Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
Extra part 13


__ADS_3

Jangan berhenti memohon penjagaan pada Sang Maha kuasa. Sesungguhnya, kita hanyalah manusia lemah.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Dua hari berlalu, Zahra melewati detikan waktu tanpa Egi di sisi. Rasa rindu semakin menggunung. Sikap Egi di bandara masih berlompatan di mata. Membuat kerinduannya semakin menjadi.


Hari ini seharusnya Egi pulang sesuai jadwal. Zahra menyibukkan diri sepanjang hari. Ia pergi ke kampus dan berkumpul bersama teman seperti biasanya.


Waktu semakin sore, Zahra pulang menggunakan taksi. Badannya lelah, belum rasa mual yang entah mengapa sejak pagi sulit terusir. Gawai Zahra berdering, tampak nama Egi terpampang jelas. Zahra meraih ponsel dan langsung mengangkatnya.


"As'salamualaikum, istriku." Suara Egi berdendang ria di telinga Zahra.


"Wa'alaikumsalam, Mas." Zahra sedikit bergetir mendengar suara hangat suaminya.


"Kamu sudah di rumah?"


"Belum, Mas. Ini masih di jalan."


"Bagaimana keadaanmu hari ini?"


"Aku baik, Mas." Zahra memejamkan mata sejenak, mencoba menetralisir perasaan yang tak enak sejak kepergian suaminya.


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya," tutur Egi. "Penerbanganku dua jam lagi, mungkin aku sampai rumah orang tuamu malam. Papa sudah pulang terlebih dulu."


"Kenapa tidak pulang bersama?"


"Masih ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan di sini."


"Baiklah." Zahra mengalah.

__ADS_1


"Sayang, aku mau tidur dulu sebentar sambil menunggu Maghrib. Tubuhku lelah sekali, aku merindukanmu. As'salamualaikum." Egi menutup ponsel begitu saja tanpa menunggu Zahra menjawab. Mungkin kantuk telah melemahkan dirinya.


"Wa'alaikumsalam." Zahra menyimpan kembali ponsel di tempat semula.


Hati Zahra gelisah, ucapan terakhir Egi menggetarkan jiwa. Seolah sebuah ucapan perpisahan. Sekuat tenaga Zahra mengusir pikiran negatif. Ia yakin, Allah menjaga suaminya.


Sampailah Zahra di depan rumah. Ia keluar taksi dan membayar ongkos. Tampak Rey baru saja keluar dari taksi di depan rumah juga. Zahra segera menghampiri, mencium tangan Papanya.


"Suamimu pulang sebentar lagi," ujar Rey.


"Iya, Pa."


"Masuklah, ganti pakaian dan bersiap sholat Mahgrib."


Zahra mengangguk. Melangkah masuk sembari mengucap salam. Mona menyambutnya, memberi tahu bahwa makan malam kali ini ada menu kesukaan Zahra.


"Makasih, Mah. Kalau gitu, Zahra ke kamar dulu," imbuh Zahra.


Zahra menaiki tangga satu per satu menuju kamarnya. Ia tak sabar ingin waktu segera malam. Perjumpaan dengan Egi menjadi momen yang ia nantikan.


Setelah membersihkan diri, Adzan Maghrib berkumandang. Bergegas Zahra bergabung di mushola kecil rumahnya, lalu menjalankan salat Maghrib berjamaah. Untaian doa tak lupa ia panjatkan untuk keselamatan dan kemudahan sang suami di sana.


Salat selesai. Rey dan Mona mengajak Zahra makan malam. Mereka berbincang banyak hal melepas rindu yang lama terpendam. Zahra berusaha merilekskan hatinya yang tengah tegang menanti waktu.


Saat tengah berkumpul Rey mendapatkan sebuah pesan. Ia membacanya pelan, raut wajah Rey berubah bimbang. Menatap sang anak yang kini tengah tertawa riang bersama ibunya.


"Ada apa, Pa?" Zahra menyadari perubahaan wajah papanya.


"Nak, suamimu engga jadi pulang malam ini. Ternyata masih ada urusan mendesak yang harus selesai malam ini juga," ungkap Rey.

__ADS_1


Zahra terperanjat mendengar itu. Bunga rindu yang telah mekar sempurna tiba-tiba layu tanpa sebab. Perasaannya hancur, rasa kesal datang menyapa.


Mona menepuk pelan punggung Zahra. "Kamu harus mengerti, Sayang. Berdoalah, semoga urusan suami segera cepat terselesaikan.


Zahra mengangguk pelan. Air mata berdesakan meminta keluar, mereka ingin meluncur bebas di pipi Zahra. Setelah mendengar itu, Zahra pamit ke kamar. Ia lelah, setidaknya tidur bisa melonggarkan sesak di dada.


"Tidurlah, Nak. Jangan lupa sholat Isya dan terus berdoalah untuk keselamatan suamimu," pesan Rey lembut.


Satu anggukan Zahra menusuk jantung orang tuanya. Terutama untuk Mona. Ia yang menyaksikan sang anak berusaha tegar melewati hari. Mungkin untuk sebagian terdengar manja. Namun, untuk sebagian lagi ini hal wajar. Bagaimanapun, saat sosok suami yang terbiasa bersama lantas pergi, meski sekejap. Maka saat itu kita merasa dunia bergulir lambat.


Zahra berjalan lesu menuju kamar. Ia segera merebahkan badan dengan posisi miring ke kiri. Menarik selimut sampai ke dada. Tetes demi tetes air mata jatuh tak sanggup di tahan. Perasannya campur aduk sulit di jabarkan.


Ponsel Zahra beberapa berdering, akan tetapi ia tak cukup bergairah untuk melihatnya. Saat ini ia ingin pergi ke alam mimpi. Melupakan rasa rindu sekejap saja.


Tangis Zahra lirih, tatapannya sendu. Perlahan matanya menutup. Pencahayaan kamar hanya dari lampu tidur kecil. Berharap, malam segera pulang. Lalu, pagi datang siap menyambut cerita baru.


Tepat pukul dua malam, pintu kamar Zahra terbuka. Seseorang masuk dan menutup pintu kembali. Ia menghampiri Zahra, menatap mata Zahra yang sembab. Satu kecupan singkat mendarat di kening Zahra. Kemudian orang itu merebahkan diri di samping Zahra dan melingkar tangan kekarnya di pinggang wanita itu.


Sepertu keinginan Zahra, malam berpamitan pulang. Udara subuh menyeruak masuk lewat celah jendela. Ia membuka mata pelan, merasakan sesuatu yang aneh.


Deru napas seseorang terdengar di telinga. Jantung Zahra berdentam, tubuhnya kaku. Mungkinkah?


"Aku tahu kamu sudah bangun, Sayang," ujar Egi yang sebenarnya telah terbangun lebih dulu. "Maaf, aku membuatmu menunggu."


Suara berat orang khas bangun tidur mengusik telinga Zahra. Ada sengatan listrik menyambar dirinya. Tangan kekar itu melingkar sempurna di pinggangnya. Ia tak tahu percis kapan Egi pulang? Namun, tak bisa dipungkiri hatinya berbunga-bunga.


"Aku merindukanmu. Setelah semuanya selesai, aku langsung berlari ke bandara. Beruntung masih ada penerbangan. Jadi, setidaknya sepertiga malam tadi aku bisa memelukmu erat," sambung Egi.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG~~~


Maaf, telat up. Satpam kecil rewel dari pagi🙏


__ADS_2