
Dilain tempat, Dika dan Dira baru saja duduk dikursi penumpang pesawat. Dira memilih duduk dekat kaca, alasanya dia ingin melihat pemandangan langit dari sini.
Sejak kejadian tadi di bandara, tidak satupun dari mereka membuka mulut. Dira membisu seribu bahasa, sedangkan Dika berdiam tanpa bertanya.
Dika memasang sabuk pemangan dengan benar, Dira disampingnya sedikit kewalahan dengan macetnya benda satu itu. Dika yang melihatnya tanpa berkata apapun, segera menarik lalu memasangkannya pada Dira.
Dira diam, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia yang berani menjanjikan jawaban untuk Farhan, akan tetapi ia sulit melakukan itu pada Dika.
"Kalau Lo ngantuk, tidurlah!" seru Dika setelah selesai memasangkan sabuk pemangan.
"Ah, iya, Kak. Terimakasih bantuanny," sahut Dira sedikit canggung.
"Jangan seperti itu, Dek. Gue tahu Lo ngehindari gue gara-gara pengakuan gue waktu itu. Tapi Lo harus tahu, gue engga maksa Lo buat balas perasaan gue," ucap Dika dengan suara pelan, tidak ingin mengganggu penumpang yang lain.
Tidak berapa lama, suara pramugari terdengar lantang, "Bagi seluruh penumpang pesawat. Harap segera memakai sabuk pengaman, Dikarenakan pesawat akan segera Take Off,"
Dira masih saja diam, mulutnya terasa kaku, lidahnya berat berucap. Nafasnya mulai tak karuan, entah mengapa perkataan Dika menancap sempurna dihatinya.
Penerbangan mulai berjalan, perjalanan yang cukup memakan waktu hampir empat belas jam lamanya. Dira menghela nafas berat, sesak didada mulai terasa. Baginya Dika bukan hanya pigur seorang Kakak yang hebat, tapi juga seorang lelaki yang sempurna.
Bersama terbangnya pesawat, pikiran gadis itupun ikut terbang ke udara. Mengingat kembali momen menyebalkan bersama Farhan, tapi cukup mengesankan.
Laki-laki yang berusia hampir sama dengan Kakak kandungnya, Rendy. Memiliki daya tarik sendiri dihati Dira, caranya memang kasar. Namun, hatinya lembut seperti sutra.
Bagai buah simalakama, hati Dira bimbang. Ia harus mau menentukan satu dari dua laki-laki itu, tidak baik rasanya menggantungkan perasaan mereka berdua.
Biarlah diantara mereka terluka, itu lebih baik daripada terus berharap akan sesuatu yang tak jelas. Dira melirik ke arah Dika, mata lelaki itu terpejam. parasnya yang tampan, dengan hidung mancung dan sedikit janggut tipis membuat Dika terlihat seksi.
Dira segera menepis segala imajinasinya lalu berkata, " Kak, seperti halnya pada Kakak tua. Aku pun akan memberikan jawabanku setelah kepulanganku ke tanah air."
Dika memang sedikit tertidur, akan tetapi pendengarannya sangat tajam. Perlahan ia membuka mata, menatap dua bola mata indah milik Dira.
"Ya, gue tunggu jawaban, Lo. Tapi!" ujar Dika. "Gue juga engga akan maksa Lo. Gue seneng bisa mencintai Lo, Dek. Karena cinta tidak harus selalu memiliki."
Setiap kata yang keluar dari mulut Dika, seperti cambuk untuk Dira. Akankah dia melepas Dika demi Farhan? atau haruskah ia tidak memilih kedua laki-laki ini saja?.
__ADS_1
Setelah itu, tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Dua mahluk ini asyik dengan dirinya sendiri, tentu dengan pikirannya juga.
Dika sudah bertekad, apapun keputusan Dira. Ia harus tetap menghormatinya, mencintai gadis ini adalah anugrah bagi Dika. Tapi, kalau harus memaksanya untuk membalas perasaan, itu bukanlaha hal baik. Dika hanya ingin dicintai oleh orang yang mencintainya secara tulus, karena sesuatu yang tulus itu keluar dari hati.
π·π·π·π·π·
Sementar itu, Dion tengah mempersiapkan diri untuk menghadap presedirnya. Dengan berbekal sebuah surat, ia akan mengundurkan diri dari tempatnya bekerja.
Dion sudah memikirnya matang-matang, kecintaannya pada Lisa membuat mata hatinya tertutup. tekadnya sudah bulat, tidak ada kebahagian tanpa perjuangan.
Rey berjalan sendiri memasuki kantor, ia nampak segar dengan setelan jas berwarna cream. Dion yang melihat kehadiran Rey, segera berjalan mendekatinya.
"Pak," panggil Dion.
Rey membalikkan badan ke arah asal suara.
"Saya ingin bertemu Pak Rendy. Apa Beliau ada diruangannya?" tanya Dion dengan sopan.
"Pak Rendy baru datang nanti siang, ada keperluan yang mendesak. Jika saya boleh tahu, apa ada yang akan anda sampaikan pada Pak Presedir?" ucap Rey, matanya menangkap sesuatu yang janggal.
"Iya, Pak. Saya ada keperluan langsung dengan Beliau," sahut Dion, tangannya bersembunyi dibelakang dengan menggenggam erat sebuah surat.
Dion menatap punggung laki-laki yang tak lain kaki tangan presedirnya, senyum licik menghiasai bibir Dion. Ia seakan merencanakan sesuatu, yang akan membuat Rendy dan Rey terkejut.
Dion kembali ke ruangannya, di simpan kembali surat itu dalam lacinya. Otaknya terus berpikir akan rencana selanjutnya, setelah ia tidak terikat lagi dengan perusahaan ini.
"Lihat saja, kalian bakal tahu siapa sebenarnya Gue," gumam Dion.
π·π·π·π·π·π·
Setelah tragedi konyol soal kehamilan, Rendy mengantar Lisa ke rumah Papanya. Sedangkan ia kembali melanjutkan perjalanan ke kantor.
Rendy yang tergesa-gesa, segera menancap gas sekencang-kencangnya. Ia harus berada dikantor tepat satu jam sebelum pertemuan dengan klien baru.
Mobil melaju kencang, membawa Rendy ke tempat tujuan. Hampir lima belas menit jarak yang ia tempuh, mobil Rendy sudah terparkir manis di parkiran.
__ADS_1
Rendy berjalan dengan tenang masuk melewati pintu utama, semua karyawan mengangguk hormat menyambut kedatangan bos besarnya.
Dion yang baru saja keluar dari lift, melihat sosok yang ia nantikan. Dion berjalan menghampiri Rendy lalu berkata, " Siang, Pak. Apa anda punya waktu sebentar. Saya ada keperluan sebentar dengan Anda."
Rendy melirik sekilas, ia melihat lawan sekaligus karyawannya berbicara sopan. Rendy berkata, " Datang saja ke ruangan saya."
Rendy masuk kedalam Lift, ia tidak ingin banyak berinteraksi dengan Dion. Sedangkan Dion menyeringai penuh kelicikan, ia segera keruangannya untuk membawa amplop berisi surat cintanya untuk perusahaan.
Rendy baru saja tiba di ruangan, ia mendaratkan bokongnya dikursi. Setelah acara konsultasinya dengan Dokter Tania tadi, Rendy lebih posesif pada Lisa. Dia takut, Lisa melahirkan prematur.
Suara ketukan membuyarkan lamunannya, Rendy segera membuka mulut, "Masuklah."
Dion berjalan memasuki ruangan Rendy, tatapannya tajam pada laki-laki dihadapannya.
"Ada perlu apa?" tanya Rendy.
"Saya ingin memberikan ini." Dion menyodorkan amplop berisi surat pada Rendy.
"Apa ini?" Rendy mengambil amplop itu dari tangan Dion, membukanya lalu membaca isi surat di dalamnya. Rendy berkata,
" Pengunduran Diri! Anda ingin keluar dari perusahaan saya?"
"Iya!" jawab Dion tegas.
"Apa yang membuat anda memutuskan mengundurkan diri?" Rendy meletakkan begitu saja surat itu di atas meja.
"Saya tidak bisa membicarakannya, karena ini terlalu pribadi. Saya sudah memutuskan untuk keluar dari perusahaan anda." suara Dion sedikit meninggi, menandakan ada emosi yang ikut keluar.
Rendy menatap tajam pada Dion, menelusup masuk ke celah mata lelaki ini. Ia tidak menangkap sesuatu kebohongan, tapi mengapa Rendy merasakan sesuatu yany besar tersimpan dibalik mata itu.
"Apakah ini semua karena istri saya?" ucap Rendy.
...****************...
Bersambung~~~
__ADS_1
Mohon bantuan dukungannya dengan like, coment, vote dan rate 5
Selamat membacaβ