
Setelah melalui perdebatan yang cukup rumit, akhirnya Rey dan Mona memutuskan untuk pergi ke taman binatang.
Tibalah mereka di tempat yang di maksud, setelah mobil terparkir. Mereka segera membeli tiket dan masuk ke dalam.
Mona terlihat senang bisa melihat hewan-hewan yang ada. Rey setia mengikuti wanita itu kemanapun pergi.
Saat berada di tempat monyet, Mona tiba-tiba tertawa. Monyet itu tengah menikmati buah pisang dengan tenang.
"Kak Rey kalau sama monyet sebelas dua belas ya gantengnya." Ejek Mona.
"Sembarangan kamu. Masa saya di samain sama monyet." Rey mencubit sedikit hidung Mona.
"Hehehe. Abis kan kelakuannya aja sama, noh liat. Monyetnya tenang banget pas di kasih makan, sama kayak mulutnya kak Rey yang bisa diem ngegombalnya kalau pas makan doang." Mona tertawa pelan.
"Emang kamu engga suka saya gombalin? Kalau gitu saya gombalin cewek lain aja, masih banyak yang ngantri mau gantiin posisi kamu," goda Rey.
Muka Mona mendadak berubah menjadi cemberut, dia sangat kesal dengan ucapan Rey barusan. Beraninya Rey punya niat menggoda wanita lain.
"Huh. Tuh mulut kak Rey minta di tampol ya." Mona cemberut.
"Ya, kalau di tampolnya pake bibir mah. Saya mau banget, apalagi kalau boleh nambah. Ha ha ha ha," jawab Rey.
"Tenang, aku tampol nanti mulut kak Rey pake bibir panci kang somay,"
"Waduh jangan dong, sayang. Nanti kalau bibir saya jontor gimana? Saya engga tampan lagi! protes Rey.
"Biarin, biar kak Rey engga ganjen lagi sama cewek lain. Biar cewek-cewek ilfil sama kak Rey." Mona cemberut.
"Cie..cie.. Yang takut banget saya di gandeng cewek lain, cemburu ceritanya nih,"
"Ih, apaan sih kak Rey. Aku tuh engga cemburu tahu!" bantah Mona.
"Terus barusan apa?"
"Ya, aku sebel aja kalau ada cowok yang suka genit sama cewek-cewek. Kesannya gimana gitu ya,"
"Tenang, Adinda. Kakandamu ini tak kan mungkin bisa semudah itu berpindah ke lain hati,"
"Ya Allah, kumat lagi dah gombalnya,"
"Ha ha ha ha. Saya tuh seneng tahu kalau udah gombalin kamu, kaya ada manis-manisnya gitu," Ujar Rey meniru salah satu iklan air minum.
"Wk wk wk wk. Emang aku lee mineral, ada manis-manisnya segala." Mona memegang perutnya yang sakit karena, terus tertawa.
__ADS_1
Lelaki yang dia kencani saat ini, bukan hanya romantis tapi dia juga kocak abis. Lihat saja setiap percakapan mereka selalu mengundang tawa.
"Kamu mah bukan manis lagi, Sayang. Tapi kamu bagaikan Rendang sapi makanan khas minang yang bisa membuat saya ketagihan," puji Rey.
"Astagfirullah, tadi di samain sama air minum. Sekarang rendang sapi, entar aku di samain sama apa lagi, kak Rey." Mona menepuk jidatnya.
"Ha ha ha ha." Rey malah tertawa ngakak.
Semua orang memperhatikan mereka, dua sejoli yang terlihat bahagia hanya karena percakapan receh mereka.
Puas berkeliling, Mona mengajak Rey makan di pinggir jalan. Makanan kaki Lima lebih menggugah selera di banding restaurant mahal menurut Mona.
Rey yang sudah mengabdikan jiwa dan raganya untuk Mona, mengikuti langkah kaki wanita pujaannya itu.
"Kak Rey, kita makan mie ayam aja, ya," usul Mona begitu melihat tukang mie ayam.
"Ayo, asal jangan makan bareng ayam aja saya mah," jawab Rey sekenanya.
"Ya iya atuh, kak Rey. Mona juga mana mau makan bareng ayam mah, mending sama oppa korea aja. Oh babang Ji Chang Wook Mona kanget beut dah," Ucap Mona tanpa sadar membicarakan pria lain di hadapan Rey.
Rey mencubit hidung Mona untuk kedua kalinya, berani sekali menyebut nama lelaki lain di hadapan kekasihnya sendiri.
"Ih, sakit tahu.Apa-apaan sih, kak!" sungut Mona kesal.
"Awas aja, sekali lagi saya dengar kamu menyebut nama pacar-pacar halumu itu di hadapan saya. Saya bakar semua poster mereka di kamarmu!" ancam Rey.
"Di ancam gitu, baru nurut!"
"He he he. Ya udah, jangan debat mulu kita. Cacing di perut mona udah perang dunia ini,"
"Ya udah, ayo kita makan dulu. Kasian banget sih, Adindaku," Suara Rey di buat sedikit manja.
Mona ingin sekali muntah mendengar panggilan baru Rey padanya. Entah besok panggilan apalagi yang akan di sematkan Rey untuk dirinya. Biar itu menjadi rahasia Rey saja.
Mereka segera menghampiri penjual mie ayam, dengan ramah penjual itu melayani pesanan dua sejoli yang super kocak ini.
Perut sudah di isi, jalan-jalan sudah. Hari sudah mulai sore, Mona meminta Rey untuk mengantarnya pulang ke rumah.
Akan tetapi Rey malah mengajak Mona ke taman kota, di sana mereka duduk berdua beralaskan rumput. Sambil sesekali menyaksikan orang-orang berlalu lalang.
Mata Mona menangkap satu keluarga yang tengah asyik bermain bersama. Terlihat sang ayah berlarian dengan anak laki-lakinya yang kecil, sedangkan sang ibu dan anak perempuan mereka duduk menikmati angin yang bertiup menerbangkan dedaunan.
"Kak Rey," ujar Mona.
__ADS_1
"Iya, Sayang." Rey menjawab secepatnya.
"Apa menikah itu menyenangkan? mereka nampak bahagia sekali." Tunjuk Mona pada satu keluarga yang dari tadi dia perhatikan.
Rey mengikuti arah telunjuk tangan kanan Mona. Rey tersenyum seolah tahu tentang ketakutan hati kekasihnya ini.
"Di dunia ini semua hanyalah panggung sandiwara. Yang kamu lihat baik, belum tentu baik. Begitupun, yang kamu lihat buruk belum tentu buruk," jawab Rey.
Mona mengerutkan keningnya mencoba mencerna kata-kata lelaki yang biasa melawak ini.
"Maksud, kak Rey?" Mona tak paham.
"Kamu bertanya mengapa mereka nampak bahagia. Itulah, kehidupan. Terkadang kita hanya bisa menilai seseorang sejauh mata memandang tapi, kita tidak pernah tau apa yang mereka alami sebenarnya," tutur Rey.
Rey menatap lekat wajah Mona, tidak ada keraguan sekalipun bagi dirinya untuk segera mempersunting wanita ini.
"Jangan pernah takut dalam mengambil satu keputusan, kamu belum tau hal baru apa yang sedang menantimu. Meski, tak bisa di pungkiri, akan ada karang menghadang. Tapi, jika kamu yakin semua pasti akan terlewati dengan mudah," lanjut Rey.
Mona tampak terdiam, dia menelan bulat- bulat ucapan Rey. Mona akui, dia takut melangkah jauh bersama Rey. Mona takut jatuh terlalu dalam bila suatu hari kenyataan tak sesuai harapannya.
Tapi kini hatinya mulai bisa menentukan pilihan. Tak selamanya dia akan terus seperti ini.
"Kak Rey," panggil Mona.
"Iya, Sayang." Rey tersenyum.
"Aku mau menikah dengan kak Rey," ucap Mona pelan.
"Apa? Coba bilang sekali lagi, Sayang. Kamu mau apa?" Rey mencoba memastikan ketajaman pendengarannya.
"Aku ingin menikah sama kak Rey! teriak Mona yang hampir menyita perhatian setengah orang-orang di taman sana.
"Benarkah? Kamu engga lagi prank 'kan?"
Mona menggelengkan kepalanya, Rey tiba-tiba berdiri lalu berteriak.
"Emaaaaak ... Rey jadi kawin nih!" teriak Rey.
Semua mata tertuju pada mereka berdua tapi, mereka bersikap masa bodo. Memang cinta itu bisa bikin orang gila, lihat saja kelakuan dua mahluk bumi ini.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
__ADS_1
MOHON DUKUNGANNYA UNTUK AUTHOR DENGAN LIKE, COMENT DAN VOTE🤗🤗🤗
SELAMAT MEMBACA😍😍😍