
Setiap orang memiliki masa lalu. Entah, itu buruk, atau baik. Namun, setiap orang pun berhak mendapatkan kesempatan, untuk merubah diri jadi yang lebih baik.
Di waktu yang sama. Namun, berbeda tempat. Adnan baru keluar dari sebuah minimarket. Malam ini ia hendak bertemu teman satu angkatannya, untuk memberikan tugas yang tadi pagi tidak sempat ia kumpulkan.
Dari pinggir jalan raya. Sayup-sayup terdengar suara lelaki tengah membentak seorang gadis. Tentu saja penampakan itu mencuri perhatian Adnan.
Mata Adnan memperhatikan lelaki yang begitu kasar dalam berbicara. Adnan sedikit tidak percaya menyaksikan siapa sosok lelaki itu.
Dirga. Ya, lelaki itu tidak lain adalah Dirga. Calon suami Rina, Kakak kelas Adnan yang tadi siang ia lihat bayangannya di tangga.
"Duit segini bisa dapat apa coba!" teriak Dirga.
"Maaf, Kak. Aku belum ada uang lagi ...," lirih Rina.
"Gue engga mau tahu. Besok, Lo harus kasih duit itu ke gue!" tekan Dirga. " Atau Lo mau, gue kasih tahu ke orang tua Lo gimana kelakuan anaknya dulu."
Rina menggelengkan kepala sembari menunduk. Air matanya mulai beranak sungai tanpa bisa ditahan. Ia akui, kesalahannya dulu bukanlah keinginannya. Namun, keadaanlah yang memaksa dirinya.
"Aku mohon, jangan kasih tahu Ibu dan Ayah," pinta Rina.
"Makanya, cari uang yang bener!" sergah Dirga.
"Tapi--,"
"Engga usah tapi-tapian. Gue engga mau tahu Lo dapatin duit itu dari mana. Mau Lo jual diri 'kek gue juga bodo amet!" potong Dirga.
Tangan Rina mengepal. Ia ingin berteriak sekencangnya, akan tetapi rasa malu bersemayam dalam dirinya.
Adnan memincingkan mata. Berjalan cepat menghampiri mereka. Tanpa berkata satu pukulan mendarat tepat pada pipi kanan Dirga.
Sontak hal tersebut membuat Dirga tersungkur jatuh ke bawah. Sedangkan, Rina seketika menatap ke arah Adnan.
"Sialan! Siapa Lo? berani mukul gue?" berdiri kembali sambil memegang pipinya yang sakit.
"Dasar pengecut!" cemooh Adnan.
"Siapa yang Lo sebut pengecut, Sialan!" Bersiap memukul. Namun, Adnan lebih sigap dari dugaannya Adnan terhindar dari serangan yang Dirga lakukan.
"Sialan!" maki Dirga.
"Cuman seorang pecundang yang main kasar dengan perempuan!" tegas Adnan.
__ADS_1
"Apa mau Lo?" tanya Dirga. "Oh, jangan-jangan Lo salah satu penggemar si cewek sialan ini juga."
Adnan kembali bersiap memukul, akan tetapi Rina seketika berteriak.
"Tolong! Jangan bertengkar di sini!" teriaknya.
Adnan menurunkan tangannya kembali. Wajahnya memerah menahan lonjakan emosi dalam jiwa. Sedangkan, Dirga menatap tajam penuh amarah pada Adnan.
"Lo engga usah ikut campur. Ini urusan gue sama calon istri gue!" ingat Dirga.
"Engga ada calon suami yang bermain kasar kayak gini. Lo itu cuman pecundang! Gue engga peduli, Lo siapanya dia. Yang jelas gue paling benci liat lelaki macam Lo!" tunjuk Adnan.
Dirga semakin tersulut emosi. Rina terus menenangkan mereka. Ia tidak ingin kelakuan keduanya menarik perhatian lebih banyak orang.
"Tolong! Jangan bertengkar!" pinta Rina sekali lagi.
"Diem Lo! Gue engga terima bocah ingusan ini mukul gue!" sungut Dirga.
"Bisa engga, Lo engga usah kasar sama dia. Apa 'sih salah dia sama Lo?" sela Adnan.
Dirga tertawa sinis. Ia tidak peduli, jika saat ini hampir setengah orang di sekitar mereka tengah memperhatikan ketiganya.
"STOP!" Rina berteriak, lalu menatap tajam pada Dirga. "Cukup, Ga. Aku memang pernah melakukan kesalahan. Namun, itu semua bukan sepenuhnya keingananku. Kamu tahu sendiri, bahwa aku melakukannya demi ayahku. Apa sehina itukah aku di matamu, Ga? apa aku tidak boleh berubah setelah melakukan kesalahan? aku hanya ingin menjalani kehidupan normal seperti biasa. Meski, aku akui. Tidak mungkin ada lelaki yang menerimaku dengan keadaanku yang seperti ini ...."
Pelupuk mata Rina semakin banjir oleh cairan bening. Ia sudah tidak tahan dengan ucapan kasar Dirga selama ini. Ia hanya ingin hidup normal, akan tetapi Dirga mengunci dirinya dalam bayang-bayang masa lalu yang kelam.
"Oke! Gue lepasin Lo, tapi jangan harap hidup Lo bakal baik-baik aja. Lo tahu 'kan gue punya kartu as kehidupan Lo!" Tersenyum sinis.
Dirga beralih ke arah Adnan. Tangannya menepuk bahu Adnan seraya berkata, "Gue harap Lo suka barang bekas gue."
Adnan menoleh ke samping. Memperhatikan raut wajah Dirga yang seakan mengejek. Dirga masuk ke dalam mobil, lalu melaju kencang bergabung dengan kendaraan lain di jalanan yang licin selepas hujan.
Hening. Tidak ada percakapan antara Adnan dan Rina. Mereka masih hanyut dalam pikiran masing-masing.
Rina mulai tersadar. Ia tidak berani menatap pada Adnan. Rasa malu menyelimuti dirinya kali ini.
"Te-terima kasih," cicit Rina.
Adnan masih terdiam. Rina segera mengayunkan langkah kakinya bersama air mata yang semakin banjir. Tanpa ia sadari, Adnan sudah setengahnya mengetahui dirinya di masa lalu.
"Tunggu!" cegah Adnan.
__ADS_1
Rina berhenti. Adnan berjalan mendekati Rina. Adnan berniat mengantarkan Rina pulang. Namun, Rina menolak dengan halus.
"Percayalah, Kak. Aku hanya tidak ingin melihat wanita berjalan sambil menangis. Lagian ini sudah malam. Tidak baik anak gadis berjalan sendirian," jelas Adnan.
Rina akhirnya menerima tawaran Adnan. Meski, sebenarnya hatinya masih menumpuk rasa malu pada Adnan.
"Tempat tinggalku tidak jauh dari sini. Cukup berjalan melewati gang sempit ini, kita sudah sampai. Jadi, kamu tidak perlu mengantarku memakai mobilmu, '" ungkap Rina.
"Baiklah. Ayo, aku antar Kakak pulang!" ajak Adnan.
Rina mengangguk pelan. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam gang. Selama di perjalanan Rina memberi jarak dengan Adnan. Ia takut Adnan merasa jijik dengannya.
Selang lima menit, tibalah mereka di depan rumah kostan yang tidak mewah. Ada sekitar lima pintu berjejer yang disekat oleh pagar tembok setara dada Adnan.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang." Rina merogoh tas kecilnya, lalu mengeluarkan sebuah kunci.
"Apa Kakak baik-baik saja? maksudku, apa lelaki sialan itu tidak akan mengganggu Kakak lagi?" tanya Adnan.
Rina terdiam. Ia pun tidak tahu. Apakah Dirga benar-benar akan melepaskan dirinya. Yang ia tahu, ia sedikit lega saat bisa meluapkan emosi yang selama ini terpendam.
"Apa Kakak menyembunyikan sebuah rahasia? engga mungkin Kakak setakut ini pada lelaki sialan itu, kalau Kakak tidak punya rahasia yang diketahuinya?" desak Adnan.
Rina kembali menangis. Ia berjongkok sambil membenamkan wajahnya. Cukup lama Adnan membiarkan gadis tersebut dalam keadaan seperti itu. Ia pikir Rina hanya butuh bahu, untuk bersandar.
Rina mengangkat kepala, kemudian berdiri. Ia terlihat menarik napas dalam, lalu berkata, "Aku bukanlah seorang gadis lagi. Aku pernah melakukan kesalahan yang dilarang agamaku. Namun, aku terpaksa melakukannya demi ayahku. Aku wanita hina, dan Dirga mengetahui akan hal itu. Ia menyimpan bukti video kesalahanku."
...****************...
BERSAMBUNG~~~
BISMILLAH.
ASSALAMUALAIKUM...!
Maaf, Teman. Aku hanya ingin promosikan karyaku satu lagi. Mungkin kalian berkenan mampir. Aku tidak menjanjikan cerita yang bagus, karena pada dasarnya aku hanyalah penulis amatiran.
Semoga kalian suka. Aku harap, aku bisa memberikan tulisan yang bermanfaat.
Terima kasih🤗
__ADS_1