
Di karenakan banyak pendukung Rey-Mona jadi, author tambahin satu bab lagi cerita khusus mereka😍😍.
Rey tersenyum senang, dia juga mulai terbiasa dengan sikapnya Mona.
"Ini sudah mau adzan magrib, sebaiknya kita habiskan makanan, kemudian mencari masjid terlebih dahulu." Ucap Rey kembali menyantap makanan yang dia tinggalkan dulu tadi.
Mona tak menjawab, hatinya masih kesal dengan Rey. Tapi, meskipun begitu Mona tetap menuruti Rey.
Setelah selesai makan, mereka segera membayar dan mencari masjid di sekitar tempat itu.
Adzan telah berkumandang, memanggil umatnya untuk segera datang menghadap sang pencipta.
Rey dan Mona masing-masing mengambil air wudhu dan mulai sholat berjamaah dengan jamaah yang lain.
Lantunan ayat-ayat alquran, terasa sejuk di hati dan telinga. Imam masjid itu memimpin sholat dengan khusu dan lancar.
Semua telah selesai mengerjakan kewajiban mereka. Rey dan Mona segera keluar dan kembali ke dalam mobil yang masih terparkir di halaman cafe tadi.
"Kamu sudah siap, sayang." Goda Rey begitu menjalankan mobilnya.
"Siap apaan nih, pak? Saya kok mencium bau-bau tak enak." Jawab Mona ngasal.
"Siap ke pelaminan." Ucap Rey ikutan ngasal.
"Ih, pak Rey. Engga asyik bercandanya."
"Berhenti panggil saya dengan sebutan pak Rey atau kamu akan tau akibatnya." Rey sedikit menekan.
Mona bergedik ngeri mendengar kalimat Rey kali ini. Sepertinya ucapan Rey tak main-main.
"Saya panggil kakak aja, ya?" Suara Mona melemah.
"Nah, gitu dong. Saya senang mendengarnya." Rey tersenyum ke arah Mona.
Malam ini, mereka berencana menonton film. Rey sudah membeli tiket sehari sebelum mengajak Mona ke bioskop.
"Pak, kok kita di belakang. Dah gitu paling pojok juga lagi." Protes Mona setelah berada di dalam bioskop.
"Sudah jangan berisik. Filmnya sudah mau mulai." Ucap Rey.
Mona mengerucutkan bibirnya, lagi-lagi dia merasa kesal. Lelaki ini selalu saja mengajak ribut tapi, lelaki ini juga selalu membuat Mona terbang melayang dengan sikap manisnya.
Film mulai di putar, layar lebar itu memperlihatkan adegan setiap pemain film.
Film bergenre romantis komedi itu, mampu membuat penontonnya terbawa suasana.
Tiba saatnya adegan kemesraan sepasang kekasih, mereka terlihat saling berhadapan dan sang aktor tanpa sungkan mulai mencium lawan mainnya.
__ADS_1
Mona mulai gelisah, matanya melotot. Dia yang memang sudah pernah berpacaran dan tau tentang seperti itu karena sering menonton drama korea.
Tapi, memang tak sekalipun melakukan dengan kekasihnya. Karena, Mona tau dia tak mau di sentuh sebelum halal.
Mona yang biasa menonton adegan seperti ini sendiri di drama korea tapi, kali ini berbeda. Dia harus menyaksikan bersama Rey.
Rey memperhatikan Mona, gerak-geriknya membuat Rey ingin tertawa. Rey tau situasi Mona tapi, Rey diam saja.
Dia ingin tau seberapa lama Mona akan tahan menonton adegan kemesraan ini. Rey hanya santai menikmati alur film.
"Apa kamu ingin mencobanya?" Goda Rey.
"Apa!! Wah, jangan sembarangan ngomong dong, kak. Gini-gini saya juga masih suci." Kesal Mona.
"Memang saya menyuruh mencoba apa?"
"Eh, anu maksud kak Rey, itu kan." Mona gugup.
"Wah, ternyata pikiranmu ngawur. Saya menawarkanmu popcron yang di tangan saya padamu. Kamu dari tadi diam saja." Ucap Rey senang menggoda Mona.
"Ah, iya popcron. Kenapa engga dari tadi sih nawarinnya." Mona mengalihkan pembicaraan.
Rey hanya tersenyum kecil, tingkah laku Mona mampu membuat hatinya bahagia. Mungkin ini juga yang di rasakan Rendy saat bersama Lisa. Rey sekarang mulai mengerti.
Satu jam berlalu, Film berakhir dengan happy ending. Semua pengunjung keluar dari bioskop.
"Kamu kenapa?" Tanya Rey.
"Engga. Saya engga apa-apa, kak." Jawab Mona.
"Ini sudah malam, sebaiknya kamu saya antar pulang." Ajak Rey.
Mona menurut karena memang waktu sudah menunjukkan hampir jam 9 malam lewat. Dia juga tadi tak izin pulang terlalu malam pada ibunya.
Selama di perjalanan, Mona hanya diam mematung. Dia tak tau harus memulai obrolan seperti apa dengan Rey.
"Mona." Sapa Rey menghilangkan kecanggungan mereka.
"Iya, kak." Jawab Mona.
"Kamu masih inget ucapan tadi saya di kantor."
"Yang mana, pak?"
"Soal saya akan datang ke rumahmu minggu depan?" Ucap Rey.
"Oh. Soal itu, tenang aja kak. Saya engga terlalu memikirkannya kok."
__ADS_1
"Saya justru ingin mendiskusikannya denganmu."
Mona menoleh ke arah lelaki di sampingnya, matanya menatap lekat bola mata indah Rey. Rey memang tampan, tak ada seorang wanita satupun yang sanggup menolak pesonanya.
Akan tetapi, Mona tak terlalu percaya diri untuk bersanding dengan Rey. Dia cukup sadar diri soal statusnya.
"Apa kamu bersedia, jika saya menemui ibumu dan memintamu menjadi istri saya?" Ucap Rey yang masih fokus pada stir mobil.
Mona berpikir sekejap, dia tak tau harus menjawab apa. Hatinya bergejolak, dia sungkan menerima tapi tak sanggup juga jika menolak.
"Saya tidak tau, kak. Saya merasa tak pantas dengan kak Rey. Saya hanya wanita biasa." Tutur Mona dengan suara lemah.
"Saya tidak butuh jawaban seperti itu."
"Lalu, jawaban seperti apa yang kak Rey mau?"
"Kamu hanya cukup menjawab bersedia atau tidak." Ucap Rey tegas.
Mona menghela nafas kasarnya, dia bingung dengan keinginannya.
"kalau kamu merasa belum siap menjawab, saya akan menunggu. Saya akan datang ke rumahmu jika, hatimu sudah siap." Lanjut Rey.
Mobil Rey berhenti tepat di halaman rumah Mona. Mona masih saja diam, dia belum berbicara atau pun keluar dari mobil.
"Kak Rey, boleh saya minta waktu. Saya harus mempertimbangkan sebelum menjawab pertanyaan kak Rey." Tutur Mona.
"Saya akan setia menunggumu. Tapi, saya tak suka di permainkan. Jika kamu memang tak menyukai saya, lebih baik jujur secepatnya." Jawab Rey tegas.
Mona tersentak dengan ucapan Rey. Apa itu artinya Rey akan menjauhinya jika, Mona menolak? Ini seperti buah simalakama.
"Ya, saya mengerti. Kalau begitu, saya masuk dulu. Hati-hati di jalan." Ucap Mona yang segera keluar dan berlari masuk ke dalam rumahnya.
Rey menatap punggung Mona yang berlalu, dia berharap Mona akan memberinya jawaban yang Rey harapkan.
Rey segera melajukan mobilnya membelah heningnya jalan raya di malam hari. Pikirannya melayang jauh ke masa lalu.
Dia mengingat gadis kecil yang pernah dia tolong saat masih remaja dulu, wajahnya sama persis seperti Mona.
Dia memiliki lesung pipi dan hidung mancung, sama seperti Mona. Rey hampir tak percaya saat pertama melihat Mona, dia kira Dia bertemu gadis kecil itu kembali.
"Gue harap dia bahagia selalu." Ucap Rey.
...****************...
BERSAMBUNG~~~~
Mohon dukungannya untuk author dengan Like, coment&vote😍😍😍
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA🤗🤗