
Pagi hari di villa sangat menyenangkan, udara yang masih segar belum bercampur dengan polus kendaraan. Cuaca yang dingin menusuk masuk ke dalam kulit.
Pagi-pagi buta Dira sudah siap untuk joging di sekitaran villa, dengan memakai training panjang dan baju kaos berlengan pendek, Dira mulai berlari santai sambil menikmati indahnya pemandangan.
Tanpa dia sadari seseorang telah mengikutinya sejak ia keluar dari villa. orang itu sengaja mengenakan topi hitam dan masker untuk menutupi wajahnya.
"Segernya!" teriak Dira, " kalau di sana mana bisa nyium udara kaya gini, pagi-pagi aja udah terkominasi asap kendaraan."
Dira terus berlari sedikit menjauh dari villa, ia ingin menikmati sisa waktunya di tanah air sebelum akhirnya kembali bergelut menimba ilmu.
Di persimpangan jalan Dira melihat tukang bubur ayam, perutnya tahu betul jika, saat ini mata Dira tengah menatap abang jualan.
Kriuk ... Kriuk ... bunyi perut Dira terdengar nyaring.
"Dasar perut, tau aja kalau di sana ada mamang bubur ayam. Hayu atuh, kita capcus makan!" seru Dira.
Kaki kecilnya menuntun Dira pada penjual bubur ayam, Dira memperhatikan sekeliling lalu berkata, " Mang buburnya satu, engga pake bawang goreng sama bawang daun, kasih kacang yang mateng jangan mentah, terus jangan lupa kasih irisan ayamnya yang banyak. Eh, satu lagi krupuknya jangan di satuin biar mereka LDR aja dulu."
Penjual bubur ayam itu melongo mendengar permintaan Dira. Selama ia berjualan kali ini ia menemukan pembeli yang sedetail Dira.
"Neng geulis, pake mangkok apa jangan?" celetuk tukang bubur ayam.
"Ya, pake atuh Mang. Kalau engga pake mangkok, tuh bubur taro dimana!" sahut Dira.
"Hahahaha. Abisnya si Neng ngomongnya cepet banget, amang jadi lieur," ujar tukang bubur.
"Hehehe. Maaf atuh Mang, saking laper jadi, pengen cepet makan," tawa Dira.
"Ya, udah duduk dulu neng. Tunggu sebentar atuh Mamang bikinin dulu buburnya " tukang bubur itu mempersilahkan Dira duduk di bawah dengan beralas tikar dan ada meja panjang untuk tempat makan.
"Siap, Mang." Dira segera mendaratkan pantatnya di tikar yang sudah di sediakan.
Tak berapa lama tukang bubur itu sudah selasai membuat pesanan Dira, ia membawa dua mangkuk bubur dan meletakannya di meja Dira.
"Loh kok dua sih, Mang?" tanya Dira.
"Ini pesenan si Aa itu, Neng." tukang bubur menunjuk pada lelaki yang tengah berjalan menghampiri Dira, ia dengan santainya duduk berhadapan dengan Dira.
"Silahkan di makan atuh buburnya," ucap tukang bubur.
__ADS_1
"Iya. Makasih, Mang," sahut Dira.
"Sama-sama, Neng geulis." tukang bubur itu segera pergi meninggalkan mereka.
Dira mengerutkan keningnnya, menatap penasaran pada sosok lelaki yang di hadapannya kini.
"Maaf, Mas siapa ya?" tanya Dira.
Lelaki itu dengan pelan melepas topi dan maskernya, alangkah terkejutnya Dira jika lelaki di hadapannya adalah Kakak tua yang tak lain adalah Farhan.
"Kakak tua!" jerit Dira.
Semua orang yang tengah menikmati bubur di sana melihat ke arah Dira, semua penasaran apa yang membuat gadis itu berteriak.
Farhan membungkam mulut Dira dengan tangan kanannya seraya berkata, " Berisik! Malu tahu di liat orang."
Dira segera melepaskan tangan Farhan di mulutnya, dia tidak menyangka bisa bertemu lagi lelaki menyebalkan ini di sini.
"Kakak ngapain di sini?" tanya Dira.
"Emm ... Gue ... Gue lagi ada projek di sekitar sini!" jawab Farhan berbohong.
"Lah, suka-suka gue dong. Yang punya projek juga gue," ucap Farhan.
Farhan mulai memakan sedikit demi sedikit bubur ayam miliknya, matanya tetap tak teralihkan pada Dira.
"Tapi, kok kakak bisa tahu aku di sini. Jangan-jangan, Kakak ngikutin aku, ya?" tuduh Dira.
Uhuk ... Uhuk ...! Farhan tersedak begitu mendengar pertanyaan gadis di hadapannya ini, Dira yang panik melihatnya segera menyodorkan aqua gelas yang tersedia di atas meja lalu berkata, " Makanya, kalau makan baca bismillah dulu jadi, engga keselek."
Farhan menyedot habis isi aqua gelas yang di berikan Dira, .matanya kembali ia pusatkan pada bocah ingusan ini.
"Lo kalau nuduh jangan sembarang dong! Gue kebetulan nginep di villa deket sini, pas tadi pagi gue keluar villa, gue engga sengaja ngelihat Lo lagi joging. Niat gue sih mau ngerjain Lo doang!" beber Farhan.
"Apes banget aku pagi ini, bisa-bisanya ketemu Kakak tua di sini," gerutu Dira.
"Jadi, Lo engga suka kalau ketemu gue gitu," sindir Farhan.
"Kalau udah tau ngapain pake nanya segala!" ketus Dira.
__ADS_1
Dira segera menyantap bubur pesanannya dengan hati kesal, moodnya tiba-tiba hilang karena bertemu lelaki yang ia anggap menyebalkan.
Farhan menyunggingkan senyuman kecil melihat raut wajah kesal Dira, entah mengapa Farhan sangat menyukai wajah kesal Dira yang menurutnya sangat manis.
"gue harep suatu saat nanti Lo bisa nerima kehadiran gue," batin Farhan.
Mereka makan dengan tenang, Farhan tidak ingin membuat Dira tambah kesal saat sedang makan.
Selesai makan Farhan segera membayar bubur pesanan mereka, awalnya Dira menolak untuk di traktir Farhan. Tentu sifat Farhan yanh pemaksa membuat Dira lebih baik mengalah.
Dira berniat pulang, matahari sudah mulai terlihat bersinar menandakan cuaca akan segera panas. Dira tidak ingin kulit cantiknya terbakar panasnya mentari, terlebih dia lupa memakai sunblock tadi.
Farhan berjalan beriringan dengan Dira, ia ingin mengantarkan bocah ingusannya itu sampai ke dekat villa milik keluarga Dira. Dira yang mulai risih dengan lelaki ini, kemudian menolehkan sedikit kepalanya ke samping lalu berkata, " Kakak tua ngapain sih ngikutin aku!"
"Yeh, siapa juga yang ngikutin Lo. Gue juga mau ke arah sana, orang penginapan gue di sebelah sana." tunjuk Farhan pada sebuah villa yang jaraknya tidak jauh dari villa milik keluarga Dira.
"Ya udah duluan sana, aku engga mau ketahuan Kak Rendy lagi! ketus Dira.
Farhan mendekatkan tubuhnya ke badan Dira, kini di antara mereka hampir tak ada jarak yang memisahkan.
Farhan memandang lekat wajah yang membuatnya lupa akan dendam pada Rendy, kakak wanita ini.
"Lo takut banget kayanya sama Rendy. Padahal gue cuman jalan bareng Lo doang tapi, Lo kaya takut ketahuan selingkuh sama pacar aja!" bisik Farhan di telinga Dira.
Dira mematung mendengar suara Farhan sangat jelas di telinganya, ia segera sadar kemudian mendorong tubuh Farhan menjauh darinya lalu berkata, " Jelas aku takut, Kak Rendy itu kakak kandungku, sedangkan kamu! Bukan siapa-siapa bagiku."
Dira segera melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam gerbang depan villa tapi, lagi-lagi suara Farhan menghentikan langkah kakinya.
"Sekarang gue mungkin bukan siapa-siapa buat Lo, tapi gue jamin suatu saat nanti. Gue bakal jadi orang terpenting di hidup Lo!" teriak Farhan.
Dira tidak menggubris perkataan lelaki yang bersamanya sejak tadi, ia segera masuk villa dengan jantung yang berdetak lebih kencang karena perlakuan Farhan barusan.
Tanpa mereka sadari satu pasang mata tengah menyaksikan interaksi Farhan dan Dira, bahkan pemilik mata itu melihat langsung saat Farhan berbisik di telinga Dira.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Likenya dong Say😉
__ADS_1