Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
S2 BAB 25


__ADS_3

~*Saat terluka, datanglah pada Sang pencipta. Hamparkan sajadahmu, menangislah sesukamu. Luapkan rasa sakit, lalu kembali bangkit menjalani hidup. Saat bahagia, ucapkan rasa syukurmu, agar Allah memberikan lebih dari yang sebelumnya.~


🌻🌻🌻* CietyAmeyzha 🌻🌻🌻


Zahra sejenak terdiam. Mengurai senyuman di balik untaian rasa sakit. Ia telah berjanji pada dirinya. Inilah terakhir ia menangis, karena seorang lelaki dingin bertitle Dosen itu.


"Aku tidak bisa membalas perasaannya, Paman. Seperti halnya yang paman lakukan padaku," jawab Zahra sekuat tenaga menahan volume air mata yang semakin banyak memaksa keluar.


Zahra menyeret langkahnya menjauh dari Egi. Cukup sudah perjalanan cintanya pada lelaki itu. Kini, ia memilih menjalani takdir Allah dengan ikhlas.


Egi tidak bergeming. Jemarinya seakan ingin meraih tangan mungil milik Zahra. Namun, lagi-lagi ada sesuatu di hatinya yang tidak mampu ia jelaskan.


"Maaf! Saya berharap kamu bahagia bersama lelaki pilihan orang tuamu. Maaf, karena saya tidak bisa merangkulmu," gumam Egi pelan sambil memandang punggung Zahra yang kian hilang seperti di telan bumi.


Sementara itu, di tempat yang berbeda Rina baru saja keluar dari ruangan rektor. Ia berjalan lesu penuh penyesalan. Mengapa dulu ia tidak berpikir sejauh ini? Nasi sudah berubah menjadi bubur. Terlebih ada alasan kuat yang mendasari akan hal itu.


Suara cemoohan terus terdengar mengiri langkah kaki terakhirnya di kampus. Banyak dari mereka menghina, bahkan berteriak dengan kata-kata kotor.


Ingin rasanya Rina meminta doraemon membawanya pergi dengan pintu ke mana saja-nya. Namun, itu hanya ada di sebuah kartun kesukaan anak-anak.


Sesekali ia mengusap pipinya yang basah. Tidak berapa lama terdengar suara hujan mengguyur semesta. Langit seakan turut bersedih, saat dua hati wanita tengah menangis di waktu yang sama.


Rina berhenti, matanya lekat memandangi hujan yang semakin lebat. Matanya terpejam menikmati aroma khas tanah yang tersentuh guyuran air.


"Masya Allah, sungguh indah keajaiban Allah. Hujan saja bisa menjadi pereda luka dalam diri," cicit Rina pelan.


Suasana kampus masih ramai. Banyak dari mereka yang tidak bisa pulang, karena terjebak hujan. Rina berjalan menyusuri lorong kampus bagian samping.


Lorong ini memang sedikit sepi. Mungkin sebagian penghuni kampus biasanya memadati kantin, untuk sekedar menikmati hujan sambil bercengkrama dengan yang lainnya.


Di ujung lorong, terlihat seorang lelaki tengah memukul lawannya. Rina mengamati dari kejauhan, lalu berlari saat sadar siapa mereka.

__ADS_1


"Lo memang lelaki brengsek." Adnan melayangkan bogem mentah di pipi Dirga.


Seketika Dirga tersungkur ke bawah membentur tembok. Hantaman dari Adnan terjadi tiba-tiba. Sehingga ia tidak bisa menghindar.


"Gue paling benci lelaki brengsek kaya Lo!" tunjuk Adnan.


Dirga menyunggingkan senyuman licik, kemudian beranjak berdiri sambil tangan kanan memegang pipinya yang sakit.


"Lo mau jadi pahlawan kesiangan, Bocah!" teriak Dirga. "Urus masalah Lo sendiri."


"Kalau gue engga tahu yang sebenarnya. Gue mungkin bakal diam, tapi ini beda ceritanya. Lo bukan cuman jual dia ke temen Lo, tapi Lo juga manfaatin kepercayaan orang tuanya."


"Terus apa hubungannya sama Lo? apa Lo sekarang pacarnya?"


"Gue bukan siapa-siapa dia, tapi gue orang yang paling benci lihat cewek disakitin sama cowok gila harta kaya Lo."


Pertikaian keduanya semakin memanas. Rina berlari sekencang mungkin. Ia tidak ingin Adnan tersandung masalah, hanya karena berkelahi dengan Dirga.


"STOP!" teriak Rina.


"Tolong, jangan bertengkar," pinta Rina.


Adnan melirik sekilas. Mengamati mata Rina yang sembab, karena menangis. Sedangkan Dirga memilih pergi begitu saja.


"Hei, gue pastikan Lo engga bisa lolos begitu saja dari semua ini!" hardik Ardan pada Dirga.


"Kalau Lo bisa buktiin ke rektor, kalau gue pengunggah video itu, ya silakan. Gue jamin, Lo engga bakal bisa. Gue lebih cerdik, dari yang Lo pikirkan," jawab Dirga.


Dirga berlalu meninggalkan Rina dan Adnan yang masih terkukung dalam zona kecanggungan. Dengan berani, Rina mengatakan pada Adnan, bahwa dirinya baik-baik saja. Ia juga berpesan, agar pemuda itu berhenti mencari masalah dengan Dirga.


"Aku melakukannya bukan semata-mata, karena Kakak. Namun, aku melakukan ini agar lelaki brengsek itu mendapatkan pelajaran dari perbuatannya," lontar Adnan.

__ADS_1


Adnan mengayunkan langkah menjauh dari Rina. Apa yang dikatakannya memang benar. Tidak peduli siapapun pelakunya, ia akan tetap menuntut keadilan berdiri tegak.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Hari semakin sore. Orang-orang bersiap menyambut hadirnya malam. Di rumahnya, Lisa tengah merawat suaminya yang tadi pagi mengeluh sakit.


Rendy tiba-tiba mengalami demam tinggi sejak semalam. Namun, ia tetap memaksakan ingin pergi ke kantor. Tentu, Lisa sebagai istri melarangnya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada suaminya.


Lisa yang khawatir akan kesehatan Rendy, segera meminta Dika datang untuk memeriksanya.


Setelah lima menit diperiksa. Dika menyarankan sahabatnya itu, untuk beristirahat. Rendy terlalu sibuk bekerja, sehingga ia lalai menjaga dirinya sendiri.


Dika pamit usai memeriksa Rendy. Sebelumnya ia berpesan pada Lisa, agar Rendy sejenak cuti dari perusahaan terlebih dahulu.


Saat Lisa menyampaikan pesan itu pada suaminya. Rendy hanya tersenyum kecil sambil berkata, "Kalau aku cuti, lalu siapa yang akan mengurus perusahaan. Rey pasti kewalahan menghandle semuanya."


Lisa sejenak berpikir. Ia harus menemukan solusi terbaik untuk masalahnya ini. Andai Adnan sudah dewasa. Sudah pasti anaknya yang akan menggantikan posisi Rendy.


"Bagaimana kalau kamu meminta Egi, untuk menggantikan posisiku sementara. Bukannya Papa dulu juga mengajarkan Egi soal bisnis? hanya saja ia malah memilih menjadi dosen," usul Rendy.


Lisa menimang usulan Rendy. Mungkin yang dikatakan suaminya itu ada benarnya. Egi, cocok menggantikan suaminya sementara, sambil menunggu Adnan beranjak dewasa.


"Insya Allah, aku akan membicarakannya nanti dengan Egi, Mas." Tersenyum manis.


"Terima kasih, Sayang."


"Untuk apa, Mas?"


"Untuk semuanya. Kamu sudah menemaniku dari dulu sampai sekarang. Cintamu padaku begitu tulus. Aku bersyukur dipertemukan deganmu saat itu."


Lisa kembali mengurai senyuman. Ada rasa bahagia mendengar semua itu. Selama pernikahaannya, tidak pernah sekalipun Rendy berbuat kasar. Sampai Adnan lahir, dan beranjak remaja. Suaminya tidak pernah berubah. Ia tetap romantis, dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Semoga Adnan dan Egi bisa memperlakukan istrinya kelak, seperti Mas Rendy memperlakukan aku. Semoga mereka bisa menemukan jodoh yang terbaik, juga bisa menjadi imam yang baik," gumam Lisa pelan saat memastikan suaminya sudah pergi berkelana ke alam mimpi.


"Aku juga berterima kasih untuk semuanya, Mas. Tetaplah jadi suami terbaik, sampai maut memisahkan kita berdua. Aku pun berdoa, semoga Allah menyatukan kembali aku, Mas, dan Mbak Kayla di akhir nanti," lanjut Lisa.


__ADS_2