Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
83


__ADS_3

Seperti yang sudah di janjikan Dika tadi pagi, malam ini Dika akan mengajak Dira pergi bersama. Pukul lima sore tadi Egi sudah dijemput Rey untuk pulang, sedangkan Dira memilih menunggu Dika menjemput.


Beruntungnya Dira selalu membawa pakaian ganti ke toko, takut sewaktu-waktu pakaian yang ia kenakan kotor, atau sekedar ia ingin membersihkan diri dulu sebelum pulang dari toko.


Selesai sholat magrib, mandi dan berganti pakaian sekaligus, Dira menunggu Dika di depan toko. Dika mengiriminya pesan singkat jika, ia akan menjemput Dira tepat pukul tujuh malam.


Dira setia menunggu Dika sembari memainkan ponselnya, ia tak menyadari sedari tadi Farhan sudah ada di sampingnya.


"Hei, Bocah ingusan!" panggil Farhan sembari berjalan ke arah Dira.


Dira yang hapal betul dengan sebutan menyebalkan itu, segera memofokuskan pandangannya pada Farhan.


"Aduh, ngapain lagi sih, Kakak tua!" seru Dira.


"Lo belum pulang?" tanya Farhan, matanya memperhatikan penampilan Dira yang sangat cantik dengan dress ungu di bawah lutut bercorak bunga.


"Keliatannya!" ketus Dira.


Tanpa di duga, Farhan menarik tangan Dira membuat wanita itu sedikit kaget kemudian berkata, " Lepasin! Apa-apan sih, Kak."


"Ikut gue!" perintahnya. " Gue mau ajak Lo jalan malam ini,"


"Engga! Aku sudah ada janji sama temanku," tolak Dira.


"Batalin janji Lo itu. Gue lebih penting daripada dia," sungut Farhan.


Dira melepaskan tangannya dari cengkaraman Farhan. Hatinya kesal setiap bertemu laki-laki menyebalkan ini, akan tetapi entah mengapa dia tidak pernah menolak dan selalu ada rasa nyaman saat bersama Farhan.


"Enak aja main batal-batalin. Memang Kakak siapanya aku, sampai aku harus membatalkan janjiku pada temanku sendiri!" kesal Dira.


Farhan lebih mendekatkan dirinya ke Dira, tubuh Dira bergetar. Dia masih ingat saat kejadian di villa waktu itu, jantungnya mulai berdetak tidak karuan.


Wajah Farhan terlalu dekat, mungkin bisa dikatakan sangat dekat. Dira hampir tidak bisa bernafas, mulutnya mengunci sendiri sulit terbuka.


"Gue! Lo mau tahu siapa gue," ucap Farhan dengan nafas berat.

__ADS_1


Tangan Dira ingin mendorong tubuh tegap Farhan, akan tetapi lagi-lagi ia tidak memiliki cukup tenaga untuk hal itu. Untung saja jalanan depan toko sedang sepi, Dira tidak bisa membayangkan jika jalanan ramai sudah pasti dia akan menjadi tontonan gratis orang yang berlalu lalang.


"Gue adalah calon suami Lo, inget itu!" tegas Farhan.


Bola mata Dira membesar, telinganya menajam. Dia dibuat tidak percaya dengan pengakuan Farhan barusan. Mana mungkin laki-laki ini adalah calon suami Dira, sedangkan mereka saja berpacaran pun tidak.


"Jangan mengklaim diri seseorang seenak Kakak. Kita tidak ada hubungan apa pun sehingga Kakak tua tidak berhak mengatakan jika, Kakak adalah calon suamiku," jawab Dira.


"Apa gue perlu membeli seribu tangkai bunga mawar buat, Lo? atau gue harus berjongkok lalu, meminta Lo jadi istri gue?" ucap Farhan matanya penuh ketegasan.


"Tidak perlu! Aku tidak membutuhkannya, karena aku juga tidak ingin ikut masuk ke dalam permainan Kakak yang gila itu,"


Farhan menatap lekat pada wanita di hadapannya, ia tidak tahu lagi harus menghadapi Dira. Ini sangat sulit, bahkan sangat sulit dari rumus matematika.


"Dir," panggil Farhan dengan suara lembut.


Dira menatap bola mata indah Farhan, ia menemukan pancaran keseriusan di manik mata laki-laki ini. Dira berusaha untuk tidak tertipu dengan tipu daya yang dirancang Farhan untuknya.


"Gue cinta sama, Lo! Gue tahu Lo pasti udah denger semua tentang gue dari Kakak Lo, gue ngerti Lo engga mau dengan laki-laki yang menurut Lo bejat," lontar Farhan.


Farhan meraih tangan Dira kembali, akan tetapi kali ini berbeda ia melakukannya dengan sangat lembut.


Dira terdiam membeku mulutnya ingin berkata tidak, akan tetapi ada apa dengan hatinya yang sangat senang dengan ucapan Farhan. Dia tidak bisa mengelak, kehadira Farhan ternyata membawa warna tersendiri di hidupnya.


Di tengah kebingungan Dira, Dika tiba-tiba datang menghampiri mereka. Dilepaskannya tangan Dira dari Farhan seraya berkata, " Dia milik gue."


Untuk kedua kalinya hati Dira dibuat terkejut dengan pengakuan konyol seseorang kembali. Matanya menatap tajam pada Dika yang baru saja sampai dan ada di tengah-tengah mereka.


"Hei, Dik. Kalau ngomong di jaga ya, Lo. Jelas-jelas Dira itu calon istri gue!" ucap Farhan, matanya mengeluarkan aura membunuh.


"Mulut Lo yang seharusnya dijaga, ngejar calon istri orang. Lo itu orang paling engga beretika dari dulu!" seru Dika, tangannya mengepal ingin sekali ia menghajar muka Farhan.


Dira tersadar dari lamunannya, ia menyaksikan kedua laki-laki ini saling beradu mulut. Pikirannya kalut, yang Dira inginkan saat ini adalah merebahkan badannya dikasur kesayangan miliknya.


"STOP!" teriak Dira, " aku engga ngerti jalan pikiran Kakak berdua, apa sih yang membuat kalian seenaknya mengklaim diri seseorang begitu saja. Aku bukan milik siapa pun."

__ADS_1


Kedua laki-laki itu memperhatikan Dira, mereka baru melihat kemarahan gadis kecil ini. Dira yang selalu ceria, tersenyum setiap saat kali ini memancarkan aura negatif dari tubuhnya.


"Dir, Lo harus percaya sama gue. Apa perlu sekarang juga gue berlutut di kaki Kakak Lo, untuk meminta izin menikahi Lo langsung." perkataan konyol itu lolos begitu saja dari pria yang akan mengingak usia tiga puluh tahun.


"Cukup, Kakak tua! Jangan berbicara lagi, sebaiknya Kakak pulang saja. Aku juga ingin pulang menenangkan pikiran," pinta Dira.


"Gue anter Lo pulang!" tawar Farhan.


"Dia pulang bareng gue," sela Dika.


"Lo diem aja, ya. Gue engga ngomong sama Lo." ucap Farhan sembari menunjuk Dika dengan jari telunjuk tangan kanannya.


"Aku pulang sama, Kak Dika. Sebaiknya Kakak tua segera pergi dari sini. Tidak ada lagi yang harus dibicarakan," ujar Dira. " Ayo, Kak Dika kita pulang."


Dira menarik tangan Dika menuju mobil Dika yang terparkir tepat di depan toko, dia ingin segera sampai rumah.


Farhan ingin sekali menarik Dira masuk ke dalam pelukannya, akan tetapi ia harus menahannya demi menghormati perkataan gadis itu.


Dika menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Dira yang menatap kosong ke arah luar. Sepertinya mereka batal pergi main malam ini, tidak mungkin bagi Dika untuk memaksa Dira dengan kondisinya sekarang.


Sesampainya di halaman rumah Rendy, Dira keluar mobil begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dika yang melihat itu segera menyusul Dira lalu, menarik tangannya hingga tubuh Dira berbalik menghadapnya.


"Gue engga bohong soal ucapan gue tadi, Dek," ujar Dika. " Gue cinta sama Lo dan niatnya malam ini, gue mau mengatakan perasaan gue sama Lo."


Dira tidak menjawab, ia memilih diam mendengarkan perkataan sahabat Kakaknya.


"Gue harap Lo bisa memikirkan matang-matang perasaan gue, gue bakal setia nunggu buat halalin Lo, sampai Lo lulus kuliah sekalipun," lanjur Dokter tampan itu.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Buat kalian baik itu team Farhan&Dira, atau pun team Dika&Dira. Harap membaca kisah ini sampai tamat nanti karena, kalau hanya setengah jalan kalian engga bakal tahu endingnya gadis imut ini bersanding dengan siapa🤗


Terimakasih atas semua dukungan baik itu like, coment, vote, atau pun rate 5. Semua itu sangat membantu untuk Author

__ADS_1


Peluk hangat dari Author😍😍


Selamat membaca😘😘


__ADS_2