
Urusannya telah selesai, Dika pamit pulang pada kedua sahabatnya.
"Bro, gue cabut ya! Biasa panggilan alam udah menunggu," pamit Dika pada Rendy dan Rey.
"Ok, Bro! Thanks, ya?" calon ayah itu mengacungkan jempolnya.
"Santai aja, Ren. Gue turut seneng, ya! Bentar lagi Lo jadi ayah." Dika hendak beranjak pergi ketika Dira dan Egi juga ikut pamit pada Rendy.
"Kak, Dira ke toko dulu, ya!" gadis itu menarik tangan Egi untuk segera keluar rumah.
"Tunggu! Lo mau ke toko, Dir?" tanya Rey yang sejak tadi menyimak percakapan mereka.
"Iya, Kak Rey bawel," ledek Dira.
"Yeh, ni bocah. Noh, bareng Dika aja! ujar Rey, " Dik, rumah sakit Lo searahkan sama tokonya Lisa?"
"Iya," sahut Dika.
"Lumayan tuh, Dir. Daripada ngeluarin ongkos taksi, Kan. lagian Mang Rudy kagak ada lagi anter Bi Inah ke pasar," lanjut Rey.
"Ya udah! Kak Dika, Dira nebeng, ya?" gadis itu tersenyum ramah.
"Boleh! Ayo, gue ada jadwal visit pasien bentar lagi!" ajak Dika.
"Dik, hati-hati!" pesan Rendy.
"Siap, Bro!" Dika melangkahkan kakinya keluar untuk kembali dinas.
Setelah dipastikan mereka berlalu Rey berkata, " Ren, Lo udah tahu soal Dika suka sama adik lo."
Rendy melirik Rey sekilas kemudian berkata, " Iya. Dia ngaku sendiri pas kita berangkat liburan."
"Lo dukung mereka?"
"Gue sendiri terserah adik gue! Yang ngejalanin Dira, gue engga mau terlalu ikut campur soal masalah pribadinya. Yang penting gue tahu orangnya,"
"Sekalipun nanti Dira milih Farhan?"
Rendy terdiam sejenak, ada rasa tidak rela memang jika, adiknya ini bersanding dengan lelaki itu. Tapi, cinta tidak pernah memilih pada siapa dia akan singgah. Hanya saja, dia tidak percaya pada lelaki bernama Farhan.
"Jujur, gue nentang banget kalau itu Farhan!" tegas Rendy.
"Ya. Gue paham."
Sementara itu, di dalam mobil Dika, Dira dan Egi memilih saling berdiam diri. Egi sibuk dengan game favoritnya, Dira tengah asyik berchat ria dengan teman kuliahnya, sedangkan Dika fokus menyetir.
Dika melirik sekilas pada Dira lalu berkata, " Dek, Lo udah punya pacar belum?"
__ADS_1
Dira yang tengah fokus pada ponselnya terperanjat seraya berkata, "Belum, Kak. Dira pengennya fokus dulu kuliah! Habis dapet gelar sarjana baru deh mikirin hal kaya gitu tapi, pengennya sih kaya Kak Lisa langsung nikah."
Dika mengurai senyum pada adik sahabatnya, ia sedikit ragu kembali untuk mengutarakan perasaannya. Mungkin Dika harus bersabar beberapa tahun lagi untuk langsung meminang Dira saja, akan tetapi lawannya sekarang bukan orang biasa.
"Kalau seandainya nih, ada yang suka sama Lo tapi, engga berani ngungkapin perasaannya ke Lo! Gimana menurut Lo, Dek?" tanya Dika.
mata Dira terlihat ke kanan, ke kiri seakan ia sedang berpikir untuk memberikan jawaban yang tepat pada Dika.
"Emm ... Gimana ya, Kak! Kalau kata aku mah orang kaya gitu pengecut namanya. Engga mau berjuang untuk dirinya sendiri. Sekalipun pada akhirnya dia di tolak, setidaknya dia udah berusaha." jawab Dira.
Deg ... Deg ...!
Kata pengecut yang terucap dari mulut manis Dira bagaikan panah yang menujuk tajam di hati Dika. Berarti Dira akan menganggapnya pengecut jika, selamanya ia berdiam diri.
"Sebernanya bukan pengecut sih, mungkin bisa dibilang. Dia kurang percaya diri, atau mungkin ada sesuatu hal yang membuatnya memilih menyembunyikan perasaan dia." ucap Dika.
"Bagi aku sih sama aja, Kak! Kita engga pernah tahu hasil jika, belum mulai berperang. Roti yang enak aja prosesnya membutuhkan waktu yang lama, tentu dengan ketelatenan si pembuat."
"Gue pengen tahu, tipe cowok Lo kaya gimana, Dek?"
Dira mengerutkan keningnya, ia mulai mencurigai lelaki di sampingnya. Mengapa Dokter yang terkenal tidak mau tahu urusan orang ini, sekarang berubah menjadi orang yang kepo.
"Tunggu! Aku mencium bau-bau perjodohan nih kayaknya," tuduh Dira.
"Perjodohan gimana maksud Lo, Dek?"
"Hahahaha. Gue mana sempet ngejodoh-jodohin orang, gue sendiri aja kagak punya waktu jodohin diri sendiri!" seru Dika.
"Eh. iya, ya. Kakak kan, Dokter jones!" ledek Dira.
"Awas ya! Entar kalau gue punya pacar. Gue pamerin pertama kali sama Lo,"
"Memang ada yang mau sama, Kak Dika?"
"Ngehina Lo ya. Gini-gini pasien cewek gue juga banyak yang antri!"
"Antri buat apa, Kak?"
"Antri minta sembako, hahahahaha!" Dika tertawa terbahak-bahak dengan tangan yang masih setia mengendalikan stir mobil.
"Kirain antri minta di halalin," timpal Dira.
"Gimana pertanyaan gue, tipe cowok Lo tuh kaya gimana?" ulang Dika.
"Simple aja sih! Yang penting seiman, baik dan pasti mau sama-sama pengertian," jawab Dira.
"Yang kaya, tajir atau profesinya engga masalah, Non?"
__ADS_1
"Itu mah engga ada dalam daftarku, Kak! Kata mamah, kita ini hidup jangan memandang orang dari status sosial. Yang kaya dan miskin buktinya sama aja," tutur Dira.
"Hebat Lo, Dek! Biasanya cewek jaman sekarang kalau pengennya cowok yang kaya raya," puji Dika.
"Engga semua kali, Kak! Tapi, dibalik itu mungkin mereka punya alasan sendiri,"
Kepala Dika mengaguk-angguk mendengarkan jawan Dira, anak kecil yang dulu sering bermain bersamanya, kini menjelma menjadi wanita dewasa yang bijak.
"Gue harap siapapun pilihan hati Lo nanti! Dia orang yang terbaik dan bisa mencintai Lo apa adanya," harap Dika.
"Kalau Kak Dika sendiri, tipe cewek idamannya kaya gimana?" tanya Dira.
Dika menghela nafas kasar, dia tidak pernah memikirkan perihal kriteria pacar, atau calon istrinya selama ini.
"Gue sih yang penting dia nurut sama gue, bisa jadi ibu dari anak-anak gue, dan selalu ada disaat gue suka ataupun duka!" lelaki itu tak akan meminta lebih pada Allah soal jodohnya nanti.
"Hmm ...! Tapi, kalau menurut aku nih. Yang bakal jadi istri Kak Dika termasuk beruntung,"
"Beruntung gimana maksud Lo, Dek?"
"Ya, beruntung. Kak Dika nih kan orangnya tajir, pasti. Ganteng lumayanlah, profersi engga usah tanya lagi, dan yany paling penting Kakak orangnya pengertian," puji Dira.
Hati Dika meleleh mendengar gadis kecilnya memuji dirinya. Andaikan mereka adalah pasangan suami istri, sudah di pastikan Dika akan mencium Dira saat ini.
Hanya saja, Dika tahu posisinya sekarang. Jangankan suami istri, berstatus pacaranpun mereka bukan.
"Kalau gitu, Lo aja yang jadi istri gue. Pasti Lo jadi orang paling beruntung, Dek!" celetuk Dika.
Dira tersentak mendengar ucapan Dika, apa maksud lelaki disampingnya ini. Apa pagi tadi lelaki ini salah memakan menu sarapan? kenapa tiba-tiba dia bicara ngelantur seperti ini.
"Hahahaha. Kak Dika kalau ngelawak jangan kelewatan dong, engga lucu tahu!" sahut Dira.
Dika menampilkan senyum terpaksa, ia tak menyangka ucapannya di anggap hanya lelucon bagi Dira.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Jangan lupa dukungannya ya, Say. Dengan cara
Like
Coment
Vote
Rate
__ADS_1