Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
92


__ADS_3

Langit malam nampak indah dipandang, berhias jutaan bintang menambah takjubnya pesona malam.


Saat ini ada dua keluarga yang tengah berkumpul, mereka duduk bersama saling mengenal lalu berbicara satu sama lain.


Tak ada kecanggungan, ataupun sungkan diantara mereka Tak ada rasa malu dari si miskin, juga tak ada rasa sombong dari si kaya.


Seorang ibu duduk tenang ditemani anak gadisnya, saat rombongan Rey datang memberi kejutaan yang tak disangka. Sebuah lamaran datang untuk meminang sang anak perawan.


Bu Adlan namanya, usianya mungkin sudah empat puluh tahun. Wajahnya berseri masih terlihat bekas kecantikan saat muda dulu, ia menyambut hangat kedatangan Rey berserta kedua orang tuanya.


"Silahkan diminum, Pak, Bu!" ujar Bu Adlan menyodorkan tiga gelas air putih pada mereka.


Tidak ada kemewahan yang bisa Bu Adlan suguhkan, hanya air bening ini lah yang bisa ia berikan.


"Perkenalkan kami orang tua Rey. Saya Bu Mirna, Ibunya Rey! Lalu," ujar Bu Mirna. " ini suami saya, Pak Gunawan selaku ayahnya Rey."


Bu Mirna dengan ramah dan lancar memperkenalkan siapa mereka sebenarnya.


"Oh, iya Bu. Perkenalkan Saya Bu Adlan, Ibunya Mona," tunjuk Bu Adlan pada anak gadis disampingnya.


"Begini, Bu. Maksud dan tujuan kami disini kami ingin meminang putri ibu untuk anak bujang kami, Rey! Tentu Ibu juga sudah mengenalnya, bukan?" kata Pak Gunawan yang sedari kedatangannya hanya diam.


"Tentu sudah, Pak! Nak, Rey ini sudah tiga kali berkunjung ke rumah kami," ungkap Bu Adlan.


"Alhamdulilah, kalau begitu! Jadi," ucap Pak Gunawan. " apa Ibu berkenan menerima lamaran dari kami?"


Bu Adlan terdiam, ia melirik pada anak gadisnya yang sedari tadi hanya menunduk. Bu Adlan bisa melihat ada rona kebahagian yang dipancarkan dari Mona, diapun tidak bisa memungkiri jika hatinya saat ini juga sama bahagianya dengan anaknya.


Bu Adlan kembali menatap pada kedua orang tua Rey, melihat pemuda yang tetap tenang duduk bersama orang tuanya. Pemuda yang sering diceritakan anak gadisnya sebagai lelaki baik dan sopan. Bu Adlan menghela nafas kasar lalu berkata, " Saya tergantung Mona saja, Pak! Saya tidak mau menentukan jodoh anak saya, biarlah dia sendiri yang menjawab bersedia atau tidaknya dipinang, Nak Rey."


Mona mengangkat kepalanya tegak, ia memandang wajah sang Ibu. Andai yang datang melamar padanya bukan Rey, apa Ibunya tetap berkata seperti itu.


"Gimana, Nak Mona. Apa kamu bersedia menerima lamaran anak Bapak?" tanya Pak Gunawan sembari menatap Mona.


Mona menatap Rey dalam-dalam, ia sudah menyiapkan mental untuk momen ini. Mona berkata, " Insyaallah saya bersedia, Pak."

__ADS_1


"Alhamdulilah." ucap mereka serentak.


"Kalau begitu, bagaiman jika kita segera menentukan tanggal pernikahan mereka, Bu?" usul Bu Mirna pada Ibunya Mona.


"Baik, Bu. Kami ikut saja pada pihak laki-laki, insyaallah kami percaya." wajah ceria Bu Adlan terhias senyuman bahagia.


Mereka mulai berdiskusi satu sama lain, mencari waktu dan momen yang tepat untuk pernikahan putra putri mereka. Bu Mirna terlihat ramah pada besannya, ia tidak sungkan-sungkan tertawa bersama.


Sementara itu, Rey menatap bahagia pada calon istrinya. Dia tidak mengira perkataannya dulu menganggap Mona sebagai calon istri ternyata menjadi kenyataan.


Rey mengurai senyum. Tangannya sudah gatal ingin sekedar memeluk, atau mungkin membelai rambut Mona, akan tetapi ia harus bersabar sedikit lagi. Mereka belum sah sepenuhnya.


"Nah, sepertinya tanggal ini cocok untuk mereka, Bu." terdengar Bu Mirna menunjuk tanggal tujuh bulan depan.


"Ya, saya ikut gimana baiknya aja, Bu," jawab Bu Adlan.


"Kalau begitu, kita sepakat untuk mengadakan ijab qabul pada tanggal ini tepatnya satu bulan lagi," kata Bu Mirna.


"Iya, Bu," sahut Bu Adlan.


Malam itu semua larut dalam perbincangan, mereka saling bercerita satu sama lain. Banyak hal yang kedua wanita paruh baya itu ceritakan, sehingga membuat Pak Gunawan berasa menjadi nyamuk diantara para wanita itu.


Sedangkan itu, Rey dan Mona duduk diteras. Mereka menatap langit yang sama, menikmati teduhnya sinar rembulan saat itu.


"Sayang, satu bulan lagi kita akan resmi menjadi suami istri," kata Rey masih saja setia menatap ke atas langit.


"Iya, Kak Rey. Aku engga nyangka tentang hubungan kita," jawab Mona.


"Engga nyangka gimana maksud kamu?" tanya Rey.


"Dulu saya pikir terlalu jauh menggapai Kak Rey! Pikir saja kita ini berbeda, Kak Rey bagai bintang di angkasa, sedangkan aku hanyalah semut yang mampu memandang jauh dari sini," jelas Mona.


Rey menatap kearah samping, melihat secara seksama wajah calon istrinya lalu berkata, "Kamu ini terlalu jauh berpikir! Kamu tahu, aku tidak pernah melihatmu dari tampilan, kecantikan, ataupun status sosialmu. Aku mengagumimu karena sifat kecerianmu yang sanggup meluluhkan hatiku."


Mona masih tidak bergeming, matanya seakan tidak ingin sedetikpun teralihkan dari ribuan bintang dilangit sana. Sudah lama mereka tidak berbicara seserius ini, biasanya selalu terselip humor receh diantara mereka.

__ADS_1


Malam ini berbeda, Mimik wajah Rey memancarkan keseriusannya. Dia ingin memperlihat pada calon istrinya, betapa serius dirinya untuk hal ini.


"Kak Rey ingin mendengar dongeng sebelum tidur tidak?" ucap Mona.


"Boleh," sahut Rey.


"Saat aku kecil, aku pernah ditolong seorang anak lelaki yang sudah remaja. Aku menganggapnya sebagai kekasih kecilku, aku berharap suatu saat nanti bisa menikah dengannya. Namun," ucap Mona, ia memberi jeda terlebih dahulu perkataanya.


"Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Hingga hari itu, aku bekerja dikantor Pak Rendy. Aku pertama kali melihat Kak Rey berjalan beriringan, aku beberapa kali mengerjapkan mataku. Kak Rey sangat mirip dengan laki-laki itu," ungkap Mona.


"Benarkah!" seru Rey.


Otak Rey berkerja keras, memutar kembali memori yang terjadi dahulu. Entah mengapa ia juga sedikit mengenali Mona, ceritanya pun sama.


Rey merogoh sakunya, mengambil benda pipih nan canggih kesayangannya. Ia membuka galeri mencari fotonya saat remaja yang masih tersimpan rapih, dia berharap apa yang ia duga itu benarnya adanya.


Dia terus mencari, seingatnya ia masih menyimpan foto-foto dirinya dari remaja hingga sekarang. Akhirnya Foto yang ia cari bisa ditemukan, ia menatap tajam pada layar ponsel miliknya.


Rey menyodorkan ponsel miliknya pada Mona seraya berkata, "Apa wajah anak laki-laki itu seperti ini?"


Mona yang masih setia menatap langit dengan pikirannya yang jauh terbang keatas sana, mengingat kembali pertemuan pertama dan terakhirnya dengan anak laki-laki dulu.


Mona sedikit menunduk ke bawah, mengambil ponsel milik calon suaminya. Matanya menatap lekat pada foto di layar ponsel itu, ia beberapa kali mengucek mata untuk memastikan ketajaman penglihatannya.


"Itu ..." lirih Mona.


Author ngopi dulu.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Maaf kalau akhir-akhir ini sering telat up, soalnya ada satpam kecil yang bisa nangis kejer kalau liat mamaknya pegang hp😂


Tapi, tetep diusahakan up meski sehari sekali.

__ADS_1


Selamat membaca😍😍😍😍


__ADS_2