
Cinta itu tidak pernah salah. Ia sebatas hadir mengeratkan dua jiwa. Namun, ada kalanya ia datang di waktu yang tidak tepat. Terluka, atau bahagia itulah risikonya.
Dalam heningnya malam, dan derasnya air hujan. Egi melajukan mobil di temani Zahra. Keduanya sejak tadi mengunci mulut rapat-rapat.
Entah, keberapa kali Zahra mendumel dalam hati. Ia sesekali juga menggigit bibir bawahnya. Lelaki es ini sungguh menciptakan suasana canggung.
Kadang kala Zahra ingin sekali bertanya. Ada apakah dengan Egi? apa ia memiliki masa lalu yang menyakitkan? atau lelaki ini memang tidak membutuhkan seorang pasangan dalam kehidupannya.
"Bicaralah, Paman. Aku seperti seorang patung yang di pajang di museum," batin Zahra.
Kendaraan roda empat itu meluncur menuju kediaman Rey dan Mona. Hujan masih saja mengguyur semesta. Seakan turut bersedih dengan robeknya hati Zahra.
"Paman, mampir dulu. Hujan tambah besar." zahra membuka suara begitu satpam rumah membukakan gerbang.
Egi sekilas berpikir. Ia pun merasa tidak enak, jika pergi begitu saja. Pasalnya Rey sudah seperti Kakak baginya.
"Baiklah," sahut Egi.
Kendaraan berwarna hitam itu berhenti tepat di teras depan. Zahra keluar mobil sedikit berlari. Sedangkan, Egi menyusul dari belakang.
"Ayo, masuk Paman. Mama dan Papa juga pasti senang melihat Paman. Mereka sering menanyakan soal Paman padaku," ungkap Zahra.
Egi mengangguk. Zahra masuk ke dalam rumah sambil mengucap salam. Tidak berapa lama terdengar suara Mona menjawab salah anaknya dari dalam.
"Waalaikumsalam. Eh, ada Egi," sapa Mona.
"Maaf, Mah. Zahra pulangnya telat. Tadi kejebak hujan, terus hp Zahra mati. Nunggu supir engga datang-datang. Untung ada Paman Egi," tutur Zahra.
"Engga apa-apa, Sayang. Oh, iya supir kita tadi telepon. Katanya mobilnya mogok. Jadi, dia engga bisa jemput kamu. Mana ponselmu engga aktif. Mama sedikit khawatir, tapi Mama yakin kamu pasti dalam lindungi Allah." Membelai kepala Zahra yang berbalut hijab.
"Kalau begitu, Zahra ke kamar dulu, ya. Udah engga enak badan," pamit Zahra.
Mona mengulas senyum. Anak perempuannya itu semakin bertambah cantik setiap hari. Mona melirik Egi, lalu berkata, "Duduk dulu Egi "
Egi menurut. Ia duduk di sopa. Rumah milik Rey tidak kalah mewah, dan besarnya dengan Rendy. Suasananya yang sejuk, dan tidak terlalu banyak barang. Membuat rumah ini terlihat sangat luas.
__ADS_1
Mona meminta Bibi asisten rumah tangga membuatkan minuman, untuk Egi. Ia pamit sebentar, untuk memberitahu suaminya tentang kedatangan Egi.
Selang lima menit, suara langkah kaki mendekat. Sosok tegap dan masih segar bugar menghampiri Egi. "Kamu sudah lama engga main ke sini?" sosok itu duduk di hadapan Egi..
"Iya, Kak. Maaf, Egi sering pulang malam akhir-akhir ini." Mendekat, lalu mencium punggung tangan Rey.
Egi bukan tidak ingin menyalami Mona. Namun, Mona seorang wanita yang bukan makromnya.
Sejujurnya tadi ia pun sedikit bingung saat mengajak Zahra pulang. Poisi mereka hanya berdua di dalam mobil. Namun, ia juga tidak tega melihat gadis itu terjebak hujan.
"Kamu sepertiny mencintai profesimu, Egi. Apa kamu tidak mau mengambil alih terlebih dahulu posisi Kakakmu, Rendy? Adnan masih sangat kecil, untuk memimpin perusahaan," cakap Rey.
Egi menyeruput teh manis yang mulai dingin. Tenggorokannya sedikit lega. Rasa haus sudah hilang tanpa meninggalkan jejak.
"Aku tidak tahu, Kak. Selama ini Kak Rendy sudah sering menawariku, untuk mengambil alih posisinya sebelum Adnan dewasa. Aku pun sedikit kasihan pada Kakak. Ia sering kelelahan, karena terlalu banyak pekerjaan. Namun, aku belum bisa menentukan. Jalurku di dunia pendidikan saat ini," jawab Egi.
Rey menyenderkan punggungnya di sopa. Meneliti raut wajah Egi. Anak yang sejak dulu tidak pernah bercanda.
Egi di didik baik oleh Pak Adrian, juga Lisa. Ia tumbuh menjadi sosok lelaki baik. Namun, sifatnya tidak bisa di rubah. Ia tetap seseorang yang serius, dan jarang bersunda gurau.
"Egi, apa kamu tidak mau menikah?" tanya Rey pelan.
Pertanyaan sakral itu terasa menyentuh ke dalam hati Egi. Entah, sudah berapa ratus kali orang terdekatnya menanyakan hal yang sama. Namun, lagi-lagi jawaban yang Egi berikan tetap sama. "Aku masih belum memikirkannya."
"Kenapa? usaimu sudah cukup matang untuk menikah?" tanya Rey kembali.
Egi menghela napas. Berusaha tetap tenang setiap menghadapi pertanyaan yang sama.
"Aku belum menemukan wanita yang pas saja, Kak." Tersenyum simpul.
"Kamu ini. Padahal menikah itu enak!" sela Rey.
Lelaki yang kini beranjak tua itu mendekati Egi. Rey berbisik, "Kamu tidak akan kesepian lagi. Setidaknya ada teman tidur setiap malam."
Rey menyunggingkan senyum. Lelaki yang terkenal kocak saat muda itu memang tidak berubah sifatnya. Setelah memiliki anak gadis ia memang sedikit mengurangi sifat tersebut, tetapi ia tetap romantis dan kocak saat bersama istrinya.
__ADS_1
Dua sejoli yang dulu terkenal gesrek ini tetaplah sama. Mereka masih saja seperti itu. Namun, saat ada Zahra. Rey berusaha menjadi sosok Papa yang berwibawa, tetapi tidak mengekang.
"Oh, ya bagaimana perkembangan Zahra di kampus? apa cara belajarnya baik?" Rey kembali ke tempat duduknya semula.
"Alhamdulillah, Zahra anak yang tergolong pintar. Ia bisa cepat menyerap setiap pelajaran," jawab Egi.
"Syukurlah. Kakak hanya takut, ia sering rusuh di kelas. Maklum, gadis itu hanya berteman dengan tiga serangkai dari kecil," tutur Rey.
"Kak Rey tenang saja. Zahra anak yang baik, juga manis," celetoh Egi.
Tanpa sadar Egi mengakui, bahwa Zahra sosok gadis yang manis. Ia juga tidak tahu mengapa mulutnya bisa selancang itu. Sementara itu, Rey yang mendengarnya hanya tersenyum kecil.
Entah, apa yang dipikirakan Rey saat ini. Yang jelas Egi berharap Rey tidak salah paham atas ucapannya tadi.
"Dia memang manis, sama seperti Mamanya. Kakak saja sering dibuat terpana akan kecantikannya. Ia juga gadis yang penurut. Sungguh Kakak bersyukur di anugrahi anak sebaik Zahra," ujar Rey.
Egi terdiam. Ia memperhatikan raut wajah Rey saat ini. Sosok Papa yang sangat menyayangi putrinya.
Ada rasa takut dalam diri Egi. Zahra begitu di cintai kedua orang tuanya. Seandainya mereka tahu, bahwa Zahra pernah menangis karena dirinya. Apa sambutan mereka akan sama seperti saat ini?
Hujan mulai reda. Egi berniat pamit, untuk pulang. Ia tidak enak terlalu lama bertamu. Setelah pamit pada Mona. Rey mengantar Egi keluar.
"Kakak sedang bingung saat ini. Anak salah satu teman bisnis di perusahaan Kakakmu, terus terang mengatakan ingin meminang Zahra. Kakak belum membicarakannya dengan Zahra soal ini. Hanya baru kamu, Kak Mona dan kedua Kakakmu yang tahu tentang ini," ujar Rey tiba-tiba.
Egi sedikit terkejut, akan tetapi ia tetap berusaha bersikap seperti biasa. Tidak tahu mengapa perkataan Rey sedikit membuatnya cemas kali ini.
Egi hanya tersenyum. Ia juga bingung harus menjawab apa. Setelah berpamitan, ia segera melajukan mobilnya kembali menuju rumah.
Saat ini ia hanya butuh istirahat. Menenangkan hatinya yang tiba-tiba berubah. Mungkin benar Egi butuh mengambil cuti, untuk sekadar merefreshkan pikirannya.
...****************...
BERSAMBUNG~~
Selamat tahun baru semua. Semoga tahun ini kita semua menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
__ADS_1
Terima kasih atas semua dukungannya untuk aku selama ini🤗🤗