Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
22


__ADS_3

Tepat pukul 5 sore seluruh karyawan berhamburan pulang, begitupun dengan Lisa.


Lisa mengingat kembali pesan suaminya, Dia bergegas mengganti pakaian dan langsung pergi ke parkiran mobil.


Lisa menunggu di tempat yang sepi, dia tak mau ada orang lain yang melihatnya. Bukan Lisa tak mau mengakui pernikahannya, tapi akan sangat sulit bagi Lisa jika semua orang kantor tau statusnya.


15 menit menunggu, Terdengar langkah kaki mendekat ke arah Lisa. Orang itu melihat punggung Lisa dari kejauhan, jadi tak sulit baginya menemukan keberadaan istri kecilnya ini.


"Sudah lama?" tanya Rendy.


Lisa berbalik menghadap ke arah suaminya, dengan kepala yang masih menunduk.


"Tidak, Mas," jawab Lisa.


"Angkat kepalamu. Apa ada banyak uang di bawah, sampai kamu selalu menunduk ke bawah," ujar Rendy.


Lisa mengangkat kepalanya, kini terlihat dengan jelas wajah suaminya.


"Ayo pulang!" ajak Rendy.


Mereka berjalan beriringan menuju mobil. Tanpa mereka sadari, Sepasang mata tak sengaja menangkap kedekatan mereka.


Orang itu berlalu setelah melihat Rendy dan Lisa meninggalkan parkiran dengan mobilnya.


Di dalam mobil hanya keheningan yang tercipta, mereka sama-sama membungkam mulut. Tak ada percakapan hangat layaknya suami istri.


1O menit berlalu, terdengar suara adzan berkumandang di setiap rumah-rumah Allah. Pertanda waktu sholat magrib sudah tiba.


Rendy segera mencari masjid tedekat, lalu memarkirkan mobilnya. Lisa yang mengerti maksud suaminya ini, segera menyusul Rendy keluar dari mobil.


"Kita sholat dulu di sini," ujar Rendy.


Lisa mengangguk sambil mengikuti suaminya masuk ke salah satu masjid. Mereka berpisah untuk masuk ke tempat wudhu, lalu masuk ke dalam masjid dan memulai menghadap sang Ilahi Rabbi.


15 menit berlalu, mereka sudah selesai dengan sholatny. Rendy kembali menancap gas, untuk segera pulang.


"Malam ini kamu tidak usah masak," ujar Rendy di tengah kecanggungan.


"Kenapa, Mas?" Lisa kaget.


"Kita makan di luar saja," ujar Rendy.


"Baik, Mas,"


Tak berapa lama, mereka sampai di halaman sebuah restaurant mewah dan elit. Lampu berkelap-kelip menghiasi tempat itu, dekorasinya yang indah menjadi nilai plus tersendiri.


Rendy memilih tempat paling pojok dekat jendela, dengan leluasanya mereka bisa melihat hamparan bunga tertanam rapi.


Warna-warni berbagai bunga, memanjakan mata memandang.


"Mau pesan apa, Tuan?" ucap sang pelayan yang baru saja menghampiri mereka.

__ADS_1


Rendy melirik istri kecilnya, Lisa terlihat bingung dengan menu restaurant ini. Apa lagi melihat harganya yang mahal, jiwa misquin Lisa meronta-ronta.


"Astagifirullah, bisa cepat kaya aku kalau jualan di restaurant ini," batin Lisa.


"Kamu mau makan apa?" tanya Rendy.


Ucapan Rendy membuyarkan lamunan Lisa, Lisa nampak berpikir. Semua menu terlihat enak, tapi tidak dengan harganya.


"Saya terserah mas saja," ucap Lisa.


Lisa bukan tak mau memilih, hanya saja dia masih merasa sungkan dengan suaminya. Padahal ini sudah bulan ke 2 pernikahan mereka.


"Kalau gitu, kami pesan makanan dan minuman andalan di restaurant ini," kata Rendy pada pelayan.


"Baik, Tuan, mohon tunggu sebentar," jawab pelayan itu, lalu berlalu meninggalkan mereka.


Lisa terdiam, matanya masih asyik memandang bunga-bunga cantik di luar. Sungguh indah, ini pertama kalinya Lisa menginjakkan kakinya di tempat seindah ini.


"Apa kamu menyukai bunga?' tanya Rendy spontan.


"Iya, Mas mereka sangat cantik. Mereka tumbuh dan hidup untuk mewarnai dunia. berbagai warna mereka persembahkan, bersamaan dengan wangi yang menenangkan pikiran," jawab Lisa seraya bibirnya tersenyum.


Rendy yang menangkap senyuman Lisa, merasa sangat kagum. Pipinya putih mulus dengan lesung pipi, menambah kecantikan tersendiri.


"Cantik," ucap Rendy.


"Iya,Mas mereka memang cantik,"


"Bukan mereka tapi kamu." ucap Rendy jelas.


Sungguh malu saat ini Lisa, ucapan Rendy membuat pipinya merona. Selama pernikahaan, baru sekarang suaminya memuji.


"Ah apa ini mimpi?" batin Lisa.


Rendy menarik ujung bibirnya membentuk senyuman, meski hanya sekilas. Ada kepuasaan tersendiri, saat istrinya ini nampak malu.


"Dia memang cantik," batin Rendy.


Tak berapa lama, Pelayan datang membawa pesanan mereka. Lisa melongo melihat meja makan penuh dengan makanan.


"Ada apa?" Tanya Rendy.


"Apa ini tidak kebanyakan mas." jawab Lisa.


"Menurutku tidak, kalau kurang kamu bisa menyuruh pelayan membawakannya lagi!"


Lagi..


Ini saja sangat banyak bagi Lisa, bagaimana mereka menghabiskan semua makanan ini.


"Ah,sudah cukup mas, ini lebih dari banyak." ujar Lisa.

__ADS_1


"Makanlah, tidak enak jika sudah dingin," ucap Rendy.


Lisa hanya menganguk, mereka mulai makan dengan lahap dan hening. Sungguh malam yang indah untuk Lisa, dia bisa menikmati makan malam yang menurutnya romantis bersama suaminya.


"Maafkan saya, Mba kayla, tapi bolehkah saya menikmati ini sebentar saja," batin Lisa.


Setelah selesai makan, mereka segera pulang karena badan mereka terasa lelah. Perut sudah terisi penuh, membuat Lisa ketiduran selama perjalanan.


Sesampai di halaman rumah, Rendy berniat membangunkan istrinya. Tapi nampaknya Lisa tidur begitu lelap, tak tega rasanya jika harus mengganggunya.


Tanpa banyak berpikir, Rendy segera mengangkat tubuh Lisa ke pangkuannya. Membawa Lisa ke dalam kamar. Tubuh Lisa yang ramping, tak menyulitkan Rendy memangkunya.


Sampai kamar Rendy membaringkan tubuh mungil istrinya di atas kasur. Menarik selimut hingga menutupi dada Lisa.


Memandang sejenak wajah Lisa yang sedang terlelap tidur. Wajah yang putih polos, bibir kecil mungil dan hidung mancung.


Entah setan darimana, Rendy mengusap lembut bibir Lisa dengan tangannya. Sungguh indah ciptaan Allah satu ini.


Lama kelamaan, ada hasrat yang sulit Rendy bendung. Keinginan yang sangat mendesak dari dirinya.


CUP.


Rendy mengecup singkat bibir Lisa, hanya sekilas tapi berarti bagi Rendy. ini pertama kalinya, dia memandang lekat wajah istri kecilnya ini.


"Saya harap kamu sabar menunggu saya. Entah saya ini egois atau tidak. Saya menginginkan kamu, tapi bayangan Kayla terus menghantui pikiran saya," ucap Rendy.


Rendy mengelus lembut kepala Lisa, dia berharap tak pernah mengulang kesalahannya dulu, saat bersama almarhum istrinya.


"Selamat malam, my Wife," ucap Rendy sambil mengecup pucuk kepala Lisa.


Rendy bergegas mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya sangat lelah dan Lengkat. Dia ingin segera merebahkan badannya di kasur yang empuk.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Rendy duduk di meja kerjanya. Menarik salah satu laci, dan mengambil sebuah foto.


Di dalam foto, nampak Rendy sedang memeluk seorang wanita cantik memakai gaun biru muda dengan mesra.


Rendy menatap lekat foto yang hanya satu-satunya yang dia miliki. Hatinya terenyuh, mengingat kembali apa yang telah terjadi.


"Maafkan aku sayang, Jika pada akhirnya aku harus berbagi hati dengan Lisa. Dia berhak atas itu. Lihatlah dia sayang! Dia sama cantiknya dengan kamu."


Air mata Rendy lolos begitu saja di pipinya, Meski Rendy lelaki yang sangat acuh dan dingin. Tapi jika hatinya sudah rapuh, dia juga tak kuasa menahan air matanya keluar.


"Aku harap kamu tenang di sana, aku selalu berdoa untukmu. Doakan aku juga, agar aku tak mengulang kesalahan yang sama pada Lisa." Lanjut Rendy hanyut dalam kesedihannya.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


TERIMAKASIH YANG MASIH SETIA MEMBACA😍😍


tolong dukung author ya.

__ADS_1


Jangan lupa Like, coment&vote


SELAMAT MEMBACA😊


__ADS_2