Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
110


__ADS_3

Hari semakin siang, matahari menyemburkan panasnya merata ke seluruh alam. Rendy baru saja tiba di kantor, setelah sebelumnya mengantar Lisa ke toko dulu.


Rendy berjalan tenang menuju lift. Setiap karyawan yang bertemunya, mengangguk hormat.


Hingga tibalah Rendy di ruangan kerja. Rey sudah siap sedia menyambut sang atasan dengan tumpukan perkerjaan.


"Ren, ini semua berkas yang harus Lo tinjau ulang," ucap Rey menyodorkan tumpukan dokumen ke meja Rendy.


"Gila, banyak banget! Bisa lembur gue malam ini," keluh Rendy mengamati satu per satu dokumen tersebut.


"Ya, itu mah derita Lo aja," ledek Rey.


"Sialan, Lo ngatain atasan kaya gitu!" hardik Rendy.


"Ha ha ha. Ampun dah," ujar Rey. " eh, Ren Lo udah tahu kalau perusahaan Angkasa Jaya menarik semua investasinya dari kita."


Rendy terdiam sejenak. Ia baru mengetahui soal itu. Selama ini perusahaannya selalu bekerja sama dengan perusahan yang Rey sebut.


"Engga! Gue malah baru tahu dari Lo," balas Rendy.


"Mereka menarik semua investasi dan membatalkan kerja sama dengan kita," ungkap Rey.


"Apa alasannya?"


"Gue juga engga tahu! Kemarin seketarisnya aja yang ke sini,"


"Direktur utamanya?"


"Sekertarisnya bilang lagi sibuk." Rey berjalan ke sopa dan duduk diam di sana.


Rendy menyenderkan punggungnya ke kursi. Otaknya berpikir selama ini perusahan itu tidak pernah komplain apapun. Mengapa tiba-tiba membatalkan semua kerja sama.


"Coba Lo cari tahu apa alasan mereka!" perintah Rendy.


"Siap!" jawab Rey. " oh, ya Ren pernikahaan gue seminggu lagi. Setelah nikah gue mau ngajutin cuti selama seminggu."


"Lama amet! Lo mau cuti apa pindah kerja?" sindir Rey.


"Cutilah, Bos," sahut Rey. " Gue juga butuh refreshing, honeymoon sama istri."


"Gue yakin pulang honeymoon istri Lo engga bisa jalan," tuduh Rendy.

__ADS_1


"Ha ha ha. Lo tahu aja, gue bakal sandra dia di kamar selama seminggu full. Kelonan, Bro!"


Rendy menimpuk sahabatnya dengan pulpen yang ia pegang sambil berkata, " Dasar otak mesum. Inget anak orang jangan dibuat pincang."


Rey hanya tertawa. Sudah lama sekali mereka tidak berbincang--bincang santai berdua seperti ini. Terlalu banyak kejadian yang menguras waktu dan air mata.


Seketika Rey teringat akan Dira. Sudah dua hari setelah kepergian Farhan, ia belum melihat Dira kembali.


"Ren, gimana kabar adik Lo?" tanya Rey.


Rendy yang sedang asyik bercengkrama dengan pulpen dan lembaran kertas, segera berhenti sejenak. Ia mengkhawatirkan anak itu, terahir bertemu semalam di rumah Papanya.


Dira yang masih belum menerima Farhan, sering mengurung diri dikamarnya sendiri. Tak jarang Egi mengajaknya bermain, akan tetapi Dira hanya terdiam tanpa berbicara atau tertawa.


"Ya, gitu. Dia masih shock, Papa dan Egi udah berusaha buat selalu ajak dia ngomong. Tapi! ujar Rendy. "dia sama sekali engga mau membuka mulut."


Rendy kembali memeriksa setiap dokumen. Ia tidak ingin pikirannya bercabang ke mana-mana.


Rey terlihat berpikir. Ia juga bingung memikirkan cara menghibur Dira. Gadis itu tidak mau merespon apapun.


"Gue minta Dika aja apa ya buat hibur si Dira?" usul Rey.


Rey tidak yakin usulnya ini tepat, tapi setidaknya ia ingin berusaha yang terbaik.


"Syukurlah. Gue khawatir liat keadaan dia. Gue emang engga tahu gimana rasanya ditinggalin cinta untuk selama-lamanya. Tapi Gue pengen Dira berusah mencoba damai dengan keadaan," lontar Rey.


Rendy hanya duduk diam mendengarkan. Ia tidak bisa berkomentar, karena apa yanh adiknya rasakan sekarang. Ia pun pernah merasakan dulu.


Rendy hanya berharap Allah mengirimkan seseorang yang bisa menerangi kembali jalan hidup Dira. Mungkin sulit, akan tetapi cepat atau lambat semua akan bisa Dira lewati.


🌷🌷🌷🌷🌷


Seperti dugaannya pukul sembilan malam Rendy masih berkutat dengan tumpukan pekerjaan. Ia merasa lembaran buku ini beranak pinak. Mereka serasa tidak ada habisnya.


"Bisa gatot nih rencana nengokin Dedek bayi," gumam Rendy.


Dua jam berlalu, Rendy baru selesai mengerjakan semuanya. Ia meregangkan tangan untuk melemaskan otot-otonya yang kaku.


Kantor sudah sangat sepi. Apalagi ruangan Rendy, jika orang bernyali ciut sudah pasti kocar kacir lari saking sepinya.


Rendy segera membereskan mejanya. Menyimpan rapih tumpukan kertas yang baru saja ia kerjakan. Rendy segera berlalu pergi ke lantai bawah. Rey sudah pulang duluan, Rendy tidak ingin membebani sahabatnya dengan bekerja lembur.

__ADS_1


Selama di perjalanan, Rendy sudah tidak sabar untuk segera sampai ke rumah. Ia ingin menikmati wajah istrinya.


Ketika sedang asyik menyetir. Dari arah depan seseorang melambaikan tangannya seperti meminta bantuan. Rendy yang tidak tega akhirnya memberhentikan mobil, untuk sekadar melihat apa yang terjadi.


"Mas, bisa tolongin saya?" ucap wanita seksi berbaju merah. Pakaiannya yang ketat sehingga memperlihatkan setiap lengkuk tubuhnya.


"Mobilnya kenapa?" tanya Rendy.


"Saya engga tahu. Tiba-tiba aja mogok kaya gini," keluh wanita itu.


Dengan sedikit malas, Rendy keluar mobil untuk mengecek kendaraan sang wanita. Ia membuka kap depan mobil, berusaha mencari siapa tahu ada kabel putus yang membuat mobil berhenti mendadak.


Sepuluh menit berlalu, Rendy tidak menemukan masalah apapun pada mobilnya. Ia melirik ke arah wanita yang tanpa ia sadari tubuh wanita itu sudah menempel dekat dengan badannya.


Rendy yang risih segera menarik badannya lebih menjauh sambil berkata, "Tidak ada masalah apapun di mobilnya, Mbak."


Wanita itu tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata. Tangannya memaikan rambutnya yang panjang, sedangkan tangan sebelahnya membelai dada Rendy.


"Yang bermasalah itu sepertinya saya, Mas," ujar sang wanita. " Mas butuh saya temani engga?"


Seketika Rendy mengibaskan tangan wanita itu dari dadanya sambil berkata, " Saya tidak butuh di temani Anda. Saya memiliki istri yang sedang menunggu di rumah.


Rendy melangkahkan kakinya mendekati mobil. Ia merasa jijik dengan wanita penggoda seperti itu.


"Asal Anda tahu. Laki-laki brengsek sekalipun tidak akan mau menikah dengan wanita penggoda. Mereka tetap berharap bisa memiliki istri yang bisa menjaga kehormatannya. Sepertinya Anda salah orang, saya bukan laki-laki yang tepat untuk Anda rayu."


Dengan kesal Rendy melajukan mobilnya sekencang mungkin. Dia akui hasratnya tengah menggebu saat ini, akan tetapi ia tahu ke mana ia harus menumpahkan semuanya.


Mobil Rendy baru sampai halaman rumah. Ia segera menyuruh Mang Rudi memarkirkannya ke dalam garasi. Dengan langkah cepat Rendy menaiki anak tangga, ia tidak sabar ingin meluapkan semua hasrat pada istrinya yanh jelas halal.


Begitu tiba di kamar, Rendy mendapati Lisa tengah tidur pulas. Ia tidak tega untuk membangunkan istrinya. Hasrat yang semula menggebu, sepertinya harus ia tahan sampai batas waktu yang tak ditentukan.


"Sabar, Tong. Belum saatnya Lo buka puasa. Mending ngadem aja lah di air, biar pikiran fresh," batin Rendy.


Rendy berjalan lesu menuju kamar mandi. Malam ini rencana menengok Dedek bayi gagal sudah. Ia harus bersabar menunggu waktu yang tepat.


...****************...


Bersambung~~~


Jangan lupa like, coment dan vote.

__ADS_1


Note: Novel ini akan segera tamat di bulan ini, setelah semua terselesaikan semuanya. Bagi yang berkenan silahkan mampir ke lapak Author di bawah ini.



__ADS_2