
Hari sudah mulaj sore, langit berubah gelap. Pertanda hujan segera datang. Rendy masih setia memegang stir mobil, hendak pulang setelah seharian di panti asuhan.
Lisa sejak tadi hanya terdiam, perkataan Bu Darmi tentang orang tua asuh Nina mengusik pikiran. Bagaimana tidak! dirinya bahkan sempat berpikir untuk pergi meninggalkan Rendy, jika sampai usia pernikahan mereka ke-5 tidak membuahkan seorang anak.
Terlihat prustasi bukan? ya, Lisa juga berpikir seperti itu. Namun, hari ini ia merasa tertampar akan kenyataan. Orang lain saja sanggup bertahan bersama selama itu tanpa anak? kenapa Lisa kalah duluan sebelum berperang.
Beruntungnya, Lisa tidak harus menunggu lama. Di dalam perutnya, kini tengah tumbuh seorang janin hasil buah cinta bersama suaminya.
Jalanan yang mereka lewati sunyi sepi. Terlebih cuaca sangat gelap karena akan segera hujan. Rendy terus melajukan kendaraannya dengan hati-hati.
Dari kaca spion, terlihat sebuah motor melaju tepat di belakang mereka. Dua orang laki-laki bertopeng hitam terus saja mengikuti mereka , tanpa menyalip seperti merencanakan sesuatu.
Lisa melirik ke arah Rendy. Fokusnya terbagi ketika melihat suaminya terus melihat ke arah spion. Lisa berkata, " Ada apa, Mas?"
Rendy menoleh ke arah Lisa. Ia tersenyum kecil. Tak ingin membuat istri panik, ia berusaha tetap tenang.
"Tidak ada apa-apa kok, Sayang," ujarnya, "apa kamu lapar?"
Lisa mengangguk. Ia memang sedikit lapar, makan siang dipanti tadi tidak terasa nikmat. Pikirannya tidak konsen karena terus membandingkan dirinya yang kurang bersyukur.
"Sabar, ya. Setelah melewati jalan kampung ini, kita akan segera makan." Rendy memegang tangan lisa, mengelus lembut punggung tangan yang cantik itu.
Lisa mengulas sedikit senyum. Cacing di perutnya terus memberontak.
Sementara itu, kedua pengendara motor dengan cepat mendekat ke samping mobil Rendy. Salah satu dari mereka, memukul bagian samping dengan celurit ditangannya.
Lisa tersentak, ketika suara celurit itu terdengar tepar di luar kaca jendela mobil. ia menoleh ke arah spion, melihat dua orang terus berteriak.
"Hey, minggir Lo!" teriak salah satu dari mereka.
Rendy masih saja menyetir. Ia tidak berniat menepi sedetik pun. Rendy menambah kecepatan laju kendaraannya. Seketika rintik-rintik hujan turun membasahi bumi, akan tetapi kedua pengendara itu tidak menyerah.
Tangan Lisa bergetar. Ia yakin kedua orang itu adalah begal. Tangan Rendy masih setia mengelus punggung tangan Lisa. Ia tahu kekhawatiran istrinya saat ini.
"Mas__,"
"Tenanglah. Kita akan baik-baik saja," ujar Rendy.
Kedua pengendara itu merasa geram, karena Rendy tidak mau menepi sedikit pun. Rendy bahkan menambah kecepatan laju kendaraannya.
__ADS_1
Terlihat orang yang berada di jok belakang, mengeluarkan sebuah pistol. Dengan cepat ia menembak ke arah mobil.
Door...!
Tembakan itu mendarat tepat di kaca spion samping Lisa. Lisa kaget, ia segera menunduk dengan badan bergetar.
"Sialan! Kalian benar-benar membuatku muak!" seru Rendy.
Tangan Lisa bergetar hebat. Ia bahkan menutup matanya, jantungnya masih kaget akan suara tembakan tadi.
"Sayang, tenanglah. Aku tidak akan membuat kedua keparat itu mencelakai kita," ucap Rendy.
"Mas, mereka itu begal?" tanya Lisa.
"Sepertinya, Sayang," ujar Rendy.
"Aku takut, Mas." Lisa memegang perut. Ia tidak tahu nasib mereka setelah ini.
"Sayang, berpeganganlah. Aku akan mengebut!" perinta Rendy. " aku akan melajukan mobil ini ke kantor polisi."
Lisa mengerti. Dengan sekuat tenaga ia memegang gagang pintu. Matanya sesekali melirik ke arah samping.
Kejar-kejaran antara mobil Rendy dan pengendara motor semakin sengit. Di tengah derasnya hujan, Rendy berusaha melajukan mobil sekencang mungkin. Ia hanya berdoa, semoga Allah memberi mereka keselamatan dalam situasi ini.
Pengendara motor yang sejak tadi membuntuti mereka, berhenti seketika melihat mobil Rendy menepi di halaman kantor polisi.
Kedua orang itu berdecak kesal. Sasarannya kali ini lolos begitu saja. Dengan rasa kesal di dada, kedua pengendara itu berbalik arah untuk kembali ke tempat asal mereka.
Rendy bernapas lega. Begitu mobil miliknya mengerem tepat di halaman kantor polisi. Ia berusaha mengatur napas, menenangkan diri yang sebenarnya sedikit takut atas kejadian tadi.
Rendy sadar akan istrinya. Ia segera melihat ke arah Lisa yang sejak ia mengebut. Lisa sama sekali tidak bersuara. Rendy mengelus kepala Lisa yang berlapiskan jilbab, meraih tangan kecil itu.
"Sayang, semua sudah berakhir. Mereka sudah pergi," ucap Rendy.
Lisa masih saja terdiam. Tubuhnya bergetar dengan satu tangan memegang gagang pintu mobil. Dengan satu tarikan Rendy membawa tubuh istrinya ke dalam pelukan.
Seketika pecah sudah tangis Lisa. Ia bahkan sudah membayangkan hal buruk terjadi pada dirinya, suami dan janin dalam perutnya.
"Mas, hiks... hiks...." suara tangisan itu terdengar menyakitkan bagi Rendy.
__ADS_1
Rendy mencium kening istrinya lalu berkata, "Tenanglah! Aku sudah bilang, aku tidak akan membuatmu celaka."
Tangis Lisa semakin kencang. Kejadian yang baru di alaminya adalah hal pertama dalam hidupnya. Ia berpikir mungkin korban begal yang sering ia lihat di televisi pun, sama seperti dirinya saat ini.
Suara ketukan dari luar membuat Rendy melepas perlahan pelukannya. Ia tidak ingin di sangka sedang melakukakan hal yang tak senonoh di area publik.
Rendy menurunkan kaca mobilnya perlahan. Seorang polisi yang masih sangat muda memberi hormat. Polisi itu berkata, " Selamat sore, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
Ekor mata polisi itu melihat ke arah Lisa. Seorang wanita yang ketakutan dengan mata berlinang air mata. Membuat ia mencurigai Rendy sebagai penculik.
"Sore juga, Pak," jawab Rendy. " Maaf, kami ikut menepi sebentar. Barusan mobil kami dikejar para begal."
Polisi itu melihat ke arah jalanan, tapi tidak menemukan satu kendaraan pun selain milik Rendy. Matanya kembali melihat ke arah Lisa, Rendy yang mengerti akan kejanggalan yang dirasakan polisi itu segera menjelaskan.
"Ini istri saya. Dia ketakutan hingga menangis karena kejadian barusan," jelas Rendy.
"Tolong perlihatkan SIM, STNK dan KTP anda berdua," pinta polisi itu.
Rendy segera merogoh dompet. Mengeluarkan dokumen yang diminta Pak polisi, begitu pun dengan Lisa.
Polisi tersebut mengamati satu per satu dokumen yang berada di tangannya. Ia mengerti ketika status Rendy dan Lisa sudah menikah dengan alamat yang sama. Setidaknya itu yang ia simpulkan.
"Apa masih belum cukup? apa perlu saya perlihatkan buku nikah kami?" tanya Rendy.
Polisi itu mengembalikan SIM, KTP dan STNK ke Rendy lalu berkata, " Tidak perlu, Pak! Ini sudah cukup. Kalau begitu maaf, sudah menganggu waktu anda. Jika terjadi sesuatu lagi, anda bisa meminta bantuan kami. Selamat sore."
Polisi muda itu memberi hormat, lalu segera bergegas masuk ke dalam kantornya. Rendy akhirnya bisa bernapas lagi, ia sempat takut kalau-kalau polisi itu tetap mencurigainya menculik Lisa.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Jangan lupa dukungannya untuk Author dengan cara:
Like.
Coment.
Vote.
__ADS_1
Rate 5.
Selamat membaca😍😍