
Angin berhembus pelan menerbangkan setiap cerita, daun berguguran melepas beban yang dipikul. Raut wajah laki-laki setengah baya ini, mengingatkan Lisa akan Ayahnya.
Setiap orang tua di dunia ini sama, selalu melakukan yang terbaik untuk anaknya. Seorang Ibu bahkan rela mengandung, melahirkan lalu menyusui.
Sebuah proses yang tidak mungkin selalu berjalan mulus, akan ada rintangan, kesakitan, pengorbanan bahkan taruhan nyawa sekalipun.
Mulut Pak Adrian dengan lancar menceritakan semua tentang istrinya, matanya berbinar tatkala mengenang kenangan manis di masa lalu. Tidak jarang juga raut wajahnya berubah sedih seketika, begitu rasa rindu menerpa.
"Lisa, Papa ingin bertanya soal Dira sama kamu?" tanya Pak Adrian setelah selesai dengan masa lalunya.
"Tentang apa, Pa?" jawab Lisa.
Dahi wanita itu berkerut, apa terjadi sesuatu pada Adik iparnya? tidak biasanya Pak Adrian bertanya dengan wajah serius seperti ini.
"Apa kamu tahu sesuatu tentang Adik iparmu? seminggu lalu Dira bertanya pada Papa soal laki-laki!" ujar Pak Adrian.
"Laki-laki!" seru Lisa.
"Iya, dia bertanya seandainya Papa seorang wanita, lalu dihadapkan oleh dua orang laki-laki yang sama-sama mencintai Papa, apa yang akan Papa lakukan?. seperti itu kira-kira pertanyaan Dira," cakap Pak Adrian.
Lisa berdiam, otaknya berpikir. Apakah Dira sedang mencari sebuah pertimbangan? seperti yang sudah Rendy ceritakan padanya, jika saat ini Dira tengah disukai Dika dan Farhan.
Lisa sendiri baru tadi pagi menyaksikan Farhan mengejar Dira sampai ke bandara. Sedangkan perihal Dika, Lisa bisa melihat dari sorot matanya yang lembut penuh cinta pada Dira.
"Ya. Mungkin ini tidak seharusnya Lisa sampaikan, akan tetapi Papa memang seharusnya tahu," sahut Lisa.
"Bicaralah, Nak! Papa tidak akan menanyakannya lagi pada Dira, Papa hanya ingin tahu apa yang terjadi pada anak gadis Papa," pinta Pak Adrian.
"Baiklah. Begini, sebenarnya ada dua laki-laki yang sedang menyukai Dira. Mungkin Papa akan kaget, jika tahu salah satu nama laki-laki itu,"
__ADS_1
"Memang siapa dia?" tanya Pak Adrian wajahnya tegang karena penasaran.
"Dia adalah Dokter Dika, sahabatnya Mas Rendy," ungkap Dira.
"Apa!" seru Pak Adrian.
Mata Pak Adrian membulat sempurna, tatkala Lisa menyebut nama Dika. Dia bukan membenci Dika, akan tetapi Pak Adrian tidak menyangka diam-diam laki-laki bertitle Dokter itu ternyata menyukai anaknya.
"Sejak kapan Dika menyukai Dira, Nak?" tanya Pak Adrian.
"Lisa tidak tahu pastinya, Pa. Lisa juga hanya menebak-nebak dari cara Dokter Dika menatap Dira, dan Lisa sendiri baru tahu seminggu ini dari Mas Rendy akan kebenarannya," beber Lisa.
"Kenapa Rendy tidak cerita sama Papa?"
"Mungkin Mas Rendy tidak ingin membebani Papa saja, lagian Mas Rendy juga menyerahkan sepenuhnya pada Dira untuk memilih." Lisa tersenyum ramah, sorot matanya memancarkan kelembutan.
"Lalu, siapa laki-laki satu lagi?"
"Darimana Dira mengenal Farhan? setahu Papa selama di sini, dia jarang keluar rumah,"
"Lisa juga tidah tahu, Pa. Mungkin itu sudah takdir mereka untuk bertemu, tidak ada yang bisa menghalangi, jika Allah sudah berkhendak,"
Pak Adrian terdiam, ia tidak tahu anak gadisnya sudah mengenal cinta. Apa dia terlalu sibuk dengan bisnis, sampai-sampai ia lupa akan Dira yang sudah tumbuh menjadi dewasa.
Pak Adrian akui, semenjak kepergian Almarhum istrinya. Dia menjadi sangat jarang di rumah, jadi wajar saja dia tidak tahu apa-apa soal anak perempuannya.
Beruntungnya, Dira bukanlah anak gadis yang manja. Dia bahkan sudah terbiasa sendiri tanpa bantuan siapa pun. Penyesalan mendalam yang kini terbesit di hati Pak Adrian, dia berjanji dari detik ini. Dia akan selalu ada kapanpun untuk anak bungsunya.
"Lalu apa yang akan papa lakukan saat sudah tahu semuanya seperti ini?" tanya Lisa.
__ADS_1
Perkataan Lisa mampu membuyarkan lamunan mertuanya, Pak Adrian tersadar lalu, menatap ke arah Lisa.
"Papa cukup diam dan memperhatikan dari kejauhan. Dira boleh memilih kepada siapapun dia melabuhkan hatinya, Papa akan menghormati pilihan dan keputusan anak Papa," jawab Pak Adrian.
Sorot mata Pak Adrian bersinar memancarkan keseriusan, pertanda ia tidak pernah main-main dengan perkataannya. Lisa kini menyadari sesuatu, bahwa sifat serius yang dimiliki Rendy memang menurun dari Papanya.
Lisa merindukan laki-laki yang tadi pagi membuatnya gemas akan tingkah laku konyolnya Laki-laki yang sangat serius, profesional, berwibawa. Siapa yang akan menyangka laki-laki seperti bahkan tidak tahu banyak perihal wanita.
Rendy bahkan sudah terang-terangan memperlihatkan sifat manjanya pada Lisa. Terkadang Rendy terlihat senang, hanya dengan memainkan rambut Lisa saat mereka tengah di kamar.
"Aku merindukan, Mas Rendy," batin Lisa.
Pak Adrian beranjak dari tempat tidurnya, ia rasa sudah cukup informasi yang Lisa sampaikan tadi.
"Terimakasih, Nak sudah mau menceritakan semua pada Papa," ujar Pak Adrian. " Sudah masuk sholat dzuhur. Ayo, sholat berjamaah bersama, lalu kita makan siang."
"Sama-sama, Pa! Baik, Lisa akan memanggil Egi, sebaiknya Papa masuk duluan," jawab Lisa.
Pak Adrian berjalan masuk ke dalam rumah menjauhi Lisa yang masih setia memandang punggung Mertuanya. Lisa bergegas memanggil Egi, untuk mengajaknya sholat dzuhur bersama.
Semua berkumpul dalam satu ruangan lumayan besar. Pak Adrian, Egi, Lisa, Mang Asep dan bi Iyah melakukan sholat berjamaah, dengan Pak Adrian selaku imam.
Setelah sholat, Bi Iyah dan Mang asep pamit ke belakang lagi, sedangkan Lisa, Pak Adrian dan Egi berjalan bersama menuju meja makan.
Semua makanan sudah tertata rapi di meja, menu makan malam kali ini ada ayam goreng, capcay menu wajib di keluarga ini, sambal goreng, dan bakwan jagung.
Tidak ada yang mewah menu di keluarga ini, karena Almarhum Bu Ratna dulu selalu menghidangkan menu sederhana, namun nikmat seperti ini.
Mereka mulai menyantap makanan yang terhidang. Seperti biasa tidak boleh ada yang berbicara saat makan. Itu peraturan yang wajib dan di patuhi oleh seluruh anggota keluarga, ataupun tamu yang berkunjung.
__ADS_1
Selesai makan siang, Pak Adrian masih bersunda gurau dengan Egi. Dia senang Lisa memiliki seorang adik laki-laki, setidaknya Pak Adrian bisa bermain dengan Egi, seperti dulu ia bermain dengan Rendy anaknya.