
Umur bukanlah tolak ukur sebuah kedewasaan. Nyatanya tak jarang orang yang berumur, akan tetapi tak sanggup berpikir dewasa.
πππππππ
Seperti perkataan Egi. Zahra pulang ke rumah orang tuanya. Tentu Egi pun ikut bersama, karena di mana ada istri, suami akan selalu setia menemani. Cukup satu malam, tak lebih. Zahra menghabiskan waktu bersama orang tuanya. Selanjutnya kehidupan sebagai istri telah menanti.
Seperti pasangan pada umumnya mereka menjalani kehidupan. Berusaha mengalah saat salah satu tengah dirundung emosi. Melengkapi satu sama lain seperti hal sebuah pakaian.
Hari ini tepat satu setengah bulan pernikahan keduanya. Tak ada yang istimewa. Hanya sebuah ucapan selamat dari Egi dan pelukan hangat yang ia persembahkan untuk istrinya.
"Sayang, apa kamu mau menonton film?" tanya Egi.
"Film! sepertinya menyenangkan."
"Ya, ada film terbaru kata teman dosenku di kampus."
"Benarkah?"
Egi mengangguk.
Saat ini keduanya tengah duduk santai sambil menikmati udara pagi di halaman belakang. Dua cangkir teh dan beberapa potong kue tampak menemani.
Egi mengambil satu potong kue, memasukkannya dalam mulut, mengunyah dan merasakan manis di lidah. Sedangkan Zahra memandang langit pagi yang indah.
"Kita sudah lama tidak jalan-jalan," ujar Egi.
"Iya, Mas. Sekalian saja kita berbelanja kebutuhan rumah, sudah hampir habis."
"Kalau begitu, bersiap-siaplah! Aku tunggu di mobil." Beranjak, lalu berjalan menyisakan Zahra yang masih diam di peraduannya.
"Langit pagi memang indah," puji Zahra.
Zahra menyusul, meninggalkan dua cangkir teh yang baru saja habis setengah. Menaiki anak tangga satu per satu menuju kamar. Sesampainya di kamar, ia membuka lemari. Tumpukan baju berwarna-warni membuat dirinya bimbang.
"Mana yang harus aku pakai?"
Tiga menit kemudian, tak ada keputusan yang Zahra ambil. Beberapa pakaian tergeletak di atas ranjang. Namun, tak ada satu pun yang ia gunakan.
Tiba-tiba Egi masuk, memperhatikan setiap gerak-gerik sang istri. Zahra terlihat meraih dua gamis, mencocokkannya, kemudian menggelengkan kepala. Ia terus seperti itu sampai tak menyadari kehadiran Egi sejak tadi.
__ADS_1
"Ada apa?" Egi mendekat. "Kamu belum siap?"
Zahra menggelengkan kepala.
"Lalu pakaian ini, untuk apa kamu keluarkan semua?"
"Aku bingung, Mas harus pakai yang mana!"
Egi mengurai senyum dan mencubit pelan pipi istrinya. Egi berkata, "Jangan beratkan hisabmu dengan pakaian-pakaian ini."
Zahra sejenak diam. Mencoba mencerna perkataan spontan suaminya. "Maksud, Mas?"
"Pakaianmu terlalu banyak, tak semua bisa kamu pakai. Bahkan dari mereka hanya kamu beli, lalu menjadi pajangan di lemari."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Dengan pelan Egi menuntun istrinya duduk di tepi ranjang. Sebagai imam sudah seharusnya ia mengajari sang istri. Meski ilmu yang ia punya tak banyak.
"Pilihlah pakaian yang tidak kamu sukai, tapi masih layak pakai. Berikan pada yang membutuhkan. Ingat! Lebih baik saat kamu memutuskan membeli satu pakaian, kamu harus bersiap mengeluarkan salah satu koleksimu di lemari."
Zahra menunduk, menyadari kesalahannya. Selama ini ia sering membeli pakaian hanya beralasan lapar mata.
"Aku bukan melarangmu memiliki barang, percayalah! Aku hanya ingin kita hidup dalam kesederhanaan. Roda kehidupan terus berputar. Adakalanya kita di atas, tapi tak menutup kemungkinan kita pun akan ada di bawah," sambung Egi.
Setelah sedikit nasihat, akhirnya Zahra memilih satu gamis dan jilbab segi empat bermotif. Ia bertekad akan melakukan pembersihan pada lemari saat waktu luang.
Kini Egi dan Zahra memulai menulis cerita. Menghabiskan waktu bersama selayaknya pasangan muda. Mobil berwarna merah itu membawa mereka ke salah satu mall terbesar di kota tersebut. Keduanya keluar dan mulai masuk.
Hari libur memang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk bersama keluarga dan pasangan. Tak jarang mata Zahra menangkap banyak pasangan suami istri dengan anak mereka yang lucu. Tertawa, berjalan bergandengan, membuat hati Zahra bergetar. Suara riang dan senyuman polos nan manis dari mahkluk kecil itu terdengar indah.
"Ayo, masuk!" ajak Egi menarik Zahra dari dunia khayal.
"Iya, Mas," sahut Zahra.
Dengan bergandengan tangan keduanya masuk ke gedung. Baris terdepan adalah kursi yang Egi pilih. Film mulai diputar, semua mata tertuju ke depan. Bukan film romantis apalagi horor. Sebuah cerita luar biasa yang mampu menyayat hati para penontonnya.
Sebuah kisah dari seorang pasangan suami istri yang berusaha keras menginginkan keturunan. Sang istri yang dinyatakan tak bisa hamil, membuat satu keputusan yang berani. Si istri memberi izin pada suaminya untuk menikah. Namun, reaksi sang suami diluar dugaan.
"Aku menikahimu karena Allah. Jadi, aku akan selalu setia bersamamu sampai Allah memanggiku. Tak perlu risaukan perihal keturunan. Andai kita tak diberi kesempatan memilikinya, masih banyak anak yang kurang beruntung di luaran sana yang butuh kasih sayang. Jadi orang tua asuh mungkin sedikit mengobati rasa rindumu dalam mendambakan kehadiran si kecil," ujar suaminya.
__ADS_1
Dialog itu menusuk jantung Zahra. Membungkam semua rasa takutnya tentang kehamilan. Saat orang lain menginginkan keturunan, justru ia malah menundanya. Mungkin sikapnya memang tak sepenuhnya salah, tetapi mengapa ia tak mencobanya terlebih dahulu.
Film berakhir indah. Pasangan itu mungkin tak memiliki anak kandung. Namun, cinta dan kasih sayang mereka tetap bisa tersalurkan pada anak kurang beruntung. Zahra terus berpikir keras, ia bahkan tak konsen saat Egi mengajaknya berbicara.
"Kamu sakit, Sayang?" tanya Egi khawatir.
Zahra mengerjap. Menarik jiwanya yang tengah berkelana. Zahra berkata, "Aku baik-baik saja, Mas."
"Sejak selesai menonton, kamu diam. Apa aku melakukan kesalahan?"
"Tidak, Mas. Film-nya bagus." Tersenyum manis, melangkah dua kali. "Ayo, kita berbelanja!"
Egi sedikit menaruh curiga. Ada yang tak biasa dari istrinya. Senyuman itu tak seindah biasanya, seolah ada pergulatan batin yang bersembunyi di dalam. Egi menyusul, menggandeng tangan istrinya masuk ke supermarket yang masih dalam lingkup area mall.
Egi mendorong troly, mengikuti langkah istrinya. Zahra memasukkan satu per satu barang, memilih yang benar-benar mereka butuhkan. Saat hendak mengambil ayam potong, mata Zahra mendapati sebuah pemandangan indah.
Seorang ibu muda tengah menggendong sanak lelakinya. Mereka tertawa bersama saat sedang memilih ikan segar. Suara riang itu kembali memenuhi gendang telinga Zahra menjalar sampai ke syaraf otak.
"Sayang, kamu mau makan apa untuk makan malam?" tanya Egi yang juga berada di sana. Memperhatikan satu per satu ayam segar di dalam etalase kaca.
"Mari, kita rencanakan kehamilan, Mas," tutur Zahra, matanya masih menatap lurus ke depan.
Zahra berbalik menghadap Egi yang diam mematung. Zahra berkata, "Ayo, jadi seorang ibu dan ayah seperti pasangan lainnya."
Egi masih enggan menjawab. Perkataan spontan Zahra menutup rapat mulutnya. Mungkinkah?
"Kamu tak merasa tertekan karena film tadi kan?"
"Tidak! Ini murni dari hatiku."
Egi tersenyum manis, lalu berkata, "Terima kasih, Sayang. Mulai hari ini berhentilah mengosumsi pil penunda kehamilan. Kita berusaha semampunya, biar takdir Allah yang menjawab."
...****************...
Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ada beberapa pertanyaan, mengapa cerita kehidupan Egi dan Zahra digabung di sini?
Extra part ini hanya 15 bab saja. Jadi, setelah itu saya ingin keluar dari jalur Egi dan Zahra. Saya sudah menulis 8 part sampai hari ini, tinggal 7 part lagi. Maka, saya pastikan setelah itu tak akan ada notifikasi up dari cerita ini(kecuali pemberitahuaan judul baru untuk Adnan nanti)
Ini cerita pertama yang saya tulis dengan penuh cinta. Meski, sampai saat ini tulisan dan riset saya masih jauh dari kata baik. Saya bahkan tak bisa membuat cerita menarikπ
__ADS_1
Saat memulai cerita ini pula saya mendapatkan banyak cacian dan hinaan kala itu. Saya dikatakan penulis tak berotak, karya sampah dan ada beberapa nama binatang keluar. Saya down, tentu. Namun, beruntungnya yang mengatakan saya penulis tak berotak bukan di kolom komentar, melainkan beliau langsung inbox lewat Fb. Mungkin sebagian pembaca ada yang tau bahwa, saya sering iklan di grup khusus NT dan MT.
Saya memohon maaf sekali lagiπ Insya Allah, saya akan selesaikan perlahan 7 part lagiπ€ Mohon dukungannya.