Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
89


__ADS_3

pagi datang menyapa jutaan manusia di bumi, hari baru telah tiba untuk memulai sebuah cerita. Bagai sebuah kertas yang kosong, semua orang memegang pena untuk menulis ceritanya di hari ini.


Hari weekend, hari yang menyenangkan untuk semua orang. Bagi para pekerja kantoran, hari ini adalah hari bebas untuk berkelana. Melepas penat selama beberapa hari berkutat dengan perkerjaan, membuang rasa jenuh dengan setumpuk tugas yang beranak pinak.


Hari ini Rendy dan Lisa akan kencan berdua, menikmati waktu bersama sebelum sibuk mengurus si buah hati nanti.


Lisa nampak cantik dengan setelan baju selutut dan rok panjang, tidak luput jilbab segitiga menutup dada. Ia segera meraih tas kecil untuk mempermanis penampilannya.


"Sayang, sudah siap?" tanya Rendy begitu masuk ke dalam kamar.


Rendy selalu kagum dengan kecantikan yang terpancar dari istrinya, seakan tidak pernah redup di telan waktu.


Rendy mendekati Lisa, memeluk wanita itu dari belakang melihat pantulan mereka berdua di depan cermin lalu berkata, " Kamu cantik, Sayang."


Lisa tersipu malu, wajahnya merah merona seperti remaja yang baru mengenal cinta. Sudah setahun lebih pernikahaan mereka, akan tetapi Lisa tetap malu jika dipandang Rendy.


"Sudah jam sembilan lewat, Mas. Ayo, kita berangkat?" ajak Lisa mengalihkan rasa malunya.


"Tapi, cium aku dulu," pinta Rendy.


"Ih, Mas genit,"


"Ayolah, Sayang sekali saja," rengek Rendy.


"Baiklah. Tapi, Mas tutup mata dulu,"


"Kenapa harus tutup mata, Sayang?"


"Ini ciuman spesial," ujar Lisa pelan.


"Wah, pasti sangat menyenangkan. Baiklah, aku akan menutup mata." Rendy menutup matanya bersiap menerima ciuman spesial yang Lisa janjikan.


Perlahan Lisa melepaskan tangan Rendy dari pinggangnya, dengan hati-hati ia bergerak menjauh dari Rendy lalu berkata, " Mas, ciuman spesialnya di pending tahun depan aja, ya."


Lisa langsung berjalan cepat tapi, tidak berlari sembari tertawa pelan. Rendy yang mendengar hal itu segera membuka matanya, ia tidak marah sama sekali.


"Dia memang lucu, dulu pemalu sekarang sudah berani bercanda," gumam Rendy.


Rendy segera menyusul sang istri keluar, mereka akan menghabiskan waktu hari ini. Rencannya mereka akan berkeliling mall membeli kebutuhan rumah, sekaligus mencuci mata.


Dalam perjalanan Lisa asyik bermain game di ponsel, ia ketularan suaminya yang dulu sempat gila pada game. Hingga tibalah mereka di sebuah mall terbesar di kota itu, Rendy keluar terlebih dahulu, kemudian membukaan pintu untuk istrinya.


Mereka melenglang masuk ke dalam tempat perbelanjaan termegah, Rendy memang seorang presedir. Namun Dia menolak halus untuk diperlakukan spesial dimana saja, ia hanya ingin hidup normal tanpa batasan seperti orang lain.


"Mas, kita main ke pusat game, yuk?" tanya Lisa.

__ADS_1


"Baiklah, hari ini aku milikmu," jawabnya.


"Ih, Mas apaan sih!" ketus Lisa.


Rendy hanya tertawa lalu, menggandeng tangan istrinya menuju tempat permainan.


"Wah, banyak sekali permainannya. Aku ingin mencoba semuanya!" seru Lisa begitu melihat berbagai permainan.


"Boleh, asalkan kamu tidak bolek kelelahan. Ingat! Di perutmu ada seorang anak!" tegas Rendy.


"Iya, Mas. Aku hanya akan mencoba beberapa saja kalau begitu,"


"Good grils, kamu memang penurut." Rendy menarik pelan hidung mancung sang istri.


Mereka berjalan masuk ke dalam arena permainan, setelah memberi beberapa koin mulailah mereka berkelana menjelajahi satu demi satu permainan yang tersedia.


Rendy dengan setia dan sigap mengdampingi sang istri, rona penuh kebahagian terpancar dari wajah Lisa. Rendy menaikkan sudut bibirnya membentuk senyuman melihat tawa bahagia Lisa.


"Aku harap kamu selalu bahagia, dan aku ingin menjadi orang yang selalu membahagiakanmu, Lisa wijaya kusuma," batin Rendy.


Puas mencoba satu per satu, Lisa mulai kelelahan ia duduk di kursi panjang yang disediakan pihak pengelola mall.


Rendy memberikan botol air minum seraya berkata, " Minumlah, Sayang. Sudah cukup sampai sini, ya. kamu akan kelelahan jika, terus bermain."


Lisa menganggukkan kepala sambil menerima botol minum dari suaminya. Rasanya ia kembali seperti anak kecil, tidak ada beban apa pun yang harus ditanggung.


"Mas," panggil Lisa.


"Apa, Sayang?" sahut Rendy.


"Aku ingin es cream rasa coklat, sama seperti anak kecil itu," tunjuk Lisa pada anak yang ia maksud.


"Baiklah. Ayo, kita membelinya," ajak Rendy.


Mereka berdua segera mencari kedai penjual es cream. Setelah mendapatkannya, mereka berdua menghampiri tukang penjual tersebut.


"Mas, tolong es cream coklatnya dua," ujar Rendy pada penjual es cream.


"Maaf, Mas. Rasa coklat sudah habis," jawab penjual es cream.


"Sayang, kamu mau rasa apa selain coklat? tanya Rendy pada istrinya.


"Aku maunya coklat, Mas. Engga mau yang lain," lirih Lisa.


"Tapi, rasa coklat sudah habis,"

__ADS_1


"Pokoknya aku mau yang rasa coklat!" tegas Lisa.


Rendy meremas tangannya di bawah, ia harus menyetok rasa sabar kalau bisa satu gunung. Kehamilan Lisa membuat sifat istrinya tidak terkontrol, bahkan Lisa tiba-tiba menangis hanya karena keduluan bangun dari Rendy. Sampai-sampai Rendy sering berpura-pura tidur untuk sekedar menunggu Lisa bangun terlebih dahulu.


"Kamu tunggu di bangku pojok sana, aku akan mencari es cream pesananmu. Ok!" kata Rendy.


"Baiklah, Mas," sahut Lisa.


Rendy menuntun Lisa untuk duduk di bangku panjang, sedangkan ia bergegas mencari pesanan sang istri.


Rendy berkeliling mulai dari lantai atas sampai lantai bawah, ia sudah hampir prustasi mencari keberadaan penjual es cream.


Mata Rendy melihat kedai es cream di pojok belakang, dengan hati bergembira ia segera menghampiri sang penjual es cream. Berharap ini adalah akhir dari pencariannya.


"Mas, tolong es creamnya satu rasa coklat," pesan Rendy pada bapak penjual es cream.


"Maaf, Mas habis. Ini ada satu untuk si kecil yang sudah menunggu," tunjuk penjual es cream pada anak wanita berumur lima tahun dengan seorang ibu muda.


Rendy menghela nafas kasar, ia tidak mungkin mencari terlalu lama. Ide gila muncul di kepala Rendy, ia akan menurunkan harga dirinya demi sebuah es cream.


"Maaf, Mba. Apa boleh es cream yang ini untuk saya?" tanya Rendy sopan.


"Engga bisa dong, Mas. Kan, anak saya yang antri duluan," ujar si ibu dengan nada sinisnya.


"Begini, Mba. Istri saya sedang mengandung, ia menginginkan es cream rasa coklat. Tapi, saya sudah mencari ke berbagai penjual es cream sudah habis terjual. Tolong saya!" beber Rendy.


Dia tidak peduli akan harga dirinya yang tak pernah mengemis pada orang lain, semua ia lakukan demi senyum bahagia Lisa.


"Mah, aku engga apa-apa kok. Aku mau rasa strobery saja, biar yang coklat untuk om ini," ucap anak kecil lucu itu pada Mamahnya.


Rendy berjongkok tepat di hadapan sang anak, ia mencubit pelan pipi mungilnya seraya berkata, " Terimakasih, Sayang. Om doakan kamu menjadi anak yang hebat suatu saat ini."


Anak itu memberikan senyuman manisnya, akhirnya setelah sedikit perdebatan Rendy mendapatkan yang ia inginkan.


Rendy segera membawa es cream pesanan Lisa, ia berharap sang istri akan senang.


"Ini, makanlah!" ucap Rendy menyodorkan es cream rasa coklat pada Lisa.


Lisa menatap pada suaminya seraya berkata, "Aku udah engga mau, Mas. Itu buat Mas saja."


Rendy menghela nafas kasar, wajahnya lesu. Setelah perjalanannya mencarikan es cream coklat untuk istrinya, Lisa malah tidak ingin memakannya. Sepertinya drama kehamilan masih sangat panjang, ia harus menyiapkan mental dan stok sabar setiap menerima keinginan istrinya yang berubah-ubah.


"Sabar, Tong. Mending makan es cream, biar otak segar," batin Rendy.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG~~~


Jangan lupa dukungannya ya, Say😉✌


__ADS_2