
Malam ini, Rendy dan Lisa tengah berbaring di ranjang. sejak tadi Lisa tidak ingin berdekatan dengan suaminya, ia merasa Rendy sangat bau.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rendy keheranan melihat istrinya terus menjawab.
"Jangan mendekat, Mas!" teriak Lisa.
Rendy mengerutkan keningnya, ada apa dengan istrinya sampai tidak mau berdekatan dengannya.
"Kenapa?" tanya Rendy keheranan.
"Mas, bau!" seru Lisa.
"Bau! Perasaan tadi aku sudah mandi, Sayang?"
"Tapi, Mas beneran bau." Lisa memencet hidungnya dengan tangan.
Rendy mencium tubuhnya, tidak bau sedikitpun. Mengapa istrinya tidak mau didekati, apa dia harus mandi kembali. Ini sudah malam akan sangat dingin rasanya jika, harus mengguyur tubuhnya dengan air.
Pada akhirnya Rendy pergi ke kamar mandi untuk kembali membersihkan diri. Dia tidak ingin malam ini istrinya tidak ingin didekati, atau lebih parahnya dia harus tidur sendiri.
"Drama apa lagi sekarang? sabar, Tong! inget, ini bawaan bumil," batin Rendy.
Rendy keluar dengan rambut basah, ia berharap kali ini istrinya berubah pikiran. Rendy berjalan mendekati Lisa, akan tetapi Lisa menggeser badannya menjauh dari dirinya.
"Mas ...! Aku udah bilang, Mas itu bau." ucap Lisa.
"Mas, sudah mandi dua kali sayang masa masih bau! protes Rendy.
"Aku minta maaf, Mas. Tapi, malam ini mau engga mas tidur di sofa dulu?" pinta Lisa lembut.
"Sofa!" seru Rendy.
"Iya, Mas. Aku engga bisa tidur kalau deket Mas,"
Rendy menatap istrinya, apa yang ia bayangkan akhirnya terjadi. Demi sang istri yang ia cintai, Rendy merelakan dirinya malam ini tidur di sofa.
Selama ini ia tidak pernah ingin diatur orang lain, selain Mamahnya itupun jika permintaan Mamahnya masuk akal. Namun lihtlah dirinya sekarang, ia justru kalah dengan seorang mahluk yang bernama wanita bertitle istri.
"Baiklah, aku akan tidur di sofa." laki-laki itu membawa bantal, guling dan selimut melangkah lesu menuju sofa.
"*Sabar, Tong. Malam ini biarlah guling ini jadi penghangat*mu," batin Rendy.
Rendy yang terbiasa nyaman tidur di ranjang empuknya, merasa tidak bisa bergerak tidur di sofa yang sempit. Tengah malam ia bangun lalu, mendekati sang istri.
__ADS_1
Dipandangnya wajah cantik milik Lisa, gadis yang dulu ia temui di rumah sakit kini akan memberinya seorang anak. Rendy berjongkok tepat di muka sang istri, ia menyeka rambut yang menutupi wajah cantik Lisa.
"Kamu memang cantik, aku beruntung memilikimu. Sehat selalu, Sayang." Rendy mengecup pelan kening istrinya lalu, kembali ke sofa untuk segera tidur.
🌹🌹🌹🌹🌹
Sementara itu, Dira tengah asyik menonton acara televisi ketika Papahnya baru saja tiba di rumah.
"Assalamualaikum." Pak Adrian mengucap salam sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
Dira yang mendengar suara Papahnya pulang segera melihat ke arah pintu rumah lalu berkata, " Waalaikumsalam."
Pak Adrian menghampiri putri kecilnya kemudian memeluknya erat. Pak Adrian sangat rindu anak gadis manjanya itu.
"Papah kanget banget sama kamu," ujar Pak Adrian.
"Dira juga, Pah," sahut Dira.
"Papah mandi dulu, ya? habis itu kita makan malam bersama, Ok!"
"Siap, komandan!" seru Dira.
Pak Adrian melepas pelukannya lalu, beranjak pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Dira segera meminta Bi Iyah untuk memasak menu kesukaan Papahnya.
Dua puluh menit berlalu, Pak Adrian sudah kembali dengan wajah segar. Mereka segera menyantap makan malam dengan tenang tanpa ada pembicaraan di meja makan.
Semua telah bersih, Dira segera menyusul Papahnya di ruang keluarga.
"Pah," sapa Dira begitu duduk di sofa.
"Iya, Nak," jawab Pak Adrian.
"Apa Papah akan pergi lagi keluar kota? Dira beberapa hari lagi harus berangkat kembali ke Belanda?"
"Sepertinya Papah tidak ke luar kota lagi, Nak. Papah sudah menyuruh orang kepercayaan Papah untuk mengurusi disana,"
"Alhamdulilah, aku seneng dengernya. Aku takut kalau Papah kecapean, kesehatan Papah menurun," lontar Dira khawatir.
"Tenang saja, Papah akan sehat selalu untukmu." Pak Adrian mengusap lembut kepala Anaknya.
"Oh, ya, Sayang. Papah dan Kakakmu sudah berunding soal kuliahmu. Bagaimana kalau kamu melanjutkan pendidikan di sini saja," usul Pak Adrian?" usul Pak Adrian.
"Memang kenapa, Pah?" tanya Dira.
__ADS_1
"Papah sudah tua, Papah juga sudah mulai pensiun. Mau kah kamu menemani Papah sebelum kamu dipinang jodohmu?" tatapan Pak Adrian sendu, seakan mengisyaratkan sebuah harapan.
Dira menatap wajah Papahnya, orang tua yang kini tinggal satu-satunya. Dia juga berat untuk meninggalkan sendirian, akan tetapi ia harus berpikir dahulu sebelum memutuskan sesuatu.
"Insyaallah, akan Dira pertimbangkan keinganan Papah," jawab Dira sambil tersenyum.
"Terimakasih, Nak. Semoga kebahagian selalu menyertaimu." seuntai doa keluar dari mulut Pak Adrian untuk putri kecilnya.
"Pah, apa Dira boleh berbicara sesuatu?" kata Dira.
"Bicaralah, Nak," jawab Pak Adrian.
Dira sedikit ragu membicarakan masalah yang sangat pribadi pada Papahnya, akan tetapi ia ingin tahu sudut pandang Papahnya soal masalah yang tengah ia hadapi.
"Seandainya, Papah seorang wanita lalu, ada dua lelaki mendekati Papah dan mereka sama-sama memiliki perasaan pada Papah. Apa yang akan Papah lakukan?" tanya Dira.
Pak Adrian tersenyum, ia mengerti jika saat ini putrinya tengah bermain dengan namanya cinta. Dira bukan lagi putri kecil yang selalu ia gendong dulu, melainkan sudah menjelma menjadi gadis cantik yang sudah mengenal cinta.
"Tergantung," jawab Papah.
"Tergantung gimana maksud, Papah?"
"Begini ya, Sayang. Cinta itu tidak bisa dipaksakan, dia hadir di antara dua orang yang awalnya tak saling mengenal menjadi saling melengkapi," jelas Pak Adrian.
Pak Adrian menghela nafas kasar sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya kembali.
"Seperti misalnya, saat pria dan wanita yang pada awalnya saling menyakiti, membenci dan tak mau berbagi, akan tetapi seiringnya waktu karena sudah lama bersama tumbulah rasa cinta di antara mereka. Mereka tidak bisa menolak kekuatan cinta karena, hakekatnya cinta akan hadir pada waktu dan tempat yang seharusnya," lanjut Pak Adrian.
Dira menyimak semua jawaban Papahnya, ia ingin menjadikannya sebagai bahan pertimbang ia dalam menentukan langkah ke depannya.
"Sekalipun lelaki itu seorang yang pemaksa, menyebalkan dan membuat Papah marah? tanya Dira sekali lagi.
"Sepertiny hal yang Papah katakan tadi, cinta tidak bisa di paksan. Nah, cintapun tidak memandang pada siapa saja Bisa saja sekarang kamu membencinya, akan tetapi di lain waktu saat dia pergi kamu malah merindukannya,"
Dira menatap kosong ke arah depan, mungkin benar yang dikatakan Papahnya. Cinta hadir disaat waktu dan tepat yang seharusnya, dan mungkin juga kita tidak bisa menebak pada siapa cinta itu akan menghampiri.
"Kamu boleh memilih siapa saja pasanganmu kelak, Nak. Tapi, jika boleh Papah berpesan. Ikutilah apa kata hatimu, sesuatu yang menurut kita buruk mungkin saja tidak sepenuhnya demikian." Pak Adrian membelai lembut rambut indah anak gadisnya.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Terimakasih atas semua suport dan semangat untuk Author.
__ADS_1
Mari kita lanjutkan kehaluan ini bersama🙈
Selamat membaca😍😍