Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
Extra part 3


__ADS_3

Orang yang terlihat dingin, justru dialah orang yang paling setia dan menyayangi pasangannya.


( Ciety_Ameyzha)


Malam datang menyapa bersamaan dengan rasa dingin yang menembus raga. Waktu salat Maghrib dan Isya telah berlaru, tibalah saatnya dua pasang insan menjelajahi dunia malam di Lombok.


Zahra telah bersiap , dengan menggunakan setelan tunik berwarna biru muda berenda di bagian tangan, tak lupa juga hijab cantik menjuntai sampai menutup dada.


Egi baru saja selesai mengaji. Al-quran kecil adalah teman setianya saat bepergian. Mungkin dia telah terbiasa dari sejak kecil. Lelaki ini dididik baik oleh keluarganya.


"Kamu mau makan di sini apa di luar, Honey?" tanya Egi sambil menyimpan Al-quran kembali dan membuka sarung.


"Aku ikut paman saja," balas Zahra yang lupa menyebutkan panggilan.


Beberapa detik kemudian, Zahra baru menyadarinya. Dia langsung membungkam mulut, melihat tatapan Egi berubah dingin.


"Untung aku sudah kenyang, kalau belum! Habislah dirimu, istriku!" goda Egi sembari tertawa puas.


"Maaf, aku lupa."


"Sudahlah, kamu mungkin belum terbiasa dengan sebutan manis padaku, atau mungkin Paman itu malah panggilan sayangmu untukku." Egi meraih tangan Zahra. "Ayo, aku sudah lapar. Tenagaku habis tadi, butuh di isi."


Zahra tersipu malu, kemudian mereka keluar bersama. Andai ini mimpi. Maka, Zahra memohon agar Allah tak membangunkannya. Sungguh ini terlalu indah, bahkan sangat indah dari bayangannya.


Di bawah sinar rembulan, semilir angin menerbangkan kebahagiaan. Para bintang berbondong-bondong datang, seakan menyambut senyuman kedua insan.


Egi dan Zahra memilih makan di restaurant hotel. Selain hemat waktu, suasana di sini pun cukup romantis. Tak hanya mereka, banyak pasangan lainnya juga yang mungkin tujuannya sama dengan mereka.


Sebelumnya Egi dan Zahra telah memesan makanan terlebih dahulu. Entah ini hanya perasaan Zahra atau memang nyata. Raut wajah Egi lebih tampan saat mengukir senyuman.


"Ayo, makan! Kenapa kamu memandangiku terus?" tanya Egi.


"Mas, aku penasaran sesuatu darimu," jawab Zahra dengan kedua tangan di letakan di meja.


"Tentang apa?" Egi menyendok makanan.


"Kenapa Mas tidak mau dekat dengan wanita? Selain tampan, Mas juga pintar."


Egi tak langsung menjawab. Dia terus saja mengunyah makanan sembari sesekali melirik ke arah Zahra. "Tidak baik makan sambil berbicara."


Seketika Zahra langsung terdiam, dia lupa. Egi dan keluarganya tak pernah berbicara saat sedang makan.

__ADS_1


Egi menarik sedikit ujung bibirnya. Dia sadar, Zahra bukanlah wanita dewasa. Maka dari itu, kesabaran dan lemah lembut adalah kunci untuk mengajarinya. Jiwanya masih sangat labil, emosinya menggebu-gebu. Namun, tak menutup kemungkinan, Zahra akan tumbuh menjadi wanita dewasa yang cerdas dan teliti.


Watak Zahra yang sedikit manja saat bersamanya, bukanlah beban bagi Egi. Melainkan sebagai potongan puzzle, pelengkap kehidupannya.


Potongan puzzle watak milik Zahra dan Egi, bersatu saling melengkapi. Andai, salah satunya hilang. Puzzle itu tak akan menjadi sempurna. Oleh karena itu, Egi dengan sepenuh hati menjaga potongan puzzle milik Zahra.


Makan malam selesai. Setelah membereskan pembayaran, kedunya melangkah keluar hotel. Tepat di pintu masuk, seorang pria paruh baya tengah duduk menunggu di luar mobil. Egi melihatnya, lalu berbincang sebentar.


Pria tersebut memberikan kunci mobil sambil berkata, "Terima kasih, Mas. Uangnya lebih dari perjanjian kita, semoga Allah menggantinya dengan yang lebih-lebih."


Egi mengangguk, meraih kunci. Si pria pamit sambil mengucap salam. Zahra menatap Egi. "Apa Mas menyewa mobil?"


"Seperti yang kamu lihat! Aku tak mau ada orang di antara kita saat menjelahi kota ini. Ini bulan madu. Jadi, aku ingin selalu berdua denganmu."


Tanpa rasa malu, Zahra mengecup singkat pipi kanan Egi dan langsung masuk ke mobil. Perlakuan manis Zahra, sontak membuat Egi membeku di tempat. Barulah setelah beberapa detik kemudian, Egi sadar dan langsung menyusul istrinya.


"Kamu mulai anak," bisik Egi sembari tangannya mulai menarik kuas mobil.


Tujuan mereka kali ini adalah Taman Sangkareang. Salah satu taman yang berada di kota tersebut. Menurut penyelusuran Egi di internet, taman ini sangat romantis dan indah di malam hari.


Tak perlu waktu lama, mereka telah tiba di tempat tujuan. Egi memarkirkan mobil, lalu keduanya turun bersama. Satu pemandangan indah menyambut mereka, kerlap-kerlip lampu dan berbagai sport untuk berselfie ria. Tentu, hal ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Zahra.


"Tidak! Kamu saja sendiri," tolak Egi tanpa alasan.


Zahra mengerucutkan bibirnya. Penolakan ini membuatnya kesal. Padahal dia hanya ingin berfoto bersama. Apa salahnya?


"Ya, sudah, kalau Mas tidak mau! Aku bisa megajak para bujangan itu bersua foto!" Tangan Zahra menunjuk satu per satu pengunjung lelaki yang tengah sendirian.


Zahra menyeret langkahnya hendak menghampiri salah satu mangsa. Namun, dengan cepat Egi menarik baju belakang Zahra sambil berkata, "Berani melangkah satu kali lagi, aku cium kamu sampai habis bibirmu!"


Zahra tertawa kecil. Kali ini, Egi benar-benar masuk ke dalam perangkapnya. Zahra berbalik, lalu berkata, "Kalau begitu, Mas harus mau berfoto bersama. Apa susahnya? Mas, hanya tinggal diam disampingku saja."


Setelah melewati sedikit kerikil perdebatan. Akhirnya Egi menyetujui keinginan Zahra. Keduanya melangkah, berdiri tepat membelakangi air mancur. Tangan kanan Zahra memegang ponsel, mengarahkan kamera pada mereka seraya berkata, " Cheese."


Satu foto terambil, tetapi Zahra merasa Egi terlalu kaku. Dia meminta bonus, untuk mengambil satu foto mereka kembali.


"Jangan kaku, Mas, rilexs," ujar Zahra yang diikuti anggukan kepala dari Egi.


Zahra mulai mengarahkan kamera ponsel pada mereka. Tanpa diduga, Egi mencium Zahra tetap saat perangkat canggih itu mengabadikan potret keduanya.


Zahra tertegun, tangannya lemas. Semua pengunjung menatap ke arah mereka. Tepatnya, saat Egi mengecup mesra pipi kirinya.

__ADS_1


"Hei, kamu yang memintaku jangan kaku. Aku mencium pipimu, tapi kamu malah mematung, Honey," ujar Egi menarik lembut Zahra dari dunia khayalnya.


"Mas, aku malu!" Zahra menyimpan kembali ponsel di tas dan segera bersembunyi di balik punggung tegap suaminya. " Semua orang menatap kita. Sebaiknya, kita duduk saja, Mas."


Egi berjalan dengan Zahra yang masih bersembunyi di belakangnya sambil menunduk. Mereka duduk di bangku taman, memandangi langit malam yang indah.


"Kamu tadi bertanya, mengapa aku tak mau berdekatan dengan wanita?"


Zahra mengangguk pelan, mengikuti jejak suaminya memandang langit.


"Bagiku, wanita itu makhluk yang sulit ditaklukan. Terkadang mereka lembut, terkadang bisa berubah menjadi cemburu, bahkan mereka bisa marah tanpa alasan yang tak jelas. Jujur, aku tak tau cara berhadapan dengan sipat wanita yang sering berubah seperti bunglon," ujar Egi.


Zahra melirik sekilas suaminya, menyelusup masuk ke netra milik Egi. Mencoba menemukan kebenaran di antara sorot matanya.


"Terlebih, aku trauma untuk mencintai seseorang. Dulu, aku pernah mencintai, tetapi dia pergi dengan alasan tengah mengandung anak teman lelakinya. Sejak saat itu, aku tak pernah membuka hati. Bukan aku pengecut, bukan aku tak bisa melupakan. Orang yang memiliki trauma memang sulit untuk bangkit," ungkap Egi.


Suasana berubah menjadi sendu, keheningan malam menambah lengkap kala itu. Zahra tak bertanya, dia hanya ingin menjadi pendengar kali ini.


"Jadi, maafkan aku. Aku mungkin hampir terlambat menyambut cintamu, tetapi sekarang aku berjanji. Akan aku pastikan, kita bersama sampai ajal menjemput."


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Extra part ini mungkin tidak akan banyak dan ini akan menggambarkan kemesraan Egi dan Zahra saja. Sesekali aku selingi sedikit tokoh Adnan dan Duo R, tetapi tak akan banyak.


Kalau berkenan, mampir ke ceritaku yang lain.


👉 Dokter, I Love U( Ada Syasa dan Kang Gendang)


👉 Cinta Dalam Doa ( Ada Syifa, Bima dan Gabriel)


Khusus pencinta Syasa dan Kang Gendang, mulai tanggal 1-28 Februari. Aku sedang mengadakan vote berhadiah. Jadi, pastikan vote sebanyak-banyaknya, agar namamu ada di rangking 1, 2, atau 3. Perihal hadiah, sudah aku share di cerita Akang gendang.


Kalian boleh kasih aku apa aja, seperti contoh di bawah.



Aku tunggu partisipasimu, Teman.


Terima kasih🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2