Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
Extra part 10


__ADS_3

Anak-anak adalah titipan. Maka, jaga ia seperti kau menjaga sebuah berlian.


💓💓💓💓💓


Bahagia itu tak melulu soal materi. Sebuah kabar kehadiran sang buah hati pun salah satu kebahagiaan yang teramat dalam. Cairan bening berdesakan keluar dari netra Zahra. Mereka berlomba-lomba meluncur bebas di pipi mulus wanita itu.


"Aku janji akan selalu menjaganya sampai tiba saatnya ia lahir. Tolong bantu aku selama aku melewati kehamilanku, Mas," tutur Zahra.


Egi mengangguk dan semakin mendekap erat badan Zahra. Saat ini dunia terasa indah. Ia berharap tak ada krikil kecil penghalang keingimanya menjadi seorang ayah.


Setelah melalui proses mengharu biru, Zahra dan Egi pergi ke ruangan sesuai perintah dokter. Mereka melanjutkan pemeriksaan di poli kandungan. Dokter Jeni adalah dokter spesialis kandungan yang menangani Zahra dan akan membantu sampai proses kelahiran nanti.


"Jangan lupa obat dan vitaminnya diminum, ya, Bu. Tetap makan, meski perut menolak. Ada janin yang sedang berkembang dan perlu asupan nutrisi yang baik," pesan Dokter Jeni.


"Insya Allah, Bu," sahut Zahra.


"Tolong ikut jaga kandungan istrinya, ya, Pak." Dokter Jeni beralih pandangan pada Egi.


Egi pun menjawab Insya Allah seperti istrinya. Pemeriksaaan selesai. Egi dan Zahra melangkah keluar dengan membawa kebahagiaan. Terutama Egi, ia bahkan tak pernah melepaskan genggaman erat di tangan istrinya.


"Sayang, kalau kamu merasa pusing. Kamu tidak usah ke kampus dulu sampai kondisimu membaik," saran Egi sambil berjalan menuju luar rumah sakit.

__ADS_1


"Tidak usah, Mas. Aku yakin bisa kok, kuliah sambil hamil. Doakan saja, mual dan pusing itu hanya sebentar." Zahra mengurai senyum.


Keduanya sampai di parkiran dan masuk mobil bersamaan. Egi melajukan kendaraan dengan hati-hati. Mengingat saat ini ia tak hanya berdua dengan istrinya. Ada seorang janin yang butuh perawatan extra dari keduanya.


"Sayang, aku lega sekali," kata Egi sambil menatap lurus ke depan.


"Lega kenapa, Mas?" Zahra yang sejak tadi hanya diam dan tangannya sibuk berselancar di dunia maya.


"Setidaknya aku tidak takut lagi."


"Takut? Apa yang Mas takutkan?" Zahra menyimpan ponsel, mencoba menyimak alur pembicaraan suaminya. "Coba jelaskan?"


"Saat ini kamu sedang hamil, itu berarti kamu tidak mungkin pergi dariku. Secara otomatis, dirimu terkunci di kehidupanku."


"Paman," panggil Zahra manja.


"Hei, jangan panggil aku dengan sebutan itu. Aku tau, kamu pasti punya niat terselubung di balik panggilan paman."


Tawa Zahra menggema. Ia tak kuasa menahannya lagi. Raut wajah Egi yang kesal karena dipanggil Paman membuatnya senang. Mungkin benar, setiap manusia memiliki sisi sensitifnya. Seperti halnya Egi yang selalu kesal setiap kata yang terdiri lima hurup itu terlontar dari bibir istrinya. Sebaliknya, Zahra justru menikmati ekspresi tersebut dari sang suami.


"Kamu mau makan apa? Mungkin kamu mengidamkan sesuatu?" tanya Egi setelah lama tak berkata lagi.

__ADS_1


Zahra berpikir sejenak, tak ada makanan khusus yang ia inginkan. Yang jelas saat ini hatinya tengah berbunga-bunga. Andai tak malu, ia ingin berteriak karena terlalu bahagia menyambut kehamilan ini.


Setelah tiga menit berpikir, akhirnya Zahra meminta Egi menepi di kedai bakso. Makanan berbentuk bulat dengan kuahnya yang gurih ini bukanlah makanan favorit Zahra. Namun, kali ini ada dorongan kuat yang membuat dirinya ingin segera menyantap dalam keadaan panas dan pedas.


Mobil Egi menepi tepat di depan kedai bakso. Pengunjung membluduk seperti halnya tengah mengantri sembako. Egi dengan sabar mencari tempat duduk dan menemukannya di paling pojok.


"Aku ingin makan baksonya saja, Mas," pinta Zahra, duduk di bawah yang telah beralaskan karpet.


"Nanti aku pesankan." Egi beranjak dan bersabar menunggu gilirannya memesan seperti yang lain.


Pesanan sudah tercatat, Egi kembali ke tempat. Duduk berhadapan dengan Zahra yang tengah memijat kening. Dengan tanggap Egi beringsut mendekat ke arah Zahra, mengambil alih untuk memijat sambil berkata, "Kamu yakin baik-baik saja?"


Zahra diam merasakan pijitan halus di keningnya. Ia bahkan lupa ada banyak pasang mata memperhatikan mereka. Perjalanan baru saja dimulai, perjuangan menjadi seorang ibu hamil yang mungkin tak akan mudah.


Sebagian orang memang bisa melewati kehamilan dengan baik-baik saja. Namun, sebagian lagi ada yang harus melewatinya dengan segala cerita. Semua sama, tak ada yang dikatakan manja atau tidak. Pada dasarnya ibu hamil memiliki tingkat sensitif yang tinggi. Mereka harus berjuang membawa calon anaknya selama 9 bulan hingga waktunya tiba bertaruh nyawa.


Pesanan datang. Egi dan Zahra menyambut baik. Kuah bakso yang tercium segar sedikit membangkitkan mood makan Zahra. Egi tersenyum, memberi kecap dan sedikit saus pedas di bakso istrinya dan mulai menyuapinya. Meski Zahra sudah menolak dengan halus.


"Aku bukan memanjakanmu, tapi aku ingin menunjukkan rasa sayangku. Mungkin ini terlihat lebay menurut anak jaman sekarang," tutur Egi.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG~~~


__ADS_2