
Sementara itu, di kamar pertama sehabis sholat subuh Rendy mengajak istrinya menarik selimut kembali. Tentu, bukan hanya sekedar tiduran semata. Rendy menyalurkan hasratnya yang menggebu pada Lisa, pagi itu mereka benar-benar berolahraga yang menghasilkan banyak keringat.
Selesai dengan pergulatan cintanya, Rendy memeluk Lisa dengan erat seraya berkata, "Sayang, apa kamu sedang tidak enak badan?"
Lisa memejamkan matanya menahan sakit kepala yang sejak dari semalam menyerang dirinya.
"Iya, Mas. Akhir-akhir ini kepalaku sering sakit. Aku juga sedikit tidak berselera makan," jawab Lisa.
"Apa sebaiknya kita ke dokter saja, Sayang? aku khawatir dengan kesehatanmu," lelaki itu mengecup singkat pucuk kepala Lisa.
"Nanti saja, Mas. Kita ke sini kan mau senang-senang, aku tidak ingin merusak momen liburan kita," sahut Lisa.
"Tapi--,"
"Sebentar lagi juga hilang kok sakitnya! Nanti biar aku minta Dokter Dika membuatkan resep untukku," potong Lisa.
"Baiklah, Sayang. Tapi, jika keadaanmu memburuk aku tidak mau menuruti kemauamu. Kamu harus pergi ke rumah sakit segera!" tegas Rendy.
"Iya, Mas." jawab Lisa.
Mereka kembali tertidur sebentar, sebelum berangkat arung jeram untuk menghabiskan hari terakhir liburan di Villa.
Di ruangan tengah terlihat Mona, Rey dan Egi tengah duduk dengan segudang cemilan pengganjal perut, sebelum waktu sarapan.
Rey melirik wanita yang tengah asyik bercanda ria dengan adik dari istri sahabatnya ini. Terkadang terdengar gelak tawa dari mereka berdua.
"Hey, Adindaku. Kenapa kamu malah mengacuhkan Kakandamu yang ganteng ini!" seru Rey.
Mona melirik ke arah Rey, dia tidak sadar akan kehadiran Rey di sampingnya. Saking senangnya bermain game mobil bersama Egi, adik sahabatnya.
"Hehehe. Maaf Kak Rey, habis lagi nangguh nih! Entar kalau aku kalah Kak Rey mau tanggung jawab," ejek Mona.
"Halah, maen kaya gituan mah cetek buat aku, Sayang." Rey mengambil handphonenya kemudian membuka aplikasi permainan game mobil.
"Lihat nih, levelku aja lebih tinggi darimu," ledek Rey.
Mona mendekat ke Rey untuk melihat apa benar yang di katakan kekasihnya ini. Betapa terkejutnya Mona, Rey sama sekali tidak berbohong.
"Gimana kalau kita taruhan!" ajak Rey.
"Taruhan gimana, Kak Rey," ujar Mona.
__ADS_1
"Kita adu kemampuan di game ini. Kalau kamu kalah, kamu harus mau nurutin semua keinginanku. Sebaliknya juga aku. Gimana, Sayang?" tantang Rey sambil mengedipkan matanya sebelah.
Mona berpikir terlebih dahulu. Tawaran Rey bagus juga, akan tetapi nyali Mona sedikit menciut saat melihat level Rey yang sangat tinggi. Akankah Mona bisa mengalahkan kekasihnya.
"Ok, siapa takut!" jawab Mona.
"Awas ya, jangan bohong. Kalau kalah kamu harus nurutin semua keingananku!" ulang Rey.
"Ok!" ujar Mona.
Egi melirik ke arah dua insan ini, dia tidak ingin terlibat dengan hal konyol yang kedua orang dewasa ini lakukan. Sebaiknya dia kembali bermain game di ponsel pembelian kakak iparnya itu.
Rey dan Mona segera memainkan game itu di handphone masing-masing, hati Mona mulai tidak enak. Dia takut jika, kekasihnya ini menang dalam pertarungan mereka.
Berbeda dengan Rey, rasa percaya dirinya akan bisa memenangkan pertarungan ini membuat dia bersikap tenang. Sesekali Rey melirik Mona, yang terlihat tegang memainkan permainannya.
"Gue kalahin apa engga, ya? kasian juga liat wajahnya, takut bener kalau gue menang," batin Rey.
Mona berusaha semampunya agar terus menang, dia terus melajukan mobilnya agar bisa melaju dengan tenang dan melewati setiap rintangan.
Akhirnya permainan pun usia, Mona terduduk lesu melihat level yang baru dia capai. Angka lima itu terlihat jelas di layar handphonenya, padahal dia sudah mengarahkan segala kemampuannya untuk memenangkan permainan ini.
Mona sekilas melirik Rey yang sudah dulu menyelesaikan permainannya, hatinya deg-deg an akan pencapaian Rey di permainan ini. Mona berharap angka Rey di bawah Mona, setidaknya itu yang dia harapkan saat ini.
"Udah!" sahut Mona.
"Mana coba. Aku pengen liat level kamu." Rey semakin mendekatkan diri ke tubuh Mona.
"Hahahahaha. Kamu cuman dapat level 5, kasian sekali sih, Adindaku!" goda Rey.
Mona mengerucutkan bibir manisnya, membuat Rey hampir hilang kendali ingin mencium dan merasakan rasa manis bibir itu.
"Biarin! Gini-gini juga hasilku sendiri!" ketus Mona. "coba lihat punya kak Rey."
Rey memberikan handphonenya pada kekasihnya, agar Mona bisa melihat sendiri hasil dari pertarungannya.
"Gimana, aku hebat, kan!" puji Rey pada dirinya sendiri.
Mona tak percaya bagaimana bisa Rey mendapatkan level sepuluh di permainan yang menurutnya sangat sulit. Dia kembali memberikan ponsel kekasihnya, dia sudah pasrah jika harus di hukum sebagai taruhan permainan mereka.
"Jadi, Kak Rey mau apa dari aku?" tanya Mona.
__ADS_1
"Simpel sih tapi, sebaiknya kita tunda dulu hadiahku sampai waktu yang tepat," jawab Rey.
"Memang kapan waktu yang tepatnya, Kak Rey?" tangkas Mona.
"Nanti saat malam pertama pernikahan kita!" bisik Rey di telinga Mona.
Mona bergedik ngeri mendengar ucapan Rey di telinganya, mengapa dia merasa ada yang di rencanankan Rey padanya. Rey tersenyum nakal, puas hatinya membuat Mona diam kaku seperti patung.
Tak berapa lama, Dira masuk tanpa permisi melewati mereka bertiga dengan wajah merah padam. Mona, Rey dan Egi saling melempar pandangan, ada apa sebenarnya dengan Dira.
"Kak Rey, Dira kenapa tuh? kok mukanya kusut kaya baju yang belum di setrika," celetuk Mona.
"Mana aku tahu, Sayang. Kan dari tadi aku selalu di sampingmu," sahut Rey.
"Oh. Iya, ya. Tapi, tuh anak kenapa ya!" ujar Mona.
"Sana samperin, kamu tanya tuh bocah pagi-pagi nelen apa, sampai muka di tekuk gitu!" perintah Rey.
"Iya, bawel. Ih, kalau bukan karena sayang udah aku lakban tuh mulut Kak Rey." wanita itu berlari takut Rey akan mencubit hidungnya seperti biasa.
"Dasar, kok bisa-bisanya gue suka sama cewek macem dia!" gumam Rey.
Egi masih asyik dengan permainannya, dia tidak terlalu perduli dengan dunia orang dewasa. Saat Rey akan beranjak dari tempat duduknya, terlihat Dika masuk ke dalam ruangan tamu
"Loh, Bro bukannya lo tadi masih bobo manja ya di dalam kamar! Kok bisa tiba-tiba nongol dari sana?" tanya Rey.
Dika mendaratkan pantatnya di sofa, tepat di samping Egi yang masih sibuk dengan kegiatannya. Dika menghela nafas kasar lalu berkata, " Tadi gue keluar pas liat Lo keluar juga, niatnya pengen cari udara segar tapi ....!"
"Tapi apa, Bro?"
"Tapi, engga jadi hehehe." Dika berusaha menyembunyikan kejadian yang baru saja ia lihat sendiri.
"Dasar, gue udah penasaran. Kirain kenapa!" kesal Rey.
Rey memperhatikan Dika yang tak biasa, dia tidak pernah melihat sahabatnya ini selesu ini. Rey sedikit mendekat pada Dika lalu berkata, " Dik, Lo tahu kan. Kita udah sahabatan dari lama, gue tahu saat ini Lo nyembunyiin seseuatu dari gue. Gue engga tahu pasti itu apa tapi, apa pun itu gue harap Lo mau terbuka sama gue."
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Hari minggu nih teman cuacanya mendung manja lagi, enaknya nih ngopi sambil baca novel😂
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya Say😘