Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
78


__ADS_3

Hari ini seperti yang sudah di rencanakan, mereka akan berolahraga arung jeram di salah satu tempat sport yang sebelumnya sudah Rey booking khusus untuk mereka.


Semua orang sudah siap memakai alat pelindung diri masing-masing, Mereka terbelah menjadi dua team.


Team pertama terdiri atas Rendy, Lisa dan Egi, sedagkan team kedua di isi Rey, Mona, Dira dan Dika.


Rendy sengaja meminta Dira untuk masuk ke team Rey, meski pada awalnya Dira malas satu team dengan Rey, lelaki kocak menyebalkan.


Mereka mulai perjalanan yang menguji ardenalin ini, tiap team memiliki dua orang pemandu untuk berjaga-jaga hal yang tak di inginkan.


Teriakan histeris dari para wanita, menambah tegang dan serunya arung jeram kali itu. Tangan Lisa dengan gemetaran memeluk erat pada suaminya. Dia sudah lupa akan rasa malu, kalau di sana bukan hanya ada mereka saja.


Di team lain, Rey dengan sigap selalu berada di samping Mona. Dia terus mengatakan pada Mona ini tidak berbahaya, akan tetapi wanita itu tetap berteriak karena jalur yang mereka lewati lumayan banyak batu-batu besar.


Berbeda dengan Rey, Dika hanya bisa diam tepat di belakang Dira. Dia berpura-pura tenang padahal hatinya dag dig tak karuan bisa sedekat ini dengan gadis kecilnya.


Saat perahu karet team kedua sedikit menyenggol batu besar, tanpa sengaja Dira jatuh ke belakang. Dengan cepat tangan Dika menompang tubuh mungil Dira seraya berkata, "Hati-hati, Dek."


Adek adalah panggilan Dika untuk Dira, karena sudah terbiasa bermain dari kecil hingga panggilan kakak dan adek melekat pada diri mereka.


"Terima kasih, Kak!" Dira segera berdiri kembali, entah mengapa suasana di antara mereka menjadi sangat canggung.


Dira yang terlihat lebih murung dari biasanya, hingga tak punya mood untuk bercanda dengan siapa pun. Dika mengerti akan perasaan Dira saat ini, gadis kecil ini masih memikirkan ucapan Farhan tadi pagi.


"Dek, Lo mau berangkat ke Belanda lagi?" tanya Dika begitu perahu karet mereka sudah berjalan normal kembali.


"Iya, Kak. Eh, Kakak mau ngapain ke Belanda?"


"Gue mau ngehadirin seminar di sana, gue masih pengen belajar banyak soal ilmu kedokteran," sahut Dika.


"Kakak hebat, ya," puji Dira.


"Hebat gimana, Dek?"


"Ya, bisa jadi Dokter seperti cita-cita almarhum orang tua Kakak," ucap Dira. " Aku juga pengen bisa banggain Mamah, kaya Kak Dika."


Dika menatap sendu pada Dira, manik-manik mata Dira terlihat indah dan menenangkan. Ia telah bertekad, akan mengatakan perasaannya sebelum Dira berangkat kembali kuliah.


Hari semakin siang, mereka bergegas meninggalkan tempat arung jeram. Perut mereka sudah berdemo ria minta di isi.


Mereka singgah terlebih dulu di sebuah restaurant di sekitar sana, sekedar melepas lelah dan membungkam mulut para cacing di dalam perut sana.


Tak berapa lama pelayan sudah membawa semua pesanan, yang sebelumnya sudah di list terlebih dulu.

__ADS_1


"Wah, kayanya enak banget nih makanannya. Ada rendang kesukaan gue juga, padahal ini bukan kedai masakan padang tapi, mereka menyajikan masakan selezat ini," celetuk Rey.


"Ah, Lo mah kebiasan. Liat rendang udah kaya liat gebetan. Awas loh, Mon. Posisimu nanti ke geser sama rendang," ledek Dira.


"Kalau itu mah tenang, kamu adalah segalanya bagiku!" ujar Rey pada Mona.


Semua orang di sana tertawa mendengar ucapan Rey, entah mengapa jika lelaki ini sudah berbicara selalu ada saja hal kocak yang terucap dari bibirnya.


Rendy menyuapi Lisa tanpa ada rasa malu, atau pun canggung pada orang di sekitarnya. Dari dulu Rendy memang memiliki sikap cuek akan tanggapan orang lain tentang dirinya.


"Sayang, kenapa makanmu hanya sedikit?" ucap Rendy khawatir.


"Aku engga berselera, Mas." tangannya menolak halus suapan ke empat dari suaminya.


"Makanlah sedikit lagi, kamu akan jatuh sakit kalau seperti ini" pinta Rendy.


"Perutku sudah kenyang, Mas," tolak Lisa.


"Baiklah, kalau begitu minumlah jus alpukat ini. Setidaknya kamu harus tetap menjaga nutrisi yang masuk ke tubuhmu," desak Rendy.


Lisa menyeruput sediki jus alpukat yang di berikan suaminya. Mona dan Dira saling berpandangan, mereka memperhatikan dari tadi aktivitas sepasang suami itu.


"Jangan-jangan, Kakak iparmu hamil, Dir!" bisik Mona di telinga Dira.


"Hei, kalian kenapa bisik-bisik tetangga kaya gitu sih," timpal Rey yang memergoki dua gadis di sampingnya saling berbisik.


"Yeh. Kepo banget sih, Kak Rey!" ketus Dira.


"Gue kan cuman nanya, Dir!" ujar Rey. " Biasa aja kali tuh jawabannya."


"Lagian, Lo mah pengen tahu banget urusan para wanita," timpal Dika.


"Ini juga Dokter jones malah ikut-ikutan mojokin gue!" seru Rey.


"Lo berdua berisik banget! Kalau kagak di larang, udah gue kawinin Lo berdua ke KUA!" geram Rendy.


"Ogah gue, masa mau main pedang-pedangan," protes Rey.


"Siapa juga yang mau, Bambang! Gue juga masih normal, masih banyak cewek ngapain sama Lo," ujar Dika.


"Tapi, seru kali, Dik," goda Rey sambil berbicara sedikit gemulai.


"Ya allah, jauhkan hambamu ini dari godaan syetan yang terkutuk," cakap Dika.

__ADS_1


"Astagfirullah, Dik. Lo ngatain gue syetan! Tapi, tunggu kalau gue syetan, Lo sahabatnya syetan dong, Hahahaha!" ledek Rey.


Dika memukul kepala Rey dengan sendok seraya berkata, " Sembarangan kalau ngomong."


Makan siang itu di penuhi kekonyolan Dika dan Rey, mereka hampir sepertu meong dan guguk, hampir jarang akur.


Rendy sudah mengenal baik sifat kedua sahabatnya, terkadang kalau Rendy sudah lelah menanggapi kekonyolan mereka, Rendy memilih jurus diam seribu bahasa.


Sehabis melahap semua hidangan makan siang, mereka masing-masing menuju mobil dan segera pulang ke villa untuk rehat sejenak sebelum malam kembali ke keramaian kota tempat tinggal mereka.


Dira kali ini tidak mau satu mobil dengan Rey, dia tidak ingin terus-terusan mendengar ocehan lelaki itu. Apalagi saat ini, suasana hatinya tengah tidak baik-baik saja.


Di dalam mobil Rey, Mona terlelap tidur di jok belakang. Dika duduk di depan mendampingi Rey yang asyik menyetir.


"Rey," panggil Dika.


"Iya," sahut Rey.


"Gue pengen jujur sesuatu sekaligus minta saran sama Lo,"


Rey melirik sekilas pada Dokter mapan ini kemudian berkata, " Kok gue malah jadi merinding, ya! Lo mau jujur apaan?"


Dika telah bertekad untuk tidak menyembunyikan ini sendirian lagi, mungkin saja Rey punya solusi jitu untuk Dika.


"Gue suka sama Dira!" seru Dika.


"APA!" teriak Rey kaget.


Mona yang sedang tenang dalam mimpinya ikut terbangun karena kaget mendengar teriakan Rey.


"Kak Rey, ada apa? Kak Rey engga nabrak kucing, kan!" ucap Mona panik.


"Engga kok, Sayang," jawab Rey.


Rey memandang Dika dengan penuh tanda tanya, dia ingin segera sampai villa untuk menanyakan kejelasan ucapan Dika barusan.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Author mau minta tolong nih teman🙈 Kalau nanti novel Author yang terbaru rilis di Noveltoon, mampir ya gaes😂✌


Insayaallah kalian pasti ngakak plus sakit perut sama isi novel yang terbaru🤗

__ADS_1


Selamat membaca😘😘


__ADS_2