
~Jangan melihat ke arahku, Paman. Saat ini aku sedang berusaha menarik diriku jauh darimu. Maafkan, mungkin kita cukup sebatas menjadi Paman dan Keponakan saja~
🌺🌺🌺🌺 ZAHRA🌺🌺🌺🌺**
Dua mata saling berpandangan. Melepas asa yang sulit di ungkapkan. Debaran jantung terus terasa. Namun, kenyataan tidak seindah bayangan.
"Dela!" ucap Egi.
"Egi ... itu kamu?" tanya Dela.
Mata Egi menatap tajam ke arah Dela, juga lelaki muda di sampingnya. Seingatnya teman lelaki Dela bukan ini.
"Sudah lama tidak bertemu. Apa kabarmu?" Dela megandeng tangan lelaki di sampingnya dengan sengaja. "Oh, ya perkenalkan --ini Boy, calon suamiku."
Alis Egi terangkat sebelah. Mencoba mencerna ucapan Dela yang menurutnya sedikit membingungkan. Bukankah dulu Dela hamil? Lalu di mana anaknya.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," balas Egi.
"Apa kamu sudah menikah?" tanya Dela penasaran.
"Belum."
"Kenapa? Apa kamu masih mencintaiku?"
Egi semakin menatap dalam pada Dela. "Aku sudah menghapus semua tentangmu di ingatanku."
Lisa yang sejak tadi sibuk berbincang dengan pelayan toko melirik ke arah Egi.
"Siapa, Dek?" tanya Lisa menghampiri Egi, lalu tersenyum manis pada Dela.
"Dia temanku dulu." Egi kembali mempokuskan pandangannya pada cincin mungil itu.
"Salam kenal, Kak. Aku Dela, teman sekaligus mantan pacarnya Egi dulu." Dela menyodorkan tangannya, lalu Lisa meraihnya.
"Mantan pacar!" ucap Lisa sedikit kaget.
"Maaf, aku dan calon suamiku terburu-buru, Kak. Senang berkenalan dengan Kakak." Dela menarik tangan Boy menjauh dari toko perhiasaan. Sayup-sayup terdengar Boy seperti marah pada calon istrinya itu.
Lisa melirik kembali ke arah Egi. Apa yang telah disembunyikan Egi selama ini? Mengapa ia tidak tahu soal Dela?
"Jangan menatap aku seperti itu, Kak. Dia hanya masa lalu terburukku," jelas Egi yang seakan mengerti dengan tatapan aneh Kakaknya.
__ADS_1
Lisa baru hendak menjawab. Namun, matanya menatap dua sejoli yang tengah memilih cincin.
"Zahra, kamu di sini?" tanya Lisa sedikit berteriak.
Egi yang mendengar itu seketika mengikuti arah pandangan Kakaknya. Terlihat di sampingnya, hanya berjarak satu meter. Zahra dan seorang lelaki, yang di yakini Egi sebagai calon suaminya sedang memilih cincin.
Mata Egi menatap Netra milik Zahra. Keteduhan yang dulu terpancar, kini menghilang dari sorot bola mata indah milik Zahra.
Lisa menghampiri Zahra dan calon suaminya. Mereka mengobrol seperti tengah melepas rindu. Sedangkan, Ardi menatap tajam pada Egi.
Selang dua menit, suara Mona terdengar dari luar toko. Zahra ternyata tidak berdua saja dengan Ardi. Melainkan bertiga bersama Mona.
Lisa dan Mona saling bercerita, lalu meminta izin sebentar untuk pergi ke butik langganan mereka. Sebelum berjalan Mona sempat berpesan pada Egi. "Kakak titip Zahra, ya, Egi."
Egi mengangguk. Sebenarnya ia tidak suka siatusi seperti ini. Zahra dan Ardi masih memilih cincin yang pas.
Tidak berapa lama suara ponsel milik Ardi berdering. Ia hendak mengangkatnya. Namun, sebelum itu ia melirik dulu ke arah Zahra.
"Mas, tinggal angkat telepon sebentar, ya. Kamu pilih sesukamu dulu aja," pesan Ardi, lalu berjalan menuju pintu sambil memulai pembicaraannya dengan seseorang di ujung telepon.
Zahra sedikit gugup. Ia merasa di tinggalkan. Seorang pelayan menghampiri Egi dan Zahra, lalu berkata, "Apa Mas dan Mbaknya sedang mencari cincin pernikahaan?"
Zahra mengangguk. Sedangkan, Egi diam tanpa bereaksi.
Zahra meraih cincin tersebut, memasukkannya perlahan pada jari manis. Senyumnya mengembang, cincin ini sangat manis dan pas.
Egi yang memperhatikannya sejak tadi sedikit tertegun. Ia pun sangat tertarik pada cincin itu, tetapi ia tidak punya tempat untuk menyematkannya.
"Saya iri sekali, Mbak dan Mas sangat serasi. Saya harap pernikahaan kalian langgeng selamanya," cicit sang pelayan tanpa bertanya dulu.
"Kami bu-,"
"Terima kasih. Bisakah kami membeli cincin itu. Sepertinya calon istri saya sangat menyukainya," potong Egi cepat.
Sontak Zahra menengok ke arah Egi. Meminta penjelasan atas perkataannya. Namun, Egi hanya diam.
"Tentu, Mas. Mari, saya bungkuskan." Sang pelayan meminta kembali cincin tersebut, lalu membungkusnya sesuai permintaan Egi.
Cincin sudah terbungkus. Egi hendak membayar, tetapi Zahra mencegahnya. Ia merasa tidak enak hati. Zahra ke sini bersama Ardi yang sampai sekarang belum juga kembali.
Tidak berapa lama Ardi memberi kabar, bahwa ia meminta maaf harus meninggalkan Zahra. Ada rapat penting yang harus segera ia hadiri. Jadi, ia meminta Zahra memilih sendiri cincin pernikahaan mereka.
__ADS_1
Ada rasa kecewa dalam benak Zahra. Namun, ia berusaha semaksimal mungkin menyembunyikannya.
"Sudah, biar saya yang membayar." Egi memberikan kartu ATM miliknya pada pelayan.
Pembelian selesai, Lisa dan Mona belum juga kembali. Egi dengan cepat menhubungi Kakaknya. Namun, jawaban yang tidak diinginkan yang ia dapatkan.
"Kakak dan Kak Mona masih lama. Kamu di sana sama Zahra dan Ardi dulu, ya."
Egi berdecak kesal. Ia tidak tahu akan begini jadinya. Merasa tidak punya pilihan, akhirnya Egi membawa Zahra ke tempat makanan.
Hari sudah mulai siang, pertanda waktu makan siang sudah tiba. Kini, Egi dan Zahra tengah duduk di sebuah kedai makanan. Mereka menunggu pesanan datang.
Sejak tadi Zahra hanya diam menunduk. Ia tidak berani membuka suara. Pesanan datang, mereka memulai menyantap makanan.
Selama makan, suasana terasa sangat canggung. Egi merasa Zahra menjadi sangat pendiam. Apakah terjadi sesuatu pikirnya.
Egi selesai terlebih dahulu. Ia memperhatikan cara makan Zahra yang menurutnya lucu. Mungkin penutup hatinya mulai terbuka saat ini, tetapi apakah ini waktunya yang tepat.
Zahra selesai makan. Ada sisa noda saos di ujung bibir atasnya. Egi mulai risih, tanpa aba-aba ia mengambil tisu, mengarahkan tangannya ke arah bibir Zahra sambil berkata, "Maaf, ada noda di bibirmu. Saya hanya membantu menghapusnya."
Pandangan mereka bertemu. Lama, cukup lama. Sampai Zahra ingin menangis. Mengapa wajah tampan itu sulit dilupakan. Apakah takdir tidak berpihak padanya.
Egi memalingkan pandangannya, meremas tisu, lalu menyimpannya di atas piring kotor.
"Paman, satu minggu lagi aku akan menikah. Datanglah di hari bahagiaku nanti," ujar Zahra dengan hati terguncang hebat.
"Apa lelaki itu baik?" tanya Egi.
"Ya, dia rekan bisnis Om Rendy. Jadi, aku yakin dia lelaki baik."
"Apa kamu bahagia?"
"Tentu, sebentar lagi aku akan menjalani peran terbaru di babak kehidupanku." Meremas perlahan ujung pasmina yang menjuntai.
Egi terdiam. Ia tidak bertanya kembali, ataupun mengatakan sesuatu. Matanya pokus pada sasaran di hadapannya.
"Tidak bisakah kamu kembali pada saya?" tanya Egi spontan yang diikuti ekspresi terkejut dari wajah Zahra.
"Batalkan pernikahanmu, lalu menikahlah dengan saya. Saya tahu ini terdengar gila, tetapi kini saya menyadari betapa berharga dirimu di perjalanan kehidupan selanjutnya. Beri saya satu kesempatan, untuk memperbaiki semua kesalahan saya selama ini," ujar Egi tegas.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG~~~~