Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
119


__ADS_3

Suasana mendadak berubah mencengkam. Saling tatap antara dua kubu yang tidak seimbang tengah berlangsung. Kubu Rendy dan Rey merasa kaget. Melihat orang yang kini berdiri di hadapan mereka adalah orang paling mereka benci.


Dion. Ya, itulah nama orang tersebut. Direktur utama Angkasa Jaya yang akan mereka temui. Laki-laki yang sudah hampir lima tahun bekerja sama dibawah naungan perusahaan Rendy.


Dion menarik kursi, lalu duduk tepat di hadapan kedua orang yang masih tidak percaya. Apa ini permainan takdir? mengapa harus dia?.


"Mengapa anda terdiam? apa anda tidak mengenal saya?" tanya Dion. Tangannya dilipat di dada. Kakinya diangkat sebelah, selayaknya bos tengah berbicara dengan bawahan.


"Tentu saya sangat mengenal anda! Laki-laki yang terus mengejar istri orang!" hardik Rendy.


Dion menyeringai. Ia tidak peduli apa pun perkataan Rendy. Sedangkan Rey masih menatap penuh amarah pada Dion. Tangannya mulai gatal. Ingin melayang, dan menemukan korban.


"Apa anda tidak takut setelah tahu siapa saya?" tanya Dion.


"Siapa pun anda jika, itu menyangkut hal pribadi saya. Tidak ada rasa gentar sedikit pun pada diri saya!" tegas Rendy.


"Baiklah!" ucap Dion. "Mari kita bahas soal kerja sama antara kita?"


"Apa anda tidak menyadari selama ini bahwa saya adalah Direktur dari perusahan Angkasa Jaya?" lanjut Dion.


Rendy menyenderkan punggung ke kursi. Melipat kedua tangan di dada, lalu berkata, " Kalau saja saya tahu dari awal. Saya tidak sudi membuang waktu berharga saya, untuk bertemu anda di sini. Selama ini yang saya tau Pak Hartono lah Direktur utamanya!"


"Hahaha," tawa Dion. Menepuk tangan dua kali. "Hal seperti ini pun anda tidak menyadari. Pak Hartonon adalah Ayahanda saya sendiri."


"Selama ini saya tidak suka duduk di kursi kebesaran seperti yang anda lakukan. Maka itu, saya memilih bekerja seperti karyawan lain. Namun, anda membuat saya membelokkan niat saya selama ini. Karena anda telah merebut wanita yang seharusnya menjadi milik saya!" sambung Dion. Tatapannya menyeramkan. Terpanjar rasa amarah, muak dan dendam yang selama ini terpendam.


"Anda terlalu terobsesi dengan sesuatu! Saya baru tahu orang seperti apa anda," timpal Rey. Hatinya mulai muak. Melihat wajah Dion saja ia sudah ingin muntah.


"Saya tidak punya urusan apa pun dengan anda! Jadi, sebaiknya anda diam seperti anjing penurut!" seru Dion sedikit menggebrak meja pelan.


"Hei, anda mungkin tidak punya urusan pribadi dengan saya! Tapi, satu hal yang harus anda ingat. Masalah Rendy adalah masalah saya juga. Camkan itu!" tegas Rey. Tangan kanannya menunjuk wajah menyebalkan itu.

__ADS_1


Rendy menahan tubuh Rey dengan tangan kanannya. Ia tidak ingin sampai membuat keributan di kota orang. Mereka ke sini bukan untuk membuang tenaga, melainkan untuk urusan bisnis semata.


"Wah, saya baru tahu sodalitas anda sangat kuat!" ucap Dion.


"Sebaiknya kita langsung ke intinya saja," pangkas Rendy. Mengeluarkan dokumen dari tasnya, lalu melemparkan tepat ke meja di hadapan Dion. " Saya tidak butuh kerja sama kita. Saya masih bisa menemukan investor lain!"


Dion melirik kesal pada sikap Rendy. Ia pikir laki-laki itu akan memohon meminta ia untuk melanjutkan kerja sama mereka. Tapi, semua di luar kendalinya.


"Anda yakin tidak akan menyesalinya!" jawab Dion. Meraih dokumen di atas meja. " Sepertinya perusahaan saya sangat berpengaruh untuk kelangsungan hidup perusahaan anda."


Rendy beranjak diikuti Rey di sampingnya. Rendy berkata, " Saya tidak butuh bekerja sama dengan orang yang penuh obsesi. Mungkin jika, itu dalam hal positif. Saya akan menyambutnya dengan baik. Tapi, sayang anda lebih menjerus ke hal negatif."


Kedua laki-laki itu melangkah meninggalkan Dion. Mereka tidak peduli apa yang terjadi setelah ini. Kalau saja mereka tahu siapa yang akan mereka temui. Tentu mereka tidak akan rela membiarkan waktu berharga terbuang sia-sia.


Soal kerja sama, sudah tidak terlintas lagi melakukann itu dengan Dion. Rasa muak dan benci akan kehadiran Dion di antara Lisa dan dirinya saja, sudah cukup membuat amarahnya memuncak.


Selama ini rasa sabar itu ada, karena permintaan istrinya. Lisa selalu mengatakan, untuk tidak mengotori tangannya dengan menghajar orang yang tidak mungkin jera.


Hari beranjak sore. Ririn sudah pamit duluan, untuk pulang. Sementara Dira dan Lisa masih berkemas untuk pulang.


Lisa sesekali melirik benda pipih yang selalu setia menemaninya. Berharap satu chat masuk untuknya. Dari orang yang sangat ia rindukan saat ini.


"Apa harus aku duluan? tapi, Mas Rendy bilang akan mengabariku setiap saat, " batin Lisa.


Dira menangkap sesuatu yang aneh dari Kakak iparnya. Ia melangkah menghampiri Lisa sambil berkata, " Kak Lisa lagi ngelamunin Kak Rendy, ya!"


Lisa terperanjat, lalu berkata, " Kamu ini ngagetin Kakak aja, Dir!"


"Hehehe. Kak Lisa dari tadi diam aja. Udah kayak patung. Kan, aku takut Kak Lisa kesambet," ucap Dira.


Senyum itu kembali. Tawa renyah dari mulut Dira keluar tanpa beban. Lisa yang masih bergelayut dengan pikirannya, tetap tersenyum mendengar Adik iparnya tertawa.

__ADS_1


Mungkin Dira bukan tidak bisa melupakan Farhan. Hanya saja, ia butuh waktu untuk melakukan hal seperti itu. Kembali ke keadaan Lisa yang cemas. Menanti sesuatu yang tak kunjung datang menyapa. Satu pesan yang mampu mengobati rasa rindunya.


"Kak Lisa, dari pada nungguin Kak Rendy telepon. Mending Kak Lisa telepon duluan! Kan, engga ada peraturan siapa yang seharusnya pertama ngabarin!" nasihat Dira.


Gadis itu beranjak. Mengambil tas, merapihkan rambut, lalu berkata, " Kak Lisa. Aku duluan, ya! Mang Asep udah nungguin di depan toko. Kasian!"


"Iya, Dir. Sampaikan salamku untuk Papa dan Egi," sahut Lisa.


"Siap, Kak. Oh, ya, Kalau Kak Lisa kesepian. Kak Lisa nginep di rumah Papa aja. Biar ada teman ngobro," usul Dira. Melangkahkan kaki, kemudian berlalu meninggalkan Lisa yang masih mematung memandangnya.


"Gadis itu. Aku bahagia bisa mendengar kembali suara tawanya tadi. Ia sangat manis jika, tersenyum. Pantas saja Almarhum Farhan, dan Pak Dokter memperebutkannya," gumam Lisa.


Lisa hendak menyimpan ponsel ke tas kembali. Namun, suara nyaring pertanda panggilan masuk terdengar mengusik telinga.


Lisa menatap layar ponsel. Sebuah nama yang indah itu terpampang jelas. Ia tersenyum, lalu segera memencet tombol ikon telepon berwarna hijau.


"Assalamualaikum." sapa Lisa begitu telepon tersambung.


"Waalaikumsalam, Sayang." Suara berat khas Rendy berirama merdu di telinga Lisa.


Hatinya senang. Matanya berbinar hanya karena mendengar suara laki-laki itu. Ia sekarang mengerti, bagaimana rasanya menanggung kerinduan.


Rindu yang bahkan baru saja ditinggal beberapa jam. Rasa yang hadir saat Rendy tidak lagi di matanya untuk sementara waktu. Gejolak rasa ini berkecambuk memenuhi relung hati. Seakan Rendy sudah pergi sekian tahun lamanya.


"Mas, aku merindukanmu." Kata-kata indah itu lolos begitu saja. Lisa tidak bisa mengendalika hatinya saat ini. Rindu itu berat, pantas Dilan saja tidak kuat.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


jangan lupa tekan tombol like, ya, Gaes😘

__ADS_1


__ADS_2