Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
74


__ADS_3

Dalam kamar yang lumayan luas kini Lisa dan Rendy berada. Lisa tengah duduk diam di atas kasur sembari memainkan ponselnya, sedangkan Rendy baru saja keluar dari kamar mandi.


Rendy teringat betul akan ucapan Dira sebelum berangkat, ia menghampiri istri kecilnya yang masih sibuk dengan benda canggih itu.


"Sayang." lelaki itu memeluk erat Lisa begitu berhasil mendudukkan pantatnya di kasur, tepat di samping istrinya.


"Iya, Mas," sahut Lisa.


"Kamu jangan terlalu capek ya, mulai hari ini," tegur Rendy.


Lisa mengerutkan keningnya, tidak paham akan maksud pembicaraan suaminya. Bukankah selama ini Lisa memang tidak pernah kelelahan? bahkan dia merasa masih bosan, jika toko bunga sedang tak ada pelanggan.


"Memang kenapa, Mas?" tanya Lisa.


"Aku takut terjadi sesuatu sama kamu dan dia!" tegas Rendy.


Lisa semakin dibuat tidak mengerti, siapa dia yang di maksud suaminya? apa hari ini Lisa salah memberi sarapan pada Rendy, sampai suaminya ini menjadi berbicara ngawur seperti ini.


Lisa meletakkan ponselnya di nakas lalu, memandang wajah Rendy. Ketampanan suaminya tidak luntur sekalipun umurnya sudah tak muda lagi. Lisa sampai lupa menyadari akan terpaut jauh nya usia mereka.


"Dia! Siapa yang Mas maksud?" tanya Lisa.


"Seseorang yang sedang tumbuh disini." Rendy menunjuk lalu mengelus perut istrinya.


"Tumbuh!" seru Lisa.


"Iya. Bukannya kamu sedang mengandung anak kita, sayang? ucap Rendy.


"Kata siapa, Mas?" sahut Lisa.


"Dira yang memberitahuku. Katanya kamu sering ngeluh sakit kepala, bahkan kamu meminta Dira membeli rujak buah," adu Rendy.


Lisa tertawa pelan, sejak kapan adik iparnya berganti peran menjadi paranormal. Menebak sesuatu tanpa menanyakannya.


"Kenapa kamu tertawa, sayang?" tanya Rendy. " bukannya ini kabar yang sangat bahagia untuk kita."


"Mas, aku lagi engga hamil," ungkap Lisa.


"Apa! Lalu, kenapa kamu selalu mengeluh sakit kepala kata Dira?" desak Rendy.


"Oh, itu. Setiap bulan para wanita seperti kami selalu melewati masa menstruasi," jawab Lisa. "aku selalu saja kesakitan sebelum fase itu datang. Entah itu sakit kepala, badan kaku dan bahkan perut yang sering kram."


Rendy mencoba mencerna penjelasan dari istri kecilnya. Dia memang tidak tahu soal hal apapun tentang wanita, apalagi soal fase ke arah sana.


"Jadi, kamu tidak sedang mengandung anak kita ....! lirih Rendy.


Lisa sangat sedih melihat ekspresi Rendy saat ini. Suaminya sangat antusias awalnya, namun begitu Lisa menjelaskan wajahnya berubah menjadi lesu tak berdaya.


"Maafkan aku, Mas," pinta Lisa. " aku belum bisa memberi keturunan untukmu."


Rendy mengecup kening istrinya. Dia memang sedikit kecewa begitu tahu kenyatannya, akan tetapi dia tidak ingin membuat istrinya bersedih.


"Kamu tidak perlu minta maaf, sayang. Mungkin Allah belum menitipkannya untuk kita, nikmati saja waktu kebersamaan kita sebelum hadirnya si bayi mungil," ujar Rendy.


Lisa tak sanggup menahan air matanya, bulir putih itu keluar begitu saja dari mata indahnya.

__ADS_1


"Sudahlah, sayang. Maafkan aku, karena menanyakan hal yang seharusnya tidak perlu ku tanyakan," sesal Rendy.


Rendy mengeratkan pelukannya pada Lisa, wanita yang telah mewarnai hidupnya setahun belakangan. Dia tidak ingin terlalu banyak menuntuk terhadap Lisa.


"Sudah waktunya makan siang, berhentilah menangis! Kita ke sini untuk liburan bukan untuk bersedih," tegur Rendy.


Lisa mengusap air matanya lalu, mengangkat kepala yang sejak tadi ia benamkan di dada bidang suaminya. Lisa berkata, " Terima kasih, Mas. Sudah mau bersabar untukku, semoga Allah segera memberi kita seorang anak."


Rendy tersenyum, rasanya ini tidak sebanding dengan kesabaran istrinya dulu saat pertama menikah. Lisa harus melewati awal-awal pernikahan yang sangat tidak menyenangkan.


"Ayo, kita keluar!" ajak Rendy.


Rendy menggenggam tangan Lisa kemudian membawanya keluar dari kamar untuk makan siang.


Sementara itu, di kamar kedua Dira tengah mengerutkan keningnya karena kembali mendapatkan pesan dari nomer yang tak di kenal lagi.


"Siapa sih sebenarnya pemilik nomer asing ini?" gumam Dira.


Mona yang menyadari gerak-gerik gadis yang di sebelahnya, segera menghampiri Dira yang tengah kebingungan.


"Kamu kenapa, Dir?" tanya Mona.


"Eh, ini Kak. Ada nomer yang sering chat aku, sering ngingetin aku makan bahkan selalu kirim pesan yang puitis tapi, tiap aku balas pesannya dia engga pernah jawab lagi," tutur Dira.


"Mungkin itu pengagum rahasiamu, Dir," sahut Mona.


"Ah, Kak Mona ini ada-ada saja," tangkas Dira.


"Eh, iya Dir. Aku mau nanya sesuatu?" ucap Mona.


"Kata Rey kamu kemarin diculik orang, ya!" seru Mona.


"Diculik siapa, Kak?" sahut Dira.


"Ih, aku nanya kok malah nanya balik!" ketus Mona.


"Hehehehe. Maaf, salah ngomong. Maksud aku, siapa yang nyulik aku. Kak Rey bilang engga?" ujar Dira.


"Katanya sih, Faron, Faren apa Fargoso, ya namanya!" ucap Mona.


"Hahahaha. Nama orang kok di ganti sembarangan," tawa Dira. " namanya Farhan, Kak."


"Nah, iya itu Farhan maksud aku," celetuk Mona.


"Aku engga diculik tapi, dia maksa aku buat makan siang sama dia." akunya.


"Itu mah sama aja kali, Dir. Engga ada bedanya dipaksa sama diculik!" protes Mona.


"Hahaha. Ya deh, terserah kakak aja," sahut Dira.


"Tapi, memang Farhan itu pacar kamu, ya?" tanya Mona.


"Bukan, Kak. Aku mah ogah banget jadi pacar dia, jangan sampe ketemu lagi deh!" sahut Dira.


"Memang kenapa?" desak Mona.

__ADS_1


"Aku kasih tau ya, Kak! Dia itu," bisik Dira. " orangnya udah pemaksa, nyebelin plus udah tua banget buat aku."


"Masa sih, Dir," cakap Mona.


"Beneran, Kak. Aku aja seandainya engga ada lelaki lagi di dunia ini, juga engga mau milih dia," gerutu Dira.


"Awas loh,, entar dari benci jadi cinta," tegur Mona.


"Jangan sampai deh, Kak!" protes Dira. " udah waktunya makan, kita keluar yuk, Kak!"


"Ayo!" sahut Mona.


Dira terpikir perkataan sahabat kakak iparnya, benarkah rasa benci ini akan menjadi benih-benih cinta. Membayangkannya saja Dira tidak mau, apalagi harus jadi kenyataan.


"Ya allah, jangan sampai aku terjebak oleh jerat Kakak tua itu," batin Dira.


Di ruangan makan, semua sudah berkumpul. Mereka mengobrol santai sebelum istri Mang Amir menghidangkan menu makan siang pertama mereka di villa.


"Eh, Dik. Lo katanya mau ke Belanda, berangkat kapan?" tanya Rey.


"Sekitar dua mingguan lagi lah," sahut Dika.


" Noh, bareng aja sama Dira. Dira juga mau balik ke belanda lagi katanya, cuti kuliahnya udah mau habis," usul Rey.


Dika yang mendengar ucapan sahabatnya ini memandang wanita pujaannya sekilas, sedangkan Rendy hanya diam menunggu jawaban Dika.


"Ya, kalau Diranya mau sih gue mah hayu aja." lelaki itu berusaha tenang.


"Noh, Dir. Gimana Lo mau bareng Dika engga? lumayan biar ada temen ngobrol di pesawat," lontar Rey.


"Aku mah mau aja, Kak Rey. Yang penting nyampe aja ke Belanda hehehe," canda Dira.


"Dikira Dika mau ngajak Lo kabur. Dia juga ogah kali bawa kabur bocah ingusan kaya lo," ledek Rey.


"Idih, nyebelin banget sih!" ketus Mona.


Rendy masih diam mendengarkan mereka. Rendy paham apa yang dirasakan Dika kali ini, dia sebenarnya sangat senang saat di tawari Rey untuk berangkat bersama Dira, hanya saja Dika menyembunyikan perasaan bahagianya itu sendiri.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Author pengen nanya nih sama kalian, seandainya author bikin novel baru lagi. Kalian pengen alurnya yang kaya gimana?


Jangan lupa dukung author dengan cara


Like


Coment


Vote


Rate 5


.

__ADS_1


Haturnuhun🙏


__ADS_2