Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
Extra part 7


__ADS_3

Hal-hal kecil pun akan terasa indah saat dilakukan bersama. Tak perlu bermewah-mewah, cukup tingkatkan level syukurmu. Maka, hidup akan terasa ringan.


{ CIETY AMEYZHA }


Di kedai pinggir jalanlah Egi dan Zahra berada saat ini. Berbaur bersama yang lain, menikmati santap malam. Tak ada steak sapi ataupun spagety. Hanya ada nasi pecel lele yang bumbui penuh cinta oleh pedagang.


"Sayang, kenapa kamu menolak makan di restaurant dan memilih di pinggir jalan?" tanya Egi.


"Tidak ada alasan untuk itu, Mas. Di mana pun kita makan, yang terpenting nyaman," jawab Zahra.


Zahra mengambil satu suap nasi beserta lauk, menyodorkannya ke mulut Egi. Awalnya Egi terdiam, tetapi perlahan ia membuka mulut dan mengunyah habis.


"Besok, kita akan pindah."


"Hem."


"Jangan bawa banyak barang. Aku sudah meminta orang untuk mengisi rumah kita dengan perabotan. Aku harap, kamu menyukainya."


Zahra mengangguk.


"Besok juga, seharusnya kamu pulang dulu ke rumah orang tuamu," lanjut Egi.


Pertanyaan Egi membuat Zahra berpikir sedikit negatif. Apa suaminya akan memulangkannya? Apa mereka akan berakhir di sini?


"Apa salahku, Mas? Aku melayanimu dengan baik, tapi kamu malah menendangku!" Meneguk sedikit es teh manis. Hambar, mungkin si penjual lupa memasukkan gula.


"Hei, siapa yang menendangmu? Kita tidak sedang bermain sepak bola!"


"Tadi, Mas menyuruhku pulang ke rumah orang tuaku. Berarti secara otomatis, Mas mengusirku!"


Makanan baru saja setengah porsi yang masuk, akan tetapi mood Zahra sudah hancur lebur. Pernikahaan ternyata tak selamanya menyenangkan. Adakalanya kita dihadapkan oleh kedua ego yang berbeda.


Egi tertawa sedikit kencang. Pemikiran istrinya terlalu pendek. Memang benar, usia Zahra masih sangat muda. Jadi, wajar saja, jika ia belum terlalu pandai mengolah emosi dengan baik. Dengan pelan Egi mencubit hidung mancung milik Zahra.


"Istriku menggemaskan," ujar Egi. "Aku tidak menendangmu, Sayang."


"Lalu?" Zahra mengerutkan kening.


"Aku hanya memberimu kesempatan untuk bertemu orang tuamu dulu. Bukankah setelah menikah, kita belum ke sana?"


"Oh ... maaf," cicit Zahra.

__ADS_1


"Sudahlah, habiskan makananmu. Jangan lupa suapi aku." Mengedipkan satu mata, menggoda Zahra.


"Dosen kok, manja!"


"Di kampus, aku dosenmu. Di luar kampus, aku suamimu."


"Ya, ya, ya, Paman kulkas."


"Hei, kenapa kamu memanggilku paman kulkas!"


"Paman memang sedingin kulkas! Ingat saja bagaimana perlakuaan paman saat dulu padaku. Bersamamu saja, aku berasa di kutub utara."


"Berhenti memanggilku paman!"


"Ya, ya, aku lupa!" sesal Zahra.


Perbincangan selesai. Mereka kembali melanjutkan makan. Rasa pedas, gurih dan nikmat bercampur malam ini. Pecel lele ini mungkin biasa. Namun, rasa cinta saat memakannyalah yang membuat selezat masakan chef internasional.


Makan selesai, Egi membayar tagihan. Tak lupa ia selalu melebihkan dari jumlah yang seharusnya. Ia mungkin tak kaya, tetapi berbagi rezeki tak harus menunggu banyak harta.


Zahra memperhatikan dari mobil, mengembangkan senyuman indah khusus untuk suaminya. Perjuangan mendapatkan Egi, sangatlah sulit. Jika bukan karena campur tangan Allah, mungkin mereka tak akan bisa bersatu.


"Kamu mau pulang atau berkeliling dulu?" tanya Egi begitu masuk ke mobil, lalu mulai menjalankan kendaraannya.


Tak ada lagi percakapan. Egi pokus pada jalanan. Sedangkan Zahra menatap ke luar lewat jendela. Suasana kota sangat ramai, dunia belum lelah. Segelintir orang masih enggan meninggalkan sejenak aktivitasnya.


Angin malam mendesak masuk lewat celah jendela. Memberikan rasa dingin menusuk raga. Mengisyaratkan pada manusia untuk segera mengarungi dunia mimpi. Hari ini telah berakhir, esok akan segera datang. Simpan sejenak tintamu, istirahatkan sebentar tanganmu. Masih banyak cerita yang harus kau tulis nanti.


⭐⭐⭐⭐⭐⭐


Keesokan harinya sesuai yang telah direncanakan, Zahra dan Egi pindah ke rumah baru. Rendy dan Lisa baru saja tiba semalam. Lisa memberikan sebuah hadiah cantik yang sengaja ia beli.


"Makasih, Kak," ucap Zahra sedikit canggung.


"Kembali kasih. Sering main ke sini, ya."


"Insya Allah, Kak," sela Egi. "Kami pamit dulu."


Egi dan Zahra mencium punggung tangan Lisa dan Rendy bergantian.


"Jaga istrimu baik-baik," pesan Rendy.

__ADS_1


"Insya Allah, Kak." Tersenyum manis, merangkul pinggang istrinya. "As'salamualaikum."


Egi membawa Zahra masuk ke mobil, menyalakan mesin dan berangsur meninggalkan rumah yang sejak kecil telah ia tinggali. Rumah penuh kenangan, kehangatan dan limpahan kasih sayang.


"Wa'alaikumsalam," jawab Lisa dan Rendy bersamaan.


Lisa memandangi kepergian adik satu-satunya. Anak kecil yang dulu menjadi alasannya menikah dan justru mengantarkannya pada kebahagiaan.


"Aku jadi ingin cepat punya cucu," tutur Rendy.


"Sabar, Mas. Adnan masih kecil untuk menikah."


"Ya, aku tau. Apa kita buat anak lagi?" Mengedipkan satu mata. "Biar ada bayi di rumah ini."


Lisa tak menjawab, ia langsung masuk ke rumah.


"Aku salah lagi!" Menepuk keningnya.


Sementara itu Zahra dan Egi tengah berbincang di dalam mobil. Egi mengutarakan keinginannya bahwa, ia tak ingin menunda kehamilan. Rasa ingin menjadi seorang ayah terus membuncah dalam hati. Tak jarang saat di luar, ia sering memperhatikan interaksi antara seorang anak dan ayah.


"Aku masih kuliah, Mas!" tolak Zahra.


"Kamu bisa cuti sebentar saat melahirkan, Sayang."


"Mas, hamil itu tidak mudah. Aku bahkan belum lihai mengontrol diriku sendiri. Lalu bagaimana aku bisa menjadi seorang ibu?"


"Seiringnya waktu kamu pasti bisa. Semua ibu muda juga mengalami hal seperti itu? Lantas apa yang kamu takutkan?"


Ketagangan mulai terjadi, perdebatan perihal anak terus berlanjut sampai mobil membawa mereka ke rumah baru. Zahra keluar, diam berdiri menunggu Egi membuka pintu. Sedangkan Egi beberapa kali menghela napas, menghadapi Zahra memang harus sedikit lembut.


Egi keluar, menghampiri Zahra dan memasukkan kunci. Tanpa berkata sepatah pun, Zahra masuk, menaiki anak tangga menuju kamar utama. Perasaan kesal bercampur marah tengah menyelimuti. Membutakan dirinya bahwa, saat ini tengah berbicara dengan seorang suami.


Zahra masuk ke kamar, duduk menahan amarah yang menggebu di tepi ranjang. Menikah ternyata tak seindah bayangannya. Perdebatan kecil sering terjadi. Meski pada akhirnya tetap terselesaikan dengan mudah.


Egi menyusul, berjalan mendekati istrinya, lalu memeluk erat sambil berkata, "Maafkan aku karena terlalu menekan dirimu perihal keturunan. Usiaku yang sudah matang memicu kuat perasaan ingin menjadi seorang ayah. Aku berjanji akan menunggumu sampai kamu siap."


Mungkin benar, menikah bukan perkara menyatukan dua insan dalam ikatan yang suci. Namun, pertentangan dari dua karakter pun tak bisa terhindari. Egi dan Zahra membawa sipat baik dan buruk masing-masing. Tak ada yang sempurna, yang ada hanya saling melengkapi satu sama lain.


"Maafkan aku juga, Mas. Aku masih terlalu labil untuk sekadar menghadapi satu masalah. Berjanjilah, Mas akan terus menuntunku sampai aku meyakinkan hatiku," tutur Zahra.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG~~~


Extra part inj memang di khususkan untuk perjalanan hidup Egi dan Zahra dalam mengarungi rumah tangga. Jadi, mohon maaf, jika tak banyak selingan bagi pameran yang lain🙏


__ADS_2