
Hari ini dunia Rendy terasa gelap, pondasi hidupnya terasa runtuh. Di hadapan jenazah sang mamah, Rendy terdiam melihat wajah cantik itu untuk terakhir kalinya.
Air matanya sudah seperti kering, tak sanggup lagi keluar. Ini lebih sakit di bandingkan saat dia kehilangan Kayla dulu.
Lisa, Dira, Rey juga pak Adrian ikut menyaksikan lelaki itu seperti patung hidup. Rendy tak berkata atau pun bergerak.
Pikirannya menerawang jauh ke masa lalu, saat masa-masa dimana dia menghabiskan waktu bersama wanita yang kini terbujur kaku.
Lisa memberanikan diri mengusap punggung suaminya. Dia takut Rendy terlalu larut dan itu akan berdampak buruk untuk dirinya.
"Mas, sebaiknya kita segera memakamkan jenazah mamah." Ujar Lisa penuh kelembutan.
Rendy masih terdiam tak menjawab perkataan Lisa, semua orang saling melirik satu sama lain.
"Mas.." Lanjut Lisa masih dengan suara yang begitu lembut.
Rendy menoleh ke arah Lisa. Pandangannya terasa buram tapi, dia memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum pada istrinya.
"Iya, sayang." Jawab Rendy lirih.
Rendy bangkit dari duduknya, dia menatap sang papah yang juga sama sedihnya dengan dirinya.
"Pah, kita makamkan jenazah mamah dekat dengan makam almarhum Kayla saja. Biar mamah bisa dekat dengan menantu pertamanya." Ucap Rendy.
"Iya, Boy." Jawab pak Adrian.
Sore itu jenazah bu Ratna di antar ambulans ke rumah duka terlebih dahulu, setelah di sholatkan di masjid terdekat. Ambulans siap mengantarkan jenazah ke pemakaman.
Ratusan pelayat memadati rumah duka, dari kolega bisnis, tetangga, teman, sahabat bahkan tukang dagang yang sering di borong almarhum bu Ratna dulu.
Semua merasa kehilangan sosok orang yang baik hati, bu Ratna yang di kenal dermawan, tidak pernah sombong juga merakyat. Mampu membuat hati siapapun bersedih saat kepergiannya.
pak Adrian beserta keluarga sudah siap, untuk mengantarkan ke peristirahatan bu Ratna yang terakhir.
Terlihat Rendy memakai kaca mata hitam dan pakaian serba hitam, selalu setia mendamping sang mamah di saat terakhirnya.
__ADS_1
Bahkan Rendy tak sungkan ikut serta menggali liang lahat sang ibunda. Dia tak peduli soal statusnya yang seorang presedir, baginya ini adalah pengabdian terakhir yang biasa dia lakukan untuk mamahnya.
Setelah proses pemakaman selesai, Rendy dan keluarga menabur bunga di makam bu Ratna. Satu persatu pengantar jenazah berhamburan pulang.
Tinggallah Rendy, Lisa, Dira, pak Adrian juga Rey. pak Adrian berjongkok di hadapan makam istrinya. Dia berusaha tegar di hadapan anak-anaknya.
"Mamah, sekarang mamah sudah engga merasakan sakit lagi. Sekarang mamah sudah tenang di alam sana. Tolong, tunggu papah ya, mah. Tunggu papah agar bisa bersanding lagi bersama mamah di akhirat nanti." Ucap pak Adrian menahan tangis.
Pak Adrian menghela nafas kemudian meneruskan perkataannya.
"Terimakasih, mah. Karena mamah sudah setia menjadi istri papah sampai akhir hayat. Sudah memberikan papah sepasang anak yang hebat. Papah bahagia bisa mengenal juga menjalani hidup bersama mamah." Lanjut pak Adrian.
Semua tersentuh, Dira yang menyaksikan sang papah menahan tangis. Ikut berjongkok lalu memeluk tubuh lelaki yang sudah berjuang mati-matian mencari rezeki, untuk masa depannya.
Rendy hari ini menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, betapa berharganya sosok mamah di hadapan papahnya. Rendy berjongkok mengikuti papah dan adiknya.
"Mah, Rendy ikhlas melepas mamah. Rendy akan selalu mendoakan mamah dari sini. Rendy berharap Allah mengampuni dosa mamah, juga menempatkan mamah di tempat terindah. Terimakasih, karena sudah melahirkan dan membesarkan Rendy dengan penuh kasih sayang. Mohon maafkan Rendy yang masih belum bisa berbakti pada mamah selama ini." Ucap Rendy menaburkan bunga di atas makam mamahnya.
Air mata Lisa kembali membanjiri pipinya, di hadapannya ini sekarang ada Seorang anak yang begitu menyayangi ibunya. Lisa teringat kembali bayang-bayang kedua orang tuanya, yang sudah duluan pergi ke pangkuan Ilahi.
Semua larut dalam kesedihan hari ini, begitu berat menerima kenyataan pahit ini tapi, itulah kehidupan. Semua yang bernyawa pasti akan mati.
Dunia hanya sementara, tak ada yang abadi di dunia yang fana ini. Kita bagaikan sedang berkelana, yang suatu saat akan pulang ke kampung halaman sendiri.
🥀🥀🥀🥀🥀
Malam hari di rumah pak Adrian, tak ada seorang pun dari mereka turun ke bawah untuk sekedar makan malam.
Suasana rumah yang biasa hangat, mendadak sunyi sepi seperti tak bernyawa. Semua terdiam di kamar masing-masing.
Rendy duduk diam di atas ranjang miliknya, sedangkan Lisa baru saja selesai membersihkan diri.
Lisa memperhatikan suaminya yang berubah menjadi sangat pendiam. Dia membayangkan mungkin seperti ini Rendy dulu, saat almarhum Kayla meninggalkannya selama-lamanya.
Rendy teringat akan pemberian papahnya, dia segera membuka laci dan mengambil surat peninggalan mamahnya yang belum sempat dia baca.
__ADS_1
Dengan sisa tenaga yang ada, Rendy membuka isi surat itu.
***Rendy sayang, mungkin saat kamu membaca surat ini. Mamah sudah tak ada lagi di sampingmu. Rendy, maafkan mamah nak. Mamah tak memberitahumu soal penyakit mamah.
Tapi, sayang. Mamah merasa senang. Karena, sebelum mamah di panggil Sang Ilahi. Kamu sudah menikah kembali. Kamu tau sayang, mamah takut saat kamu terpuruk karena kepergian Kayla. Mamah takut, kamu selamanya akan menyalahkan dirimu dan tak mau berbagi hati dengan wanita lain.
Tolong, jaga adik dan papahmu ya, nak. Tak lupa selalu bahagaiakan istri yang selalu setia mendampingmu. Mamah yakin kamu akan bahagia bersama Lisa.
Peluk cium dari mamah untuk, anak lelaki kesayangan mamah***.
Rendy tak kuasa menahan air matanya, dia menangis tak sanggup menerima kenyataan ini. Lisa yang kaget mendengar suaminya menangis, dengan sigap segera menghampiri Rendy dan memeluknya.
Rendy menerima pelukan hangat Lisa, dia membenkan kepalanya di dada Lisa. Tumpah sudah semua air mata yang sejak di pemakaman tadi dia tahan.
"Sayang, ini sangat menyakitkan. Aku benar-benar tak sanggup." Ujar Rendy lirih.
Lisa mengerti keadaan suaminya. Dia elus lembut punggung Rendy dengan tangan halus miliknya.
"Mas, semua sudah takdir dari Allah. Percayalah mamah sudah tidak sakit lagi sekarang, mamah sudah bahagia di sana." Ucap Lisa lembut.
Rendy mengangkat kepalanya, di tatapnya bola mata indah Lisa. Sosok istri yang setia di keadaan apapun.
"Sayang, berjanjilah. Kamu tak kan meninggalkanku, jika boleh memilih biarkan aku yang pergi duluan. Agar aku tak merasakan kembali kehilangan orang yang aku cintai." Ucap Rendy lirih.
Lisa tak sanggup mendengar perkataan suaminya. Dia pun tak mau kehilangan orang yang di cintainya lagi. Tapi, semua sudah jalan takdir yang Allah gariskan.
Setiap ada kehidupan maka akan ada pula kematian. Semua tak akan bisa menghindar, sekalipun menolak.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Mohon dukungan untuk author dengan Like, coment dan vote😍😍
SELAMAT MEMBACA🤗🤗
__ADS_1