Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
59


__ADS_3

Malam itu setelah Egi menangis histeris, dia kemudian tertidur karena lelah. Lisa masih setia mendampingi adiknya.


Lisa mengelus lembut pucuk kepala Egi. Lisa berharap Egi sanggup menerima garis takdir yang sudah allah tentukan.


"Dek, tidur yang nyenyak. Saat bangun nanti, tetaplah tersenyum karena hidup harus terus berjalan." Ucap Lisa mencium kening Egi lalu, pergi meninggalkan Egi di kamarnya.


Rendy sudah duluan pergi ke kamar karena, tak kuat mendengar jerit tangis kesedihan adik iparnya itu.


Lisa membuka pintu kamar, terlihat suaminya tengah duduk dengan kaki lurus dan punggung bersender di kasur.


Lisa segera mengganti pakaiannya dengan piyama pendek dan membiarkan rambutnya tergerai begitu saja.


Dia tak ingin terlalu larut dalam kesedihan Egi, karena Lisa sadar dia harus bisa memposisikan dirinya dalam setiap keadaan.


"Mas, belum tidur?" Sapa Lisa menghampiri suaminya lalu ikut duduk di samping Rendy.


"Belum, sayang." Jawab Rendy pura-pura tak mengetahui kejadian barusan.


"Sudah malam, tidak baik jika terus bergadang. Lebih baik mas segera tidur." Lisa tersenyum.


Rendy mendekatkan dirinya pada Lisa, memeluk istrinya itu dengan mesra.


"Mas, belum ngantuk." Jawab Rendy lirih.


Rendy sangat rindu dengan pelukan ini, pelukan yang sama hangatnya dengan yang di berikan mamahnya dulu.


"Oh ya, sayang. Mas dulu pernah janji akan membukakan kamu toko bunga. Besok kita pergi ke tokonya, ya?" Ujar Rendy


Lisa tersenyum, dia tak menyangka suaminya masih mengingat janji yang bahkan dia pun sudah melupakannya.


Ada perasaan bahagia dalam diri Lisa, Rendy memperlakukannya bagai seorang putri. Suaminya oun tak pernah bermain kasar pada Lisa. Betapa beruntungnya Lisa.


"Iya, mas. Memang tokonya sudah siap mas?" Tanya Lisa.


"Sudah, sayang. Rey yang memberaskan semuanya. Jadi besok kamu sudah mulai buka toko " Rendy mencubit sedikit hidung mancung milik Lisa.


"Sayang, kamu masih ingatkan soal ucapanku tadi di mobil?" Rendy mengedipkan mata kanannya.


"Soal apa, mas?" Lisa lupa perkataan Rendy yang mana yang suaminya maksud.


"Soal, aku menginginkan malam yang bergairah denganmu." Rendy berbisik di telinga Lisa.


Lisa tersipu malu, dia baru ingat kejadian di mobil tadi. Pipinya merah merona, dia juga menginginkannya. Hanya saja, dia tak punya nyali untuk memulainya.

__ADS_1


"Kamu milikku, sayang. Bahkan sekalipun dalam mimpi, aku tak kan membiarkan seekor kecoa pun memiliki kamu," ucap Rendy segera mencium bibir ranum istrinya.


Rendy yang sudah di penuhi nafsu tak bisa menahannya lagi. Malam itu dua insan saling menikmati permainan yang mereka ciptakan sendiri.


Suasana malam yang hening, rembulan yang bersinar terang menjadi saksi bisu pergulatan mesra kedua insan manusia yang sudah halal.


...****************...


Udara subuh yang dingin mampu menusuk ke dalam kulit, Suara lantunan adzan dari setiap masjid berkumandang bagaikan saling bersautan.


Rendy membuka matanya perlahan, di lihat istrinya masih tertidur karena lelah. Rendy tersenyum kecil, dia senang telah memiliki sepenuhnya wanita di sampingnya ini. Rendy berharap allah segera menitipkannya seorang anak dari rahim Lisa.


Usianya yang sudah menginjak 31 tahun, sudah semestinya menimbang bayi. Rendy sudah membayangkan, betapa ramainya rumah ingin dengan tangisan si kecil.


Lisa menggeliat, perlahan membuka mata. Rendy tersenyum padanya. Masih teringat jelas bagaimana suaminya ini sangat berhasrat padanya.


"Mas, sudah bangun?" Tanya Lisa.


"Iya, sayang. Sudah waktuny sholat subuh, ayo kita mandi," ajak Rendy.


Lisa terdiam, dia tak mau mandi bareng dengan Rendy. Bisa-bisa Rendy akan melakukannya lagi. Sudah pasti waktu subuh akan terlambat.


"Kamu tenang saja, aku sudah kenyang," ucap Rendy seakan tahu betul ketakutan Lisa.


Lisa malu, mengapa bisa lelaki ini selalu tahu isi hatinya. Apakah suaminya ini seorang paranormal?.


Selesai mandi dan sholat, Lisa segera ke dapur membuat sarapan. Sedangkan Rendy, pergi ke kamar Egi untuk membangunkannya.


Lisa membuat nasi goreng seafod untuk menu sarapan pagi ini. Lisa juga membuatkan secangkir kopi untuk Rendy dan, segelas susu untuk Egi.


Rendy nampak berjalan turun bersama Egi, wajah Egi sudah tak sesedih semalam meski masih ada sisa-sisa air mata di pipinya.


"Ayo, kita sarapan dulu." Lisa mengambilkan masing-masing satu piring nasi goreng pada mereka.


"Iya, kak."


"Iya, sayang."


Mereka menjawab serentak, Tak ada lagi percakapan apapun di meja makan. Mereka menikmati menu sarapan kali ini.


Setelah selesai makan, Lisa membawa piring kotor ke belakang. Lisa hendak mencucinya tapi, dia lupa sesuatu ada yang ingin dia bicarakan dengan suaminya sebelum berangkat.


Lisa segera bergabung dengan Rendy dan Egi di ruangan keluarga. Egi nampak mulai nyaman dan akrab dengan kakak iparnya itu.

__ADS_1


"Mas." Sapa Lisa.


Rendy menoleh ke arah istrinya.


"Ada apa, sayang?" Jawab Rendy.


"Mas, saya mau izin keluar. Aku berniat mengunjungi makam kedua orang tuaku bersama Egi."


"Baiklah. Biar mang Rudi mengantarmu."


"Terimakasih, mas.." Lisa bahagia.


Lima belas menit kemudian Rey datang menjemput bosnya, Rendy berpamitan pada istri dan adik iparnya.


Lisa mengantarkan Rendy sampai ke mobil lalu, setelah melihat mobil suaminya berlalu. Lisa dan Egi segera bersiap-siap pergi ke makam orang tua mereka.


Di dalam mobil yang di kendarai mang Rudi, Egi terlihat melamun. Dia sudah ingin cepat-cepat sampai tempat pemakaman.


Dia ingin melihat tempat peristirahatan terakhir orang tuanya, Lisa dengan setia menggenggam tangan adiknya.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama. Tibalah mereka di pemakaman umum biasa. Karena, memang keluarga Lisa hanya keluarga biasa bukan seperti suaminya yang kaya raya.


Makam demi makam mereka lewati, sampailah mereka di dua makam yang saling bersampingan.


Lisa dan Egi berjongkok dan mulai berdoa untuk kedua orang tuanya, Egi mulai tak bisa menahan air matanya.


Setelah berdoa keduanya menabur bunga yang sempat di belinya tadi di jalan. Lisa ingat betul kapan terakhir dia kesini.


"Assalamualaikum bu, ayah. Lisa datang bersama Egi. Alhamdulilah bu, ayah. Egi sudah sadar, ketakutan Lisa tak terjadi. Lisa bisa kembali bersama Egi." Ucap Lisa mulai berurai air mata.


Egi menatap sendu padi nisan kedua orang tuanya, di elusnya satu persatu nisan itu.


"Assalamualaikum bu, ayah. Egi datang, maafkan baru sempat mengunjungi ibu dan ayah. Ibu, Ayah kenapa cepat meninggalkan Egi. Egi masih ingin bersama kalian, Egi masih suka makan masakan ibu. Egi masih mau naik sepeda motor dengan ayah." Tangis Egi pecah, dia tak bisa melihat wajah kedua orang tuanya untuk terkahir kalinya.


Lisa memeluk erat adiknya. Lisa juga merasakan hal yang sama seperti Egi.


"Bu, ayah. Egi janji akan menjaga kakak, karena atas kerja keras kakak. Egi bisa mendapatkan perawatan yang baik, sampai akhirnya sadar kembali. Tentu, semua ini juga atas keajaiban Allah yang di berikan pada Egi. Egi berjanji tak kan membiarkan siapapun menyakiti kakak, ibu dan ayah bisa percaya sama Egi." Lanjut Egi.


Lisa terharu mendengar ucapan adiknya ini. Tak sia-sia dengan berkorban apapun untuk Egi, karena ternyata Egi juga menyayanginya.


...****************...


BERSAMBUNG

__ADS_1


Dukung author dengan Like, coment dan Vote sebanyak-banyaknya🤗


SELAMAT MEMBACA😍😍


__ADS_2