
Dua hari berlalu. Di sebuah kamar kecil, seorang gadis baru saja selesai didandani. Ini adalah hari yang paling bahagia untuknya. Hari ini ia akan segera sah menjadi istri dari seorang lelaki.
Gadis itu adalah Mona, sahabat Lisa. Sejujurnya hari ini ia tidak sepenuhnya bahagia. Bagaimana tidak? hari yang seharusnya ia bisa berbagi kebahagian bersama Lisa. Namun, sahabatnya itu kini tengah berjuang untuk tetap hidup.
Sekuat tenaga Mona menahan air matanya keluar. Ia hanya tidak ingin membuat ibunya khawatir. Bagaimanapun pernikahaannya tetap harus terlaksana. Karena semua sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.
"Lisa, aku berharap kamu cepat sadar. Lihatlah, Lis! Bukankah aku sangat cocok memakai kebaya ini? aku bahkan sudah mempersiapkan satu baju khusus untukmu, Lis...," lirih Mona.
Matanya terpejam. Masih terbayang jelas senyum cantik Lisa. Mereka telah banyak melewati hari-hari bersama. Berbagi rasa suka, duka, pedih, ceria dan saling memberi kebahagiaan satu sama lain.
Wajar untuk Mona, jika saat ini dia sangat merindukan sosok Lisa yang hangat. Sejak Lisa dinyatakan hamil, ia hanya pernah mengunjunginya tiga kali saja.
Mona yang sibuk bekerja dan mempersiapkan pernikahannya. Sedangkan Lisa yang selalu menyibukkan diri di toko bunga. Meski begitu, komunikasi diantara mereka tetap berjalan normal.
Mona sering mengirim pesan, untuk sekadar mananyakan kabar sahabatnya. Begitupun dengan Lisa, meski telah bersuami ia tetap menjaga persahabatan mereka.
🏵🏵🏵🏵🏵
Di lain tempat, Rey baru selesai bersiap-siap. Hari ini hatinya sedikit gugup. Pasalnya ia akan mengucap janji suci dihadapan Allah dan semua orang yang hadir.
Ini bukan perkara soal menikahi seorang wanita. Namun, ini adalah penyatuan dua keluarga yang berbeda. Mulai hari ini, ia memiliki tugas dan kewajiban di keluarga kecilnya nanti.
Dika dan Rendy masuk ke dalam ruangan. Raut wajah Rendy memang sedikit berbeda. Namun, ia berusaha tegar dan kuat di hari bahagia sahabatnya.
"Rey," panggil keduanya bersamaan.
Rey menoleh ke arah suara. Senyumnya mengembang penuh keceriaan. Ia berjalan, lalu merangkul kedua sahabatnya sambil berkata, "Pokoknya hari ini. Gue pengen Lo berdua jadi saksi saat gue ijab qabul."
"Siap! Gue temenin, tapi...," jawab Dika.
"Tapi apa, Bro?" tanya Rendy.
"Lepasih dulu kita! Gue susah napas. Lo kenceng amet meluknya," protes Dika.
Rey segera melepaskan rangkulannya pada sahabatnya. Dika dan Rendy terlihat menghirup udara sebanyak-banyak. Seakan ia takut orang lain menghabiskannya.
"Sialan Lo, Rey. Gue nyampe kehabisan napas. Lo meluk apa mau bunuh kita berdua!" seru Rendy.
"Hahaha. Maafkan aku wahai sahabatku! Daku tidak sengaja." Rendy dengan gaya orang seperti sedang membaca puisi.
"Lo mah mau bikin gue mati duluan sebelum ngerasain naik pelaminan," timpal Dika.
__ADS_1
"Yaelah, Dik. Emang Lo mau ngerasain naik pelaminan?" tanya Rey pada Dika.
"Ya, iya atuh, Bambang! Gue juga pengen kayak kalian berdua. Bisa ada yang nemenin...," lirih Dika.
"Lo tinggal aja naik ke pelaminan gue entar! Bereskan?" ucap Rey.
Dika menyiku badan Rey, lalu berkata, "Itu mah beda, Markonah! Maksud gue, gue tuh pengen nikah."
"Hahahaha. Noh kucing pembantu gue ada yang betina. Lumayan buat pengantin perempuannya," ledek Rey.
"Ni anak, belum ngerasin gue suntik mati!" geram Dika.
"Santai, Bro! Gue masih pengen hidup," kata Rey.
Rendy tidak terlalu ikut larut dalam percakapan gila kedua sahabatnya. Pikirannya masih melayang memikirkan nasib istrinya. Andai kejadian menyakitkan itu tidak ada, mungkin saat ini ia tengah berada di sini bersama Lisa.
Dika sedikit melirik pada Rendy. Ia mengerti, jika saat ini sahabatnya satu ini sedang tidak ingin banyak bicara. Ia hanya berdoa semoga ujian kehidupan Rendy segera berakhir.
Rey melihat pantulan dirinya lagi di cermin. Ia merasa bersyukur diberi wajah yang rupawan. Jadi pakaian seperti apa pun akan cocok ditubuhnya.
"Rey Lo gugup?" tanya Dika.
"Sedikit! Gue sebenernya bukan gugup karena harus ijab qabul. Tapi ada yang lebih gugup dari itu," jawab Rey.
"Gue lebih gugup menghadapi malam pertama nanti malam! Gue mesti belajar dulu apa engga?" jawab Rey enteng.
"Dasar si Bambang. Gue pikir apaaan, nyatanya cuman karena itu," kesel Dika.
"Lah, emang Lo pikir apaan?" tanya Rey.
"Ya, gue pikir Lo gugup gimana harus jadi imam yang baik," sahut Dika.
"Itu juga gugup, tapi ini akan lebih gugup. Pengalaman pertama itu harus mengesankan," bisik Rey pada Dika.
"Dasar otak mesum!" Memukul Rey dengan pulpen yang berada di atas meja.
"Hahahaha. Makanya cari jodoh sana! Dokter, Kok jomblo!" ejek Rey.
"Gue udah punya calon! Tenang aja, tahu-tahu sebar undangan aja," bantah Rey.
"Ya, gue sih ikut seneng kalau gitu. Asal jangan tahu-tahu bunuh diri aja, karena prustasi kagak laku-laku," ejek Rey kembali.
__ADS_1
"Kebangetan Lo sama sahabat sendiri!" sungut Dika kesal.
Kedua lelaki itu selalu saja punya cara sendiri, untuk bisa mempererat hubungan persaudaraan diantara mereka.
Kini tibalah saatnya semua orang yang berada di rumah Rey berangkat ke kediaman mona. Mereka bersama-sama mengantar Rey, calon pengantin pria menuju hari bahagianya.
Dira dan Egi yang juga turut hadir mengantarkan Rey, terlihat tenang duduk di mobil yang dikendarai Dika. Sedangkan Pak Adrian memilih menunggu menantu perempuannya di rumah sakit. Ia hanya menggantikan Rendy sementara, yang saat ini harus meyaksikan sahabatnya itu mengikrarkan janji suci.
Selang dua puluh menit berlalu, rombongan Rey tiba di kediaman pengantin wanita. Mereka disambut hangat oleh keluarga Mona.
Mona yang beradi di kamar mendengar ricuh orang berdatangan. Hatinya mulai gelisah kembali, ia tidak bisa mengontrol dirinya yang gugup saat ini.
Tidak berapa lama pintu kamar itu terbuka. Terlihat Dira dan Egi datang menghampiri Mona. Dira tersenyum, lalu berkata, "Cie, yang sebentar lagi jadi istri orang!"
Mona tersipu malu. Tidak bisa dipungkiri hatinya sedikit hangat dengan kehadiran mereka. Terutama Mona sangat senang melihat Egi. Setidaknya ia bisa melihat wajah sahabatnya melalui adik kandungnya.
"Apa kaka sudah siap? Kak Rey akan mengucap ijab qabul sebentar lagi!" tanya Dira menghampiri Mona.
"Insyaallah, Dir. Aku gugup sekali, untung saja kalian berdua ke sini. Setidaknya aku bisa sedikit menenangkan diriku," jawab Mona.
Di suatu ruangan yang tidak terlalu besar. Rey tengah menjabat tangan wali hakim yang masih memiliki hubungan darah dari almarhum ayah Mona.
Rey menghela napas berat, lalu cukup satu kali saja Rey dengan lantang dan jelas mengucapkan ijab qabul dihadapan penghulu.
"Sah!" ucap Penghulu.
"Alhamdulilah, sah!" ucap semua orang di sana.
Rendy dan Dika merangkul sahabatnya, yang kini sudah sah menjadi suami orang. Sedangkan orang tua Rey dan Mona saling melempar senyum. Mereka turut bahagia atas pernikahaan anak-anaknya.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Hayoh, pada ucapin selamat buat Babang Rey yang udah berlebel suami Mona.
Selamat, ya Babang Rey. Semoga langgeng pernikahannya. Author doain yang terbaik buat kalian berdua.
Author jadi terhura😭😭
Kalau kamu gimana?
__ADS_1
Jangan lupa like, coment dan vote🤗