
Kantin semakin ramai. Cuaca panas saat ini tidak sebanding dengan panasnya hati Adnan. Pemuda itu nampak kesal mendapatkan jawaban dari Zahra.
Sontak Adnan berdiri sambil menggebrak meja dengan keras, lalu berkata, "Gue suka sama Lo. Jadi, apa salahnya gue perhatian."
Hening. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani berbicara. Suara ricuh yang sejak tadi tercipta mendadak lenyap begitu saja.
Semua orang menatap pada tempat di mana Adnan, Zahra dan si kembar berada. Mereka sama terkejutnya dengan Zahra, si gadis yang saat ini masih diam mematung.
"Gue engga pernah maksa Lo suka juga sama gue, tapi gue juga tega ngeliat Lo kayak gini. Cuman gara-gara Lo berharap bisa di cintai sama orang yang Lo cintai!" sambung Adnan.
Mata Adnan memancarkan kesungguhan yang bercampur emosi. Gelora mudanya bergerumuh dalam jiwa. Ia segera meninggalkan kantin tanpa memperdulikan tanggapan orang tentangnya.
Zahra menepuk pipinya sekeras mungkin sampai ia merasakan kesakitan. Apa ia sedang bermimpi? apa tadi benar-benar Adnan yang ia kenal.
"Ki, kejar Adnan 'gih. Gue nenangin Zahra di sini!" perintah Riki.
Riko yang mengerti segera mengejar Adnan keluar kantin. Ia tidak ingin sepupunya itu melakukan hal yang di luar dugaannya. Apa lagi saat ini emosi tengah menguasai diri Adnan.
"Nan, gue engga nyangka Lo beneran suka sama Zahra," gumam Riko perlahan sambil berlari.
Sementara itu, Riki berusaha menenangkan Zahra yang masih shock mendengarkan pengakuan Adnan.
"Ra, aku anterin kamu pulang, ya," bujuk Riki.
"Aku masih ada kelas satu lagi, Ki," jawab Zahra.
"Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Riki.
Zahra mengangguk pelan. Nafsu makannya seketika lenyap. Ada apa dengan hari ini? kenapa keponakan dan paman sama-sama membuat Zahra terkejut dengan ucapan mereka.
Kabar pengakuan cinta Adnan sampai juga ke telinga Egi. Hampir seluruh penghuni kampus membicarakannya. Ada yang merasa iri pada Zahra. Ada juga yang mempermasalahkan kenapa harus Zahra.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Sore itu Egi baru saja selesai mengisi kelas. Ia duduk di kursi sambil se-sekali menghela napas. Matanya terpejam menikmati udara sore yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela.
Ingatannya membawa Egi ke masa lalu. Masa di mana ia pernah jatuh cinta untuk pertama kalinya. Wanita berambut panjang yang ia temui di taman saat pertama kali ia mengajar di kampus ini.
Wanita yang senyumnya sangat manis. Berkulit kuning langsat dengan wajah tirus membuat hati Egi terpikat.
Cinta itu mulai hadir di antara keduanya. Kala itu Egi yang baru saja berusia dua puluh enam tahun. Sedangkan, gadis itu hanya terpaut lima tahun lebih muda darinya.
Tanpa sepengatahuan Lisa dan Rendy. Egi menjalin sebuah hubungan seperti biasa. Hidupnya menjadi lebih berwarna semenjak kehadiran permata hatinya.
Lima bulan menulis cerita cinta tanpa ada kendala. Tiba-tiba satu kata menggelapkan dunia Egi. Cintanya berubah menjadi rasa trauma dan sakit. Gadis itu mengucapkan, "Aku hamil! Aku hamil anak teman lelakiku. Maaf, aku telah mengkhianatimu selama ini. Maafkan aku."
Seketika tubuh Egi lemas tidak berdaya. Kata hamil seperti pedang yang menancap tajam di lubuk hatinya. Takdir seakan tengah mempermainkannya saat itu. Mengapa ia harus menerima semua ini? terlebih ini adalah cinta pertamanya.
Di sebuah cafe yang masih Egi ingat tempatnya. Sang gadis menangis memohon ampun atas kesalahannya. Ia terus berkata bahwa ia hanya melakukannya satu kali. Namun, tidak menyangka bahwa akhirnya benih itu bertumbuh menjadi janin.
"Aku tidak membencimu. Namun, aku berhak menentukan pilihanku. Kamu berani mengambil keputusan. Maka, kamu pun harus menerima segala risikonya. Satu pesanku padamu, jangan pernah gugurkan kandunganmu. Mintalah lelaki itu bertanggung jawab. Anak yang di perutmu tidak bersalah," kata Egi saat itu.
Kejadian itu masih membekas diingatannya. Melahirkan rasa trauma yang sangat dalam di jiwanya. Semenjak itu, ia tidak pernah memiliki hubungan spesial dengan kaum hawa. Bahkan ia pun tidak pernah menceritakan masa lalunya pada Lisa dan Rendy.
Egi perlahan membuka mata. Memandang jauh keluar lewat jendela. Di bawah nampak Zahra tengah duduk sendiri di kursi yang tersedia di taman kampus.
Gadis itu terlihat murung. Ia terus menunduk sambil se-sekali mengusap cairan bening di netranya. Egi memperhatikan setiap gerak-gerik Zahra dari lantai dua. Ia sedikit menyesal atas ucapannya tadi. Namun, ia tidak ingin menarik gadis itu ke dalam hidupnya yang kacau.
"Dela, andai dulu kita tidak pernah bertemu. Ah, semuanya sudah takdir. Aku tidak bisa berbuat apa-apa," keluh Egi.
Matanya masih mengamati Zahra. Gadis kecil yang selalu gugup di hadapannya. Gadis ceroboh yang selalu terjatuh saat bersamanya.
"Kamu masih muda ... jalanmu masih panjang. Apa yang kamu harapkan dari lelaki sepertiku," gumam Egi.
__ADS_1
Terlihat Zahra berlalu entah ke mana. Egi masih setia memandang ke luar. Taman Kampus yang menjadi kenangan indahnya saat itu masih sama.
Tiga tahun sudah berlalu. Namun, sakit itu masih terasa. Cinta pertama yang seharusnya menyenangkan malah menjadi mimpi buruk di kehidupannya.
Waktu menunjukkan pukul lima sore. Egi segera menyambar tas dan kunci mobil. Ia ingat akan pesan Kakaknya untuk pulang lebih awal.
"Apa Kaka akan pergi keluar kota lagi bersama Kak Rendy," gumam Egi.
Selama perjalanannya menuju parkiran. Egi masih saja mendengar para mahasiswa dan mahasiswi membicarakan topik hangat tentang keponakannya. Sebagian dari mereka kebanyakan para wanita yang tidak terima.
"Gue engga suka liat si Zahra sama Bebeb Adanan. Kesel liatnya!" Ucap gadis berbaju biru.
"Iya gue juga. Mereka tuh engga ada cocoknya," balas temannya yang berbaju merah.
"Pengen gue cecelin telor mentah ke mulutnya si Zahra!" ketus gadis berbaju biru.
Egi berhenti tepat di hadapan keduanya. Ia menoleh ke arah mereka, lalu berkata, "Kalian adalah seorang mahasiswa. Apa ini yang kalian dapatkan dari hasil belajar? apa kami para dosen mengajarkan kalian untuk menyakiti hati sesama manusia?"
Sontak keduanya menunduk. Mereka tidak sadar bahwa Egi mendengar pembicaraan barusan.
"Maaf, Pak Egi," cicit keduanya.
Egi menatap dalam pada kedua gadis tersebut. Ia sudah cukup muak mendengar berbagai tanggapan seperti ini. Bukan semata-mata Adnan adalah keponakannya. Namun, ia membenci orang yang terlalu ikut campur urusan orang lain.
"Saya harap tidak pernah mendengar kalian bergosip yang tidak penting seperti ini. Lebih baik kalian belajar yang benar. Bukankah orang tua kalian bekerja keras demi biaya kuliah!" tegas Egi.
Egi mengayunkan kembali kakinya menuju parkiran. Hari ini sangat melelahkan. Ia merindukan kasur empuk miliknya.
"Aku lelah sekali. Aku ingin tidur," batin Egi.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG~~~~