
Dunia yang gelap, pasti berubah terang. Jiwa yang sakit, perlahan membaik. Hati yang keras, sedikit mulai melunak.
Zahra termenung. Ia masih memikirkan pembicaraan tadi. Pikirannya bercabang tidak tentu arah.
Tiba-tiba Riki menelpon. Mengingatkannya, bahwa hari ini ada kerja kelompok di rumahnya. Seketika Zahra menatap kedua orang tuanya.
"Ma, Pa, Zahra pamit ke rumah si kembar, ya! Ada tugas yang harus di selesaikan!" pamit Zahra.
"Iya, Nak. Hati-hati di jalan." Mona berdiri.
Zahra mencium telapak tangan orang tuanya, lalu berkata, "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Rey dan Mona serentak.
Zahra bergegas pergi ke kamar mengambil tas. Lalu, segera berangkat di antar supir. Ia berusaha, untuk melupakaan pembicaraan di ruangan makan.
Kendaraan memadati jalanan kota hari ini. Mobil yang membawa Zahra melesat maju dengan kecepatan sedang.
Selang sepuluh menit berlalu, Zahra sudah tiba di rumah indah milik si kembar. Dira yang tengah berada di rumah langsung menyambutnya dengan baik.
"Masuk aja, ya, Sayang. Si kembar suka banget main di halaman belakang." Dira tersenyum manis. Lalu, pergi ke dapur, untuk membuatkan minum.
"Iya, Tante." Berjalan perlahan menuju halaman belakang. Terdengar sayup-sayup duo "R" sedang bermain game bersama.
"Ki, Lu jangan bohong, kalau gue menang. Lu harus mijitin kaki gue seminggu," ucap Riko.
"Yaelah, Bambang ngarep amet menang. Lo harusnya siap-siapa, kalau gue menang. Semua uang saku Lo, masuk kantong gue." Riko tersenyum licik sambil menyenggol pelan tangan kembarannya.
"Tolong kondisikan itu tangan!" ucap Riki kesal.
Zahra menggelengkan kepala. Kelakuan dua orang ini memang paling top. Meski, begitu mereka selalu kompak.
Zahra menghampiri keduanya, menatap kesal. "Oh, enak, ya. Kalian telpon aku suruh cepat-cepat. Eh, sampai sini kalian malah asyik main game."
Riki dan Riko yang kaget mendengar ocehan Zahra segera menghentikan permaianannya. Kedua tersenyum memperlihatkan deretan gigi mereka.
"Ampun, Baginda Ratu. Salahin si Bambang 'nih." Riko menyikut tangan Riki.
__ADS_1
"Kok, gue 'sih! Kan, tadi yang ngajakin mabar Lo, Ko!" bantah Riki.
"Udah, udah mending sekarang kita kerjain tugas dulu. Eh, tapi tunggu satu orang lagi," kata Zahra mengambil ponsel. Lalu, mengirim pesan pada seseorang.
"Nunggu siapa? bukannya cuman kita bertiga doang?" tanya Riki dibuat penasaran.
"Bentar, dia katanya udah ada di depan rumah Lo. Entar juga Lo tahu siapa dia," jawab Zahra.
Tidak berapa lama suara seorang wanita menggema mengusik pendengaran si kembar.
"Aa Riki, Riko. Neng Lia datang!" teriak Lia.
Sontak kedua pemuda itu menoleh ke arah asal suara. Benar ternyata, orang yang di maksud Zahra adalah Amelia.
"Kok, si Lia bisa ke mari. Penjaganya nyariin engga tuh," celetuk Riki.
"Is, Lo kira si Lia peliharaan!" Riko memukul pelan punggung Riki.
"Sakit, Abang!" keluh Riki.
Lia semakin mendekat. Senyumnya mengembang seperti halnya mawar merah tengah mekar.
"Yaelah, ngundang aja kagak. Pake minta di sambit segala!" Riki menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lagian Lo ngapain ke mari?" sela Riko.
"Kalian engga tahu memang?" tanya Zahra.
Riki dan Riko menggelengkan kepala, pertanda meminta penjelasan pada Zahra.
Zahra merangkul tangan Lia. "Lia ini satu kelompok sama kita. Kalian 'sih pas Paman Egi bagi-bagi tugas malah bolos!"
"Alamak, siap-siap olahraga kuping kita hari ini!" ucap si kembar bersamaan sambil menepuk bahu.
Zahra tertawa melihat reaksi keduanya. Sedangkan Lia tersenyum senang.
"Aa mah gitu. Neng 'kan ke sini bawa cemilan." Lia mengangkat plastik berlogo sebuah minimarket ternama yang berisi penuh makanan.
__ADS_1
"Waduh, Lu mau ngemil apa jualan?" tanya Riki.
"Ya, ngemil atuh, Aa kaseup," jawab Lia.
"Kebanyakan ngemil, entar Lu gendut!" ledek Riko.
"Tenang aja, Neng gendut juga, Aa kaseup mah love-love juga!" jawab Lia sekenanya.
Untuk kedua kalinya Zahra tertawa lepas. Keputusannya mengajak Amelia ke timnya adalah keputusan terbaik. Setidaknya ia bisa melupakan kejadian tadi pagi.
Dengan cepat mereka segera memulai tugas. Di sela-sela mengerjakan selalu aja ada tingkah lucu Amelia yang membuat Riki dan Riko kesal.
Hari mulai siang. Amelia dan Zahra pamit pulang. Sebelum pulang, Dira menitip sebuah bingkisan pada Zahra untuk Mona. Ia juga meminta gadis itu sekalian mengantarkan satu bingkisan lagi pada Lisa.
Zahra menurut. Ia sudah menganggap Dira seperti ibunya. Arah rumah Lisa memang sama dengan rumahnya. Jadi, Zahra tidak merasa keberatan.
Mobil membawa Zahra masuk ke dalam halaman rumah Lisa, ibu dari Adnan. Zahra meminta supir, untuk menunggunya sebentar.
Zahra mengayunkan langkah ke arah pintu, memecet bel satu kali. Pintu terbuka memperlihatkan Bibi pembantu keluarga Adnan. Ia dengan ramah mempersilahkan Zahra masuk
Saat hendak memasuki ruangan tamu. Zahra mendengar Lisa dan Egi tengah berbincang.
"Kakak tidak akan memaksamu. Kalau pun kamu menolak perjodohan ini," ucap Lisa lembut.
"Baiklah. Egi akan datang menemuinya dulu. Egi tahu Kak Lisa mengkhawatirkan-ku saat ini," jawab Egi.
"Kamu tidak perlu memaksakan diri, Dek."
"Kakak tenang saja."
Lisa hendak berdiri. Mata indahnya menangkap sosok Zahra tengah diam mematung sambil memegang bingkisan berwarna merah.
"Zahra," panggil Lisa.
Sontak Egi menoleh ke belakang. Gadis itu masih saja terdiam. Pandangan mata Egi dan Zahra sekilas bertemu. Keteduhan yang dulu terpancar, kini seakan hilang dari bola mata nan indah milik Zahra.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG~~~~