemas dengan jawaban Kekasihnya. Mona berkata, " Masyaallah, Kak Rey memang engga ada tempat lain apa sampai kita harus ke danau? mending kalau air danaunya jernih, ini mah udah kotor banyak sampah lagi."


"Hahahaha. Kan, kita harus mencari revolusi kencan terbaru, Sayang," jawab Rey.


"Tahu lah! Aku marah sama Kak Rey." Memalingkan wajah ke arah jendela.


"Hahahaha. Maafkan aku, Adindaku. Aku cuman bercanda, hari ini aku milikmu. Aku akan mengantarmu ke tempat yang kamu mau, bahkan ke bulan sekalipun,"


"Gimana caranya kita ke bulan, Kak Rey?"


"Tenang, kan ada doraemon,"


"Kok bawa doraemon segala sih, Kak Rey,"


"Ya, dong. Kan, Doraemon punya pintu kemana aja. Kita pinjem sebentar buat pergi ke bulan, habis itu balikin lagi. Beres, kan?"


Mona menepuk jidat lalu berkata, "Astagfirullah. Tadi pagi Kak Rey sarapan apaan sih, pagi-pagi ngomongnya udah kesana kemari,"


"Perasaan aku dari tadi lagi nyetik di sini, engga kesana kemari,"


Mona memonyongkan bibir, ia sudah tidak berniat meneruskan percakapan mereka. Sia-sia saja rasanya berbicara dengan laki-laki satu ini, jawabannya selalu membuat gemas.


dua puluh menit berlalu, mereka tiba di salah satu butik. Rey memarkirkan mobil dengan lincah, lalu beranjak keluar mobil kemudian membukakan pintu untuk kekasihnya.


"Selamat datang, Tuan putri." Rey membungkukan setengah badannya dengan satu tangan membentang.


"Kak Rey, malu tahu! Lihat semua orang liatin kita," ujar Mona.


Mona menundukkan kepala, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dengan siaga Rey segera menarik tangan Mona untuk bersatu dengan tangannya lalu berkata, " Jangan malu! Kita tidak sedang melakukan kesalahan. Jangan hiraukan pandangan orang lain, kita tidak menumpang apapun pada mereka."


Dengan tangan tetap menggenggam, Rey menuntun Mona masuk ke dalam butik. Terlihat gaun-gaun cantik berjajar menghiasi butik, berbagai model dan rancangan tersedia di sini.


Seorang wanita muda nan cantik menghampiri mereka. Wanita itu nampak anggun dengan balutan baju atasan pink, dipadukan dengan rok dibawah lutut dengan warna yang senada. Sangat cantik dan pas di badannya, tubuhnya yang langsing semampai membuat Mona sekilas merasa minder.


"Hai, Ganteng kamu sudah datang," sapa wanita itu.

__ADS_1


Rey menoleh ke arah wanita itu, mengulas senyum manis bahkan lebih manis dari bunga gula.


"Iya. Gimana pesanan gue, udah siap, kan? tanya Rey.


Wanita itu mengacungkan jempolnya sembari mengedipkan sebelah mata, Mona yang melihatnya menjadi sedikit kesal.


"Tenang, kalau gue yang ngerjain, pasti semua beres," sahut wanita itu.


"Oh, ya Nina. Ini calon istri gue, namanya Mona," ujar Rey memperkenalkan Mona.


Wanita cantik yang baru diketahui bernama Nina itu tersenyum manis, lalu mengulurkan tangan untuk berkenalan.


"Hai salam kenal, Aku Nina. Temannya Rey," kata Nina.


Mona menyambut tangan Mona dengan tangan mungilnya lalu berkata, " Salam kenal juga, aku Mona."


"Senang bertemu denganmu," lanjut Nina.


Mona hanya tersenyum manis. Tanpa canggung Nina merangkul tangan Rey lalu berkata, "Ayo, masuk ke dalam. Kita lihat langsung pesananmu."


Rey spontan melepaskan tangan Nina. Iaa tidak ingin Mona salah paham atas kelakuan Nina yang terlalu berlebihan.


"Ayo," ajak Rey pada Mona.


Nina hanya tersenyum kecil, ia merasa diabaikan. Tapi, ia juga harus tetap profesional.


Nina memperlihatkan sebuah gaun berwarna putih yang cantik, dengan lengan yang panjang dan tertutup sesuai pesanan Rey.


Gaun yang cantik ini, tentu dihasilkan dari tangan yang pandai dan lihai. Lihatlah desain model gaun yang sangat modern, meski tidak terbuka.


"Gimana udah sesuai pesanan kamu, kan? tanya Nina pada Rey.


Rey melirik Mona yang berada disampingnya, mata Mona seperti tidak berkedip. Seumur-umur dia baru melihat gaun secantik ini.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rey membangunkan Mona dari lamunannya.


"Ah__ Itu, aku hanya takjub," sahut Mona.


"Takjub!"


"Iya, seumur hidupku. Aku baru melihat gaun seindah dan secantik ini,"


"Nah, calon istri kamu saja bilang cantik. Berarti aku memang handal, kan?" timpal Nina pada Rey.


"Kayaknya sih," sahut Rey.


"Mau dicoba dulu?" tanya Nina pada Mona.


"Apa boleh?" cicit Mona.

__ADS_1


"Tentu, Sayang. Kalau tidak pas dengan badanmu, Nina bisa mengubahnya kembali," jawab Rey.


Nina memperhatikan bagaimana Rey memperlakukan Mona. Kata-katanya sangat lembut, terdengar indah di telinga.


Berbeda jika sedang berbicara dengannya. Intonasi suara Rey tidak selembut itu, bahkan Rey jarang sekali menyebut namanya.


"Ah, aku iri pada Mona. Dia sangat beruntung, mendapatkan laki-laki selembut Rey," batin Nina.


"Ayo, aku bantu kamu memasang gaun ini?" tawar Nina.


Mona mengangguk setelah ia meminta izin dari Rey lewat kode anggukan juga. Mona dan Nina masuk ke dalam ruangan ganti.


Dengan telaten Nina membantu Mona memakai gaun pengantin yang sedikit berat.


"Sepertinya badanmu sangat pas dengan gaun ini," ujar Nina begitu selesai membantu Mona.


"Benarkah?" tanya Mona.


"Iya. Ayo, kita perlihatkan pada Rey. Biar dia menilai juga penampilanmu?" ajak Nina.


Nina membantu memegang ekor gaun yang dikenakan Mona, mereka berjalan keluar mengahampiri Rey yang juga sedang mencoba jas yang senada dengan gaun Mona.


"Rey, lihatlah kesini betapa cantiknya calon istrimu ini," panggil Nina.


Perlahan Rey membalikkan badannya, matanya membulat sempurna. Di hadapannya kini sedang berdiri Mona yang tampak anggun dengan gaun pernikahaan mereka.


"Ka__kamu Mona, kan?" ujar Rey gugup.


"Ya, iya atuh, Kak Rey. Memang mau siapa lagi!" jawab Mona.


"Kamu terlihat cantik, Adindaku. Ah, aku jadi tidak sabar menunggu hari pernikahaan kita," ucap Rey.


"Sabar, Ganteng! Nanti kamu bisa melihatnya sepuasmu," timpal Nina.


Setelah memperlihatkan pada Rey, Nina dan Mona kembali ke ruangan ganti untuk melepas gaun. Seperti halnya tadi, Nina dengan cekatan membantu Mona.


Nina memegang gaun itu lalu berkata, " Jaga baik-baik, Rey. Kamu beruntung memiliki dia, aku saja yang sudah menyukainya dari semenjak SMA hanya dianggap teman oleh Rey".


...****************...


Bersambung~~~


Bocoran😁 bakalan ada kejadian menyakitkan yang terjadi pada Lisa, yang pasti menguras air mata. jangan lupa siapkan tisu yang banyak ya, Teman.


Ada yang bisa nebak🙈


Jangan lupa dukungannya, Say.


Like, coment, vote dan rate 5.

__ADS_1


Selamat membaca😍😍😍


__ADS_2