Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
Extra part 5.


__ADS_3

Menikah itu bukan perkara mudah. Dua karakter yang berbeda harus bisa berjalan beiringan. Tentu, sikut menyikut akan terus terjadi.


{ CIETY AMEYZHA }


Dua hari berlalu, bulan madu telah usai. Egi dan Zahra kembali ke kota asal. Memulai aktivitas sebagai dosen dan mahasiswi.


Siang ini, jadwal keduanya kosong. Rencana melihat rumah baru pun tersusun. Dengan bantuan sang mertua, Rey. Egi mendapatkan rumah impian untuk istrinya.


"Mas, apa rumah kita jauh dari kampus?" tanya Zahra yang baru saja duduk di jok mobil.


"Tidak! Cukup lima menit saja," ujar Egi. Tangannya memegang stir mobil. Sesekali matanya melirik Zahra. "Nanti, kalau kamu tidak suka, katakan saja. Aku bisa mencarikan yang lain."


Zahra mengangguk pelan. Tak perlu waktu malam, mobil pun tiba di halaman sebuah rumah. Zahra keluar, matanya menelusuri setiap sudut.


"Tidak buruk," pikir Zahra.


Rumah sederhana, tak begitu besar. Halaman luas untuk tempat bermain anak-anak. Dengan taman berbagai bunga cantik. Menambah nilai tersendiri.


"Mau lihat ke dalam?" tanya Egi.


"Boleh!" Zahra mendahului, menunggu sang suami di depan pintu. "Ayo, Mas. Aku sudah tak sabar."


Egi berjalan, mengeluarkan kunci rumah di saku. Perlahan memasukannya, lalu terbukalah pintu.


"Masya Allah, rumahnya cantik." Zahra menyorotkan tatapan kagum. "Aku suka, Mas."


"Syukurlah! Kalau begitu, besok kita akan pindah ke sini."


Puas berkeliling rumah. Keduanya pergi ke kampus bersama untuk pertama kalinya. Tatapan tajam Zahra dapatkan dari para penggemar Egi. Namun, Egi sendiri tak peduli.


"Aku ada kelas. Kamu bisa mencari teman-temanmu." Melihat sekitar, lalu mengecup singkap kening Zahra. "Jangan nakal!"


Egi berlalu. Menyisakan Zahra yang masih mematung memegangi dadanya. Jantungnya berdemo ria. Meminta keluar, tak sanggup menerima perlakuaan Egi yang semakin manis.


"Hei, jantung! Kamu itu milikku, enak saja minta keluar! Aku tanpamu, tak mungkin bisa hidup." Mengomeli jantungnya sendiri.


Zahra berangsur melangkah ke arah kantin. Rasa rindu menggunung pada teman-temannya tak bisa terbendung. Amalia yang kocak, begitu pun dua 'R'.


"Eh, pengantin baru," sapa Riki saat melihat Zahra mendekat.

__ADS_1


Duhai senangnya pengantin baru.


Duduk bersanding bersenda gurau.


Aduh senangnya pengantin baru.


Duduk bersanding bersenda gurau.


Riki bernyanyi sambil memukul meja pelan. Riko yang tengah konsen bermain game, kesal. Seketika menjewer kuping kembarannya.


"Ih, Abang Riko jahara!" sungut Riki.


"Diem, Bambang! Tuh, liat jadi kalah." Memperlihatkan permainan di ponsel. "Cocok banget Lu sama si Lia. Sama-sama engga bisa diem."


"AA Riko, ari Lia teu bisa diem mah, cangcang wae di hati Aa.( Aa Riko, kalau Lia engga bisa diem, ikat aja di hati Aa)," ucap Amalia yang duduk berhadapan dengan mereka.


Zahra duduk dan merangkul erat Amalia. Dua teman yang beberapa hari ini tak bertemu. Meluapkan rindu yang tak bisa terhitung.


"Ra, gue juga mau dong dipeluk," rengek Riki.


"Sini, Abang peluk." Riko merentangkan kedua tangannya.


"Ogah! Masa, pisang doyan pisang." Riki bergeser ke kanan.


"Aing poho(Aku lupa)." Riki menepuk keningnya. "Bibi, kumaha damang? ( Bibi, gimana kabarnya?)"


Amalia tertawa. Virus bahasanya mulai menjalar pada Riki.


"Biba, bibi! Panggil aja Zahra," ketus Zahra. "Aku kalau udah ngomong sama kalian, bebas. Tapi, kalau sama dia, berasa lagi ngomong sama atasan. Formal mulu!"


"Paman emang kebiasaannya kayak gitu! Maklum, kulkas dua pintu!" timpal Riki.


Zahra melempar pulpen yang berada di atas meja ke arah Riki sambil berkata, "Hei, dia suamiku."


Semua tertawa. Hanya Adnan yang tak ada. Entah pergi ke mana lelaki itu. Mungkin saja dia masih menata hati, berdamai dengan keadaan.


Waktu berlalu tanpa terasa. Azan Dzuhur berkumandang. Setiap muslim berbondong-bondong menghadap Sang Ilahi Rabbi.


Salat selesai. Tiba saatnya Zahra menghadiri kelas Egi. Wanita itu duduk di bangku belakang. Memperhatikan sang suami di depan. Dua orang gadis di depannya terus bersunda gurau.

__ADS_1


"Kalau Pak Egi belum nikah, Lo mau jadi istrinya engga?" tanya wanita berambut panjang sebahu.


"Gue mah jadi selingkuhannya juga mau," jawab temannya berbaju pink.


Zahra mendengus kesal, memukul meja sedikit kencang. Matanya menyorotkan kekesalan. Kedua wanita itu membicarakan suaminya tanpa melihat Zahra di belakang.


Tanpa di duga, teman sebangkunya memperhatikan. Lelaki berkaca mata itu melirik sekilas pada Zahra, lalu berkata, "Hei, gadis! Bisa diem engga!"


"Apa? Kamu keberatan?" Zahra menoleh ke arahnya.


"Ya, jelas!"


"Sono, jauh-jauh!" Mengusir dengan gerakan kedua tangan.


Egi diam-diam memperhatikan. Menatap kesal, tanpa bicara. Ia harus tetap profesional. Bagaimanapun, ini area kampus.


Selama pelajaran berlangsung. Zahra dan lelaki itu terus beradu agumen sampai kelas selesai. Dan sang lelaki masih tak mau mengalah.


"Gue baru tau ada cewek keras kepala macem Lo!" hardiknya.


"Ih, dasar cowok cemen! ledek Zahra. Sorot matanya seakan tengah mencemooh sang lelaki. "Jadi cowok 'kok, cemen!"


Zahra melangkah. Namun, kakinya tersandung. Tanpa di duga tangannya menarik tas lelaki tersebut. Mereka jatuh bersama, saling menghimpit.


Egi menggeram. Tangannya mengepal, sabarnya melewati batas.


"Bangun!" perintah Egi.


Keduanya berdiri. Zahra menunduk, takut. Sedangkan, lelaki itu bereaksi biasa saja.


"Maaf, pak," cicit Zahra.


"Sorry, Pak," ujar lelaki tadi.


"Ini kampus! Bukan tempat pacaran!" tegur Egi. Suaranya meninggi, sebisa mungkin menahan emosinya.


"Iya, Pak." Serentak mereka menjawab.


Lelaki tadi melangkah pergi. Begitupun Zahra, tetapi baru hendak melangkah keluar pintu. Egi menariknya sambil menutup pintu. Menyenderkan punggung Zahra di tembok. Mengikis jarak di antara keduanya.

__ADS_1


"Aku sudah bilang, jangan nakal!" bisik Egi pelan.


Tak ingin ada yang melihat. Egi segera menjauh, mengajak istrinya keluar ruangan. Di kampus, mereka bukan suami istri. Status keduamya tetap sama antara dosen dan mahasiswi. Jadi, sebisa mungkin Egi berlaku adil.


__ADS_2