Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
37


__ADS_3

Di belakang rumah, pak Adrian tengah sibuk berkebun dengan mang asep. Pak adrian menanam berbagai pohon agar rumah terasa sejuk. Rendy yang baru tiba, langsung menghampiri papah nya.


"Pah," sapa Rendy


Pak Adrian membalikkan badan menghadap anak lelaki kebanggaan nya itu.


"Eh, kamu boy. Sudah lama di sini?" tanya Pak Adrian.


"Belum, pah. Baru aja sampai," jawab Rendy.


"Ayo, kita duduk di sana!" ajak Pak Adrian menunjuk kursi kecil di pinggir taman.


"Mang, lebih baik mang Asep istirahat dulu. Besok lagi aja, saya juga mau istirahat." perintah pak Adrian pada mang Asep.


"Baik, tuan," ucap Mang asep yang segera membereskan peralatan lalu, menyimpan nya kembali ke asal.


Rendy dan pak Adrian duduk di kursi kecil, udara begitu sejuk dan tenang. Banyak pohon bunga kesayangan bu Ratna bertebaran.


"Bagaimana kabar, papah?" Rendy memulai percakapan.


"Seperti yang kamu liat, papah sehat walafiat." jawab pak Adrian.


"Syukurlah,"


"Bagaimana hubungan kamu dengan istri mu?" tanya pak Adrian.


"Alhamdulillah, sampai saat ini baik-baik saja, pah,"


Pak Adrian terdiam sejenak, merasakan segar nya udara sore hari. Angin berhembus sepoy-sepoy, menerbangkan dedauan.


"Apa belum ada kabar bahagia?." tanyanya.


"Kabar bahagia gimana maksud, papah?" Rendy tak mengerti.


"Maksud nya, apa Lisa belum berbadan dua?" Pak Adrian mempertegas ucapan nya.


"Belum, pah,"


"Boy." Sapa pak Adrian kembali.


Rendy melihat lelaki paruh baya ini, tatapan pak Adrian sedikit berbeda. Seakan pak Adrian menyimpan sesuatu yang tak di ketahui Rendy.


"Iya, pah," jawab Rendy.


"Kamu tau, sekali pun dulu papah jarang bersama mu karena, sibuk mencari rezeki. Tapi, papah selalu tau tentangmu," ucap pak Adrian masih menatap mata anak nya.


"Kamu mungkin bisa membohongi mamahmu, adikmu, sahabatmu Rey tapi, tidak dengan papah," lanjutnya.


Rendy yang mendengar ucapan papah nya sedikit tersentak, apa yang sebenernya papah nya ini ketahui. Entah kenapa hati Rendy sedikit gelisah.


"Maksud papa? tanya Rendy sedikit melemah.

__ADS_1


"Pernikahan mu, papah tau kalian menikah tanpa cinta. Papah bisa melihat nya dari sorot mata istri mu saat kamu mengenalkan nya pada kami dulu. Dia menyimpan sesuatu yang tak bisa di beritahu pada kami tapi, dia tetap bersikap seolah-olah kalian adalah pasangan serasi!" jelas pak Adrian.


Rendy terkejut, bagaimana mungkin papah nya ini bisa tau padahal Rendy sudah berusaha menutupi nya.


"Boy, Saat itu papah ingin sekali menegur mu karena, telah memaksakan kehendak mu pada gadis cantik itu. Tapi, lagi-lagi mata indah istri mu membuat papah mengurangkan niat papah. Dia hadir saat kamu berjalan tanpa arah, dia hadir di waktu yang pas!" ucap pak Adrian lembut.


Kepala pak Adrian mendongkak ke atas, mata nya terpejam merasakan suasana sore yang indah.


"Maafkan Rendy, pah," sesal Rendy.


"Tidak mengapa, boy. Papah yakin kamu punya alasan tersendiri untuk itu. Hanya saja, bisa kah kamu berjanji satu hal pada papah?" Pak Adrian menatap lekat-lekat putra sulung nya.


"InsyaAllah, pah,"


"Berjanjilah, kamu tak kan melakukan kesalahan yang sama pada Lisa seperti, saat pada istri pertamamu dulu,"


Rendy menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab ucapan papah nya.


"Rendy berjanji, pah. Dulu Rendy memang tak mencintai Lisa tapi, seiring nya waktu Rendy berusaha menerima kehadiran Lisa juga, mulai belajar mencintai nya. Rendy engga mau membuang waktu dengan masalalu padahal, di depan masa depan tengah menanti Rendy," jawab Rendy.


"Syukurlah, papah berharap kebahagian selalu bersama kalian berdua," tutur pak Adrian.


Tak berapa lama, suara adzan magrib terdengar berkumandang. Langit berubah dari terang menjadi gelap, pertanda perjalanan hari ini telah berakhir.


"Sudah masuk sholat magrib. mari, ajak istrimu sholat berjamaah." Pak Adrian beranjak berdiri dari tempat duduk nya.


"Baik, pah." Rendy ikut berdiri mengikuti papah nya.


Mereka masuk ke dalam rumah, Rendy hendak menghampiri istri nya di dapur tapi, suara cempeng Dira menghentikan niat nya.


"Astagfirullah, kamu kalau ngomong jangan tiba-tiba gini bikin kakak kaget aja! tegur Rendy.


"Hehehe. Habis kakak di panggil dari tadi engga denger jadi, aku kagetin aja. Kak Lisa engga ada di dapur, tadi dia ke kamar kakak mau mandi kata nya,"


"Oh, oke. Makasih adek kakak yang baik." Puji Rendy.


Dira mengulurkan tangan nya pada Rendy seperti meminta sesuatu.


"Apa? tanya Rendy.


"Masa engga ngerti. Di dunia ini engga ada yang gratis, kak. He he he." Dira cengengesan.


"Kamu ini, untung sayang kalau engga udah kakak buang ke benua afrika!"


"Jangan dong, kak," protes Dira.


"Hahahaha. Ya udah, kamu minta apa?"


"Ponsel baru gimana?" Dira mengedipkan mata nya beberapa kali.


"Iya, nanti kakak belikan."

__ADS_1


"Beneran, kak?"


"Iya,"


"Yes," ucap Dira senang.


"Ya udah, kakak ke kamar dulu,"


"Asiap, kak!"


Rendy menaiki tangga menuju kamar nya dulu saat masih di sini, Dia berjalan perlahan. Rendy membuka pintu terlihat istri kecil nya sedang mengeringkan rambut panjang nya yang basah.


Rendy menelan saliva nya dalam-dalam pasalnya, saat ini Lisa terlihat begitu seksi di mata Rendy. Rendy hendak menghampiri Lisa tapi, Lisa segera berbalik badan karena sadar kehadiran Rendy.


"Sudah waktu nya sholat magrib. Mari, sholat berjamaah bersama yang lain! ajak Rendy.


"Baik, mas," jawab Lisa.


Mereka bergantian ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah selesai, mereka segera ke mushola yang berada di dalam rumah.


Semua penghuni rumah berkumpul untuk sholat berjamaah dengan pak Adrian yang bertugas sebagai imam sholat.


Semua hanyut dalam khusu nya sholat, menikmati waktu untuk bersimpuh di atas sajadah.


Selesai sholat dan berdoa bersama, Rendy dan Lisa segera ke kamar mereka. Begitu pun dengan bu Ratna, pak Adrian juga Dira.


Lisa membuka mukena nya lalu, menyimpan kembali di tempat nya. Rambut panjang nya kini terurai bebas begitu saja.


Rendy yang melihat itu, segera mendekati Lisa. Rendy memeluk istri nya dari belakang, mencium rambut Lisa yang harum.


"Shampo apa yang kamu pakai, sayang?" tanya Rendy.


"Yang biasa mas pakai di sini," jawab Lisa lembut.


"Benar kah? Kenapa wangi sekali membuat aku ingin terus mencium rambut mu."


Lisa terdiam, suami nya sekarang pandai sekali membuat Lisa tersipu malu. Bagaimana bisa Rendy tidak tau wangi shampo yang biasa dia pakai sendiri.


Rendy membalikan badan Lisa, mata nya fokus pada bibir milik istri nya. Perlahan Rendy memajukan bibir nya, tanpa aba-aba Rendy mencium bibir manis istri nya.


Lisa yang sedikit kaget kemudian mengikuti permainan suami nya. Mereka saling berpautan menikmati manis nya bibir pasangan masing-masing.


Rendy ingin lebih dari sekedar ciuman tapi, dia teringat perkataan mamah nya agar tak lupa turun ke bawah untuk makan malam, Rendy menghentikan ciuman nya.


"Kita lanjutkan nanti malam ya, sayang. Semua sudah menunggu untuk makan malam!" ucap Rendy.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Terimakasih untuk dukungan nya

__ADS_1


Jangan Lupa Like, coment&vote🤗


SELAMAT MEMBACA😊😊


__ADS_2