Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
S2 BAB 11


__ADS_3

Dua hari setelah itu, Egi masih sama seperti biasanya. Ia akan pergi ke kempus untuk mengajar.


Pagi ini, cuaca sangatlah cerah. Egi berjalan menyusuri koridor kampus dengan tenang. Ia memiliki dua kelas hari ini.


Lelaki itu terkenal disiplin. Bukan hanya pada muridnya, akan tetapi pada dirinya sendiri pun sama. Ia akan pulang, dan berangkat sesuai jadwal yang sudah disusun.


Hari ini kelas terasa gaduh. Zahra dan si kembar sudah duduk manis di bangku masing-masing.


Se-sekali si kembar mencoba menjaili Zahra yang sedang pokus membaca. Mereka juga berusaha menggoda Zahra dengan cemilan yang selalu setia ada di tas keduanya.


Zahra tidak peduli. Ia tetap membaca. Dalam pikirannya bahwa ia harus bisa lulus, dan membanggakan kedua orang tuanya.


Si kembar tetap tidak menyerah. Keduanya mengarahkan segala ide demi menggoyahkan pertahanan gadis berjilbab coklat itu.


"Diam! Aku lagi engga mau bercanda!" bentak Zahra.


Gadis itu mulai jengkel. Ia kembali pokus pada lembaran buku dihadapannya.


"Ki, Zahra tumben engga mau digoda," ujae Riko.


"Mungkin dia lelah," balas Riki.


Dari luar terdengar suara sepatu yang beradu dengan lantai. Langkah kaki seorang dosen yang mereka tunggu.


Egi masuk mengucapkan salam. Serentak para mahasiswa dan mahasiswi membalas salamnya.


Suasana menjadi hening. Kegaduhan tadi sirna begitu saja. Suara tertawa yang menggema langsung meredup, lalu hilang perlahan terbawa angin.


"Mari, kita mulai kelas hari ini," cakap Egi.


Egi menyebut satu per satu nama siswa dan siswi. Ia ingin memastikan berapa banyak murid yang mengikuti kelasnya.


"Rina Selvina," panggil Egi.


"Hadir." Gadis berkerudung merah menjawab.


Egi sejenak terdiam. Ia mengangkat kepala, lalu memperhatikan wajah mahasiswi yang tangannya masih terangkat ke atas.


Gadis itu tersenyum kecil. Ia seakan memberi isyarat bahwa saat ini doanya sudah terkabul. Egi kembali pokus pada buku absen.


Zahra yang berada di dua bangku paling depan memperhatikan pandangan mata sang dosen. Ia membalikkan badan, untuk melihat objek yang membuat lelaki es itu sedikit terusik.


Matanya mendapati gadis manis yang masih setia menatap Egi. Membuat pikiran Zahra bertanya-tanya.


"Ada hubungan apa paman dengan wanita itu," gumamnya pelan.


Egi mulai menerangkan materi. Ia tidak suka menunda waktu.

__ADS_1


"Jadi, apa kalian sudah bisa mengerti?" tanya Egi.


"Iya, Pak Dosen," jawab mereka serentak.


"Baiklah. Saya akan memberikan tugas untuk minggu depan. Saya harap tidak ada yang mencontek satu sama lain. Kalian sudah tahu betul 'kan akibatnya," tutur Egi.


Semua siswa dan siswi menjawab iya. Egi menerangkan kembali tugas yang harus muridnya kerjakan.


"Kalau begitu, saya tutup kelas kita hari ini. Jangan lupa mengumpulkan tugas di pertemuan selanjutnya. Assalamualaikum." Menutup buku besarnya, lalu menyimpan kembali dalam tas.


"Waalaikumsalam." Serentak murid menjawab.


Satu per satu siswa dan siswi berhamburan keluar. Mereka ingin segera menghirup napas bebas. Ketegangan setiap kelas yang Egi pimpin. Membuat hampir seluruh muridnya sulit, untuk sekedar bernapas.


Sementara itu, Egi masih berdiri memegang gawainya. Ia tengah membalas pesan sang kakak yang memintanya pulang lebih awal.


Gadis bernama Rina menghampiri Egi, lalu berkata, "Pak Dosen."


Suaranya yang lembut mengusik telinga Egi. Ia mengangkat kepala, lalu berkata, "Iya, ada yang bisa saya bantu?"


Senyuman manis kembali mengembang di bibir Rina. Gadis itu terlihat bahagia bisa melihat kembali sosok lelaki yang pernah menolongnya.


"Saya tidak menyangka bahwa Anda adalah dosen di kampus ini," cakap Rina.


"Ya, saya juga sedikit kaget melihatmu barusan," balas Egi.


"Terima kasih untuk yang waktu itu. Kalau Pak Dosen tidak ada. Saya mungkin--,"


Egi hendak melangkah. Namun, Rina mencegahnya.


"Ada apa?" tanya Egi.


"Begini, bisakah Anda memaafkan soal perlakuan Dirga saat di rumah sakit. Saya yakin dia hanya sedang khawatir. Makanya, ia berkata kasar pada Anda," ungkap Rina.


"Saya sudah melupakannya. Saya harap kamu baik-baik saja dengannya." Melangkah maju menjauh dari Rina.


"Tunggu! Apa Anda bisa merahasiakan soal perlakuan kasar Dirga pada saya. Saya tidak ingin seluruh kampus tahu. Dia akan marah pada saya," pinta Rina.


"Kenapa?" tanya Egi.


Rina tidak bergeming. Mulutnya mengunci begitu saja. Suasana kelas yang sudah kosong semakin membuatnya terdiam.


Egi kembali melangkah. Baginya, pantang untuk mencampuri urusan orang lain terlalu dalam. Sama hal dengan dirinya yang tidak ingin orang lain terlalu ikut campur masalah pribadinya.


"Suatu saat Anda pasti akan mengerti. Saya tidak pernah mengatakan hal yang bersipat pribadi pada orang lain. Namun, bersama Anda saya merasa tidak bisa berbohong!" beber Rina.


Egi hanya mendengarkan tanpa menjawab. Ia memilih melenglang keluar kelas. Tiba-tiba saja dirinya menabrak seseorang yang tengah bersembunyi di balik pintu.

__ADS_1


Orang itu mengigit bibir bawahnya. Ia merasa gugup, karena ketahuan dosennya sendiri.


"Maaf," cicit Zahra.


Egi menatap tajam pada Zahra bagai pedang siap menancap sasarannya.


"Apa kamu sedang menguping?" tanya Egi.


Zahra gelagapan. Ia seperti maling yang ketahuan mencuri. Tangannya mengenggam erat menandakan rasa gugup tengah melanda dirinya.


"Bu-bukan begitu Paman," bantah Zahra.


"Lalu seperti apa?" desak Egi.


"Begini, ponsel-ku tertinggal di dalam kelas. Saat aku ingin masuk. Aku melihat paman sedang berbicara dengan gadis itu. Jadi, aku menunggu paman selesai," jelas Zahra.


Egi masih saja mengamati gadis yang tengah berbicara dengannya. Matanya menerobos masuk mencari kebenaran di pelupuk mata Zahra.


"Paman, aku tidak berbohong. Aku benar-benar ingin mengambil ponselku saja ...," lirih Zahra.


"Ambillah!" perintah Egi.


"Eh!" sahut Zahra.


"Cepat ambil ponselmu. Apa kamu ingin terus di sini seharian!" tegur Egi.


"Ah, iya Paman." Melangkah maju ke depan.


Baru saja dua langkah, kaki Zahra tergelincir. Egi dengan sigap menangkap pinggang Zahra dengan satu tangan.


Kini posisi Egi seperti sedang memeluk Zahra. Mereka sesaat terdiam sampai suara orang berjalan menarik keduanya dari lamunan.


Rina baru saja keluar dari kelas. Ia menyaksikan langsung saat tangan kekar milik Egi merangkul Zahra dengan cepat.


"Maaf, saya tidak tahu jika ada orang lain di luar." Menunduduk sambil meneruskan perjalananya untuk pulang.


Sementara itu, Zahra dan Egi masih diam di posisi masing-masing. Keduanya seakan sama-sama kaget akan kejadian barusan. Dengan cepat Egi melepaskan rangkulannya.


"Saya tidak berniat menyentuhmu. Kamu selalu membuat saya takut. Bisakah kamu berjalan dengan benar sekali saja saat bersama saya!" lontar Egi.


Egi kembali menggiring kakinya untuk meninggalkan kelas. Sudah dua kali ia harus merangkul pinggang milik Zahra, karena keteledoran sang empunya.


"Paman, apa wanita tadi orang yang paman sukai?" tanya Zahra mendadak.


...****************...


BERSAMBUNG~~~

__ADS_1


Terima kasih yang sudah berkenan membaca sampai sejauh ini🤗


Jangan lupa like, coment dan vote😘


__ADS_2