
**Hallo, Readers!!
Maafin, Author ya yang ngegantungin ini ceritaπ.
Segerlah otak Author abis ngopi secangkir plus ngemil sepiring singkong goreng, ditambah cuacanya mendung-mendung syahdu( Yang ngiler, Author kagak tanggung jawab, yaππ)
Yuk, kita mulai ngehalu lagi**.
Mata Mona menatap tajam, Foto yang diberikan Rey sangat persis dengan anak laki-laki yang ia temui saat itu.
"Itu ...Darimana Kak Rey punya foto anak laki-laki itu?" tanya Mona penasaran.
"Kamu tidak mengenalnya sama sekali!" jawab Rey.
"Dia laki-laki yang dulu menolongku tapi, kok Kak Rey punya fotonya, atau jangan-jangan ...!" pikiran Mona berasumsi. Akankah ini sesuai dengan tebakannya, atau mungkin bukan.
"Jangan-jangan apa, Sayang?" potong Rey.
"Jangan-jangan laki-laki itu ...,"
"Dia adalah aku, Rey. Aku yang menjadi calon suami saat ini, aku laki-laki yang kamu anggap kekasih kecilmu," potong Rey.
Bola mata Mona membulat sempurna, ia hampir tidak percaya. Pengakuan ini terlalu mendadak, sekalipun Mona sudah pernah menduga kalau Rey adalah Dia. Namun ini tetaplah sangat mengejutkan.
"Benarkah!" seru Mona.
Rey mengangguk sembari tersenyum.
"Aku benar-benar bahagia, Kak Rey! Aku bukan hanya bisa bertemu dengan penolong kecilku lagi, melainkan impianku untuk menikah dengannya juga menjadi kenyataan." ungkap Mona.
Mona bahagia dengan spontan tangannya ingin memeluk Rey, akan tetapi sebelum tangan mungil itu sampai ketubuh kekasihnya Mona segera menjauhkan dirinya dari Rey.
"Lupa! Kita, kan belum sah heheheh," cicit Mona.
"Ah, Sayang! Kamu membuat aku terbang diatas awan, tapi tidak berapa lama kamu hempaskan aku kebawah lagi dengan harapan palsumu," gerutu Rey.
"Hahahaha. Nanti sehabis nikah, aku milik Kak Rey sepenuhnya," ucap Mona sembari tertawa pelan.
"Benar, ya! Kamu dilarang keluar kamar tujuh hari tujuh malam!" tegas Rey.
"Lah, mau ngapain kita selama itu dikamar? protes Mona.
Rey sedikit mendekat pada gadisnya, ia membisikkan sesuatu di telinga Mona. Rey berbisik, " Kita mau belah duren atuh, cantik!"
Mona mendorong tubuh Rey sekuat tenaga, sehingga laki-laki itu tersungkur ke tanah.
"Ih, Kak Rey mesum! Belum nikah aja ngomongnya belah duren, gimana kalau udah nikah!" ketus Mona.
__ADS_1
"Hahahaha. Kok mesum sih, Sayang. Aku, kan cuman ngajak belah duren doang." Rey bangkit dari jatuhnya, ia membersihkan pakaian dari tanah yang mengotorinya.
"Ya, kan belah duren itu ...," lirih Mona.
"Itu gimana? kamu kali yang pikirannya ngawur," goda Rey.
"Au, ah gelap!" kesal Mona..
"Makanya nyalain lampunya, Sayang kalau gelap," ledek Rey.
"Kak Rey!" teriak Mona.
Rey yang puas menjahili kekasihnya, hanya tertawa melihat mimik muka Mona yang merah menahan amarah.
Sepenggal cerita dimalam itu, tidak akan pernah terlupakan dalam hidup mereka. Dua sejoli yang disatukan kembali, setelah pertemuan pertama mereka dikala itu. Satu sama lain tidak pernah mengira, takdir membawa mereka sejauh ini. Hanya beribu rasa syukur yang mereka panjatkan, karena Allah memberi kesempatan kedua untuk mereka bersama lagi.
π·π·π·π·π·π·
Hari ini, tibalah saatnya Dira berangkat kembali ke Belanda, ia sudah menimbang-nimbang permintaan Papahnya malam itu.
Dira memilih melanjutkan kuliahnya di tanah air, ia ke negri kincir angin hanya untuk mengurus kepindahan dirinya. Lisa, Egi dan Rendy sudah sejak pagi tiba dirumah Pak Adrian, mereka akan mengantar adiknya ke bandara.
"Boy, kalian udah datang?" tanya Pak Adrian begitu melihat anak, menantu dan adik menantunya tiba dirumah.
"Iya, Pah." Rey segera mencium tangan Papahnya, disusul Lisa dan Egi.
"Egi, mending berkebun aja, Pah! Jalanan macet kalau jam segini," sahut Egi.
"Ok, tunggu Kak Dira berangkat kita ke halaman belakang,"
Egi tersenyum senang.
"Pah, Dira belum keluar kamar?" tanya Lisa.
"Belum. Tadi sih mau mandi katanya tapi, kok lama, ya!" jawab Pak Adrian.
"Biasalah, Pah. Anak gadis mandinya lama bisa berjam-jam," timpal Rendy.
"Tapi, aku engga pernah lama kalau mandi, Mas," lontar Lisa.
"Memang kamu masih gadis?" bisik Rendy membuat Lisa tersenyum malu.
Tidak lama kemudian, Dira keluar dengan hanya membawa tas gendong dibelakang. Dia tidak akan lama disana, begitu selesai pengurusan kepindahaannya Dira akan langsung meluncur pulang.
"Ayo, Kak! Penerbangannya sebentar lagi!" ajak Dira.
Dira kemudian mendekat pada Papahnya, diraihnya tangan yang mulai keriput dimakan usia. Dira mencium lembut telapak tangan Pak Adrian lalu berkata, " Aku pamit ya, Pah! Aku hanya sebentar, setelah urusan selesai aku akan segera pulang."
__ADS_1
"Iya, Nak. Hati-hati dijalan, jangan bawel sama Kak Dika, ya?" pesan Pak Adrian.
"Kak, hati-hati dijalan. Egi pasti kangen sama Kak Dira," timpal Egi dengan mimik muda sedih.
"Egi, Kak Dira cuman pergi sebentar. Kalau kamu sedih, nanti Kak Diranya jadi ikutan sedih, Dek!" tegur Lisa sembari membelai rambut Egi.
"Iya, Kak! Pah, Ayo kita berkebun," ajak Egi pada Pak Adrian.
"Sebentar ya, Papah antar Kak Dira dulu kedepan," sahut Pak Adrian.
Mereka berlima keluar dari rumah, diluar Mobil Dika baru saja sampai. Seperti rencana sebelumnya, Dika dan Dira akan berangkat bersama ke Belanda.
Sebenarnya Dira ingin membatalkan soal keberangkatannya dengan Dika, akan tetapi jauh-jauh hari Dika sudah memesan tiket pesawat mereka. Dira tidak enak hati, namun ia juga menjadi lebih canggung berdekatan dengan Dokter itu.
"Ren," sapa Dika.
"Eh, Lo udah sampai, Dik. Buruan masuk mobil gue, keburu ketinggalan pesawat!" perintah Rendy.
Setelah acara salam menyalam pada Pak Adrian, Dika segera masuk mobil disusul Dira di bangku belakang. Lisa dan Rendy berada dibangku depan, mereka hampir seperti amplop dan perangko yang tidak mau sedetikpun berpisah.
Perjalanan kali ini dipenuhi keheningan, Dira sama sekali tidak mengeluarkan celotehannya seperti biasa. Dika dengan tenangnya duduk sembari mengecek laporan dari rumah sakit melalui laptopnya.
Tiga puluh menit berlalu, sampailah mereka disalah satu bandara terbesar dikota sana. Sebenarnya Rendy bisa saja menyuruh Dika memakai jet pribadinya, hanya saja Dira bukanlah gadis yang manja. Dia lebih senang menaiki pesawat umum seperti halnya orang biasa.
Mereka turun bersama, Rendy menggenggam tangan istrinya. Sedangkan Dira dan Dika berjalan beriringan dibelakang dengan sedikit jarak.
Dari kejauhan teriakan seseorang menghentikan langkah mereka berempat. Dengan serempak mereka membalikkan badan menatap kearah datangnya suara.
"Dira!!! teriak Farhan yang juga baru sampai bandara, dia baru mendapatkan kabar bahwa Dira akan terbang ke Belanda pagi ini.
Farhan berlari kearah mereka, nafasnya tersenggal karena terlalu cepat berlari. Ia mengatur nafas terlebih dahulu kemudian berkata, " Dir, lo kok engga bilang ke gue kalau mau berangkat lagi. Gue kangen sama lo, bocah ingusan gue. Apa pengakuan gue belum cukup buat yakinin hati lo."
Rendy hendak maju dengan tangan mengepal, akan tetapi Lisa menahannya untuk tetap diam.
"Kakak tua! Darimana kakak tahu aku berangkat hari ini?" tanya Dira yang kaget melihat Farhan disana.
"Engga penting gue tahu darimana, yang terpenting gue bisa liat Lo dulu sebelum pergi ...," lirih Farhan.
Dira tidak tahu harus berbuat apa, ia sama sekali bingung dengan keadaannya saat ini. Terlebih disampingnya Dika dengan tenangnya melihat Farhan dengan mata seakan ingin menerkam.
"Tunggulah! Aku tidak akan lama, setelah kepulanganku ke tanah air. Kakak tua akan segera mendapatkan jawabanku," ucap Dira tanpa ragu.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Jangan lupa goyang jempolnya, Gaes!π€π
__ADS_1
Selamat membacaπ€π€π€