Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
Extra part 15


__ADS_3

Setiap detik terasa lama saat menantikan kehadirannya ke dunia. Namun, mahluk kecil itu lahir membawa serta merta kebahagiaan untuk orang tuanya.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Selama di toko perlengkapan bayi bukan Zahra yang banyak memilih. Justru Egilah yang begitu bersemangat. Ia bahkan memasukkan satu pack peralatan makan bayi. Membuat alis Zahra terangkat dan berpikir.


"Sayang, apa kita harus memborong semua baju bayi di toko ini?" tanya Egi, di tangannya sudah banyak beberapa potong baju bayi dan perlengkapan lainnya. "Aku gemas melihat ukurannya yang imut."


"Mas." Zahra menempelkan telapak tangannya di kening Egi. "Engga panas kok."


"Aku memang tidak sakit, Sayang."


"Aku baru lihat ada lelaki yang antutias di ajak belanja. Biasanya kaummu, kalau wanita terlalu lama dikit saja. Sudah ditekuk mukanya." Zahra berjalan sambil matanya mencari yang menarik.


"Kamu tidak paham suamimu ini. Aku bisa dikatakan mahluk langkah."


"Ah, iya, aku lupa. Mas kan, kulkas dua pintu." Menahan tawa sekuat tenaga.


Egi mengapit hidung Zahra dengan kedua jari tangannya. "Kulkas dua pintu ini sekarang orang yang kamu sayang."


"Sakit, Mas," keluh Zahra. "Dede, Ayahmu jahil sekali sama Bunda. Nanti, kalau sudah besar kita serbu bersama."


Zahra mendengus kesal. Sedangkan Egi mengulur senyum puas karena selalu menang dalam hal menjahili istrinya. Meski begitu, ia tetap berusaha menjaga perasaan Zahra dengan tak terlalu berlebihan.


Belanja selesai. Kini, keduanya terlihat keluar toko dengan empat bingkisan berisi pakaian dan perlengkapan lainnya. Perut Zahra berbunyi meminta diisi. Kandungan yang semakin besar membuat rasa laparnya semakin meningkat. Tanpa menunggu lama mereka memutuskan makan di salah satu kedai di sana.


"Mas, aku berdoa ... semoga saat melahirkan. Kamu bisa menemaniku," ujar Zahra begitu duduk di kursi kedai.


"Insya Allah ... semoga kita semua panjang umur agar kita bisa sama-sama menyambut kehadiran bayi mungil ini." Mengelus perut bunci sang istri. "Aku sudah ajukan cuti untukmu. Jadi, kamu tidak perlu dulu ke kampus sampai bayi kita sedikit besar. Aku tidak akan melarangmu melanjutkan pendidikan asalkan kamu bisa membagi waktu."


Bibir wanita berwajah cantik itu terangkat. Dunia terasa indah baginya. Bertubi-tubi kebahagiaan terus datang tanpa putus. Terkadang memang kesulitan datang. Namun, sebisa mungkin Zahra dan Egi menghadapi berdua tanpa orang lain mengetahuinya.


Hari itu satu cerita tertulis indah di lembaran kehidupan mereka. Tersimpan rapih di memori otak dan akan menjadi kenangan masa tua nanti. Allah mungkin akan memisahkan keduanya lewat maut saat waktunya tiba, akan tetapi rasa cinta ini akan terus tumbuh tak termakan waktu.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Hari berganti minggu dan minggu bergulir menjadi bulan. Momen melahirkan semakin dekat. Hari perkilaran lahir hanya tinggal dua hari lagi. Perasaan Zahra bercampur aduk. Ada rasa takut kalah dan pergi untuk selamanya sebelum menimbang sang anak.


Malam itu hujan cukup deras. Zahra mulai merasakan tak enak perut sejak siang hari. Egi siaga mendampingi. Lelaki itu bahkan meminta pengunduran kelasnya untuk bisa menemani sang istri. Sesekali kedua kakak Egi dan orang tua Zahra datang menengok. Namun, Egi selalu mengatakan --bahwa-- semua akan baik-baik saja. Dan akan mengabari, jika terjadi sesuatu dengan Zahra.


Tas berisi keperluan bayi telah siap. Berjaga-jaga sewaktu sang istri merasakan mulas yang hebat, jadi Egi bisa langsung memboyong Zahra ke rumah sakit dengan segala persiapan.


"Sayang, apa sakitnya bertambah?" Egi mengelus punggung Zahra yang tengah berbaring ke kiri. "Katakan padaku, jika kamu merasakan mulas yang hebat. Kita langsung berangkat ke rumah sakit."

__ADS_1


"Iya, Mas. Masih bisa kutahan."


"Terus lantunkan istighfar, Sayang. Semoga Allah memudahkan proses melahirkanmu." Egi menuntun istrinya beristighfar.


Detik waktu terus bertambah. Udara malam menusuk tulang. Zahra dan Egi berbaring di atas ranjang, mencoba menutup mata sembari berpegangan tangan. Zahra beberapa kali mengusap perut, ia bangun dan bangkit dari kasur. Berjalan mondar mandir seraya merasakan sakit di punggung sampai tembus ke perut yang terus tak berjeda.


Egi mengerjap, merasakan tangan istrinya terlepas dari genggaman. Mata indah itu mendapati Zahra tengah berjalan ke sana ke mari memutari kamar dengan mulut tak berhenti melantunkan doa. Ia bangun dan menghampiri Zahra, mengelus perutnya yang buncit sempurna. "Nak, ini Ayah. Tolong, bantu Bundamu, ya saat melahirkan nanti."


Setelah Egi berkata demikian rasa mulas yang Zahra rasakan semakin hebat. Dengan cekatan Egi membawa sang istri keluar menuju mobil. Tak lupa ia menyambar tas yang telah di siapkan. Egi mendudukkan Zahra di jok belakang bersama barang bawaannya. Lalu, ia duduk di depan kemudi dan segera meluncur ke rumah sakit.


"Masya Allah, Mas. Sakitnya semakin bertambah." Zahra mengatur napas mencoba menahan. Tulangnya terasa patah bersamaan. Mungkin seperti ini jualah ibunya saat melahirkan.


"Istighfar, Sayang. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit."


Jalanan lenggang tanpa kemacetan. Semua orang tengah tertidur pulas saat dua sejoli itu berangkat. Tak perlu banyak waktu, mobil Egi terparkir di UGD. Ia keluar meminta bantuan dan beberapa perawat datang membawa kursi roda. Zahra berpindah duduk sembari tangannya mencengkram tangan kursi menahan rasa sakit yang datang tanpa jeda.


"Ayo, dorong ke ruangan melahirkan!" perintah seorang wanita berjas dokter.


"Baik, Dok." Kedua perawat mengangguk.


Egi mengekor di belakang. Tibalah mereka di kamar bercat putih dengan segala peralatan medis. Zahra menggenggam tangan suaminya.


"Aku yakin, kamu bisa berjuang sampai akhir. Aku akan mendampingimu," bisik Egi lembut di telinga Zahra.


"Sakit, Mas ... astghfirullah hal 'adzim," tutur Zahra.


"Sabar, Sayang. Tahan sebentar lagi, kamu hebat."


"Pembukaannya sudah sempurna. Ayo, mengejan yang kuat, Bu," cakap dokter.


Napas Zahra memburu. Berusaha mendorong lebih kuat agar sang bayi segera lahir. Dokter dan perawat terus menyemangati dan memberikan dukungan kepada Zahra.


"Sedikit lagi, Bu. Ayo, semangat," sambung dokter berjilbab biru.


Tiga kali dorongan kencang akhirnya seorang bayi keluar dengan selamat. Mata Egi berkaca-kaca saat tubuh kecil itu datang dengan bertelanjang diri. Suara tangisannya kencang menggema ke seluruh ruangan.


"Anaknya seorang perempuan," ujar dokter memperlihatkan pada Zahra dan membiarkan bayi itu telungkap di dada ibunya.


Selang lima menit rasa mulas hebat kembali menyerang. Dokter segera memberikan bayi tadi ke suster untuk diurusi. Ia tahu, jika pasiennya ini mengandung anak kembar.


"Mengejan lagi, ya, Bu!" perintah dokter.


Zahra mengangguk dengan tetap menahan sakit. Seperti proses kelahiran anak pertamanya, ia melakukan pendorongan kuat tiga kali dan lahirlah seorang bayi kembali.

__ADS_1


"Alhamdulillah, bayinya laki-laki," ujar dokter.


Sepasang suami istri itu tersenyum. Egi mendekat dan berbisik pada istrinya. "Terima kasih, karena kamu sudah bersedia mempertaruhkan hidup dan matimu untuk berjuang melahirkan mereka. Semoga Allah melipat gandakan pahalamu. Aamiin."


Proses melahirkan selesai. Perawat membawa bayi kembar untuk dibersihkan sebelum masuk ke ruangan bayi. Egi diminta mengikuti untuk mengumandangkan adzan. Sedangkan Zahra dipindahkan ke ruangan rawat inap VIP.


Satu per satu keluarga Egi dan Zahra berdatangan. Mereka bahagia ketika Egi mengabarkan kabar tersebut. Riki dan Riko terus bercanda perihal siapa yang lebih dulu menggendong sepupunya.


"Kalian berisik! Aku yang seharusnya lebih dulu menggendong. Tidak dapat ibunya, setidaknya aku bisa menjahili anaknya," ujar Adnan menggoda Egi.


"Paman akan memukulmu, kalau berani melakukannya," sahut Egi.


"Ampun, Paman. Aku mana berani. Dulu, baru niat menikung ibunya saja, paman langsung kasih aku tatapan membunuh. apa lagi anaknya aku jahili, bisa-bisa aku benar akan dinikahkan dengan gadis menyebalkan itu," cakap Adnan.


"Dek, memang siapa gadis yang kamu pinang di tengah jalan untuk Adnan?" tanya Lisa penasaran. Ia hanya diceritakan sedikit oleh Zahra.


"Dia gadis jadi-jadian, Bunda," tukas Adnan.


Semua orang tertawa. Kabar tentang kejadian Adnan dan Alina waktu itu memang bukan rahasia lagi. Zahra mengatakannya pada semua keluarga. Membuat Adnan menjadi kesal, akan tetapi tak bisa berkutik pula.


Egi mendekati Zahra. Ia duduk di ranjang yang di tiduri istrinya. Memandang lekat wajah wanita yang telah meluluhlantakan hati dan memberikannya dua anak sekaligus. Egi mendaratkan kecupan di kening, lalu berkata, "Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk mereka. Tetaplah menjadi Zahra yang manja di hadapanku. Tapi, jadilah ibu yang dewasa saat di depan anak-anak."


Buah hati akan menjadi pelengkap sempurna untuk pasangan yang telah menikah. Mereka hadir membawa warna tersendiri di kehidupan orang tuanya.


...****************...


TAMAT.


Alhamdulillah, selesai. Terima kasih semuanya. Mohon maaf, jika cerita ini kurang menarik. Perihal cerita Adnan dan Alina. Insya Allah, akan aku up awal bulan dengan judul yang berbeda. Semoga tak ada halangan.


Saya meminta maaf sebesar-besarnya, jika di cerita ini saya menyinggung sesuatuπŸ™


Jika berkenan silakan mampir ke ceritaku yang lain.


πŸ‘‰ Dokter, I Love U.


πŸ‘‰ Cinta Dalam Doa.


Mohon dukungannya, Teman.



__ADS_1


Terima kasih semuanya.


__ADS_2