
Tubuh Dira bergetar tatkala perkataan manis Dika terngiang di telinganya. Ia tidak kuasa menahan gejolak rasa yang membara dalam diri. Kepalanya otomatis mengangguk menandakan ia berkenan dengan tawaran Dokter ganteng itu.
"Ya, aku mau, Kak...," lirih Dira.
Mata Dika memolotot tajam. Jantungnya berhenti berdetak sejenak. Akhirnya jawaban manis itu terlontar dari mulut gadis manjanya.
Dika melepaskan perlahan pelukannya, lalu berkata, "Coba kamu katakan sekali lagi, Dek?"
Dira menunduk malu. Wajah cantik itu berubah merah merona, membuat siapa saja yang memandang menjadi gemas ingin mencubit.
"A-aku mau, Kak," ucap Dira pelan.
"Alhamdulilah." Menengadahkan kedua tangannya ke atas. Mengucap rasa syukur atas hadiah yang Allah berikan, untuk penantian panjangnya.
"Kalau begitu, aku akan segera melamarmu, Dek! Aku engga mau pacaran, Dek. Aku takut khilap seperti tadi main peluk gadis orang aja," beber Dika.
"Sekarang?" tanya Dira.
"Bukan sekarang, mungkin lusa insyaallah. Aku harus membicarakan dengan Kakakmu dulu. Tapi...." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tapi apa, Kak?" tanya Dira.
"Apa kamu siap, Dek menikah muda denganku? terlebih umurku sangat jauh darimu, apa kamu tidak masalah?" tanya Dika balik.
Dira mengulas senyum sambil berkata, "Tidak, Kak! Cinta itu tidak memandang usia. Mungkin benar Kak Dika sangatlah jauh berbeda denganku soal umur. Namun, aku yakin kita akan saling melengkapi satu sama lain."
Dika membalas senyuman manis gadis dihadapannya. Hatinya tengah berbunga-bunga. Bagaimana tidak? kesabarannya berbuah manis.
Selama ini Dika berusaha ada disamping Dira. Sampai saat terpuruk pun, Dika masih saja menemani gadisnya. Ia yang lebih mengutamkan kebahagian Dira, ketimbang perasaannya. Ia juga yang berusaha membuat Dira nyaman berada di sampingnya, meski saat itu ia tahu hati gadis manjanya bukan untuk dirinya.
"Terima kasih ya, Dek!" kata Dika.
Malam itu, rembulan bersinar terang. Angin berhembus perlahan. Semesta terasa sangat tenang. Mereka seakan bersuka cita untuk Dika. Dunia seakan turut senang atas kebahagiaan yang Dika dapatkan.
Perlahan mobil melaju kembali. Membawa ketiga manusia di dalamnya menuju tempat tujuan. Egi yang berada di sana, tidak tahu menahu soal kejadian kedua orang dewasa itu. Ia asyik menikmati mimpi indah, berharap bisa bertemu Kakanya di sana.
"Kak Lisa, Egi rindu," racau Egi pelan hampir tidak terdengar.
💮💮💮💮💮💮
__ADS_1
Pagi hari yang cerah, semua orang bersiap memulai hari. Rendy baru saja selesai membersihkan badan. Hari ini ia harus tetap pergi ke kantor.
Pagi-pagi buta, Mang Asep sudah mengantarkan setelan pakaian majikannya ke rumah sakit. Ia juga setia menunggu, untuk mengantatkan Tuan mudanya ke kantor.
Seperti yang sudah disepakati. Seminggu ke depan Rey mengambil cuti untuk menikmati honeymoon bersama istrinya. Jadi mau tidak mau Rendy harus mengehendel semuanya sendiri.
"Sayang, aku berangkat kerja dulu, ya!" Mencium kening istrinya yang masih saja belum membuka mata.
Setelah puas berpamitan, Rendy segera keluar ruangan. Tidak lupa sebelumnya ia menelpon Papanya untuk menggantikannya di rumah sakit.
"Ayo berangkat, Mang!" ajak Rendy.
Lelaki yang sudah bekerja dari pertama Pak Adrian menikah itu segera bangkit. Mang Asep adalah supir yang paling setia, ia bahkan sering mengajak Rendy kecil bermain saat Pak Adrian sibuk berkerja.
"Mari, Tuan muda," sahut Mang Asep.
Lelaki itu mengekor dibelakang Rendy. Langkahnya tidak secepat dahulu saat muda. Namun, ia tetap berkerja seprofesional mungkin. Baginya Rendy bagai anak kandungnya, ia bahkan sering membelikan lolipop saat tuan mudanya kecil dulu.
"Tuan sudah benar-benar tumbuh dewasa. Padahal dulu, Mamang sering mengendongnya," batin Mang Asep.
Perjalanan kali ini tidak terlalu macet. Jalanan ramai, akan tetapi tetap lancar. Setelah dua puluh menit akhirnya mobil yang dikendarai Mang Asep tiba di halaman perusahaan.
"Iya, Tuan muda," sahut Mang Asep.
Rendy berjalan masuk ke dalam kantor. Setiap orang yang ia temui, mengangguk hormat. Terkadang Rendy menanggapinya dengan senyuman manis, membuat para karyawan wanita tersihir otomatis.
Rendy menaiki lift khusus untuknya, ia sesekali melirik ke arah samping. Tidak ada Rey, lelaki kocak yang hampir setiap waktu bersamanya.
"Sekarang dia sudah berkeluarga. Gue engga boleh bikin dia kerja lembur terus. Kasian, yang ada kagak bisa tekdung istrinya nanti karena suaminya sibuk kerja," batin Rendy.
Sesampainya Rendy di ruangan, ia langsung memeriksa dokumen yang sebelumnya sudah Rey siapkan sehari sebelum pernikahannya.
Mata Rendy meneliti satu demi satu dokumen tersebut. Ia juga mengecek email yang masuk. Satu hal yang membuat jari jemarinya berhenti, tatkala satu email dari perusahaan yang di pimpin Dion. Mereka mengirimkan email yang berisi bahwa mereka melanjutkan kerja sama dengan pihak Rendy.
Rendy terdiam sejenak. Apa otak lelaki itu dalam keadaan waras saat membuat email ini? bukankah ia yang membuat Rendy jauh-jauh menemuinya hanya agar membuat Rendy memohon. Namun, sayangnya Rendy memilih untuk mempertahankan harga dirinya.
"Apa dia tidak salah kirim email?" gumam Rendy pelan.
Rendy merogoh saku jasnya, mengambil ponsel pintar yang ia miliki. Ia hendak menelpon sekertarisnya. Namun, suara dering di ponselnya membuat ia berpikir sejenak.
__ADS_1
"Dika," ucap Rendy.
Lelaki itu segera mengangkat panggilan suara dari sahabatnya, lalu berkata, "Assalamualaikum, ada apa, Dik?"
"Waalaikumsalam. Ren, Lo di rumah sakit apa di kantor?" tanya Dika di sebrang telepon sana.
"Gue di kantor. Ada apa?" tanya Rendy kembali.
"Ada yang mau gue omongin," jawab Dika.
"Lo, ke kantor aja, ya! Gue engga bawa mobil, males!" perintah Rendy.
"Siap, Bos. Gue melencur sekarang. Assalamualaikum." Suara klik terdengar pertanda panggilan telepon itu berakhir.
"Waalaikumsalam," jawab Rendy.
Rendy mengelengkan kepalanya. Dokter tampan itu mulai sedikit agresif akhir-akhir ini. Ia bahkan bisa menebak maksud kedatangan Dika ke kantornya. Sudah pasti ada kaitannya dengan adik perempuannya, kalau bukan mana mungkin dokter sibuk itu langsung tancap gas menuju ke sini.
Waktu terus bergulir, detik berubah menjadi menit. Satu per satu dokumen di hadapannya sudah selesai ia amati. Perlahan terdengar suara pintu terbuka. Sesosok lelaki yang tadi berbincang dengannya di telepon, kini terlihat berjalan masuk sambil berkata, "Assalamualaikum."
Rendy menoleh ke arah pintu. Tatapannya lurus tanpa ekspesi. Ia kemudian beranjak dari kursi, lalu berkata, "Waalaikumsalam. Tumben bener Dokter sibuk ini bisa main ke kantor hamba yang kecil ini."
Sindirian Rendy hanya dibalas senyum manis dari Dika. Memang benar, ia jarang sekali main ke tempat kerja sahabatnya satu ini. Mungkin karena ia terlalu pokus pada pekerjaan, membuat ia malas berpergian.
Rendy mempersilahkan sahabatnya itu duduk di sofa. Raut wajah Dika sedikit tegang, ia bahkan seperti akan menghadapi sidang perceraian.
Rendy menangkap kecemasan dari sorot mata Dika. Ia menatap lekat sahabatnya, lalu berkata, "Bicaralah!"
Dika menghela napas kasar. Mulutnya mulai terbuka. Ia harus mengucapkan sekarang, atau ia akan menjadi lajang seumur hidupnya.
"Gue berniat melamar Dira nanti malam! Gue berencana menikahinya," ucap Dika tegas.
...****************...
Bersambung~~~
Menuju Ending rasanya sedikit nyesek😥
Jangan lupa like, coment dan votenya teman☺🙏
__ADS_1